Pernikahan Berbahaya

Pernikahan Berbahaya
Rayuan


__ADS_3

Di kamarnya setelah masuk beberapa menit sebelumnya di waktu yang bersamaan didepan ketika Zoela datang.


Aslan dan Halana saling menatap seketika Halana meminta Aslan duduk dengan menuntun tangannya. Belum saja berjalan dengan tangan di tuntun minta duduk di kursi. Tangan Aslan menepis tangan Halana kasar.


Halana menoleh menatap dengan tatapan kesalnya.


"Aku hanya mau mengobati lukamu," ucap Halana seperti sedikit berbeda aneh Aslan mendengarnya.


"Kenapa kau mendekatiku, aku tak suka kau dekati!" Kata Aslan kasar.


"Terserah Memangnya salah aku mengatakan ucapan sopan pada suami, Tidak kan," ucap Halana menarik Aslan kasar tapi, di hetakan keudara langsung.


"Jangan berpura-pura baik aku tahu kau hanya merasa bersalah menjauhlah dariku," ucap Aslan dengan kasar lagi.


"Paksa saja kalo berani." Kata halana dengan berani dan tersenyum dengan nakal.


Halana mendorong Aslan dengan tiba-tiba dan seketika jatuh terduduk di lantai Halana langsung duduk dan Aslan mundur bersender pada pinggir ranjang besar.


Halana dengan cepat menarik tangan Aslan kasar dan di pangki dengan di bersihkan darah lalu di bersihkan juga lukanya.


Halana menatap wajah Aslan yang sebentar sebebentar membersihkan kotoran darah kering di telapak tangan.


"Kau mau mengganti baju?" Kata Halana.


Sebenernya Halana tahu Aslan sejak tadi tidak berkeringat sama sekali bahkan dahinya pun tidak masih bersih dan tak basah hanya rambutnya berantakan jika berkeringat juga punggung tangannya pasti lembab.


Halana semakin curiga.


Selesai mengobati luka Aslan. Halana bangkit dan pergi mengambil pakaian dan meminta Aslan berganti pakaian. Aslan bukannya menerima uluran kaos dari Halana malah acuh dan pergi seketika Halana bergerak cepat meng hentikan Aslan berjalan.


“Diam.” Kata Halana tegas menatap wajah Aslan yang datar.


"Kau ini bisa tidak sih bersikap sedikit sejimport seatom saja padaku, Tak masalah aku tak tak menolaknya tapi, jika kau kasar seperti ini Kau membuatku malas dan cepat pergi dari sini," ucap Halana sambil membukakan kacing satu persatu dan dan membatu Aslan memakai kaosnya.


Baru sadar Halana melihat banyak luka tapi, langsung berubah biasa saja dan menyelesaikannya.


Aslan pergi saja dan membiarkan Halana diam disana.


Halana menatap kepergian Aslan jadi bingung juga kepikiran sebenarnya Aslan itu siapa sih.


Halana melihat baju kemeja Aslan yang tergeletak dan mengambilnya memegangnya dan mencium baunya sama sekali tidak ada bau basah keringat bahkan bau bajunya tetap wangi seperti bau baju yang cuman di pakai beberapa menit oleh pemakainya.


Halana meletakan baju itu ke ranjang pakaian kotor melihat ponsel Aslan nganggur, meraihnya dan membuka kuncinya.


"Yaah.. Bisa.. Gak sia-sia ngintip gak sengaja," ucap Halana yang perlahan membuka sandi pola yang sulit.

__ADS_1


"Kontak telepon," ucap Halana mencari sesuatu disana.


Halana tak menemukan sesuatu tapi nama seseorang yang sering di hubungi Aslan hanya Mommy dan Edgar Zoela lalu nama dokter itu sepertinya pernah Halana dengar tapi, dimana.


Sudahlah Halana mengambil semua nomor itu dan dan menghapusnya setelah mengirimkan nya pada pesan Halana juga mengembalikan semuanya seperti semula dan pergi keluar kamar.


Xx


Orang yang duduk di dalam apartemen Kelly adalah orang yang sama yang pernah Halana temui ia tertawa ketika melihat Kelly di tahan.


Mengumpati Kelly dan berulangkali mengatai Kelly wanita tak pernah belajar.


Seketika teleponya berlayar panggilan Qerto.


"Iya lakukan saja apa kau sudah selamat dari malaikat maut?" Katanya lalu mematikan televisi dan pergi keluar dari apartemen Kelly.


Halana mendatangi Aslan yang sedang di dalam ruangannya dan mendekat dengan aneh Aslan menyadari Halana hanya acuh saja diam saja ketika mendekat Aslan pergi menjauh ketika didekati lagi Aslan menjauh.


Hingga Aslan akan bergerak tak jadi seketika itu Halana menabrak Aslan dan mengaduh skait dahinya mengusap usap dahinya.


"Apa yang kau lakukan?" Kata Aslan.


"Aku.. Aku... " Tiba tiba Halana mencium bau badan Aslan dan juga meraba leher Aslan.


"Menyingkir." Kata Aslan kasar lalu pergi.


"Apa kau tidak mau mengatakan sesuatu padaku Aslan," ucap Halana dengan wajah baiknya.


"Tidak." Katanya singkat.


"Aki bisa menjadi teman curhatmu." Kata Halana lagi dengan manis.


Aslan menoleh lalu menatap buku yang di pegangnya lagi.


"Kau pasti tahukan kenapa aku mengubah ucapanku tersengar aneh bukan tapi itu untuk mu tahu aku sengaja melakukannya. Bagimana aku cocoknya yang mana bicara Lo Gue atau Aku kamu," ucap Halana.


Seketika Aslan melempar kertas gumpalan kewajah Halana.


Ingin marah dan berterik tapi, Halana tahan.


"Tahan.. Jangan kesal." Kata Halana.


Membuka gumpalan kertas dan melihat tulisannya Halana terkejut membulatkan matanya bar.


"ASLAN..."

__ADS_1


Seketika Aslan mengisyartakan Halana untuk mengunci rapat mulutnya.


"Apa maksudnya kamu nyamain aku sama Ayam jantan memangnya suaraku itu sejelek itu aku ini Halana aku udah keliatan lebih baik tapi, kamu malah," ucap Halana kesal mengepalkan kedua tangannya.


"Keluar!" Kata Aslan kasar.


"Aslan aku gak terima, aku mau kamu jujur sama aku aku ini udah tinggal sama kamu berbulan bulan akh.. Aku itu sebenernya bingung memangnya sepuluh tahun itu ngapain aja sama kamu haah... Aku sampe harus ngomong kayak gini di biasaain karena tekanan kamu tahu," ucap Halana menggebu dan terus tanpa jeda dengan wajah ekspresi marah.


"Kenapa kau terima pernikahan ini," ucap Aslan dengan mudah dan entengnya lidahnya bergerak bicara seperti itu.


"Aslan! Kau itu orang kaya banyak duit sedangkan aku itu gak punya apa-apa aku itu harus kerja buat hidup dan hidup buat kerja. Kamu itu mati aja gak bakalan ninggalin utang tapi duit ama warisan kamu tahu," ucap Halana kesal.


Aslan diam menatap Halana tajam.


"Masih mau bicara manis atau kasar," ucap Aslan seketika membuat Halana diam menutup rapat bibirnya.


Halana berjalan duduk di kursi dan diam melipat tangannya.


Xx


Di apartemen Edgar kali ini, baru saja pulang dan baru menginjakkan kakinya di dalam pintu lift ketika itu dirinya langsung di dorong masuk seorang wanita dengan belanjaannya.


"Kenapa kena?" Kata Fio yang sadar menabrak orang.


"Kenapa kau membawanya sendiri," ucap Edgar pada Fio.


"Memanya kenapa aku ingin lagi pula aku sudah pulang kerja dan kau tumben baru pulang jam segini biasanya atasanmu tak izinkan kamu oulang dan lembur harus juga wajib," ucap Fio.


"Kenapa kau perhatian padaku," ucap Edgar mengejek Fio.


Semirk Edgar melirik Fio yang mengunyah permen karetnya dan ditiup hingga terlihat balon kecil lalu meletup.


"Kau.. Kenapa melihat-liat, mau ko colok mata kau hah," ucap Fio.


Edgar terkekeh.


"Kau cantik malam ini," ucap Edgar.


"Tidak aku jelek, kau pasti ada maunya aku tak tertipu dengan apa yang kau bilang Tuan Edgar Rages." Kata Fio seketika pintu lift terbuka sampai di lantai mereka Fio membawa lagi barangnya.


Seketika Edgar membantunya. Fio terkejut mematung sebentar.


"Sadar Fio dia bajingan," katanya untuk menyadarkn dirinya dari pantulan wajahnya di dinding lift.


Ketika pintu tertutup Fio berhenti terbuka lagi dengan sepatu seseorang.

__ADS_1


"Sedang apa, kau disana apa kau bicara pada dinding lift," ucap Edgar.


"Terserahku," ucap Fio.


__ADS_2