Pernikahan Berbahaya

Pernikahan Berbahaya
Akur


__ADS_3

Halana melangkah pergi dengan langkah tenang keluar dari gerbang pertama berjalan lagi untuk gerbang didepan.


Halana santai saja menikmati pagi tapi, suara kelakson mobilnya sangat nyaring dan mengejutkan Halana.


"Eh.. Buset.. Mobil siapa sih," ucap halana menatap siapa yang sedang mengemudi.


Ternyata Edgar dan Aslan di belakang. Mobil berhenti didepan Halana dan Edgar turun membukakan pintu untuk Halana.


"Masuklah," ucap Aslan tidak menatap Halana yang menatapnya bingung.


"Lah kan gu.. Aku mau berangkat Llo..Ka..kamu berangkat aja," ucapnya masih kaku tapi, malam tadi ia tak kaku.


"Kau masuk sekarang atau semua akan tahu jika kau istriku," ucap Aslan mengancam Halana berhasil Halana menuruti dan melangkah masuk kemobil baru saja untuk melangkah masuk Aslan memberikan sesuatu oada Halana yang baru saja duduk.


Mobil kembali melaju.


"Apa ini maksudnya?" Tanpa banyak tanya lagi Halana membukannya menunggu Aslan menjawab rasanya akan mati.


"Surat.. Apa.. Haaa.. Gak.. Gak ada kayak gini, Kita sepakat sepukuh tahun dan itu gak mungkin bisa selamanya lah buat apa gue tanda tangan surat nikah dan buku ini, Woy.. Gue ogah," ucap Halana melempar berkas utu pada Wajah Aslan dengan berani.


Edgar hanya bisa diam dan fokus mengemudi.


Aslan menatap tajam Edgar yang menyetir.


"Jika kau tak mau maka jangan dekati aku jika sekali lagi kau mencoba mencampuri urusanku akan ku hajar kau di dalam kamar apa kau mau," ucap Aslan.


"Apa kau mau memukul wanita Cih... Aneh.. Gila kau," ucap Halana sekeselnya meminta Edgar menghentikan mobilnya.


"Aku turun disini," ucap Halana marah.


Seketika tarikan tangan Aslan Kasar membuat Halana duduk lagi dan menghadapnya dengan tangan yang saling tarik juga mencengram.


"Kau itu terlalu banyak tingkah kau membuka ponselku kau juga mencari tahu jadi apa yang ingin kau ketahui kau harus menjadi istriku selamanya." Kata Aslan.


"TIDAK SAMA SEKALI AKU TIDAK MAU DAN AKU MARAH JUGA MUAK DENGAN WAJAHMU, BERHENTI ATAU AKU MELOMPAT."


Ancaman Halana tak berhasil Edgar tak menghentikan mobilnya dan terus melaju.


"Heey.. Kau dengar tidak."


"Diam lah suaramu sangat berisik dia itu bekerja padaku dia akan menurut jika aku perintah." Kata Aslan dengan tenang.


"Apa maksudmu.. ck." Halana duduk diam bersandar melipat tangannya menatap keluar jendela mobil.


"Kau memeriksa ponselku benar?"


"Kau mencurigau bau keringat di bajuku kau juga berusaha mencari tahu dari Inah tentang malam itu. Kau juga tidak melihat wajahku berubah dan selalu datar," Kata Aslan dengan tenang dan datar.


"Tidak.. Kenapa.. aku tidak melakukan itu aku juga tak perduli denganmu." Kata Halana.

__ADS_1


Aslan mengangguk dan meminta Edgar berhenti.


"Turunkan dia disini," ucap Aslan.


Edgar mengangguk dan menurunkan Halana disini.


Halana turun dari mobil Aslam dan dengan tenangnya Aslan masuk ke area kantornya.


Halana berdiri di pinggir jalan ketika menoleh kebelakang terkejut,


"Apa dia gila kenapa dia menunkanku didepan kantor perusahaan ini apa di ingin aku ketahuan jika aku ini istri pria aneh dan bodoh aaakj. menyebalkan," ucap Halana kesal.


Klunting...


Ponsel Halan masuk pesan dari nomor tak di kenal.


"Aku ingin kau mengajakku bicara lagi malam nanti," ucapnya seketika Halana menatap nomornya tak asing.


"Kau.. kenapa.."


"Kamu.. Kau bicara kamu itu sudah terdengar sopan." Jawab pesan itu.


"Nomorku aneh," ucap Halana lewat pesan itu lagi sambil berjalan.


"Kau habis mengirim semua nomor kontak ke pesanmu tapi kau lupa menghapus nomormu dari ponselku Nyonya Xavier."


Deg. Perkataan Aslan hanya lewat ketikan pesan membuat Halana tak bisa berucap apapun.


'Ok tenang Halana sekarang semuanya demi ketenangan hidup dari peraturan Bu Zoel lebih baik. Ikuti alur nya dengan Aslan saja, Sabar sabar,' kata batinnya sambil melangkah masuk kedalam area kantor dan melakukan pekerjaannya.


Xx


"Hoaam... Keren banget film semalem." Kata Fio sambil bangun dari sofa dan menggaruk kepalanya lalu menggaruk ketiaknya santai. Seketika berbalik ternyata Edgar sedang sarapan.


"Nape.. Mau apaan lo liat liat gue." Kata Fio dengan wajah khas bangun tidur.


"Kau tidak makan aku masak untukmu," ucap Edgar.


"Nanti!" Teriaknya dari kamar mandi.


Edgar selesai makan dan menuliskan sesuatu di memo lalu menempelkannya pada meja samping makan pagi Fio.


Selesai mandi dan keramas Fio mendatangi ruang makan dapur dan ruang tv menjadi satu.


Fio menatap apa saja yang Edgar masak lalu berjalan ke lemari pendingin mengambil minuman air lemonnya.


"Apaan nih," ucap Fio melihat kertas memo pinky disamping piring nasi yang biasa menjadi porsi makannya.


Fio bergerak duduk dan menatap semua masakan Edgar.

__ADS_1


Seketika ingatan Fio melayang jauh kearah dimana pertama kali Fio dan Edgar menikah.


Dulu sekali sangat membencinya dan tak ingin dengan Edgar karena terlalu kaku hingga sebuah kejadian Fio sedikit membuka hati ternyata Edgar pria yang mengemaskan dan lembut juga perhatian baik tapi, Fio belum bisa menyukai Edgar karena Fio masih tidak ingin berharap pada lelaki yang sudah sah menjadi suaminya.


Fio trauman dengan lekaki yang suka bicara manis walaupun Edgar tidak bicara manis tapi, pernikahan mereka perjodohan karena wasiat ayah Edgar dan kakek Fio yang dulunya mengadopsi ayah Edgar.


Fio serba salah jika ada Edgar didekatnya. Fio akui Edgar sangat baik tapi, Fio ingin lihat Edgqr bahagia tanpanya. Sudah Setahun lebih mereka menikah Tapi, Mereka tak pernah sekamar Fio juga bekerja lalu mengurus isi kulkas juga kebutuhan mentahnya jika Edgar mengurus kebutuhan matangnya.


Edgar menurut saja ketika pembagian pekerjaan tapi, ketika bertukar Fio menghancurkan segalanya.


"Eh.. tunggu gue inget kalo tuh Edgar pernah bilang kalo.. Yaah Halana tuh bicah urusan apa ama temen gue jangan jangan suka lagi," ucap Fio seketika memliki ide brilian.


Fio tak ingin Edgar sedih Fio akan jodohkan Edgar dengan Halana.


Tapi, sikap halana dan Fio sama saja.


Seketika itu Fio akan menelpon Nitta seketika itu Fio ingat jika Nitta sudah tiada.


"Huuh.. Kapan kita kumpul lagi manteman," ucapnya seketika dapat pesan dari Anna dan Helana mengajak berkumpul di hari mereka libur dan tak sibuk.


"Telepon aja kali ah," ucap Halana di tempat kerjanya mumpung lagi istirahat.


Halana meneleponnya dan seketika tersmbung tiga orang.


"Haay... Pagi kalian semua... Lo lagi sarapan Fio," ucap Anna.


"Iyaa.. Gimana kita jadi jalan bertiga," ucap Fio dengan semangat ketika itu Anna sedih.


"Laah kenapa gitu kenapa sedih.. Oiya Btw Gue telepon Nitta kenapa kagak bisa napa dia, Jugaan ini belakang gue juga gak liat artis model Kelly biasanya lo pada pada up to Date beritanya dia." Kata Halana seketika membuat Wajah Fio dan Anna semakin murung.


"Eeh.. Buset dah lu pada gue getok virtual baru tau rasa lo pada, Ngomong lo pada kenapa?" Halana tak sabaran mengetuk lensa kamera nya sungguhan.


"Lan Lo jangan sedih yaa sebenernya..."


Anna tak sanggup bicara.


"Sebenernya Nitta udah gak ada dan itu barengan penculik sama menantu keluarga Xavier emanya lo gak baca berita apa, Katanya menantu keluarga Xavier di culik model Kelly Sarvon dan asistennya Nitta tapi, Asistennya di temukan tak bernyawa ditempat sampah," ucap Fio.


Halana seketika terdiam menutup mulutnya.


"Oh.. Gitu kalo gitu gue udah dulu ya.. Gue tutup."


Fio kembali melanjutkan sarapan pagi dengan sisa yang tinggal sedikit lagi selesai Anna kembali lanjut bekerja di toko.


Halana menatap layar ponselnya yang hitam gak...


Halana menggeleng.


Tak sanggup Halana tahu Halana menangis menggeleng memeluk lutut kakinya kenapa cepat sekali mereka berpisah. Seketika Halana menarik nafasnya dan mengusap air matanya.

__ADS_1


"Gaak.. Gak bisa sedih harus kuat ok lanjut kerja lagi pula itu kejadiaan kemaren semoga aja Nitta tenang disana." Halana kembali bekerja.


Halana tahu jika yang mereka maksud menantu keluarga Xavier yang di culik adalah dirinya tapi, tidak ada yang tahu jika Halana sudah menikah dengan Aslan Xavier


__ADS_2