Pernikahan Berbahaya

Pernikahan Berbahaya
Gak bisa!


__ADS_3

Beberapa menit diam Fio menatap Halana takut takut.


"NGOMONG BURUAN." Anna tak sabaran mencubit bahu Fiona.


"Aduh..iyaa.. ehm Lan gue mau kasih tahu ke elo nih Edgar dia cakep bin baik banget lo mau apa aja di turutin tapi, lo jomblo kan maksud gue gini... Edgar itu lagi cari pacar," kata Fiona berbisi padahal di belakangnya ada Edgar, setiap detik tatapan Edgar tak berpaling dari Fiona bahkan berbisik sekalipun, di belakang ketiga wanita, ketiga lelaki itu masih bisa dengar apa yang mereka bicarakan, dikira mereka lemah pendengaran, jangan salah, pendengaran mereka sangat tajam, mereka berusaha tenang untuk tidak langsung bersikap tiba-tiba.


"Gak.. Gue gak bisa," kata Halana langsung tanpa diam tanpa jeda berpikir dulu.


"Lo tahu gue Fiona...gue itu gak bisa, gue itu punya alesan sendiri gimananya, walaupun gue jomblo atau...haah.. lainnya intinya kagak bisa No Man No Boy... Okay..." Halana menyilangkan tangannya didepan wajahnya. Aslan sudah tidak ingin diam.


"Dia istriku," ucap Aslan tegas tiba-tiba membuat Anna dan Fio mengkaget pingsan seketika, Kok bisa. Edgar hanya diam tenang Fahmi juga tenang santai.


Fio dan Anna tidak salah dengar kalo Aslan Xavier itu suaminya Halana berati yang di bilang menantu keluarga Xavier itu Halana!


Mereka memegangi kepala juga dada mereka jantung mereka akan copot sebentar lagi.


Fio dan Anna menatap Halana tajam dengan tangan mengepal kuat dengan beradu telapak tangan. Halana menatap takut seketika.


Halana melirik Aslan, Aslan malah terlihat tenang saja dan merasa tidak terjadi apapun.


Seketika ide muncul diatas kepalanya bohlam kuning yang hampir meledak.


"Kenapa.. Gue gak salah lah elo ngapain nawarin gue Edgar gue bilang enggak maksa aja lo," Halana menatap ketiga lelaki di belakang mereka bertiga para wanita yang masih berjalan lagi dan sempat drama sebelumnya. Seketika emosi mereka reda pelan-pelan. Halana mencari alasan lain mengkambinghitamkan sesuatu inginnya tapi, gimana ya?


"Jelasin Lan ," ucap Anna menuntut. Halana langsung berdecak malas, malas diminta cerita sekarang.


"Laah.. Kagak mau apa urusan lo gak bisa maaf ya bukan gue gak mau tapi, ada beberapa hal yang gak perlu lo pada tahu," ucap Halana menatap Fio dan Anna bergantian. Halanamenegguk ludahnya kasar wajah keduanya terlihat ingin memberikan sengatan listri pada Halana mendingan sengatan jadi orang kaya.


"Maklumin gue napa, ini gak bisa gue jelasin Juminten," Halana mulai kesal sendiri.


Mereka berdua mengangguk setuju tiba-tiba Lalu berjalan lagi dengan tenang menatap ke depan seketika Anna berhenti mendadak tangannya juga melebar menghentikan Halana dan fio juga.


"Fio terus lo kenapa dateng sama Edgar, Lo dari dulu minta gue cariin cewek buat Edgar lah elo kenapa dateng nya sama Edgar," ucap Anna tiba-tibatidak tepat membuat Fio kalang kabut mau jawab apa.


"Gue tahu.. Lo pasti ada sesuatu sama Edgar ngaku lo," ucap Anna menatapnya dengan melotot lebar.


"Laah iya.. Hayo.. Ngakulo, semua ini sekarang kebuka tiba tiba ngaku lo Fioan," kata Halana juga ikut-ikutan Anna menggoda Fio.


Keringat dingin keluar tiba tiba mata Fio mencari sesuatu untuk jadi pengalihan sialnya tidak ada dan angin malam juga membuatnya gerah jangan jangan mau hujan tapi, kenapa barenagan rasanya keringetan banget, Fiona masih menatap lain arah sedangkan Halana dan Anna makin lebar menatap Fiona, serasa Horor banget kedua teman absurdnya ini.

__ADS_1


Fio mendesah malas, ck....


" Gue itu gak ada temen jadi gue ajak aja Edgar. Oiya Edgar kerja di perusahaan Xv company kalian orang pasti tahu dia asisten Pak Aslan," kata Fio berbelit.


Edgar mendengarnya hanya diam dengan raut wajah Datar tanpa ekspresi. Fahmi juga mendengarnya Aslan juga pastinya.


Halana menarik kerah Fio.


"Lo jelasin gak usah berbelit ngomong yang jelas apa perlu, lambene tak dondomi (mulutnya di jahit)," Halana menatap marah Fio.


Halana bicara bahasa asing menurut Aslan apa itu kenapa Halana bisa pikiran Aslan menatap Halana yang masih menarik kerah Fiona.


Anna mengangguk menunjuk wajah Fiona dengan anggukan berulang kali.


Mendorong wajah Halana dengan kedua tangan karena terlalu dekat Anna langsung menatap kesal. Halana terdorong menjauh tapi kerah bajunya masih bisa dicengkram Halana.


"Jauhan dulu," Kata Fiona.


Seketika Tatapan mata Edgar yang tajam bertemu dengan mata Fiona yang panik.


'Eh.. buset.. dia tahu lagi, lupa.. lupa kalo Edgar jalan di belakang.' Merutuki dirinya sendiri dalam hatinya.


"Lan.. gue jelasin tapi muka lo gede banget," kata Fio sambil terus menjauhkan wajah Halana.


"YA.. ELO MAKANYA NGOMONG SAT SET SAT SET.. SELESAI.. KADANG BERSAMBUNG ONAH," bentaknya pada Fiona.


"Iya.." Halana melepaskan cengkraman kerahnya.


"Iya.. Gue jelasin dah.." Fio menarik nafas lalu menghembuskannya kasar. Halana dan Anna mendengarkan dengan seksama.


"Apa cepet," Halana tak sabaran Anna melindungi Fio menjaga Halana maju untuk tidak mencakar wajah Fio .


"Yaa Gue.. Gue.." Fiona mulai gugup rasanya aura Edgar mengikat jantungnya makannya sesak rasanya.


Edgar bedecak malas dengan pelan menatap ke tiga perempuan itu. Satu menit... Dua menit... Semakin lama kalo di biarkan, Edgar akhirnya maju dan memegang tangan Fiona.


"Dia istriku aku menikah dengannya karena perjodohan jika kalian mau tahu," kata Edgar seketika membuat mereka bergantian pingsan sebelumnya Fiona dan Anna karena tahu Aslan suaminya Halana sekarang Halana dan Anna pingsan karena terkejut Edgar yang sering Fiona jodoh-jodohkan adalah suaminya sendiri..


Halana yang pingsan langsung di tangkap Aslan tapi, Anna dua kali pingsan di biarkan Fahmi.

__ADS_1


"Lo gak usah pingsan, Gak pantes!" Fahmi menatap Halana dan Anna menatap Aslan.


"Sepupu gak punya perasaan Tega nian dikau," katanya bangkit bangun menepuk-nepuk bajunya.


"Tega nian tega nian.. Lebay," Kata Fahmi menunjuk dahi Anna hingga terhuyung kebelakang.


"FAHMI, BUSET DAH... ANAK SETAN YA LO!" Anna menjambak rambut Fahmi hingga tertarik kedepan.


"Aaa... Aw.. Sakit.. Mak lampir, bilangin Tante Zoe lo," katanya mengancam Anna.


"Bilang aja kagak takut gue bilang setidaknya kapan lagi gue bisa jambak rambut lo haah," kata Anna dengan senang hati.


Halana Anna dan fio kembali berjalan bersama.


"Jadi ceritanya lo berdua! udah pada Nikah Lo kapana nikah Lan," Tanya Anna pada Halana. Halana menoleh dan terdiam.


"Gak tahu juga Gue.. kapan lupa, tapi udah ada setahun hampiran atau udah hampir lebih juga gak tahu lah lama intinya, napa?" Kata Halana santai.


Anna menggeleng berdecak.


"Sabar gue punya temen kek lo yang auah.. puyeng pala, masih santai lo" kata Anna.


"Yaa elo ngapain juga puyeng ama Halana kasih makan dia juga kagak," ucap Fiona seketika nyambung nyambung pembicaraan.


Anna dan Halana langsung berapi api.


"Lo otak dimana lo taro.. Maksudlo laki sendiri suami sendiri lo jodoh-jodohin itu gimana mana ama gue, Biki masalah negara semakin rumit lo," kesal Halana.


Anna menghalangi Halana mendekat ke Fiona.


"Yaa.. gimana gue ini trauma tahu ama masalalu gue, gue itu punya pacar tapi, gue gak tahu apa itu cinta eh gue malah di manfaatin jadi kapok gue gak mau tahu namanya cinta No Man No Boy," ucap Fiona.


Edgar seketika tertegun sebentar lalu mengalihkannya dengan ekspresi datar lagi.


"Iya.. deh.. kalo gitu sorry ya, Kita juga gak mau tahu masa lalu lo eh malah tanpa sengaja kita buat lo cerita. Jangan sedih Fio," ucap Anna.


"Iya.. Maaf gue juga, Gue emang gak bisa tapo, otaklo jangan di kasih pewangi konsentrat besok kasih pewangi dari bunga asli biar fresh terus gak rusak mulu," Kata Halana seketika mendapat tempeleng dari Anna.


"Ngomong.. Halana.. Alus banget dah," kata Anna.

__ADS_1


Halana cengengesan.


__ADS_2