Pernikahan Berbahaya

Pernikahan Berbahaya
Akhirnya


__ADS_3

Sebelum acara makan malam di vila sewa keluarga Berhatadika.


Kejadian waktu di gedung Hotel Hurgari ketika di atapnya. Aslan masih duduk dengan tanang mengayunkan kakinya.


Di jalanan Halana dan Arzen masih dalam macet lampu mereka. Tanpa sengaja motor Fio yang membonceng Anna itu melewati Halana tanpa sadar.


Mereka sampai setelah motor Anna dan Fio terparkir. Halana dan Arzen turun dari sana di atap gedung hotel Aslan mulai berdiri dan berbalik seketika itu Aslan melihat Mommy dan Zoela beberapa orang melihatnya Tak lama setelah itu Anna dan Fio datang.


Aslan melihat mereka tapi, mereka melihat Aslan dengan Khawatir.


"Gimana apa yang kalian lakuin kenapa kemari," kata Zoela menatap Anna dan Fio dengan tatapan marah.


"Kita.. Kami.. Kami sengaja kemari kami mancing Halana tadi untung kita sampe duluan sebelum Halana sampe bareng laki-laki," kata Anna gugup menatap Zoela yang ketakutan.


Halana dan Arzen menaiki lift lantai rooftop setelah menunggu beberapa menit keluar Halana dan mencari pintu keluar atap gedung.


Arzen menyadari sesuatu ketika Halana berlari mendahuluinya.


Di Aerphone sekaligus walkitalki di telinganya Arzen langsung menguhungi seseorang.


"Siapkan helikopter." Arzen meminta dengan nada suara tegas.


"Aku tak takin tapi, kau terlambat sejak tadi aku melihat mereka. Kau tidak sadar di bututi, payah," suara Edgar di sebrang sana dengan naik helikopter kopter bersama satu pilot dan satu anak buahnya.


Halana membuka pintu seketika itu melihat semuanya menoleh ketika tidak ada yang sadar hanya Aslan menatap kearah lain Halana yang masih di tatap Mommy Aslan dan lainnya malah tidak menghiraukan tatapan semua orang dan menatap ke arah dimana tatapan Aslan mengarah.


"ASLAN." Bersamaan teriakan Halana seketika nyaring suara tembakan di lepaskan Halana berlari sekencangnya berusaha menyaingi kecepatan peluru.


Aslan sempat mengelak beberapa sentu dan peluru itu merobek kulit kepala Aslan di bagian atas telinga seketika itu Halana menarik Aslan tapi, tersandung tubuh mereka terhuyung bersamaan itu juga Arzen datang terlambat bersamaan Anak buahnya melindungi Nyonya besar dan Zoela juga dua teman Halana.


Teriakan mommy Aslan bersaman jatuhnya Halana dan Aslan.


"Tidak!" Mereka semua terdiam menatap kosong.


Seketika itu sebuah helikopter terbang keatas memperlihatkan tangga tali gantung dan Aslan memeluk Halana.


"Aslan-" Halana memejamkan matanya memeluk Halana tangan Edgar tak kuat lagi menahan tangga itu, seakan mengerti Aslan memeberikan Halana pada Edgar.


Dramatis Di atap hotel Hurgari.


Di bagian bawah ternyata anak buah Arga dan para komplotan penyerang Aslan di lumpuhkan cepat.


Di ruangan Icu sebuah kepalan tangan menghantam pinggir Sofa.


"Aku tidak akan diam jika kau kembali membuat keluargaku hancur Malvonso," ucap Arga menodongkan pistol di kepala Jack Malvonso.


"Ini semua ulah putramu yang penyakitan, kenapa dia harus melukai putraku tinggal berikan istrinya dan kalian dapat Tander besar," berani berkata lagi Arga semakin menodongkan pistolnya kekepala Jack Malvonso.


"Kau lihat putraku masih koma karena putramu," ucapnya.


Arga menoleh melihat Dimas yang masih terbaring tatapan Arga acuh dan datar.

__ADS_1


"Tidak ingin tahu, kenapa kau jelaskan," ucapnya semakin menempelkan ujung pistol di kepala Malvonso.


"Aarhk.. Sial, Baik," ucaonya sudah terpojok gemetaran hebat Arga terus menepelkan ujung pistol sampai kepala Malvonso terus terdorong kesamping.


Di atap gedung Hurgari.


Aslan melakukan aksi berbahaya dengan melompat dari tali Helikopter mencapai tepi, Atap gedung. Sejenak Halana merasakan semuanya seperti melambat ketika gapaian tangan. Aslan tak sampai Halana berteriak tapi, ternyata sampai. Halana hampir mati dan pingsan saat itu juga.


Aslan mendapat lemparan pistol dari anak buahnya sekaligus dua dan itu langsung menembak irang yang membuat Mommynya dalam bahaya dan yang sudah datang bersama Arzen dan Halana.


Helikopter mendarat di landasan helipat.


"Aslan," suara Halana memanggil Aslan bersaman dengan suara baling-baling yang belum berhenti Halana melompat turun menghampiri Aslan.


Semuanya terdiam seketika itu.


Halana memeluk menubruk tubuh Aslan.


"Aku mencintaimu," ucap Aslan seketika itu membuat Mommy Aslan terdiam merasa semuanya berhenti kecuali, putanya dan menantunya.


Ayla mommynya Aslan mulai menimang keputusannya gerakan mata basah air mata dan warna mata merah itu menatap lantai, Apa mereka harus di pisahkan.


Halana melepas pelukannya dan memeluk Aslan seketika itu satu orang yang ternyata penghianat mereka menyamar menjadi Pilot.


Setelah Edgar turun dari heli kopter seketika itu Helikopter hencur meledak Semua bisa melindungi Mommy Aslan yang jaraknya aman dan Edgar terpental hingga membentur benda keras.


Fio menatap Edgar tergeletak.


Semuanya belum berhenti sampai situ saat itu juga ada bom di atas hotel yang bisa menghancurkan beberapa benda besar belum bisa menghancurkan gedung itu Aslan sadari lebih dulu, Semua mengevakuasi yang terluka dan membawa beberapa orang penyerang turun Polisi datang bersamaan Ambul bersamaan itu juga pasukan khusus tentara bayaran Arga berbaris membuat pagar agar wartawan dan media tidak masuk mereka membuat dinding dari kain agar tidak ada yang bisa mengambil gambar.


Termasuk semua orang yang masih ada didalam hotel mereka diamankan polisi.


Aslan melepaskan pelukan lindung pada Halana dan menjauh sebelum pergi tangan Halana lebih dulu menghentikan Aslan.


"Enggak jangan," ucap Halana gemetar ketakutan Aslan tidak jadi pergi dan memeluk Halana seketika pegangan melemah Arzen menarik Halana menjauh dan Aslan membawa bom itu dan melemparkannya di udara seketika itu meledak besar di udara.


Halana yang sudah masuk terhenti langkahnya dan jatuh berlutut.


Halana mengira bom diatas masih ada dan Aslan tewas.


Keluar ke lantai bawah dengan Arzen gendong seketika itu bangkar Ambulan datang dan membawa Halana yang pingsan.


Mommy Aslan lanhsung mendekat pada Halana berteriak histeris membangunkan Halana.


Seketika itu Halana di bawa ke rumah sakit tak lama itu Arga datang dan dengan santainya melepas jaket dan membawa Ayla istrinya untuk duduk tenang di dalam mobil pintu terbuka.


"Semuanya aman, Ayla, tenang lah," ucapnya menatap istrinya seketika Arga memeluk Ayla dengan hangat dan mengecup sedikit picuk kepala istrinya.


Fio mengikuti Ambulan yang membawa Edgar. didalam sana juga ada Zoela dan Anna menemani Edgar.


"Edgar.. Bangun ding, Hik... Haaa.. jangan gini," ucapnya bersamaan tangis kencang.

__ADS_1


Anna dan Zoela merasakan kesedihan Fio


"Nanti kalo tante Ella dateng terus liat kamu gini giman, Edgar bangun..." Fio memeluk badan Edgar yang masih berbarik lemah.


Satu perawat wanita pun hanya bisa diam.


"Haccih.." Edgar bersin seketika itu membuat Fio dan semuanya menatap Edgar.


"Kamu sadar," ucap Fio masih kaget. Otaknya masih belum bisa mencerna apa tadi yang bersuara.


Edgar dengan santai membuka mata dan terkekeh. Sadar Fio di kerjai Edgar seketika itu memuku dahi Edgar lalu menjitaknya.


Mereka yang melihat hanya bisa tersenyum sedih.


"Aku tidur saja tadi aku sudah sadar kau berisik Fio," ucapnya mengangkat tangan mengusap air mata Fiona.


"Kan aku sudah bilang bahaya," ucap Edgar. Fiona memeluk Edgar tak perduli jika Edgar kesakitan.


Bukannya sakit Edgar makin senang dan malah mengusap kepala Fio.


Di Halaman depan Hotel.


Aslan keluar dari sana dengan santai semuanya melihat Aslan seketika langsung membawanya kedekat ambulan untuk di periksa.


Mommynya langsung mendekat dan ketakutan dan minta dibawa saja kerumah sakit, Aslan menggeleng.


"Dimana Halana." Mommy mengangguk dan memeluk Aslan.


"Halana selamat sayang Halana di bawa kerumah sakit dan itu aman."


Xx


Kilasan kejadian kemarin di Hotel Hurgari membuat Aslan tak pernah meninggalkan perhatiannya dari Halana sekali melepaskan tatapannya dari Halana maka dirinya akan mati bersamaan hilangnya Halana dari hadapannya.


Sekerang Halana dan Aslan bersama jalan mendatangi Vila lagi dan berjalan dengan saling menatap, eh.. bukan saling tapi, Aslan sendiri yang sebentar-sebentar menatap Halana.


"Aku mau kita pisah saja Aslan, Aku tahu kamu pasti bisa dapat yang lebih baik," ucap Halana.


"Enggak." Aslan menggeleng pelan.


"Kamu Halana, Kamu yang terbaik," ucap Aslan seketika berhenti Halana juga berhenti dan menatap Aslan.


Aslan mengambil tangan Halana dan mencium kedua punggung tangannya.


"You are the best, my lady!"


Seketika kembang api di atas Vila sangat meriah dan saling bersahutan.


...****************...


...The And...

__ADS_1


__ADS_2