
Sesampainya di kamar, Jillian yang masih merasa kesal setelah melihat pemandangan beberapa saat yang lalu, memilih menelpon Ethan. Membahas rencana lusa nanti, dimana Ethan akan mengantar Jillian ke Kedutaan Perancis untuk wawancara pengajuan visa-nya. Jillian bertekad mempercepat rencana keberangkatannya ke Perancis, karena ingin secepatnya terlepas dari Jeffran.
"Untung saja lusa jadwal ujianku sore hari. Nanti kita langsung bertemu di Kedutaan saja ya Kak Ethan." Jillian belum selesai berbicara dengan Ethan, tapi dia langsung memutus panggilan saat Jeffran tiba-tiba masuk tanpa permisi. Untung saja Jeffran tidak mendengar lengkap isi pembicaraan Jillian. Hanya nama Ethan yang sempat ditangkap oleh pendengaran Jeffran. Namun hal itupun ternyata tidak jauh lebih baik.
"Kenapa kamu terus saja membantahku Jill? Aku kan sudah bilang, jangan berani-berani berkomunikasi apalagi dekat dengan Ethan lagi. Sebenarnya harus dengan cara apa lagi, supaya kamu mau menurut?" Jeffran terlihat sangat emosi, dia merasa Jillian selalu saja memancing kemarahannya, dengan sengaja melakukan apa yang Jeffran larang.
"Cukup, berhentilah bersikap egois Jeff.. Kamu selalu saja melarangku dekat dengan Kak Ethan, meskipun aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Padahal aku pun tidak pernah mencampuri urusan pribadimu, tidak sekalipun.. Bahkan saat kekasihmu ikut dalam liburan kita pun, aku tidak masalah." Jillian terlihat berapi-api, meluapkan kekesalannya.
"Kekasih? Siapa yang kamu maksud kekasih?"
"Tentu saja Kak Dhiva, apa kamu memiliki kekasih lain selain Kak Dhiva?" Jawab Jillian ketus.
"Dia bukan kekasihku." Ucap Jeffran dengan sorot mata penuh amarah. Tidak terima Jillian menyebut Dhiva sebagai kekasihnya. Namun Jillian tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jeffran.
"Ya..ya..ya.. Terserah kamu mau mengelak seperti apa, itu bukan urusanku. Meskipun terasa sangat menggelikan, saat mendengarmu mengelak. Padahal sudah jelas kekasihmu itu ada di resort ini. Datang tepat di waktu makan malam, seolah sedang memenuhi undangan seseorang. Tentu hal itu bukan suatu kebetulan kan?" Kalimat Jillian yang diakhiri senyuman sinisnya, semakin memancing emosi Jeffran.
"Kamu salah Jill.. Aku tidak mengundangnya, aku memang kebetulan bertemu dengannya. Sore tadi setelah kamu memintaku untuk tidak lagi menyentuhmu, aku pergi ke cafe untuk menenangkan diri. Disanalah aku bertemu dia, aku bahkan tidak menyapanya. Dia yang menghampiriku. Aku pun tidak tahu, bagaimana dia mengetahui kamar kita. Mungkin saja dia meminta informasi dari pihak resort." Jeffran menjelaskan panjang lebar, tidak mau Jillian salah paham padanya. Tapi Jillian hanya diam. Sedikit merasa sulit untuk mempercayai Jeffran.
"Sungguh suatu kebetulan yang tidak disangka ya. Apakah ini takdir? Sepertinya kalian memang berjodoh." Sindir Jillian, lalu melangkah menuju pintu. Namun cekalan tangan Jeffran di lengan Jillian, seketika menghentikannya.
__ADS_1
"Aku tidak mau kamu mengira kalau aku ada hubungan dengan wanita itu." Suara Jeffran terdengar berat, begitupun sorot matanya yang menatap dalam netra Jillian.
"Ada ataupun tidak ada hubungan diantara kalian, tetap tidak akan mengubah apapun diantara kita Jeff. Sama sekali tidak ada hubungannya denganku." Tegas Jillian, lalu melepas cekalan tangan Jeffran dan menghempasnya dengan kasar.
"Jill kamu mau kemana?" Tanya Jeffran saat melihat Jillian melangkah keluar dari kamar. Setelah terlebih dahulu mengenakan sweater yang Jillian ambil dari dalam lemari.
"Aku mau ke restaurant, perutku lapar." Jillian menjawab tanpa menghentikan langkahnya.
"Ayolah Jill, aku sudah memesan banyak makanan. Kita lanjutkan makan malam kita." Bujuk Jeffran, mensejajari langkah Jillian yang tidak lebih lebar dari langkahnya. Ekspresi marah di wajah Jeffran sudah menghilang tanpa sisa. Jeffran justru memasang raut memelasnya, agar Jillian mau memenuhi permintaannya.
"Hmm, baiklah.. Aku hanya tidak ingin berdosa dengan membuat makanan-makanan itu terbuang percuma. Mubadzir.." Ujar Jillian lalu melangkahkan kakinya menuju pinggir kolam renang. Sementara Jeffran yang berjalan disebelahnya, tampak tersenyum senang karena bisa membujuk Jillian untuk melanjutkan makan malam mereka yang sempat terganggu.
*************************
Namun keinginan Jillian itu nampaknya harus dikuburnya dalam-dalam, karena lagi dan lagi, Jeffran tiba-tiba menerobos masuk tanpa izinnya.
'Aaaah.. Kenapa aku selalu lupa mengunci pintu.' Keluh Jillian dalam hati.
"Good morning Jill.. Aku membawa menu sarapan untuk kita berdua." Jeffran menyimpan nampan berisi 2 piring nasi goreng, segelas susu hangat dan secangkir jasmine tea di atas nakas. Lalu duduk di tepi tempat tidur, seraya menatap penuh senyuman ke arah Jillian.
__ADS_1
"Kenapa sih senyum-senyum?" Jillian yang risih dengan tatapan Jeffran, segera mendudukkan dirinya.
"Aku hanya senang, semalam kita sudah makan malam dan pagi ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan di sekitar hutan pinus. Lalu siangnya kita bisa makan siang di rooftop resort, sorenya kita bisa menikmati pemandangan sunset dari cafe resort, baru malamnya.."
"Jeff, kamu tidak lupa kan kalau besok aku ada ujian? Aku mau kita pulang siang ini."
Jeffran yang tadi sangat bersemangat menjelaskan agenda hari ini, seketika memberengut kecewa mendengar perkataan Jillian.
"Iya Jill, aku bukannya lupa, tapi aku senang berlibur dan menghabiskan waktu denganmu disini. Rasanya liburan kita terlalu singkat Jill." Keluh Jeffran, terlihat seperti anak kecil yang tengah merajuk.
"Tapi aku harus belajar dan beristirahat yang cukup Jeff. Aku tidak mau terlalu lelah atau mengantuk saat ujian besok." Bujuk Jillian meminta pengertian Jeffran.
"Baiklah, lain kali kita berlibur lagi ya Jill. Harus ke tempat yang lebih bagus dan juga lebih lama ya." Jillian hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Jeffran.
'Tapi lain kali itu sepertinya tidak akan pernah ada Jeff.' Lirih Jillian dalam hati.
"Jeff duduklah di sofa, aku mau membersihkan diri dulu. Nanti aku akan menyuapimu."
"Wah tidak biasanya kamu seperti ini. Biasanya harus aku yang membujuk minta disuapi, itupun seringkali harus disogok dulu." Ujar Jeffran diakhiri kekehan. Sedangkan Jillian lagi-lagi hanya mengulas senyum tipis.
__ADS_1
'Setidaknya aku bisa menjalani peranku sebagai istri yang baik dengan menyenangkanmu, sebelum aku pergi selamanya dari hidup kamu, Jeff.' Batin Jillian.
*************************