
Halana memasuki rumah orang tua Aslan setelah pulang kerja karena pesan dari Zoela untuk menyuruh Halana datang segera karena ada sesuatu yang mau di sampaikan dan di bicarakan oleh Mommynya Aslan.
Halana melangkah menoleh kanan kiri seketika pelayan bernama Lili lewat.
"Mb Lili Dimana Mommy," ucap Halana bertanya.
"Oh.. Nyonya besar ada di belakang dekat kolam renang." Katanya lalu pamit pergi.
Halana melangkah kesana.
Sebelumnya pernah pertama kali kemari, waktu kemarin malam dan itu Halana diam-diam pergi, ketika Zoela sibuk dengan Mommy Daddynya Aslan yang bingung dengan keadaan darurat Mommynya Aslan sampai harus di berikan alat medis kerumah.
Halana pergi dengan mobilnya Zoela ketika Zoela sibuk.
Sekarang Halana datang lagi tapi, sendirian dengan taksi. Aslan juga sedang di luar kota kata Edgar tadi bilang sebelum Halana pulang dari kantor lewat pesan singkat.
Halana memasuki ruangan luas lain dan lihat deretan jendela dan pintu kaca sejajar salah satunya dekat guci ada pintu terbuka.
Terdengar suara orang bicara. Halana menjelaskan pandangannya keluar kaca ternyata,
Mommynya Aslan sedang bicara dengan wanita dari telepon, mata Halana menatap dari kejauhan dan sambil melangkah mendekat, seketika langkahnya terhenti di antara horden dan tak terlihat jika Halana berdiri di belakang nya, Mereka yang bicara di telepon tidak tahu ada Halana di balik pintu kaca .
"Aku akan melihatnya sekali lagi, ternyata Putraku masih bisa merasakan emosi secara baik, Kau tahu penyakitnya itu bawaan dari lahir akhirnya sembuh ketika aku menikahkannya," ucap Mommynya Aslan.
"Yaa.. Benar sekali wanita yang namanya Halana itu yang aku ceritakan sulit bukan awalnya memang benar sulit tapi, sekarang aku akan melihatnya lagi jika benar-benar normal aku akan memisahkannya," ucap Mommy Aslan lagi.
"Tapi, Ayla bukannya kau harus memiliki wanita sepadan dengan Aslan, Halana itu bukan golongan yang baik untuk kau pamerkan di teman sosialita." Suara wanita di telepon tersambung.
"Memang aku akan menikahkan Aslan dengan wanita sepadan jadi aku memberikan kontrak 10 tahun untuk mereka jika itu lebih cepat dua tahu atau bahkan tiga tahun maka mereka bisa cerai aku tak masalah," ucap Mommy Aslan.
"Benarkan, kau kejam Ayla, bagiamana jika sampai si wanita itu di apa-apa kan Aslan atau bahkan mereka pernah tidur berdua."
"Tidak mereka tidak pernah melakukan itu karena aku tahu semuanya. Aku tak akan kecolongan tak masalah jika Aslan melakukannya tinggal berikan uang padanya dan tinggalkan pernikahan dengan Halana."
Deg... Perasaan apa ini kenapa rasanya aneh.
Halana membalik langkahnya memilih pergi dari sana.
Halana melangkah gontai di sepanjang trotoar.
__ADS_1
"Lagian kenapa juga harus marah kesel gini kalo emang Aslan itu bukan sama aku," Halana mulai terbiasa mengucapkan kata Aku bukan Lo Gue lagi.
Di rumahnya Ayla, Mommy nya Aslan menutup teleponnya.
Mencari Halana tapi, tak melihatnya ketika Lili pelayan yang tak sengaja lewat Ayla mommynya Aslan menghentikannya.
"Dimana Halana bukannya harusnya sudah datang," ucap Ayla.
"Sudah.. Nyonya, tadi di.. eh bukannya tadi Nyonya muda Halana datang dan sudah harusnya bertemu Nyonya apa Nyonya muda belum bertemu dengan Nyonya Ayla." Kata Lili.
"Belum dari tadi saya teleponan dengan teman dan Halana gak datengin saya," kata Mommynya Aslan heran bingung.
Ayla seketika ingat.
"Kalo gitu saya pamit nyonya," kata Lili. Ayla mengangguk.
Ayla duduk memijat kepalanya.
"Jangan Jangan Halana dengar apa yang aku ucapkan, Bisa jadi juga tidak sudahlah biarkan saja," kata Ayla Mommynya Aslan menyandarkan punggungnya di sofa
Ayla duduk di sini di pinggi bendungan di bawah pohon.
Halana mencabuti rumput.
Membuangnya cabuti lagi buang lagi cabuti lagi dan bunga.
"Sebenarnya apa yang mereka rencanakan kenapa aku seperti jadi kelinci percobaan sih," ucap Halana pelan.
Halana kembali bangkit berjalan tiba-tiba tidak sengaja menangkap seorang anak kecil yang berlari- lari sembarangan dan hampir jatuh.
"Kamu gak papa, Ah.. makasih Mb ini anak saya biasa suka sembarangan," ucap seorang wanita yang mengaku ibu anak kecil yang Halana tolong tadi Halana mengangguk dan kembali berjalan.
"Eh..tunggu," ucap wanita tadi memanggil Halana tapi, tak dengar seketika di tepuk bahunya lalu tersenyum Halana terkejut kaget dan menoleh.
"Eh.. iya maaf, kenapa ya," ucap Halana.
"Kayaknya kita pernah ketemu gak asing sama muka kamu, Tunggu... Kamu Syeria... Halana.. iya Halana apa kabar kamu baik aja," ucap wanita tadi mengulurkan tangannya Halana melamun sebentar lalu tersenyum mengambil tangan wanita itu menjabatnya.
"Ah.. iya Ais," ucap Halana yang ingat siapa nama wanita cantik putih didepannya.
__ADS_1
"Kamu lupa ya, Oiya.. kita cari tempat ngobrol yuk," kata Ais teman Halana.
"Boleh, Oiya.. Lama gak ketemu gimana kabar," ucap Halana dengan senyum.
"Santai aja kali biasa aja pake lo gue juga gak masalah. Oiya.. Lan gue tadi ngeliatin lo disana Loh kok kayak kenal eh gak taunya si putri lari-lari nabrak lo maaf ya.. Lo gak papakan," katanya meminta tiga minuman untuk Halana dirinya dan anaknya. Ais dan Halana juga Anaknya si Putri duduk di bangku taman tak jauh dari Truk minuman.
"Hem ya gitulah baik juga engga enak juga ya kek mana lah lo tahu gue waktu SMA lo kan sebangku ama gue," ucap Halana.
"Eh.. yaa ampun lupa kali gue Lan liat nih gue punya buntu belom dua di rumah ya kali sempet gue inget inget, Oiya btw lo galau amat nama Lan," kata Ais sambil menikmati esteh mawarnya
"Gak gue gak papa cuman lelah ama banyaknya masalah biasalah keluarga kerjaan hidup umur.. Semuanya walaupun gue tahu ada yang ngatur tapi, kalo gue gak mikir sebelum bergerak bisa mati cepet gue."
Seketika mereka tertawa bersama.
"Ada ada aja lo, Gue ada saran bagusnih buat lo," Kata Ais.
"Apaan gak macem macem kan," ucap Halana mewanti.
"Kagak!" Elak Ais.
"Baru ketemu kasih saran aja kek dukun lo," ucap Halana.
"Bukan Dukun kampret Gue ini cuman tahu aja pasti masalah itu gak jauh sama perasaan lo," ucap Ais.
"EH.." Halana memukul pahanya sendiri.
"Lo tahu dari mana Lo gak boleh tahu itu Ais." Halana kesal menatap Ais yang tertawa cekikian.
"Lo tuh kalo masalah keluarga gak mungkin sampe murung gak mungkin menyendiri, Ok gue emang gak tahu setatus lo apa sekarang." Katanya menatap Halana seketika tertawa.
"Iyee gue gak bakat jadi pacar orang trus apaan." Halana kurang sabar memebuat Ais kembali tertawa.
"Yaa Apa lah, Jalanin aja semuanya kayak air menjari tempat terendah untuk tetap berjalan kedepan gak perduli tempat terendah itu kayak apa yang pentih hidupnya gak berihenti disitu dan optimis aja gitu, gak di haruskan ngikutin saran gue lo bisa pake ke yakinan diri lo aja," Kata Ais.
Dering ponsel Ais.
"Eh bentar." Ais membuka pesan hang masuk ternyata dari anak pertamanya.
"Maaf nih Lan gue gak bisa lama gue balik duluan ya, Lo hati-hati jangan ngelamun terus, Dan oiya.. Gue turut berduka atas Nitta gue kaget banget waktu itu, lo yang sabar ya.. Maaf gue gak bisa nemein lo lama," ucapnya lalu memeluk juga sempat cipika cipiki.
__ADS_1
Mereka berpisah Halana kembali sendirian menatap minumannya dan menunggu waktu berlalu lagi sebentar.