Pernikahan Berbahaya

Pernikahan Berbahaya
Jadi seperti itu aslinya


__ADS_3

Halana turun di halte berikutnya di pelabuhan dekat dermaga kapal Halana pergi ke loket untuk memesan tiket seketika akan cek out tiket Tangan Halana di tarik sesorang dan di bawa keluar dari antri penumpang kapal.


Seketika Halana menghentakkan tangannya dan Arzen berbalik.


"Arzen.. Kenapa?" Halana menatap wajahnya langsung mengenali wajah lelaki itu karena Halana tidak sekali dua kali bertemu.


"Nyonya sebaiknya anda.. kembali Nona eh Nyonya," ucap Arzen takut salah dan takut dengan Aslan.


"Senyamannya saja kamu manggil. Aku tidak mau pulang, pulanglah sendiri," kata Halana lalu pergi untuk mengantri ketika mau mengantri lagi Arzen terpaksa bicara.


"Tuan Pasti hancur Nona," Kata Arzen dengan suara sedikit besar.


Penumpang lainnya sempat menatap Arzen berbisik kemudian acuh kembali.


"Arzen pulang saja dan tidur dengan nyenyak tidak usah membuat dirimu repot," Kata Halana dengan bahasa formal tidak berbalik hanya menoleh kesamping.


"Saya tahu ini tidak sopan tapi, Tuan selama ini tidak pernah sebaik ini selama belum mengenal Nona Halana Tuan seperti iblis haus darah kasar kejam dan tega, Tuan tak akan pilih kasih sekalipun itu bayi tapi, setelah membawa Nona kerumahnya Suasana Rumah setiap hari selalu berbeda suasana hati dan raut wajah Tuan sering berubah, Maaf saya kadang tidak sengaja perhatikan."


"Selama ini Tuan hanya diam tidak akan bicara dan tidak akan makan seteratur ketika bersama Nona, Tuan kadang makan dua hari sekali Kadang akan makan jika mau," kata Arzen.


Halana berbalik dan menghampiri Arzen.


"Itu semua gak penting, lebih baik kembali dan lupakan jika aku pernah ada di sekitar kalian lagi pula apa gunanya jika aku sudah memberikan kehidupan baru untuk Aslan. Aslan membuatku seperti wanita tidak berharga diri dan hanya ingin aku mengandung anaknya." Kata Halana menatap Arzen.


"Kembalilah nona apa yang anda lihat tidak seperti yang anda kira," ucap Arzen.


"Oh.. berarti selama ini aku di bohongi begitu kau..." Halana menghentikan ucapannya.


"Baik sekarang apa maumu," Halana berusaha memahami situasi mencoba memahami sesuatu dari Arzen yang masih kekeh Halana hampir membuka aibnya di antrian tiket pelabuhan.


Arzen mempersilakan Halana duluan berjalan.


Mereka pergi ke tempat nyaman duduk didepan mini market pelabuhan yang buka dua puluh empat jam.


"Terimakasih." Ketika Arzen memberikan secup kopu susu hangat.


"Sejak awal saya bekerja bersamanya beliau tidak pernah tersenyum bahkan bicara banyak, Memang Inah mengatakan semuanya sesuai ucapan Tuan agar nyonya besar tidak khawatir. Saya yang bersama Tuan ketika membuat beberapa orang yang berusaha memeprmalukan anda di mall waktu itu, Tuan menghabisinya dengan membunuhnya, Tuan terlihat melakukannya seperti orang yang tidak ingin miliknya di ganggu."

__ADS_1


"Apa.. membunuh wanita yang di mall waktu itu," ucap Halana terkejut.


'Jadi selama ini semua yang aku tau itu gak bener dan sengaja di tutupi, pantas waktu pagi pertama di rumah itu aku tidak liat dia sarapan,'kata hati Halama.


"Sebelumnya Tuan tidak akan segan segan berbuat keji dengan memutilasi atau menguliti korbannya, Tuan memang kejam sebelum bertemu anda tapi, sejak bersama Anda Tuan lebih baik bahkan sangat baik Sifat kejamnya berkurang walau sikap teganya tetap ada itu karena Dimas ingin memiliki Nona," Kata Arzen mengingatkan lagi hal dulu dan tentang Dimas waktu itu.


Halana terdiam.


"Apa aku salah, Tidak.. Aku benar," ucap Halana menatap secup kopinya.


"Saya tidak bisa untuk mengubah pendirian anda, Anda sudah pasti tahu bagaimana Tuan selama tinggal dengan Anda nona, Saya hanya kasihan dengan Tuan. Apa Anda tahu jika Tuan selama ini hanya tidur dua atau tiga jam sehari bahkan bisa, selama dua puluh tiga puluh malam tidak tidur, Saya dan Edgarpernah mencoba bergantian mengatakan pada Tuan untuk istirahat tapi, hasilnya tak baik, bahkan Mam Zoela dan Nyonya besar saja tak mempan," ucap Arzen lagi.


Halana merenung, memang Aslan hanya bercerita sedikit tentangnya pada Halana waktu itu.


Halana juga baru tahu jika sebenarnya Aslan itu tidak terlalu rajin makan dan juga minum air juga tidak terlalu rajin tapi, sepertinya Aslan memang bersih alkohol dan rokok, kurang tidur apa kesehatan Aslan akan baik, Halana menatap Arzen.


"Jika Nona berpikir Tuan sering minum saya malah kaget juga mengira Tuan perokok aktif, saya lebih terkejut," ucap Arzen seketika menatap Halana dan tersenyum.


"Justru Tuan meminta kami untuk menjaga kesehatan karena sehat murah yang mahal itu sakitnya." Kata Arzen lagi.


Halana terdiam menatap kopi di delam gelas cupnya.


"Ini geratiskan?" tanya Halana setelah menenggak habis kopinya.


Arzen menganggukkan kepalanya.


Ponselnya seketika berdering dengan nama Fio Halana langsung mengangkatnya.


"Hallo.. Apan," kata Halana menyapa duluan.


Seketika Halana menjatuhkan ponselnya.


Arzen melihat Halana menjatuhkan ponselnya seketika bergegas bangkit.


Arzen mencegahnya.


"Saya bisa membantu Nona," ucap Arzen.

__ADS_1


Halana mengangguk dan segera mengikuti Arzen naik kemobilnya.


Di tempatnya di atas gedung hotel Hurgari, Aslan berdiri di pinggi sebelum Mommy dan Zoela datang ketika Aslan duduk di pinggir gedung dengan kaki menggantung bebas Mommy dan Zoela baru datang.


Anna dan Fio mendapat telepon dari Zoela.


Sebelumnya Mommy Aslan panik dan terus mencari cara ketika melihat Zoela. Mommy Aslan mengingat anaknya Zoela dan istri dari Edgar.


"Apa anakmu dan istrinya Edgar sangat dekat dengan Halana." Katanya menatap dengan wajah panik.


"Iya," Jawab cepat Zoela.


"Hubungi Anna," ucapnya Zoela langsung menelpon putrinya dan di sana Anna dan Fio seketika mendengar dering telpon masuk dari Mamanya Anna cepat mengangkatnya.


"Hallo mah," jawab Anna.


Zoela langsung menjelaskan rencana yang di katakan Mommy nya Aslan.


Seketika itu ponsel Zoela direbut Mommy Aslan.


"Kalian pasti bisa manggil Halana sebelum Aslan mati sia-sia kan," ucap Mommy Aslan.


"Iya.. Kami bisa," ucap Anna dengan tegas.


Sambungan telepon terputus.


Anna menatap Fio. Fio balik menatap Anna bingung.


"Apaan." Kata Fio.


"Maafin gue ini harus dilakuin, Kita di suruh mommya pak Aslan buat bilang kalo Gue mau terjun dari lantai empat karena hampir dibunuh apa kek gitu yang penting intinya gue yang mau lompat dari gedung," ucap Anna.


Fio berdiri dan menatap Anna tajam.


"Ngomong apaan lo barusan, bosen hidup lo, apa maksud lo mau terjun dari gedung sekarang aja gue bisa bunuh lo mau pake sianida atu mutilasi," ucap Fio pada Anna.


Anna mengplak bahu Fio keras.

__ADS_1


"Buset kambuhnih kebanyakan nonton film psikopat ama Sosiopat lo, jadi kopat kan lo," ucap anna menarik Fio kasar keluar dari ruangan itu.


__ADS_2