
Beberapa bulan kemudian semuanya kembali normal untuk Halana bukan untuk situasi Halana dan Keluarga Aslan.
Halana melangkah dengan sepatu hilsnya menenggkan badannya dengan pakaian formalnya Sebuah gedung ke jaksaan dimana semuanya akan di adili termasuk Hak Asasi seseorang dalam hal tertentu.
Langkah Halana berhenti saat Ibunya keluar dari pintu di barengi semua wartawan dan Kakak laki-lakinya Halana.
Jika dilihat pasti punya banyak masalah.
"Kau.. kenapa kau melakukan itu padaku haah, Apa maksudmu," ucap Kakak laki-lakinya.
Seketika tamparan itu melayang di wajah Halana.
Plaak..
Seketika itu para wartawan langsung mengalihkan perhatian pada Halana.
Kilatan lampu kamera membuat Halana menutupi wajahnya di bagian pipi yang di tampar.
Memalukan.
"Kalian semua harusnya mewawancarai adik dari putraku yang malang ini dia membuat laporan palsu." Kata ibunya Halana pada Halana menunjuk wajah Halana.
Kilatan lampu kamera terus tanpa henti.
"Cukup! apa ini yang kalian lakukan terhadap menantuku," ucapan itu membuat semuanya berhenti dan mengalihkan tatapan pada wanita cantik paruh baya melangkah dengan melepaskan kaca mata hitamnya.
"Sayang kamu baik aja Mommy ada disini," ucap Ayla ternyata mommynya Aslan datang. Halana terdiam terkejut kenapa Mommy Aslan ada disini kalo disini berarti sudah lebih baik.
"Kalian ini selalu mengganggu menantuku, jangan bilang aku tidak tahu apa yang kalian lakukan," ucap Mommy Aslan menatap melangkah mendekat perlahan.
Seketika ibunya Halana dan Kakak laki-laki Halana menegguk ludahnya kasar tak lama ayah dan adik perempuannya datang dan melihat siapa yang ada didepan istri dan anak lelakinya.
"Bagus kalian semua ada disini." Mommy Aslan menoleh melihat ayah dan adik Halana berdiri menatap tak percaya.
" Aku akan memperkenalkan besanku tapi, tega membuang putrinya sendiri," ucap Mommy Aslan sedikit, kejam,
seketika membuat kilatan lampu kamera mengarah lagi pada keluarga Halana. Ibu ayah adik dan kakak Halana panik.
"Jika.." Mommy Aslan melangkah maju lagi.
Tersenyum.
Mengetuk gagang kaca mata di dagunya.
"Jika kalian masih terus memeras putriku maka kalian seharusnya tidak berurusan dengan ku, tapi bagaimana lagi, kalian bertemu denganku disini, urusan kita akan panjang jika berlanjut," katanya melipat tangannya di atas perut menatap besannya.
Ayah Halana langsung menghentikan dan mengambil alih bicara seperti penjilat.
"Nyonya Xavier maafkan atas kelancangan istri saya, saya akan membuatnya mengerti," katanya dengan sangat malu. Ayah Halana seperti seorang penjilat sekarang Halana sangat merasa malu juga kasihan. Mommynya Aslan tersenyum miring.
Tiba-tiba,
__ADS_1
Bisik-bisik Wartawan bicara, jika ini tidak mungkin masalahnya, mana mungkin juga keluarga Xavier memiliki menantu cantik dengan keluarga bermasalah.
Ada juga yang mengatakan jika Halana adalah putri terbuang dan itu membuat mereka para wartawan kembali berpendapat tajam jika memang mereka besan dari keluarga Xavier.
"Mommy lebih baik masuk saja Halana temankan," ucapnya lembut Mommy Aslan agar menghentikan semua ini sebelum semakin rumit jika sampai didengar Daddynya Aslan ini akan bahaya buat keluarga Halana. Mommy Aslan mengangguk dan membiarkan Halana memeluk dan menuntun tangannya membawanya masuk.
Semua wartawan langsung pergi bersamaan itu mengejar Halana dan Mommynya Aslan.
Keluarga Halana diam di tempat dan menatap marah kedepan.
Gak mungkin ini semu, tatapan mereka saling melempar satu sama lain saling tidak percaya jika Halana malah mendapatkan hadiah yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan dan perlindungan seperti keluarga bangsawan.
"Kita gak boleh biarin Halana bahagia sama pernikahan ini, atas dasar perjanjian mana mungkin putriku nikah sama orang kaya, ibunya gak kena hartanya sedikit pun, ibu ini ibu kandungnya," ucap Ibunya Halana kesal.
"Mama bener harusnya Helena bisa masuk salah satu perusahan entertaiment punya Keluarga Xavier." Kata Helena dengan menggebu.
"Pikirkan aku juga bagaimana denganku," ucap Kakak laki-laki Halana.
"KAU YANG SALAH PIKIRKAN NASIB MU LAGIAN AKU SUDAH BILANG JANGAN SAMPAI KETAHUAN KAU MALAH KETAHUAN DENGAN HALANA."
Bentak ibunya lalu pergi.
Kakaknya Halana hari ini hanya menjadi pelaku tanpa bukti karena kakaknya terlibat masalah sekandal dengan artis dari teman Helena.
Mereka semua pergi meninggakan gedung kejaksaan dan meninggalkan kehebohan didalam.
Edgar dan juga para bawahannya sedang memeriksa area sekitar dimana terjadi kecelakaan kemarin lalu pergi lagi ke tempat dimana truk kontainer besar berlabuh atau terminalnya.
"Kau yakin bagaiamana bisa para truk kontainer itu menabrak Tuan muda Xavier tanpa alasan," ucap petugas pengawas Pak Hwang.
"Sekali lagi maaf Pak Edgar tapi, kau tahulah aku tak pernah berbohong bahkan aku saja pernah memberikan tentang semua laporan karyawan sopir disini yang pernah masuk penjara tapi, Platnya nomor ini bahkan tak pernah ada di sini," ucap Pak Hwang dengan tegas dan pasti, karena dirinya memang tidak tahu apapun.
Edgar menghela nafasnya pak Hwang ini memang sudah sepuluh tahun bekerja di tempat ini sebagai pengawas juga sebagai badan penanggung jawab penting tentang keamanan kendaraan.
"Terimakasih Pak Hwang kalo gitu saya pamit," kata Edgar dengan datar berjalana pergi ke luar area terminal truk kontainer dengan mobil dan anak buahnya.
Edgar datang ke gedung kejaksaan untuk menjemput dua majikannya yang sedang akur.
Seketika di dalam mobil Edgar menerima pesan dari Fio istrinya.
"Nanti aku yang masak buat malam ini mama dateng kerumah," ucap Fio di pesannya.
"Iya.. terserah kamu aja, kamu mau nitip apa?" Balas Edgar di pesannya.
Fio seketika merasakan getar ponselnya di saku.
Ternyata balasan pesan dari Edgar Fio sedikit salting.
"Haah.. di bales tumben.. Adeh.. gue mikir apaan Aah lupa .. gue lupa gimana kalo misalnya mama Tahu kalo gue gak sekamar sama Edgar .. waalah abis gue," paniknya langsung segera memengamasi baranya kebetulan Fio sudah selesai siftnya dan akan pulang cepat.
Setelah belanja makanan untuk di masaknya Fio langsung memebereskan apartemennya dan juga memasak daging sambil bersih bersih.
__ADS_1
Ketika akan mengolahnya Fio bingung.
"Ini gimana caranya?" Kata Fio seketika Suara berterdengar Fio menggigit kuju jarinya.
"Lah kok udah pulang." Katanya terkejut.
"Kenapa aku pulang cepat karena kamu pasti belum masak apapun aku beli kueh jalan kemari," ucap Edgar sambil meletakkan bungkusan itu diatas meja makan seketika membuka jasnya dan meletakkan tasnya.
"Huuh.. Gue kira lu mama, mati hampiran kaget bener gue," ucap Fio.
Edgar seketika mengusap kepala Fio lembut menggulung kemejannya dan melihat semuanya sudah Fio siapkan bahkan belum disentuh.
Edgar sudah tak asing dengan hal ini, dengan cekatan Edgar membuat semua bahan mentah yang diam menjadi makanan matang siap santap.
"Tumben pulangnya cepet." Fio masih membersihkan karpet depan tv.
"Hari ini Nyonya muda sama Nyonya Besar gak mau di jemput mereka pulang bareng pake sopir nyonya besar."
Fio mengangguk.
Xx
Di tempatnya Halana dan mommynya Aslan di dalam mobil yang berhenti di lampu merah.
Rasanya kaku dan tidak enak.
"Mommy gak usah ikut campur kalo sampe semua media ngeliput berita buruk keluarga Aslan Halana gak enak." Kata halana tiba-tiba memecah keheningan.
"Kamu kenapa takut gitu, Gak usah di pikirin mereka juga capek sendiri nantinya," ucap Mommy Aslan santai.
Halana terkejut cepat sekali berubahnya."
"Maaf ya.. Mommy pernah nampar kamu maaf Mommy nuntut kamu buat cerai sama Aslan, Gara-gara itu Aslan gak mau ngomong sama Mommy sampe Daddynya juga," ucap Mommynya Aslan.
"Ehm.. Halana gak papa tapi, emang itukan yang tertulis di kontrak sepuluh tahun jadi habis itu Halana bisa cerai sama Aslan," Kata Halana dengan tenang.
Mommy Aslan mengambil tangan Aslan.
"Mommy tahu kamu itu wanita tipe yang sulit mengenal dirinya tapi, mengerti orang lain keluatan kamu maksain diri buat kendaliin diri kamu tapi, padahal kamu bisa jadi ri kamu sendiri, Dari awal bukannya kamu mau cerai, Awalnya juga Mommy gak mau kamu cerai tapi, waktu itu perasaan Mommy lagi berantakan jadi Mommy marahin kamu," katanya lagi dengan lembut.
Halana terdiam.
"Gak papa kamu mau tinggalin Aslan Mommy cuman minta maaf karena Mommy..."
"Halana negerti Mom, Semua ibu pasti sayang sama anaknya, Apa lagi anak laki-lakinya, Halana ngerti itu, gak usah merasa bersalah. Halana biasa aja kalo gini juga Halana jadi tahu Mommy itu sayang banget sama Aslan."
Mommy Aslan mengusap pipi Halana lalu tersenyum.
"Udah lama kamu gak pulang nemuin mereka kayaknya," tiba-tiba pembicaraan Mommy Aslan mengarah kesana.
Halana tersenyum takut.
__ADS_1
"Mereka pasti bukan nerima Halana anak mereka kalo Halana pulang tapi nerima menantu keluarga Xavier atu kemungkinan jeleknya Mereka emang gak mau ada Halana di sekitar mereka," Kata Halana.
"Kamu anak mommy kok," kata Mommynya Aslan menghibur Halana yang tiba-tiba menjatuhkan setetes air mata yang buru-buru di hapus.