Pernikahan Berbahaya

Pernikahan Berbahaya
Air mata


__ADS_3

Aslan berdecih dan menatap sofanya lagi dengan menggeleng dan menarik pelatup tapi tak sungguhan.


"Kau seharunya sopan jika bertamu tapi tak masalah," ucap Aslan seketika menodongkan SIG Saure P226 kearah kepala ayahnya Dimas yang sudah tak berdaya ketika di belakangnya sudah ada Ada Edgar menodongkan dari belakang.


"Anak sialan.. Siapa suruh kau sembarangan,"ucap Jack pada putranya yang kurang ajarnya yang tak pikir panjang. Jack tak menyangka Putranuya ini sangat bodoh masalahnya menculik Halana sulitnya sampai datang ke sarang Singa kelaoaran tanpa persiapan matang di tambah hal memalukan.


Di luar semuanya sudah di lumpuhkan oleh bawahan Arzen.


Mereka memang orang berpengaruh tapi, Aslan masih bisa diatas mereka dalam melakukan hal besar.


"Sekarang katakan apa yang ingin kau katakan Tuan Jack Malvonso." Kata Aslan dengan wajah yang menatang. Seketika Dimas menembak Aslan dari belakang bagian kakinya tiba-tiba.


Dor..


Saat bersamaan ketika Aslan sedang bicara sebelum tertembak Halana datang dan menerobos masuk. Arzen yang menahan Halana seketika itu ikut masuk.


"Nyonya Jangan mas...suk," seketika Halana berteriak bersamaan melihat Aslan tertembak oleh Dimas.


"ASLAN!"


Edgar terlambat menarik Aslan, saat itu juga suara teriakan membuat mereka semua menoleh menatap siapa yang berteriak. Aslan menoleh dengan santai dan melihat Halana disana menatapnya.


"Hooh.. Datang juga ternyata." Kata Dimas dengan semirk anehnya dan menyugarkan rambutnya kebelakang. Dimas berjalan mendekat seketika Aslan menghalangi Dimas untuk mendekat.


"Apa yang kau lakukan Arzen," ucap Aslan.


" Maaf Tuan," ucap Arzen tak sanggup menahan Nyonyanya masuk.


"Kenapa kau datang." Kata Aslan tetap tenang melirik samping bicara pada Halana.


Halana berlari membantu Aslan berdiri dengan benar padahal Aslan tetap berdiri dengan benar. Aslan mengambil kendali tubuhnya sendiri dan menarik Halana ke belakang tubuhnya.


"Halana." Kata Dimas dengan ramah dan bahagia senyuman diwajahnya membuat Halana geli dan di tambah melambai dengan senyumannya Halana tambah geli.


"Aslan jelasin sebenarnya apa yang... kalian semua dan Lo Dimas," ucap Halana binggung tangan Aslan memegang tangan Halana dengan erat tak menjawab ucapan Halana Halana kembali di tarik di belakang Aslan tapi Halana keras kepala tetap saja terlihat Dimas.


"Jangan sentuh dia," ucap Aslan datar pada Dimas yang akan melangkah dan meraih Halana dari samping.


"Haha.. Tak bisa? Jika aku tak menyentuhnya sekarang nanti! aku akan menyentuhnya," ucap Dimas seketika maju lagi Aslan langsung mendorongnya kasar menjauh hingga terhuyung kebelakang Dimas menatap lantai menepuk dadanya dari sentuhan Aslan dengan terkekeh.

__ADS_1


"Aku tak akan menyiakan waktuku," ucap Dimas seketika mengarakan senjata apinya didepan wajah Aslan.


Seketika pelatupnya akan ditarik ibu jari Dimas berhenti.


"Halana." Suara Dimas pelan.


"Halana," panggilan Aslan menatap Halana didepannya dengan melebarkan tangannya.


"Apa... Lo mau nembak nembak aja gue lo itu kenapa sih selalu aja gangguin gue Lo itu gak gue suka DIMAS." Kesal Halana menatap Dimas marah.


Halana membentak di depan Dimas dengan posisi melindungi Aslan melebarkan tanganya.


"Menyingkirlah." Kata Aslan dengan dingin menarik Halana kasar kesamping tubuhnya.


"Aslan jangan lakuin ini demi Mommy kamu sekarang aku mohon kamu berhenti dan ngomong baik-baik Mommy kamu sakit lagi, aku mohon jangan gini," ucap Halana menarik tangan Aslan mencoba menghentikannya.


Aslan tak bisa mengabaikan tatapan memohon Halana benar-benar orang yang berbeda Halana terlihat Tulus. Fokusnya saat ini hanya pada wajah Halana.


"Sudahlah aku muak," ucap Dimas.


Dor...


Halana menggeleng dengan air mata yang sudah menetes sangat banyak menatap wajah Aslan sejak pertama kali peluru di lepaskan hingga menembus bahu kanannya sekerang tangannyapun tak bergerak turun tetap lurus kedepan, bersiap melepaskan pelurunya untuk Dimas.


"Aslan aku mohon," ucap Halana memegang tangan Aslan menatap dengan wajah benar benar basah air mata.


"Jangan Menangis," ucap Aslan lembut Halana memejamkan matanya dan segukan hingga Aslan menoleh seketika.


Dor... Dor.....Dor..


"Aslan!" Teriak Halana bersamaan dengan ayah Dimas.


Halana menutup telinganya ketakutan tapi, ayahnya Dimas berteriak dengan tatapan marah bercampur aduk dengan sedih ke arah putranya.


"Halana tenang aku tak apa apa," ucap Aslan melihat Halana yang menatapnya dari samping dengan ekspresi ketakutan telinganya di tutup. Aslan memegang kedua tangan Halana.


Seketika menoleh ke depan Halana melihat Dimas yang mati dengan banyak darah dan lubang di tubuhnya.


"Haaak... A-aslan... I-tu?" Halana memalingkan langsung wajahnya dan menatap Aslan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa jangan takut aku ada disini." Aslan memeluk Halana dan meminta Arzen membereskan semua yang telah di lakukan Aslan barusan.


"Aslan aku tak bisa menerima ini.. Kau... Telah..."


"Anak mu tak mati pak Tua.. bawalah kerumah sakit dan selamatkan dia, cepat bawa dia pergi atau aku akan menghancurkan perusahaanmu dalam semalam dan putramu juga hancur," ucap Aslan seketika menyadarkan Malvonso dari hayalannya.


"Sialan," umpatnya langsung pergi dari rumah Aslan dengan kesal.


Dimas di bawa anak buahnya dan segera pergi bersama semua anak buahnya. Aslan duduk di sofa dengan masih memeluk Halana beberapa saat.


"Hiks.. Aslan.. Jangan.. Jangan pergi... Aslan... Aku takut... Aslan..." Berulangkali nama Aslan Halana ucapkan dengan suara tangis dan sesegukan terputus.


Para pelayan datang membawakan baskom air dan p3k lalu pakaian ganti sementara.


Kedalam Kamar Aslan setelah Aslan dan Halana pergi kekamarnya sekarang Halana membantu Aslan membersihkan lukanya.


"Kenapa kau keras kepala. Aku memintamu pergi bersama Zoela besok pagi aku akan menjemputmu," ucap Aslan.


"Iya.. Besok pagi aku akan menjadi janda begitu, Mommymu panik sampai pakai selang oksigen dirumah." Kata Halana menatap Aslan seketika salah tingkah dengan tatapan tajam Aslan.


Pipi Halana seketika memerah malu Halana selesai mecabut peluru di betis Aslan dan mencabut peluru di bahu Aslan, langsung membersihkannya dan mengobati dengan atiseptik. Terakhir, memasangkan perbannya dengan perlahan tempelan perban sambil menangis, Halana dengan telaten membuat perban menempel dengan sempurna dan rapi.


"Kenapa tidak kerumah sakit lebih baik di obati disana," kata Halana menatap Aslan sambil merapatkan perban.


"Gak usah ini udah cukup." Menarik Tangan Halana untuk duduk dan kini Aslan yang berdiri mengambilnpakaian sementaranya kimono satin atau jubah tidur.


Xx


Fio menatap kedepan kesal sendiri jam segini belum juga kembali memangnya selembur itu kerjaannya.


"Aku pul.." Ketika masuk Fio menatap dengan tatapan horor.


"Kenapa lama kenapa gak sekalian bawa baju lo sekalian, Lo dari club kan," ucapnya menatap selidik Edgar.


"Tidak." Elaknya melepaskan sepatu dan masuk membuka jas dan menggukung kemejanya sampai sikut sambil cuci tangan.


"Kalo tidak kemana ?" Kata Fio masih berdiri di belakang Edgar.


"Kamu khawatir denganku?"

__ADS_1


"Gak sama sekali cuman gue mimpi buruk abis nonton horor pembunuhan gue takut aja Lo gak ada di rumah takutnya kalo sampe tuh pintu apartemen kebuka tiba tiba gue gak bisa apa-apa." Fio mengambil air di gelas dan diminumnya sendiri Edgar sudah mengulurkan tangan dikira memberikannya pada suaminya sendiri ternyata di minum sendiri.


__ADS_2