Pernikahan Berbahaya

Pernikahan Berbahaya
Jangan mengusik


__ADS_3

Aslan memakai kaos yang Halana berikan padanya barusan dengan tenang lalu kembali keluar.


Ketika akan melangkah keluar Halana menarik tangan Aslan yang baru akan menjauh darinya.


"Kenapa?" Aslan menatap Halana dengan berbalik.


"Jangan lakukan seperti tadi itu-itu.. sa..sangat kejam," ucap Halana.


Tiba-tiba Aslan mendekat dan memeluk Halana tanpa sambut pelukan Halana.


Tiba-tiba Aslan mengecup kening Halana dalam dan menatap wajah Halana. Masih terkejut dan masih belum sadar Halana menatap ketampanan Aslan.


"Tersenyum."


Sebuah sihir Tiba-tiba membuat Halana patuh dengan perkataan Aslan untuk tersenyum Halana tersenyum menatap Aslan. Aslan tersenyum menatap wajah cantik Halana.


"Aku pergi jangan keluar dari kamarmu," katanya berlalu pergi dan mengunci pintu dari luar kamar Halana terkejut dan langsung sadar melompat dan menggedor pintu kencang Aslan dengar tapi di biarkan saja .


Arzen dan Tez berdiri disana dan mengangguk ketika Aslan menghampiri mereka.


"Kenapa Kalian hanya berdua bawa kemari orang yang kalian maksud!" Kata Aslan seketika datang beberapa Orang dengan kepala tertutup kain hitam.


"Mereka adalah orang yang selama ini membuntuti Nyonya Mereka juga yang membuat Nyonya tak bisa bekerja dengan baik." Kata Arzen yang sudah dinpesankan Edgar menyampaikan informasi ini karena Edgar harus pulang cepat, Arzen memperkenalkan Jenna Geng dan satu orang lagi yang ternyata selalu menyampaikan informasi tentang Halana pada Dimas, pelayan di Aslan.


"Tuan mohon jangan bunuh kami saya akan melakukan apapun bahkan saya gak akan mengulanginya jangan bunuh saya," ucap Jenna dan teman-temannya.


"Kalian yakin tapi aku tak yakin," ucap Aslan duduk di sofa yang sudah di ganti.


"Kalian seharusnya berpikir dua kali untuk menindas seseorang di tempat kerjaku dan kalian sepertinya cocok dengan Zoela atau dengan dia," ucap Aslan menarik tuas pistolnya hingga berbunyi nyaring. Mereka semua semakin ketakutan, yang Aslan maksud dia adalah pistolnya


Dor... DOR..


Suara tembakan itu sampai di telinga Halana didalam kamar. Halana tidak tahu apa yang terjadi.


Kenapa ada suara tembakan di luar sana.


Halana menggedor pintu menendang bahkan mendobraknya mematahkan kenop pintunya pun payah, sulit tak bisa patah.


Halana tak bisa keluar kaki tangannya terusenendang memukul menggedor juga .


Di sana Aslan berdiri dan menarik sarung hitam di kepala orang yang mati. Ternyata pelayan laki-laki dirumah Aslan seorang penghianat dia salah satu orang yang pernah diminta memberikan motor untuk Halana.


Jenna dan gengnya masih memohon untuk di lepaskan Aslan mengusp pelipisnya dengan pistol menatap Arzen yang bingung menatapnya.


"Bagaimana jika..." Aslan menghentikan ucapannya ketika suara pintu kamar Halana semakin keras gedorannya. Aslan menatap ke arah kamarnya.


"Baiklah," kata Aslan berbalik menatap Jenna dan teman temannya.


"Buka penutup kepala mereka." Aslan menatap wajah-wajah mereka. Jenna dan gengnya kaget terkejut.

__ADS_1


"Kalian melakukan semua yang kalian lakukan pada Halana di kantorku. Sadar kalian," ucap Aslan pada mereka.


Mereka yang masih terkejut bingung antara mengangguk atau apa malah bicara ketika mereka melihat pistol di tangan Aslan yang ternyata bos mereka.


Mereka bingung.


"Tu-tuan apa yang kami lakukan sampai bisa mengganggu anda? Apa-apa anda terusik," ucap temannya Jenna dengan berani berusaha sopan dan formal tapi, nada bicaranya terlihat sekali bergetar ketakutan.


"Kalian menganggu Istriku.. Jadi jika kalian ingin hidup lama, aku berikalian pilihan ingin seperti mereka atau kalian menjauhi istriku setelah meminta maaf dengannya," ucap Aslan membuat Jenna dan gengnya mengangguk bersamaan.


"Kalian memilih mati ternyata." Aslan berdiri dan menyiapkan pistonya untuk menembak menerima jawaban tak jelas.


"Tidak! Bukan...!" Mereka menggeleng cepat berteriak menolak.


"Ka-Kami akan lakukan apapun Kami akan minta maaf dan menjauh."


Aslan mengangguk dan meminta para bawahannya membawa dan membersihkan semuanya. Para pelayan langsung datang membersihkan darah yang tercecer.


Jenna dan teman-temannya menatap horor.


"Ternyata kita punya bos gila." Kata temannya.


"Iya aku yakin Pak Aslan itu psikopat," ucap teman Jenna yang lainnya.


"Syukur-syukur selamet bisa pulang sekarang kita harus lakuin apa yang di bilangnya, berurusan ama pembunuh itu mendekin umur dua tiga kali lebih cepet." Kata Jenna masih gelisah keringat dingin yang tadi belum hilang.


"Hem... Gak lagi gue kapok gue... Tahu gitu kita gak akan pernah gangguin Halana lagi dah besok besoknya."Kata teman Jenna yang lainnya.


Mereka kembali lari lagi pergi karena mereka masih belum sampai gerbang depan tempat biasa Halana di turunkan taksi.


Xx


Aslan membuka pintu dan melihat Halana ingin melompat dari balkon. Melipat tangan menatap apa yang di lakukan Halana tanpa suara Aslan mendekat pada Halana.


"Apa yang kau lakukan?" Suara besar itu membuat Halana berhenti mengulur kain ke bawah.


Perlahan Halana menoleh dan meringis lalu menarik lagi kain keatas dan membersekan ulahnya.


"Kenapa ada suara tembakan?"Tanya Halana sambil membereskan ulahnya, mengalihkan pembicaraan.


"Suara apa?" Aslan pura-pura polos padahal mengerti.


"Ck.. Tembakan itu," kesal Halana.


"Tidak ada." Kata Aslan seketika Halana membuang sembarangan kain-kain itu dan keluar kamarnya dan tidak melihat siapapun.


Halana melangkah keluar dan berjalana mendatangi ruang tengah Aslan mengikutinya dari belakang.


Halana menatap sekeliling tidak ada apapun.

__ADS_1


Seketika berbalik Halana tak siap Aslan menganggetkannya seketika terpeleset, gerak cepat tangan Aslan meraih tubuh Halana.


Aslan dan Halana berada di posisi sangat dekat sekarang.


"Ehm..." Halana bangun bergeser mendorong Aslan menjauh seketika ingat Aslan terluka Halana jadi salah tingkah serba salah.


"Ya udah aku tidur aja," Halana berbalik pergi lagi kemar lagi pula ini hampir subuh tidur beberapa waktu tak masalah.


Dari pada salah tingkah didepan Aslan.


Halana melangkah mendekat ke kasur setelah berganti pakaian baju tidur baru akan tidur Aslan masuk dan tiba tiba membuka kaosnya. Halana masih belum tidur.


"Kenapa apa itu sakit sekali," ucap Halana.


"Tidak." Acuhnya melangkah mengambil hoddie dan pergi keluar seketika itu Halana mengejar Aslan dan menarik tangannya.


"Kita kerumah sakit gak ada penolakan abis itu pergi ketempat mommy," kata Halana tak boleh di bantah Aslan melepaskan tangan Halana dari lengannya.


Berpindah menjadi gandengan, Halana belum sadar ketika Aslan menggandengan setelah berjalan Halana sadar dan tak bisa melepaskannya walaupun menarik badannya kebelakang.


"Percuma." Halanan menurut saja.


Xx


Zoela baru saja melepas sepatu dan kaos kakinya lalu meletakan blezer juga mengikat rambutnya lebih tinggi mengambil air minum dingin dalam lemari pendingin.


"Mama barusan pulang," suara itu mengagetkan Zoela masalahnya Apartemennya sudah redup Tiba-tiba ada suara itukan horor.


"Anna..."


"Apa mah," jawabnya santai.


"Ngapain kamu ini hampir pagi kamu belum tidur kalo kamu sakit demam lagi gimana," ucap Zoela mengomeli Anna.


"Halah.. Maah.. Tenang aja besok ini kerjanya kan tadi Anna pindah siftnya malem jadi buat hari ini puasi begadang," katanya masih menghadap layar laptopnya.


Zoela menyalakan lampu tengah apartemennya agar Anna nyaman dengan layar leptopnya dan matanya.


"Makasih Mah," kata Anna menatap Mamanya dengan wajah yang di imutkan.


"Iya.. Aduh.. Mama capek nih," katanya sambil mendekat pada Anna.


"Apa Maah.. Mau pijit.. Goceng ya mah."


Tak...


Jitakan melayang di kepala Anna.


"Mau duit kerja gak game mulu." Omelnya. Anna hanya cengenegsan.

__ADS_1


__ADS_2