Pernikahan Berbahaya

Pernikahan Berbahaya
Malam itu?


__ADS_3

Halana menatap Aslan di depannya yang sedang membaca buku tebal warna coklat seperti novel atau entahlah buku apa.


"Apa yang kamu lakuin waktu aku gak sadar kemarennya, jawab?" Kata Halana yang sejak kemarin ditahan untuk bilang tidak, bilang tidak. Sekarang baru bisa tanya sehabis semua keadaan normal.


Halana susah payah mengatur kesadaran dan juga degup jantunya apapun yang akan Aslan ucapkan Halana akan terima.


"Ayo.. cepet," kata Halana dengan wajah serius.


Seketika Aslan mengangkat kedua tangannya meraih tangan Halana.


Halana mundur.


"Gimana mau denger kuping kamu sendiri ditutup." Aslan menunjuk kedua tangan Halana menutupi kedua kupingnya.


Halana cengengesan dan duduk dengan tenang.


"Tidak ada aku tidak melakukan apapun," ucap Aslan tenang.


Wajah kelewat tenang tanpa ekspresi meragukan bagi Halana. Halana mendekat menatap wajah Aslan lalu duduk di tempat semula.


Halana menghela nafasnya memikirkan sesuatu.


"Aslan kamu ganteng deh," ucap Halana tiba-tiba memuji dengan wajah di buat imut.


"Hem." Tanggapan Aslan bener-bener membuat Halana lemas.


"Tidak mempan ternyata," ucap Halana dengan pelan menatap Aslan yang membaca bukunya lagi.


Halana terdiam lagi menatap sekitar kamar mereka.


"Aslan Kamu itu ganteng maco baik hati tidak sombong rajin menabung anaknya Mommy Ayla anaknya Daddy Arga. Aslan kamu itu anak jujur jadi ceritain malem kemaren aku mohon kamu ngapain aku ?" Halana memohon Halana masih tidak percaya kalo Aslan gak ngelakuin apapun Aslan itu normal bukannya gak normalkan.


Seherusnya Halana marah-marah tapi, tahu Aslan pasti akan beda nanti sikapnya, lebih mengerikan, sejenis ngusap kepala terus tutup mulut Halana pake satu jari. Haah.. Halana gak bisa bayangin hal itu, semenjak surat kontrak Aslan hancurin Halana harus buat rencana supaya gak akan ada anak kecil dan skin to skin, sejak Fio bikin rusuh jodoh-jodohin segala sama Edgar yang ternyata itu asistennya Aslan juga lakinya sendiri.


Aslan mengangkat wajahnya menatap Halana yang menatapnya berbinar berharap bicara menjelaskan tentang malam itu.


"Malam itu aku tidak membuat melakukan apapun bukannya malam itu kau tidur awal," ucap Aslan benar-benar di luar harapan Halana sudah serius mendengarkan.

__ADS_1


"ASLAN.. NGOMONG DONG YANG KEMAREN MALEM ITU IH RIBET BANGET AKU ITU MALU NYA SETENGH MATI TAHU GAK MINTA KAMU CERITA AKU CUMAN PENGEN TAHU IHH," Melempar bantal memukul Aslan dengan guling.


Aslan menangkap guling itu sekeita Halana terjatuh tengkurap di samping Aslan.


Bicara Halana tak jelas Aslan membalik badannya.


"Cepetan ngomong yang malem itu bukan, malem kemaren waktu pulang abis makan mie ayam Aslan ih... Suami susah kompromi," kata Halana.


"Kamu mabuk abis mamerin wine paling mahal karena mabuk parah kamu minta ke aku buat anterin ke hotel. Aku bawa kamu kehotel beneran masuk kedalem kamar..." Halana menutup mulut Aslan dengan kedua tangannya mendorong Aslan membentur sandaran tempat tidur.


"Stop... Aku gak ngapa ngapain kan iya kan iya kan," Halana berharap tidak melakukan apapun Aslan terpotong padahal sedang bicara menjelaskan.


Halana seketika mengelus tangan Aslan setelah sadar tatapan mematikan Aslan.


"Hehe.. maaf.. maaf," khawatir takut Aslan akan mengamuk pada Halana.


"Lanjutin aja lagi silakan," katanya dengan lembut tersenyum sangat manis membujuk Aslan yang diam menatap Halana lama. .


Aslan menatap Halana lalu menutup buku sebelumnya memberi pembatas dan menyimpan buku yang di bacanya di atas nakas dekat lampu tidur.


"Kamu teler waktu itu juga kamu dua kali menciumku, pintar juga kamu berciuman sudah pernah?" Aslan menatap Halana tiba-tiba pipi Halana memerah. Aslan menatap datar tapi, Halana malu sendiri.


"Gak mungkin Gak.. Aslan itu ciuman pertama gue gue gak pernah ciuman," kata Halana paniknya sangat berlebihan Aslan langsung meraih bahunya Halana dan menatap mata Halana fokus.


"Aku yang kamu cium bukannya Singa," Aslan membuat Halana semakin malu.


Ya bukan singa juga tapikan itu lips to lips.


' Aaahk...' Halana ingin rasanya menggantung lehernya di menara listrik.


"A.. ya malu Aslan." Kata Halana dengan wajah yang merah kesal ditutup kedua tangannya agar tidak dilihat Aslan.


Aslan menatap Halana sepertinya Halana terganggu dan pasti tak nyaman lebih baik sudahi saja ceritanya.


"Sekarang tidur." Aslan mematikan lampu Halana belum tidur dan masih membuka matanya seketika Aslan berbalik menatap wajahnya.


"Aku tidak akan menyentuh kamu tapi, kamu sudah menyentuhku aku tak masalah tapi, jika mau ada reka ulang adegan aku bisa mengulang yang kemarin," ucap Aslan tiba-tiba membuat jantung Halana hampir copot. Cepat-cepat Halana berbalik memunggungi Aslan dan tidur.

__ADS_1


Semakin malam Aslan tidak tidur. Bangkit dari tempat tidurnya dan pergi keluar ketika melihat selimut Halana turun ke perut Aslan menaikan sampai Bahunya.


Melihat dengkuran halus dan nafas teratur Halana Aslan bergerak memajukan wajahnya dan mengecup bibir dan dahi Halana lama bergantian.


Aslan pergi ke ruang kerjanya kembali bekerja dengan berkas berkas.


Aslan tak pernah tidur lama kadang hanya memejamkan matanya lalu terbangun cepat dengan tenang.


Aslan tidak bisa tidur setiap malam bahkan sebelum ada Halana sekalipun di rumah ini Aslan bisa membaca dua buku tebal dalam semalam.


Aslan menatap semua pekerjaannya ketika itu di meja kerjanya ada foto Halana dan Tiga sahabatnya bersama tiga lelaki di belakangnya pergi ke pasar malam dan makan gulali memakai bandana kelinci Aslan juga ingat mie ayam pedas waktu itu.


Aslan mengusap foto itu. Ada rasa senang terlihat dari tatapan mata Aslan tapi, kalo di tanya 'apa Aslan senang?' Aslan pasti akan jawab 'tidak ada rasa apapun.'


Xx


Sejak kembali dari makan mie ayam pedas waktu itu Edgar dan Fio perang dingin dan Fio lebih parah karena semua yang di lakukannya salah tingkah ketika Edgar menjauhinya.


Fio masak telor mata sapi gosong di makannya sendiri ketika sudah habis cuci piring sendiri.


Sedangkan Edgar bisa masak dan makan-makanan enak. Apalah daya Fio masak kurang mampu di tambah mulutnya yang julit pasti sakit jadi Edgar.


Edgar berharap Fio sudah jatuh cinta padanya malahan Fio memberikan dirinya pada teman perempuannya dan itu adalah istri bosnya di tambah statusnya sudah milik orang Fio ini sebenarnya termasuk dalam lingkaran istri berakhlak baik gak sih?


Edgar pergi ke tempat kerjanya untuk membereskan berkasnya Fio seperti biasanya mencari tontonan bagus tapi karena canggung sejak kemarin beku makin beku, dingin makin dingin.


Fio turun dari Sofa berjalan ke arah ruang kerja Edgar ingin masuk malu tidak masuk masalahnya tidak selesai.


Tapi, kalo sampe ada apa apa kayak di filem romatis gimana kan serem.


Apa lagi di campur sama adegan sinetro kalo pihak pelaku gak mengakui perbuatan dan membuat Korban harus bangkit sendirian dari keterpurukan.


Ogah Aah... Fio menggeleng kencang tidak ingin adegan filem romatis yang abis maafan terus adegan semelehoy.. Fio gak bisa.


Fio terus menggeleng mengusir pikiran amburadul tak jelas basingan di kepalanya yang terus terbayang bayang.


Seketika itu pintu di tarik kedalam di buka kedalam.

__ADS_1


Fio langsung pergi bersembunyi di Sofa melihat film Action dan pura-pura memainkan ponselnya.


Fio melirik Edgar yang membuka kulkas dan mengambil air minum dengan gelas di bawa lagi masuk keruang kerjanya.


__ADS_2