
Halana menggunakan gaun malam dengan warna ungu kebiruan memperlihatkan bahu putihnya yang ramping leher jenjangnya.
Didepan kaca kamarnya Halana menatap dirinya.
Semuanya akan lebih baik jika cepat berlalu tapi, apa itu bisa. Halana terdiam menatap wajahnya yang sedikit suram di pantulan bayangan cermin.
Tarik nafas hembuskan Halana Syeria harus terlihat lebih baik tidak bisa selemah kemarin-kemarin, dirasa sepertinya yang kemarin adalah kemarin bukan sekarang jadi harus lebih baik lagi.
Halana melangkah keluar kamarnya dan menghampiri Aslan mendekat lagi seperti tidak ada masalah.
Tiba-tiba perlakuan hangat Aslan membuat hati Halana sulit melepaskan Aslan lagi dan menghancurkan pertahanan Halana.
Kecupan didahi yang sangat lama dan usapan ubu jari di pipi Halana membuat wajahnya terlihat memerah memalukan sepertinya.
"Suadah?" Tanya Aslan pelan menatap netra sendu Halana.
Halana mengangguk.
"Iya." Mereka berjalan keluar rumah.
Memasuki mobil dan duduk bersama dalam diam seperti biasa.
Xx
Mobil Aslan sampai setelah beberapa menit kemudian. Pintu di bukanan oleh satpan. Halana turun bersama Aslan seketika tanpa diminta Aslan menarik pelan tangan Halana menuntunnya untuk memeluk lengan atasnya.
'Terlihat pasangan yang romatis sekarang,' kata batin Halana yang merasa canggung dengan apa yang Aslan lakukan sekarang.
Halana dan Aslan memasuki aula pesta pembukaan gedung baru miliki teman koleganya Dewa Arjuna dan juga akan memenuhi undangan salah satu koleganya ini untuk acara pertunangan putra pertamanya Dennis.
Ramai dan terlihat jika semuanya adalah kalangan atas.
Aslan mendekat pada Halana menarik pelan pingga Halana untuk menempel padanya saat ada yang ingin menabrak Halana.
Memeluk pinggang rampingnya tiba-tiba membuat Halana sepontan menoleh menatap Aslan dari jarak yang dekat.
"Kenapa." Halana menatap Aslan canggung menelan ludahnya kasar salah tingkah sendiri.
"Ayo." Tidak ada kata lainnya tidak juga menjawab ucapan Halana. Halana menurut saja mengikuti Aslan.
Aslan dan Halana seketika di panggil mendekat oleh Fahmi.
"Heey.. Bro.. Gimana kab.. Lo kok dia ama lo," ucap Fahmi dengan bahasa santainya jika sudah di luar pekerjaannya bersama Aslan Bahasa Fahmi terserah Fahmi karena bicara pada robot seperti Aslan bebas-bebas saja tidak juga sakit hati kalo Fahmi bicara kasar lagi pula pembicaraan lelaki biasa juga seperti itu terkadang.
Sadar ada wanita cantik sebelah Aslan , Fahmi malu sendiri.
"Maaf Lady karena saya kurang sopan, Saya Fahmi sepertinya kita pernah bertemu," ucap Fahmi membuat Aslan menatap tajam keduanya.
Halana memeluk lengan atas Aslan tersenyum mengangguk.
"Anda Fahmi bukan, Saya tahu itu saya Halana, anda dengan Adik saya akan menikah." Halana membuka pembicaraan seketika tatapan Aslan melemah ketika Halana tiba-tibamenoleh menatap Aslan.
"Tidak bisa di jelaskan sekarang karena itu mungkin tak baik di ceritakan." Halana tersenyum tipis mengiyakan ucapan Fahmi dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Silakan Lady nikmati pestanya dan Bisa saya meminjam Aslan sebentar," tersenyum saling mengangguk Halana membiarkan Aslan bicara dengan Fahmi.
Aslan dan Fahmi mendatangi Arjuna dan Dennis mereka berempat saling bicara hingga tiba tiba Emelly dan Samuel bergabung.
"Lihat dia sudah sedikit.. Terlihat tua," kata Samuel sembarangan pada Fahmi.
Fahmi langsung memegang wajahnya.
"Tidak.. Jangan begitulah paman paman sendiri bukannya menikah malah mengadopsi anak," kata Fahmi sedikit menusu hati Samuel. Emelly terkekeh tertawa ketika Samuel di sepelekan.
"Jun.. semangat lagi, Noh Zeline mau nambah berapa anak, kuat ama buat anak ama lo," kata Fahmi.
"Om Fahmi bicaranya tidak terkontrol," seketika Suara Denis membuat Fahmi tertusuk.
"Heh.. Bocah.. Diem gak lo baru juga kemaren sore lo udah mau tunangan aja tapi, lo persisih kek bapak lo si A..." Seketika Emelly mencubit pinggang Fahmi agar tidak banyak bicara.
"Sorry.. Gue cuman mau becandaan keles," kata Fahmi menatap mata tajam Emelly.
"Selamat," ucapan Aslan untuk Arjuna.
Mereka berdua saling mengangguk.
"Tuh.. kan es ketemu es jadinya beku deh," kata kata Fahmi mulai berulah lagi.
Arjuna langsung melayangkan tatapan tajamnya.
"Gue diem."
Mereka bicara saling bertukar kabar juga kondisi Aslan kemarin Arjuna salah satu kolega juga teman tapi, tak terlalu dekat dekat karena orang tua mereka dulunya.
Xx
"Nih orang suka banget pada pesta mending duit di tabung buat masa depan." Halana bicara pada dirinya sendiri. Seketika sadar pakaiannya juga bisa untuk membeli rumah Halana malu sendiri.
Saat baru saja menyamankan dirinya di kursi jauh dari keramaian seorang wanita gaun putih dengan belahan paha panjang ke bawah berjalan mendekat kearah Halana dengan langkah yang anggun tersenyum juga dengan manis.
"Permisi bisa aku bergabung denganmu," katanya dengan sopan tapi, seperti sok akrab Halana menagangkat wajahnya menatap wanita itu.
"Iya silakan," katanya lalu Halana diam saja sejak wanita itu baru duduk tidak ada pembicaraan dan sesekali memainkan ponselnya menganggap tak ada orang didepannya.
Wanita itu terus menatap Halana, karena terasa canggung wanita itu berinisiatif sendiri dan meminta pelayan lelaki mengantarkan Wine yang mau di pamerkan pada Halana. Tidak tahu apa maksudnya
"Kau tidak lupa denganku kan, Aku yang pernah datang di acara yang katanya resepsi kalian dan bicara bersama Kelly Sarvon untuk itu aku kemari lagi ketika tahu kau akan datang, dan juga ya.. karena ingin bicara bukan lainnya," ucapnya pada Halana. Seketika itu Halan menatapnya dan tersenyum tenang menyimpan ponselnya.
"Bicara saja nona, tidak ada yang melarang." Halana tersenyum lagi dan melihat seorang pelayan membawakan Wine mahal yang di letakan dengan pelan diatan meja bersama dua gelas.
"Apakah anda sudah mencobanya," kata Wanita itu.
Pelayan lelaki itu menuangkan sedikit pada gelas anggur di depan Halana.
"Wine ini yang terbaik dan sulit sekali menemukannya sampai harus pesan jika ingin memilikinya rasanya aneh jika diminum tapi, penasaran dengan rasanya, bagaimana mau mencobanya?" Katanya lagi.
"Belum sepertinya Tapi, nona Julisy saya tak biasa meminum Wine seperti ini," kata Halana terdengar seperti sombong, Julisy terkekeh geli.
__ADS_1
Ini sebenarnya Halana sedang menghindar.
"Benarkah," tersenyum menatap tak percaya pada Halana.
"Aku tak yakin jika kau dari keluarga Julisy pernah meminumnya," ucap Halana membuat Julisy seperti tidak akan bisa membeli Wine yang akan Halana pamerkan.
Seketika Halana meminta pelayan mengambilkan Wine terbaiknya awalnya pelayan itu terkejut tapi, beberapa saat Halana menatapnya lagi.
Terlihat dari tatapan wanita itu kesal pada Halana.
'Sekaya apa ia padahal mereka tidak terlalu dekat Halana apa Aslan akan mau mengeluarkan uangnya demi Wine seperti itu,' kata hati Julisy menatap remeh Halana ketika menatapnya dengan senyuman.
Halana tersenyum ramah ketika pelayan itu pergi untuk mengambilkan Wine yang Halana mau.
Aslan yang ada di meja bar bersama Fahmi baru saja duduk memesan Kini menatap pelayan lelaki yang mengeluarkan Wine termahalnya membuat Fahmi melongo sebentar.
"Siapa yang kira-kira meminum Wine semahal itu, Biasanya Wine itu gak pernah keluar dari gudang penyimpanan milik keluarga Alexander, kalo bukan karena ada yang mau meminumnya, baru tahu juga kalo Mereka punya gila," kata seseorang di samping Aslan dan Fahmi.
"Benar bahkan aku menjual saham demi mencoba segelasnya untuk wine itu sudah pasti tidak akan bisa." Kata temannya lagi.
Pelayan lelaki itu berjalan melewati Fahmi dan Aslan
"Tunggu," Fahmi menghentikan pelayan itu dan menatap barang Wine dari gudang Alexander.
"Siapa yang mau membeli ini kenapa di bawa dua botol." Fahmi menatap pelayan itu.
"Dua wanita di meja sana Tuan, Mereka tadi meminta Wine dengan logo perak mahkota lalu wanita satunya minta diambilkan yang lebih mahal," ucapnya menjelaskan.
Pelayan itu menunjuk ke arah dimana Halana dan juga Julisy.
"Istrimu," ucap Fahmi pada Aslan yang sedang minuman soda dan buah.
Fahmi masih tak percaya Aslan malah santai saja.
"Biarkan dia melakukan apa yang dia mau, Lagi pula dia istriku," ucap Aslan santai tenang.
"Yaa tapi, Lan.. Arjuna juga gak bakalan enak hati kalo harga mahal itu anggur di kasih ke elo," ucap Fahmi.
Aslan menoleh mengedikkan bahu.
Seketika Arjuna datang menghampiri Aslan dan menatap Fahmi juga yang terlihat gugup.
"Apa barusaja kau mengirimkan bayaran Duapuluh miliar," Kata Arjuna dengan tenang sambil duduk di meja Wine.
"Apa ini?" Fahmi masih bingung.
"Apa kurang," kata Aslan menjawab ucapan Arjuna menatap wajahnya.
"Ini terlalu banyak apa kau tidak..."
"Sudahlah Juna pakai saja untuk Dennis aku ini paman yang lumayan tak terlalu baik untuknya." Kata kata Aslan seketika membuat Arjuna bungkam.
"Siapa?" Maksud Arjuna langsung Aslan tanggapi membalik badannya bersandar pada meja bar.
__ADS_1
"Halana Xavier.. Dia yang memintanya," kata Aslan menunjuk meja dimana Halana dan Julisy duduk.
Arjuna menatap bersamaan Fahmi.