Pernikahan Berbahaya

Pernikahan Berbahaya
Tidak mabuk kok


__ADS_3

Niatnya tidak akan minum tapi, harga diri akhirnya Halana minum sedikit dan ketika baru mau meminumnya sedikit malah ketagihan.


Dari tempat duduknya Aslan dan Fahmi juga Arjuna masih bicara bersama dan Aslan tak pernah melepaskan perhatiannya dari Halana sedetikpun.


Seketika sebotol habis untuk Halana sendirian Julisy terlihat meremehkan Halana yang minum dan minum terus Aslan juga memperhatikan ekspresi dari Julisy.


Julisy berdiri hendak membantu Halana berdiri. Aslan meninggalkan Fahmi dan Arjuna tiba-tiba.


Aslan berjalan mendekat kearah Halana yang hampor di sentuh Julisy ketika tangan Juisy akan meraih bahu Julisy seketika terkejut.


Julisy yang awalnya akan berdiri membantu Halana seketika di ambil bagian itu langsung oleh Aslan dengan cepat. Julisy terkejut dan diam kaku.


"Maaf saya akan membantu anda membawanya," Aslan menggeleng.


"Tapi," ucapnya lagi berusaha untuk terlihat baik depan Aslan, seketika Aslan menoleh tajam.


"Tudak perlu," tegas Aslan seketika Julisy terkejut dan mundur selangkah.


Aslan membawa Halana pergi.


Sambil Halana berjalan sempoyongan di bantu Aslan,


tadi niatnya adalah menghindari minum itu tapi, Halana tak bisa semuanya karena Aslan diam saja Halana menyalahkan Aslan dan dan memarahi Alsan dalam kondisi dirinya semakin mabuk yang semakin teller.


"Aku gak mau pulang aku mau kita ke hotel aja ya," kata Halana pelan tidak sadar karena terlalu mabuk.


Aslan menatap Halana sebentar dan memasangkan sabuk pengaman, mereka sudah di dalam mobil Aslan, Aslan mengangguk pelan penuh arti.


Benar, mereka pergi ke hotel baru akan sampai seketika itu Halana menarik dasi Aslan dan menatap wajah Aslan sedih.


Ini masih di parkiran.


"Aku mencintaimu Aslan sangat aku sangat ingin dekat dengan mu, Maafkan aku.."


Tiba-tiba Halana memberikan ciumannya dan itu berlangsung beberapa detik hingga Halana lelah sendiri Aslan yang hanyut perlahan melepaskannya dan melihat Halana mengambil nafas banyak juga. Aslan mengambil peran lebih banyak dalam permainan mereka.

__ADS_1


Aslan menatap wajah Halana yang semakin merah.


Segera Aslan turun dari mobil dan mengambil Halana di gendong di bawa masuk tanpa basa basi resepsionis memberikan kunci khusus kamar Aslan. Ketika banyak yang melihat Halana Aslan menggendongnya dengan menutupi wajah Halana dari mata semua orang.


Resepsionis hanya dima saja melihat apa yang di lakukan bos besar dan wanita di gandongannya.


"Lo tahu kalo itu bininya bos."


"Bukan tahu Bos gak, belum nikah tahu, setahu gue sih gitu." Kedua resepsionis itu mengangguk. Bergunjing tentang bos besar mereka yang baru saja masuk mengendong wanita cantik dengan gaun panjangnya.


Aslan memasuki lift masih dengan menggendong Halana. Tiba-tiba Halana bangun dan bergumam di dekat telinga Aslan.


"Turun.." Katanya setengah sadar. Aslan menurunkannya pelan berdiri tidak tegap Aslan merangkulnya dan menyandarkan pada dirinya sepatunya saja sudah terlepas dan Aslan yang membawanya. Halana menjatuhkannya ketika mereka masuk lift.


Halana melepaskan rangkulan tangan Aslan dan mengipas ngipas lehennya menyampirkan rambutnya.


"Aslan panas." Katanya menatap kesana kemari.


Aslan menatap Halana.


"Gerah..." pelan menarik resleting belakang seketika akan ditarik terbuka oleh Halana sendiri. Aslan mencegahnya. Dan pintu lift terbuka.


Aslan membaringkan Halana di kasur dalam kamar hotel pribadi milik Aslan sendiri perlahan lalu kembali bergeser menjauh.


Baru saja akan pergi Halana menangis aneh tiba-tiba menarik kerah tangan Aslan dan menyuruhnya diam disana. Tiba-tiba memeluk Aslan dari belakang dan Aslan berbalik mengusap dahi Halana kebelakang.


Halana mendanga Aslan metap wajah Halana di bawah yang menatapnya keatas datar dingin wajah Aslan sedangkan wajah Halana merah dan terlihat sekali mabuk.


"Jangan minum lagi," kata Aslan pelan.


Halana mengangguk angguk. Bergerak bangun merangka meraih bahu Aslan.


Seketika cimuman Halana kembali lagi tiba-tiba tidak sedikitpun Aslan terkejut dan malah menanggapinya dengan tenang, cimuman yang liar kembali dimulai yang bukan sekedarnya seperti di mobil dan itu lebih dalam, itu membuat Halana seolah berani bergerak sendiri membuka kancing baju Aslan. Aslan juga tiba-tiba bergerak menjauhkan Halana.


Aslan mencegahnya tapi, tatapan mata Halana seperti ingin di turuti tangan Halana mencegah Aslan menjauhkannya.

__ADS_1


Aslan ingin menuruti sesuatu yang mendoronganya tapi, Aslan tidak ingin menyakiti Halana Aslan menahannya sekuat tenaga ketika Halana terus memancingnya.


Xx


Di rumah orang tua Aslan Orang tua Julisy tiba-tiba datang dan bertamu saja.


Membicarakan tentang banyak hal hingga merembet pada putri mereka Julisy.


"Maaf tapi, aku sedang tidak ingin menyinggung tentang putrimu Farah." Mommy Aslan menghentikan sebelum terlalu jauh.


"Yaa tidak masalah aku hanya ingat sedikit tentanya bukannya sekarang ia harusnya menikah tapi, sayang belum ada yang cocok."


Mommy Aslan meminta ibunya Julisy meminum tehnya.


"Aku juga berharap putrimu segera menikah karena sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter beda luar negeri sampai lupa dengan kehidupan pribadi bukan," ucap Mommy Aslan.


Keduanya terkekeh.


"Jika Aslan bisa Aku juga mau menjadi besan kalian bukannya rumor tentang anakmu yang menikah hanya sepuluh tahun itu sudah tersebar." Farah membuat gosib baru dan Mommy Aslan langsung mendengarnya dengan sedikit kaget dan tersenyum kembali tenang.m.


"Hem... Mungkin mereka akan berpisah setelah sepuluh tahun," ucap Mommy Aslan membuat harapan untuk keluarga Julisy masuk kedalam keluarga besar mereka.


"Tidak bisa jika Putraku sendiri kekeh untuk memiliki istrinya selamanya," ucap Mommy Aslan lagi seketika membuat ibunya Julisy terdiam.


Sudah di terbangkan keatas di jatuhkan lagi dengan keras.


"Maaf apa maksudnya," katanya bingung wajahnya mulai akan kecewa mengerti tapi, sulit menerima kenyataannya.


"Yaa bagaimana seorang ibu, jika cinta putranya adalah ibunya untuk pertama kali dan terakhir tapi, ketika menikah dan sudah sangat mencintai istrinya, Mana ada ibu yang tega memisahkan kebahagian putranya dengan jahatnya," Kata Mommy Aslan seolah membuat perkataannya di lebih lebihkan dan di buat seakan akan keluarga Julisy tidak ada harapan untuk masuk menjadi bagian keluarga mereka.


Di Kamar Hotel kamar pribadi Aslan.


"Halana." Aslan mengusap kepala Halana yang masih tertidur dalam pelukannya dari leher kebawah tertutup selimut dan ac menyala membuat udara kamar lebih sejuk.


Aslan bangkit dari ranjang perlahan dan membuka kemejanya lalu pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Aslan tidak menyentuh Halana sama sekali hanya membiarkan Halana bermain-main Aslan juga tidak tahu apa yang tadi dia inginkan ketika Halana mulai membuat tiba-tiba ada rasa aneh ingin keluar tapi tidak jadi di keluarkan dan saat itu juga Halana kelelahan dan tertidur dengan pakaian setengah terbuka lalu Aslan rapikan lagi.


Aslan seperti menahan semuanya dan memilih mandi di kamar mandi Halana. Menatap wajahnya di pantulan cermin kamar mandi Aslan seketika sudah menggunakan kaos putih polosnya dan melangkah keluar balkon dan menutup pintu Balkon Aslan memilih memainkan Macbook yang tersedia di kamar hotel pribadinya. Urusan pekerjaan adalah hal utama bagi Aslan sebelum ada Halana.


__ADS_2