
Halana mengangkat wajahnya lagi untuk menatap Aslan tapi, ketika itu juga Aslan berbalik mematikan ponselnya dan saat itu pengobatan Halana selesai.
"Sudah selesai sepertinya Nyonya harus lebih banyak istirahat." Kata perawat itu.
"Iya terimakasih." Kata Halana.
Saat itu juga Halana mendekat pada Aslan dan berdiri menghalangi Aslan tanpa basa basi Halana menampar Aslan dan memukul dada Aslan dengan kencang sambil berteriak marah, mengatakan kata jangan lagi jalan lagi.
Semua menatap Aslan dan Halana seketika itu Edgar membukakan pintu mobil untuk Aslan.
“Kita pulang,” ucap Aslan dengan datar. Halana menggeleng dan membenturkan dahinya didada Aslan sambil menangis berulang kali.
"Jangan lagi, Jangan bantu hutang budi gue ama lo semakin banyak bisa gak sih jauhin hidup gue urus urusan lo dan anggep gue gak pernah tahu lo," ucap Halana dengan tangan memukul-mukul Aslan.
Tangan Aslan masih meneteskan darah ketika mencengkram pisau dengan tajam dan kencang. Tak sadar juga Kelly menarik pisau itu dan membuat luka lebar pada telapak tangan Aslan.
Halana menangis di perhatikan beberapa kadang merilik juga.
Aslan diam saja hingga Halana sadar salah tempat dan berhenti menangis.
Aslan pergi ke mobil setelah Halana mengusap Air matanya Halana mengikuti Aslan dengan kaki pincangnya yang nyeri.
Di rumahnya Ayla seketika memecahkan gelas karena tersenggol sikutnya ketika akan mengambil obatnya di dekat lemari.
"ASLAN.." Katanya seketika ingat nama putranya.
Ayla menelpon Zoela menanyakan bagaimana keadaan disana.
Zoela yang menyadari telepon dari Nyonya besar langsung mengangkatnya dan membuka pembicaraan tanpa basa basi.
"Bagimana keadaan disana," ucap Mommy Aslan, Ayla sangat cemas sekarang.
"Semua sudah aman nyonya hanya saja kita hampir datang terlambat karena ternyata Nona Kelly akan membunuh Nyonya muda dan kami juga tidak menyangka menemukan mayat di tempat sampah yang ternyata temannya nyonya muda."
Mommynya Aslan atau Nyonya besar Ayla terkejut dengan kata mayat.
"La-lalu bagaimana dengan putraku," ucapnya lagi.
"Semuanya aman tapi, jika anda ingin tahu kelanjutannya karena saya tak bisa menjelaskannya di telepon," jelas Zoela.
"KATAKAN SAJA Zoela," marahnya membuat Zoela ketakutan sekarang.
Zoela tak punya pilihan lain selain menjelaskan apa yang Halana lakukan pada Aslan dan tentang luka di tangan Aslan.
__ADS_1
Seketika telepon terputus Zoela juga bernafas lega.
Di dalam mobil Halana terdiam menatap ke depan sesekali melirik telapak tangan Aslan yang belum di obati.
“Tangan lo berdarah sini gue," ucap Halana belum selesai sambil meraih tangan Aslan tapi di hidari Aslan dan menoleh pada Halana.
“Biarkan saja jangan sentuh," ucap Aslan kasar dan Halana kembali diam merasa sangat bersalah kali ini.
Dalam hatinya bertengkar hebat dengan dirinya kenapa juga ingin membantu kenapa juga merasa bersalah.
Mereka sampai dirumah.
Halana mendengus sebal dan diam di dalam rumah Halana masuk bersama dengan Aslan seketika itu mommy Aslan meraih tubuh Halana dan memeluknya tiba-tiba.
“Kamu gak papa sayang kamu baik aja, Aslan kamu gak papa,” ucap mommynya Aslan mengangguk dan pergi tapi, Mommynya tak bisa d bohongi seketika melihat Aslan berjalan dengan salah satu tangan mengepal dengan darah berantakan Mommy nya mengerti satuhal.
Menoleh pada Halana.
“Nak coba kamu bicara sama Aslan ajak dia baik-baik supaya mau lukanya kamu obatin abis itu kalo tetep gak bisa terus aja sampe dia mau ok,” ucap Mommynya menyemangati Halana.
Halana mengangguk dan pergi menyusul Aslan tak lama di belakang Zoela datang dan menghadap Ayla.
Ayla mommynya Aslan berbalik dengan wajah datar sempat sebelumnya tersenyum dengan kepergian Halana yang menyusul Aslan.
“Nyonya, selamat malam.” Kata Zoela dengan tenang dan sopan mengangguk sedikit
“Jam berapa Halana hilang,” ucap Ayla menutup tablet yang sebelumnya Zoela berikan ketika menyapa Ayla.
“Dari jam dua siang nyonya muda menghilang dan baru ditemukan sekitar jam delapan malam." Terang Zoela.
Seketika Ayla berdiri dan menampar Pipi Zoela.
“Aku minta kau menjaganya dengan baik, Tidak bisakah kalian bergerak cepat sebelum semua ini terjadi jika sampai terjadi sesuatu dengan putraku kau yang harus bertanggung jawab Zoela, Aku percaya padamu karena kau selalu jujur dan sangat dekat padaku juga Aslan.”
“Maafkan saya Nyonya saya memang ceroboh lainkali saya akan mengantisipasi dan saya juga sempat mendapatkan bebrrapa hal yang selama ini ternyata Nyonya muda alami.” Takut-takut mengakuinya di hadapan Mommynya Aslan.
"Tidak boleh ada kedua kalinya ingat itu Zoela." Katanya sangat tajam dan penuh penekanan.
Zoela memberikan lagi tabnya menunjukan beberapa orang yang dekat dengan Halana di tempat kerja juga beberapa perlakuan mereka juga selalu di perhatikan para orang suruhan Zoela juga mereka mendapatkan semuanya dengan mudah.
Seketika itu amarah Ayla mereda dan tersenyum jika pekerjaan Zoela tak terlalu buruk sepertinya juga Menantunya tidak perlu terlalu di khawatirkan.
“Setidakny aku tidak perlu khawatir jika seperti ini tapi, jika Aslan yang terluka kalian dan keluarga kalian harus menanggungnya dan tahu apa akibatnya melalaikan sebuah pekerjaan yang sedari awal sudah di berikan tapi, kalian mengerjakannya malas-malasan.”
__ADS_1
Ayla sambil tersenyum memberikan tabnya lagi pada Zoela dan meminta Zoela untuk diam menunggu sebentar.
Di luar sana Nama baik Kelly Sarvon tercoreng dan menjadi tahanan karena berani menculik juga membuat kekerasan dan berniat membunuh seorang wanita dari keluarga Xavier.
Semua media tak henti-henti memberitakan berita terbaru yang baru saja muncul ini didepan kantor polisi.
Kelly Sarvon datang dengan baju yang sama dan di borgol juga menggunakan masker rambutnya berantakan menutupi wajahnya reporter memaksa untuk mewawancarai Kelly tapi, tidak bisa dan di tahan oleh petugas.
Didalam Kelly diintrogasi oleh pihak berwajib dan Edgar hanya menatapnya dari kaca transparan di ruangan introgasi.
“Sepertinya, sampai sini saja, Saya harus kembali karena banyak urusan terimakasih atas kerja samanya pak, ucap Edgar dengan ramah terkesan dingin.
“Sama sama pak, kami seharusnya yang berterimakasih jika bukan karena bantuan Pak Edgar mungkin saja semuanya tidak sampai seperti ini," ucap Seorang polosi yang berdiri di sebelah Edgar.
Saling berjabat tangan dan Edgar langsung pergi.
Di sana apartemen Kelly sekarang seorang lelaki dengan pakaian santai dan jaket kulit masuk lalu menyalakan televisi.
Di rumah Aslan.
Ayla memberikan jus dan air putih untuk Zoela juga kompresan es.
“Maafkan aku Zoel aku hilang kendali diriku jika sampai Aslan terluka dan ada didepan mataku,” ucap Ayla. Zoela mengangguk dan tersenyum.
“Tidak masalah Nyonya lagi pula saya senang Anda selalu melampiaskannya pada saya, Itu lebih baik juga bisa membuat saya menjadi asisten yang belajar lagi untuk lebih lagi agar tidak membuat kesalahan besar.”
Zoela dan Ayla bicara panjang diruang tamu Aslan setelah dirasa sudah sangat lama.
Zoela pamit pulang dan Ayla pergi ketempat Aslan dan Halana.
Belum sempat membuka pintu untuk berpamitan Seketika telepon Ayla berbunyi ternyata suaminya menjemput Ayla.
Ayla langsung turun tanpa menunggu lagi sampai didepan Ayla bertanya pada Arga agar tidak terus memarahinya bisa tidak?
Arga malah menatap marah dan mengajak Ayla pulang saja.
Ayla menurut dari pada sesuatu lagi terjadi.
“Sudah ku bilang putramu itu tidak bisa sembuh tapi kau masih saja," ucapan Arga seperti orang yang menyerah pada kenyataan juga emosi dan kesal.
Di dalam mobil Ayla terdiam.
“Memangnya jika usaha akan langsung gagal aku hanya ingin anak itu normal.” Kesal Ayla menatap Arga
__ADS_1
“Kalo kamu memaksakan keinginan kamu seperti itu apa kalo Aslan tahu dia akan bahagia. Aku memang tak perduli tapi, dia tetap anakku yang ada kau egois. Kalian itu berharga jika kau kehilangan Aslan aku juga sakit jika Aslan kehilangan kau Aslan lebih sakit pikirkan hal lain biarkan hal itu berjalan apa adanya termasuk kejadian hari ini, kau seharusnya tidak kemari dan menghindari cek up kesehatanmu hari ini,” ucap Arga dengan wajah yang mengeras marah.
Ayla terdiam dan hanya diam.