Pernikahan dengan Perusak Impianku

Pernikahan dengan Perusak Impianku
Episode 21 Meskipun Tanpa Cinta


__ADS_3

Tidak ada suara sedikitpun, tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut Jillian. Tapi Jeffran jelas menangkap kebencian di wajah Jillian. Jeffran sadar, kalau dirinya baru saja berbuat kesalahan yang kesekian kalinya, sehingga memancing kemarahan seorang Jillian. Tapi egonya lebih mendominasi, dirinya merasa lebih berhak untuk marah, karena menganggap Jillian sudah melakukan kesalahan besar sebagai seorang istri.


"Bereskan baju-baju dan beberapa barang pribadimu." Kalimat yang baru saja diucapkan Jeffran, memancing tanya di kepala Jillian.


'Apa dia mengusirku?' Tanya Jillian dalam hati.


"Besok kita akan pergi ke Raja Ampat." Ucap Jeffran, lalu melepas pelukannya dan berjalan menuju kamarnya. Sementara Jillian masih bergeming di tempatnya, tampak terkejut dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Apa maksudmu? Mau apa kita ke Raja Ampat?" Pertanyaan Jillian menghentikan langkah Jeffran yang sudah berada di depan pintu kamarnya.


"Tentu saja berlibur, Jill. Memangnya apa lagi? Jam 8 pagi, kamu harus sudah siap." Jawab Jeffran, lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya. Membiarkan Jillian mengomel panjang lebar karena tidak suka dengan rencana Jeffran yang sangat tiba-tiba.


"Kenapa sih orang itu selalu semaunya sendiri? Seenaknya saja merencanakan liburan tanpa membicarakannya denganku. Memangnya aku tidak punya kesibukan apa. Aku tidak mau pergi berlibur besok, biar saja dia yang pergi sendiri." Ujar Jillian, kemudian berjalan menuju kamarnya, seraya menghentak-hentakan kakinya karena kesal.


Keesokan harinya, Jeffran tampak duduk manis di atas sofa ruang tamu, sambil menikmati puding susu buatan Jillian yang diambilnya dari dalam lemari es. Jeffran terlihat tampan dengan kemeja lengan pendek berwarna navy dan celana pendek berwarna khaki. Disebelah kanan sofa terlihat sebuah koper berwarna navy, yang akan dibawa Jeffran ke Raja Ampat nanti.


Jeffran melirik jam di pergelangan tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul 8 lebih. Namun masih belum ada tanda-tanda Jillian akan keluar dari kamarnya. Akhirnya dengan menahan rasa kesal, Jeffran mengetuk pintu kamar dan memanggil nama Jillian. Hingga sampai 5 menit berlalu, tapi Jillian belum juga membuka pintu kamarnya.


"Jillian, kamu benar-benar menyebalkan." Umpat Jeffran bersamaan dengan terbukanya pintu kamar Jillian. Menampakkan sang pemilik kamar yang masih mengenakan piyamanya, lengkap dengan ekspresi bangun tidur dan mata setengah terbuka.


"Kenapa sih berisik sekali? Katanya kamar ini kedap suara, tapi kenapa teriakanmu sampai bisa aku dengar? Dasar manusia menyebalkan." Kini ganti Jillian yang mengumpat Jeffran.


"Jill, apa-apaan sih? Aku kan sudah bilang, pagi ini kita akan berangkat ke Raja Ampat, kenapa kamu masih belum siap?" Jeffran memprotes seraya menatap kesal penampilan Jillian yang masih belum siap. Sedangkan Jillian tampak tidak peduli, dengan menyandarkan tubuhnya di tiang pintu kamarnya.


"Aku kan tidak bilang kalau aku mau ikut. Kalau kamu memang mau berlibur, ya tinggal pergi saja sendiri." Jawaban ringan dari mulut Jillian membuat Jeffran kesal. Jeffran mungkin lupa, kalau Jillian bukanlah perempuan penurut, yang akan melakukan apapun yang dia minta.


"Jill, aku sudah meminta Liam menyiapkan liburan kita ini, dia bahkan sudah me-reschedule semua jadwalku. Aku tidak mau rencana liburan kita gagal. Aku beri kamu waktu untuk bersiap dalam setengah jam. Cepat bereskan barang-barangmu." Jeffran terlihat menahan emosinya, berusaha berbicara baik-baik pada Jillian. Tapi ternyata Jillian masih enggan menuruti permintaan Jeffran.


"Aku tidak mau." Ucap Jillian, lalu menutup dan mengunci pintu kamarnya. Meninggalkan Jeffran yang diam mematung, masih tidak percaya dengan jawaban Jillian barusan. Namun beberapa detik kemudian, Jeffran meluapkan kekesalannya dengan berteriak-teriak mengumpat dan memberi ancaman pada Jillian.


"Jillian.. Kamu benar-benar keras kepala. Awas ya kalau sampai rencana liburan kita gagal, aku akan melarangmu pergi kemanapun. Jillian, kamu memang benar-benar membuatku sakit kepala." Jeffran memegang kepalanya yang mendadak berdenyut.


Sementara itu di dalam kamar, Jillian tidak mau ambil pusing dengan kekesalan Jeffran. Dirinya malah kembali merebahkan diri seraya menutup matanya, hendak melanjutkan tidurnya yang sempat terjeda.

__ADS_1


Sebenarnya Jillian baru tertidur selama 1 jam, semalaman dirinya sibuk membereskan semua dokumen dan barang-barang pribadinya. Namun bukan untuk berlibur bersama Jeffran, melainkan sebagai persiapan untuk dirinya melarikan diri ke luar negeri.


Menjelang waktu makan siang, Jillian baru terbangun dari tidurnya. Setelah mandi dan berpakaian, Jillian keluar dari kamar hendak menuju pantry, karena perutnya sudah begitu lapar. Tapi alangkah terkejutnya Jillian, saat melihat Jeffran yang tertidur di atas sofa dengan masih berpakaian sama seperti tadi pagi. Namun Jillian memilih kembali tidak peduli dan melanjutkan langkahnya menuju pantry.


Suara berisik dari arah pantry, menarik kesadaran Jeffran dari alam mimpinya. Saat dilihatnya Jillian sedang memasak di pantry, Jeffran gegas menghampiri istrinya itu.


"Jill.. Kita berangkat ke Raja Ampat ya sore ini?"


"Tidak.." Jawaban singkat Jillian kembali membuat Jeffran kesal.


Rencana liburan yang mendadak itu, rupanya berawal dari rasa kesal Jeffran karena Jillian pergi dengan Ethan. Ada perasaan tidak terima mengetahui Jillian menghabiskan waktu di suatu tempat bersama Ethan. Hingga Jeffran memutuskan untuk mengajak Jillian liburan, agar bisa menghabiskan waktu bersama Jillian di suatu tempat yang indah. Sekaligus menjauhkan Jillian dari Ethan. Tapi ternyata Jillian malah menolak mentah-mentah ide Jeffran tersebut.


"Jill, ayolah.. Aku ingin kita berlibur. Usia kandunganmu pun sudah aman untuk melakukan perjalanan dengan pesawat. Aku sudah menanyakannya pada dokter kandunganmu." Jillian mengerutkan keningnya mendengar perkataan Jeffran.


"Apa benar kamu menanyakannya pada dokter kandungan?" Jeffran mengangguk mantap menanggapi perkataan Jillian.


"Tidak Jauh Jill, kita bukan mau ke luar negeri. Hanya ke Raja Ampat." Bujuk Jeffran, mulai terlihat memelas dan putus asa. Tapi Jillian kembali menolak, bersamaan dengan siapnya menu makan siang berupa salad sayur, beef teriyaki, udang tempura, dan dua gelas juice strawberry yang kemudian dia hidangkan di atas meja makan.


"Makanlah.." Ucap Jillian singkat, lalu duduk dan mulai menyantap menu makan siangnya. Jeffran yang masih tampak kesal, memilih duduk berhadapan dengan Jillian dan ikut memakan makanan buatan Jillian dengan lahap.


"Lusa aku ada ujian, tentunya kita tidak mungkin hanya sehari kan di Raja Ampat? Harusnya kamu membicarakannya lebih dulu denganku. Tapi kamu selalu memutuskan apapun tanpa persetujuanku." Jeffran terdiam, dirinya membenarkan ucapan Jillian meskipun hanya dalam hati.


"Aku tidak tahu kalau lusa kamu ada ujian, Jill. Tapi aku ingin tetap berlibur hari ini."


**************************


Setelah drama yang dilakukan Jeffran, akhirnya tibalah Jeffran dan Jillian di sebuah Resort mewah dan eksklusif, berlatar pemandangan alam yang hijau dan menyejukan mata. Namun bukan Raja Ampat yang menjadi pilihan Jeffran kali ini, melainkan Resort yang terletak di daerah Lembang, Bandung. Meskipun liburan ke Raja Ampat gagal, tapi Jeffran tetap mau berlibur bersama Jillian. Meskipun besok, mereka sudah harus kembali ke Jakarta.


Suasana alam yang asri dan indah di petang hari, memanjakan netra Jillian yang mengedarkan pandangan dari balkon kamar yang terletak di lantai 2. Jeffran sengaja menyewa kamar yang terdiri dari 2 lantai dengan dua ruang tidur terpisah, kolam renang pribadi di lantai 1 dan fasilitas lainnya yang cukup lengkap. Agar liburan singkat mereka bisa menjadi liburan yang berkesan dan menyenangkan.


Tiba-tiba Jillian dikejutkan dengan dua tangan kokoh yang melingkar di tubuhnya. Jillian melirik sekilas ke samping, memandang Jeffran yang memeluknya dari belakang lalu menumpukan dagunya di bahu Jillian yang terbuka.


Sebenarnya Jillian selalu merasa risih setiap kali Jeffran melakukan kontak fisik padanya, tapi Jillian paham kalau dirinya akan kembali memancing kemarahan Jeffran jika menolak Jeffran terang-terangan. Jadi selama Jeffran hanya memeluk, mencium pipinya dan tidak melakukan hal yang lebih jauh dari itu, Jillian bertekad untuk menerima saja perlakuan suami sahnya.

__ADS_1


"Kamu suka?" Jeffran bertanya sambil menatap lurus ke arah yang sama seperti Jillian.


"Suka. Pemandangannya indah." Jeffran tersenyum mendengar jawaban Jillian. Dirinya cukup senang, karena Jillian suka dengan resort yang dia pilih.


"Malam ini kamu mau makan malam di restaurant atau disini saja?" Tanya Jeffran seraya menghirup dalam aroma tubuh Jillian yang disukainya.


"Disini saja, aku malas keluar."


"Okay.."


Jeffran mengeratkan pelukannya lalu menciumi leher Jillian hingga membuat Jillian menggelinjang kegelian.


"Jeff.. Lepas." Pinta Jillian, mulai tidak nyaman dengan perlakuan Jeffran. Apalagi saat sebelah tangan Jeffran bergerak naik menuju bukit kembar Jillian.


"Jeffran.." Jillian menghempas keras kedua tangan Jeffran, lalu membalikan tubuhnya menghadap Jeffran.


"Kamu selalu bilang kalau kita hanya harus menjalani pernikahan ini sampai waktunya kita bercerai, karena kita memang tidak saling mencintai. Tapi kenapa kamu seringkali menyentuhku? Aku risih Jeff." Jillian meluapkan isi hatinya atas perlakuan Jeffran padanya.


"Kita suami istri Jillian, tidak ada salahnya kita melakukan itu." Jelas Jeffran, merasa tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukannya.


"Meskipun tanpa cinta?"


"Iya.." Jawaban singkat Jeffran itu membuat emosi Jillian seketika naik.


"Mungkin kamu bisa melakukan semua itu meskipun tanpa cinta, tapi aku tidak." Jillian mendorong kasar tubuh Jeffran yang mengikis jarak dengannya.


"Tapi Jill, kita bisa.." Perkataan Jeffran yang belum selesai, langsung dipotong oleh Jillian.


"Kamu bisa, tapi aku tidak bisa. Oh iya, aku lupa. Kamu bahkan bisa merenggut kehormatan seorang gadis tanpa cinta dan ikatan apapun. Jadi kamu merasa bisa melakukan apapun terhadap perempuan yang sudah kamu nikahi, meskipun tanpa cinta. Bajing*n.." Ucap Jillian, lalu melangkahkan kakinya menuju ruang tidurnya. Meninggalkan Jeffran yang terdiam, merasa tertohok dengan kalimat yang diucapkan Jillian.


*'Apa aku sebajingan itu di matamu Jill? Aku hanya mengikuti naluriku yang selalu nyaman saat bersamamu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk tidak menyentuhmu.' *


Entah kenapa Jeffran merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya, bahkan tanpa sadar dirinya menekan kuat dadanya yang mendadak terasa sesak.

__ADS_1


*************************


__ADS_2