
Halana tersenyum mengangguk dengan ucapan Mommynya Aslan.
Halana kembali diam di saat mobil sampai didepan rumah Aslan Halana turun dan pamitan pada Mommy.
Kembali lagi mommy pergi dengan mobilnya.
Dari langkahnya memasuki rumah Aslan. Halana kembali menatap masalalu yang terjadi sebelum waktu ini.
Sebenarnya Halana datang ke kantor kejaksaan adalah untuk mendatangi kantor Mommynya Aslan.
Malah bertemu keluarganya yang tak sengaja juga Halana ingin memberikan bukti, Halana memang lebih baik diam waktu itu dari pada membuat semuanya semakin bermasalah.
Halana melangkah masuk lagi sambil menyimpan kenangan buruk sebelumnya.
Bugh.. Bugh-bugh...
Bugh.. Bugh...
Sayup mendengar seseorang sedang memukul sesuatu ketika Halana akan melangkah ke kamar Halana menoleh ke tempat kolam renang.
Halana penasaran dan pergi kesana ketika Halana melangkah ke sana suara itu semakin keras.
Ketika akan membuka pintu seketika itu suara itu hilang dan melihat disana tempat olah raga Aslan didekat kolam renang.
"Aslan." Menoleh dengan suara yang seharian ini pergi bersama Mommynya mungkin.
Aslan menoleh cepat.
"Kan aku udah bilang kamu istirahat dahi kamu luka pelipisnya belum seberapa kering kenapa... bahu kamu juga belum sebenrapa baik harus sampe lama tahu kamunih," kesalnya.
Aslan seketika melepas pelindung tangannya dan duduk lalu minum air dalam botol.
"Hem.." Aslan berdeham saja menatap kedepan kolam renang.
"Kenapa hem doang, di lakuin lah," cecar Halana menatap Aslan, seperti seirang ibu memarahi anaknya pulang magrib magrib.
"Iya Halana, Aku tidak sakit, Ini tidak masalah kalo aku buka," ucapan Aslan melepas perban di bahunya.
Halana mencegahnya memukul tangan Aslan.
"Buka lagi aku tambah parahin lukanya," kesal Halana gemas.
Aslan tersenyum tiba-tiba melihat Halana yang pelan-pelan tersenyum malu.
'Aduh.. ngapain ini Halana ngapain nih orang kalo olah raga umbar aurat mana cuman pake celana terening pendek kaos oblong gak ada tangan mana belahan ketiaknya gede, Huuaa.. ini mah bikin spot jantung, Sabar Halana sabar tarik nafas hembusin emang gak berperi perasaan nih orang, buat jantung bininya mau copot mulu,' jeritan batin Halana.
Aslan melihat Halana nyaman memperhatikan otot tubuhnya.
"Eghm." Deheman keras membuat Halana salah tingkah tiba-tiba mengambil botol air.
"Kenapa dibawa?" Aslan menatap Halana.
"Eh..hm.. kan abis kurang kan ini mau aku tambahin airnya," ucap Halana padahal air dalam botol masih ada seperempat lebih.
"Liat," Kata Aslan seketika Halana melihat botol seketika itu tersenyum lebar meletakan botol itu di tempatnya semula.
Halana langsung berlarian masuk.
Aslan kembali akan melakukan olah raga ringan tiba-tiba ketukan pintu kaca membuatnya menoleh.
__ADS_1
"Jangan olah raga berat, Awas aja aku gorok lehernya biar jadi Aslan potong," kata Halana lalu pergi.
Aslan menatap Halana yang pergi berlalu dari pintu kaca seketika menatap lembut tanpa rikan senyum di bibirnya.
Xx
Zoela menjemput Anna yang minta di jemput.
"Kamu ini pulang sendirian lah," Kata Zoela pada putrinya.
"Waah. Mama gak ikhlas," kata Anna membuat dramatis.
"Kamu bilang Mama gak ikhlas haah.. Seharusnya mama gak pungut kamu di got pembuangan waktu itu," ucap Zoela pada putrinya tiba-tiba.
Anna langsung mencibir kesal.
"Iyaa. terserah mama," ucapnya malas.
Tiba-tiba Halana masuk mobil Zoela membuat Halana terkejut.
Sebenarnya Zoela pergi menjemput Anna bersamaan dengan akan membawa Halana pergi ke butik.
Ketika mereka bertiga satu mobil Halana terkejut melihat Anna sambil menutup pintu mobil.
"Anna.. Lo," ucap Halana seketika sadar Zoela menutup mulutnya sendiri lalu melirik Anna.
"Lan.. loh kok, Mah.. Mamah! menantu Xavir itu Hal..lana," kata Anna terpotong seketika memukul-mukul udara. Menunjuk Halana dan menutup mulutnya masih tak percaya.
"Tenang-tenang," kata Anna dengan senang.
"Mamah gak bilang kalo Menantunya bos mamah itu sahabatnya Anna, Mama tahu yang Anna sering cerita, ini mah yang namanya Halana Syeria."
"Kalian kenal," ucap Zoela seketika membuat mereka menganggukkan kepala bersamaan.
"Anna ternyata! An.. Mamah lo ternyata Bu Zoela.."
Anna menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Halana
"Eh.. kok gue baru tahu," Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Malu menatap Halana.
Mereka saling cerita biasanya hanya ada ke formalan diantara Zoela dan Halana. Karena sudah ada Anna jadi mereka tidak canggung bahkan tertawa sepuasnya.
Setelah sampai di butik Halana masuk sendiri karena Zoela masih akan pergi lagi, nanti Nena penanggung jawab Halana di butik ketika Zoela pergi sebentar, Tujuan Halana adalah untuk pergi ke acara Aslan dengan koleganya sendiri besok.
"Selamat datang Nyonya silakan," ucap Nena menyambut lalu membawa Halana masuk.
Seketika itu Helena ada disana bersama pacarnya yang ternyata Fahmi, Halana tidak kenal tapi, Halana liat jika pria ini pria baik kenapa mau dekat dengan adiknya, Helena.
"Kakak," panggil Helena tiba-tiba.
"Halana nama kakakku dan ini Fahmi kak," jelas Helena memperkenalkan Halana pada Fahmi. Fahmi menganggukkan kepalanya.
Seketika itu Halana menatap Helena aneh.
"Kenapa tumben mau ngakuin gue kakak lo ," ucap Halana dengan wajah yang tenang.
"Haah.. Apaan sih kakak ini bisa banget bercandanya." Sambil terkekeh karena Halana bicaranya terlalu jujur.
Helena melirik Fahmi dan mencubit pakaian Halana.
__ADS_1
"Enggak gitu kak cuman, Kakak... aku mau nikah sama Fahmi," ucap Helena to the point.
"Nikah?" Halana terdiam menatap keduanya beberapa saat sunyi.
Tiba-tiba ekspresi Halana ber oh ria.
"Ya udah, apa urusan gue nikah aja sono, Ati ati aja pesen gue," ucap Halana lalu pergi meninggalkan Helena begitu saja.
Dalam hati Helena kesal karena niatnya mempermalukan Halana gagal karena Halana pergi lebih cepat.
Di ruangan lainnya Halana mencoba beberapa pasang pakaian dan seperti biasa lelah sampai harus berdiri lama.
Tak lama masuk Aslan ke dalam butik baru saja datang menoleh ke samping. Aslan melihat dua pegawai menatapnya melanjutkan kembali langkahnya dan melihat Halana sedang berbaring diatas sofa memainkan ponselnya.
"Sudah?" Aslan menatap Halana yang asik dengan ponselnya.
Halana menoleh, Menatap Aslan.
"Kok dateng kesini kan di rumah sakit nanti Mommy," ucap Halana.
Seketika itu Aslan menghampiri dan menarik tangan Halana.
"Tuan," ucap Nena menayap Aslan.
Aslan mengangguk.
"Bilang Zoela aku membawanya pulang jangan cari dia," ucap Aslan.
Pergi bersama naik mobil Aslan sendiri yang mengendarai.
Baru saja sampai di lampu merah Halana mengantuk.
"Kenapa lagi-lagi harus pergi. Aku cuman..."
Aslan seketika memegang tangan Halana menggenggamnya.
Halana terdiam. Aslan kembali fokus pada jalanan ketika lampu hijau.
"Gak ada surat tentang kontrak itu lagi, lagipula aku membuangnya," ucap Aslan tanpa beban, seketika Halana menarik tangannya dari pegangan Aslan kasar.
"Kenapa kamu buang bukannya itu surat kontrak nanti kalo... pokoknya kenapa dibuang... Kenapa dibuang," ucap Halana.
Aslan menepikan kendaraannya menatap Halana yang marah.
"Apa segitu kesalnya karena aku membuangnya seharusnya kau bahagia," Aslan menatap wajah Halana yang gelisah. Aslan bicara dengan sangat tenang sampai suara angin terdengar.
"Tapi, aku gak bisa Aslan Aku harus ada surat kontrak itu, Kamu itu harus sama perempuan yang sepadan bukan kayak aku, aku ini cuman istri sepuluh tahun dari awal," ucap Halana.
"Selamanya, Persetan sepuluh tahun," tuntun Aslan menatap Halana tajam.
"Sepuluh tahun itu lama Aslan buat aku, aku udah mulai terbiasa dengan kehidupan kamu dan juga keluarga besar kamu nanti kalo sampe aku beneran pergi di lima tahun kedepan aku gak akan inget kamu," ucap Halana menatap Aslan.
Tidak tahu ada rasa kesal dalam Hatinya Aslan menatap dengan mata merah.
"Selamanya Halana dan Halana." Tuntun Aslan tetap pada Halana.
Halana menunduk sedih. Ini pilihan berat Halana harus mengerti bagian yang mana tempat yang mana kenapa semuanya ingin dimengerti.
Stres rasanya. Halana menatap keluar jendela tiba tiba meneteskan air mata, Mereka tidak akan pernah menjadi Halana Syeria karena Halana Syeria hanya dirinya saja dan semua derita aneh yang datang pergi bawa masalah baru.
__ADS_1