
Halana terdiam dan akan bicara lagi untuk bertanya tapi, seketika itu Aslan masuk kamar Inah dan membuat kedua wanita itu menoleh bersamaan.
Halana terdiam seketika tersenyum.
"Gue istirahat aja gue juga ngantuk makasih ngobrol ama gue. Daah," ucap Halana dengan wajah yang cerah dan senyum lebar terpaksa mengedip ngedipkan matanya mengisyaratkan untuk Inah diam dan tidak bicara apapun pada Aslan.
Ya, yang membuka pintu Aslan tiba-tiba tanpa mengetuk dulu.
Halana melangkah keluar dan menarik tangan Aslan agar ikut pergi bersamanya. Meninggalkan Inah yang menap dengan menggeleng juga tersenyum.
Mereka berdua meninggalkan ruang kamar Inah dan sekarang menuju pintu belakang untuk masuk ke rumah utama.
Aslan menatap Halana yang wajahnya ketakutan juga berkeringat banyak.
"Kau sedang apa di dalam sana kau seharunya..."
"Iyaa.. Gue tahu ini mau tidur makanya gue ngajak lo buat tidur nanti kalo lampu mati kayak kemaren gue takut. Nah dari pada gue nyariin lo Lebih baiknya gue minta tolong temenin Inah ngobrol bareng." Katanya tapi wajahnya tidak sama seperti apa yang barusan di ucapkannya.
"Kau berbohong Halana." Kata Aslan dingin datar juga tajam menghentakan tangannya yang masih di tarik Halana.
Halana terkejut. Berbalik gugup menatap Aslan seketika menoleh kesamping kanan kiri.
"Lo punya penyakit?" Halana menanyakan hal yang belum pernah orang asing tanyakan termasuk Inah Zoela dan Edgar tanyai padahal lebih dulu mereka dari pada Halana.
"Kau terlalu penasaran jika aku punya penyakit apa urusanmu, Hem," ucapnya mendekat melangkah pada Halana yang melangkah mundur teratur.
"Eh.. enggak gitu ma-maksud gue kalo misalnya." Halana mengangguk menyakinkan Aslan.
Aslan menghentikan langkahnya.
"Lebih baik kunci pikiran ingin tahumu dan masukkan kedalam memori tersimpan, karena kau tidak akan bisa tahu sekalipun kau mencari tahunya dengan sangat keras." Aslan menatap Halana dengan tatapan kosong.
"Ngomong-ngomong, berapa lama kau dan aku menikah," ucap Aslan dengan kembali melangkah Halana kembali mundur teratur.
"Sep-sepuluh bulan," jawab Halana apa adanya Aslan mengangguk anggukan kepalanya dan mendekat dengan cepat tiba-tiba.
"Jangan lakukan hal yang tadi Diam dan tenang selama sepuluh tahun, jadi anak pintar jadinya kau tidak akan terluka, mengerti," ucap Aslan dengan nada yang rendah.
Halana sepontan mengangguk. Aslan pergi melewatinya. Halana menghela nafasnya.
'Dia normal kok yang aneh otak ini kali mikirin macem macem.' Pikir Halana menepuk nepuk dahinya dan menggeleng geleng cepat.
Sambil melangkah masuk Halana menggumam untuk dirinya sendiri. Heran dengan otaknya, salah-salah sklarnya salah nyolok!
__ADS_1
Halana terdiam duduk didalam kamarnya menunggu Aslan tak kembali kembali.
Tadi Halana mengikuti Aslan melangkah masuk lewat pintu belakang tapi sudah sampai didalam Halana tidak lihat Aslan sama sekali.
Halana acuh saja dan melangkah kekamar dan sekarang duduk manis.
"Tidur ajalan buang jauh jauh rasa penasaran," ucap Halana lalu membaringkan tubuhnya.
Xx
Pagi hari yang cerah banyak sekali hal yang harus Halana lakukan di tempat kerjanya ketika baru saja membersihkan ruangan lain Halana di panggil seorang lelaki dan ketika menghampiri lelaki karyawan bahu Halana di remas dan sengaja memukul bagian belakang Halana.
"Hey,” menoleh dan menatap tajam. Tanpa banyak bicara Halana menampar orang itu hingga jatuh dan menjadi pusat perhatian seketika.
Halana sangat marah dan pergi seketika itu Dimas datang dan membantu Halana menyembunyikan dari tatapan semua orang.
“Jadi lelaki beraninya jangan sama cewek,” ucap Dimas seketika menampar wajah lelaki itu didapan umum lagi dan menarik tangan Halana. Tak lama datang petugas keamanan.
Seketika Halana dan Dimas pergi dari kerumunan ramai. Aslan datang dan saat itu juga semuanya bubar satu lelaki di tarik dua orang bawahan Aslan untuk pergi.
Aslan menghentikannya dan meminta Zoela mengurusnya. Aslan menoleh menatap Zoela tajam yang mengangguk langsung balik kanan melakukan apa yang Aslan perintah dengan isyarat jari tangannya, Zoela pergi dari sisi kanan Aslan dan Aslan bersama Edgar kembali berjalan menuju lift.
"Apa jadwa hari ini?" ucap Aslan.
"Ada pertemuan dengan direktur utama Otomotif, Ceo pusat di Benua barat lewat daring, Pertemuan singkat untuk mendatangi salah satu tempat proyek besar tentang tender besar yang waktu itu..." Ucapa Edgar berhenti ketika tangan Aslan meminta daftar jadwalnya hari ini dari Edgar.
"Sudah sangat lama ternyata mereka saling kenal istri saya juga mengatakan jika memang Nyonya adalah wanita cantik yang banyak di lirik pria berbagai usia Tapi, juga sikap cueknya membuat Nyonya terlihat sendirian sampai skarang Nyonya orang yang sulit membuka hati," jelas Edgar singkat sesuai apa yang Aslan minta kemarin karena tahu Edgar memiliki istri yang kenal dengan Halana.
Disini Halana ditarik dan dibawa Dimas didekat parkiran hampir sampai di warung kopi belakang kantor.
Halana melepaskan tangannya dari pegangan tangan Dimas membuat Dimas refleks menoleh terkejut.
"Apa.. Kenapa kasar?" ucap Dimas.
Tangan Halana terangkat dengan telunjuk menyonyor kepala Dimas.
"Eh.. Elu.. Ngapain lo belain gue dan ajak gue kabur lo itu malah buat gue keliatan salah banget. Lagian gue gak minta bantuan lo ya," ucap Halana lalu berbalik pergi.
Dimas menatap punggung Halana yang menjauh pergi berbalik meninggalkannya beberapa detik lali Dimas menarik garis senyuman di wajahnya.
"Nyonya Xavier.." ucapnya pelan lalu menatap kanan kiri dan kembali berbalik seperti tidak melakukan kesalahan santai dan tenang.
Dimas duduk dan memesan kopi seperti biasanya.
__ADS_1
Kehidupan terlalu dilayani seperti tuan muda sangat biasa dan sekarang minum kopi di warung pinggir jalan membuat Dimas senang sekaligus nyaman.
Penyamarannya menghancurkan menyelidiki tentang Aslan sebentar lagi akan selesai.
Disini Aslan sedang daring di pukul tiga siang menjelang sore dengan salah satu Ceo yang ada di Benua barat.
"Bagaimana jika kita melanjutkan di langsungkan saja itu menurutku bagimana dengan anda Tuan Xavier."
Mereka masih bicara tentang beberapa proyek dan juga rapat beberapa hal penting yang dengan mereka kerjakan bersama.
Sudah lebih dari Tiga jaman tak terasa, warna jingga di langit keabuan putih ada sedikit biru itu terlihat nyata.
Aslan baru menyandarkan punggungnya dan menutup Rapat bersama Ceo Benua barat.
"Edgar, Minta mommy melakukan apa yang dinginkannya dan jangan hubungi aku untuk beberapa menit," ucap Aslan dimengerti Edgar yang duduk bersamanya hanya bertiga dengan Zoela di ruang rapat.
Mereka berdua pergi meninggalkan Aslan sendirian untuk tenang sebentar.
Masalahnya ketika Aslan sedang rapat ponselnya di silent dan ketika baru di buka Mommynya menelpon juga mengirim pesan sampai puluhan.
Xx
Di rumah Mommy Aslan sedang ada oenata busana juga pendisainer yang bekerja di salah satu butik yang Arga dirikan untuk Istrinya urus.
Ponsel mommy Aslan seketika berbunyi dengan nama Edgar asisten Aslan.
"Oh.. Tunggu sebentar," ucap Mommy Aslan pada keduanya yang tersenyum mengangguk.
Mommy Aslan mengangkat telepon dari Edgar.
"Iya.. Halo Bagaimana Edgar?"
"Tidak ingin menelpon sendiri dia malah kau yang bicara, sudahlah tidak apa-apa anak itu mungkin terlalu lelah, Katakan aku minta maaf jika mengganggunya, Oiya bisa kah kau minta pada Zoela menelponku kembali, Iya.. Iya.. Edgar... Baiklah tidak masalah, Semoga harimu menyenangkan Edgar, terimakasih," ucap mommy Aslan lalu menutup teleponnya bersamaan dengan Edgar.
Xx
Halana yang akan melangkah menunggu bus di halte, bosan jika hanya ojol dan taksi kini,
setelah jam pulang kantor
Halana memutuskan naik bus dan naik ojol setelahnya.
Halanayang baru naik bus saat itu juga menerima pesan, melihat nomor asing Halana terdiam sebentar.
__ADS_1
Setelah didalam bus ponselnya bergetar pesan masuk lagi dilihat dari nomor yang tadi menelponnya sepertinya hanya telpon lalu di putus.
Isi pesannya adalah Halana diminta datang ke tempat dimana butik yang sangat bagus ada dan di bawah pesan itu adalah nama Zoela.