Pernikahan dengan Perusak Impianku

Pernikahan dengan Perusak Impianku
Episode 35 Jillian Sembuh?


__ADS_3

Langit jingga menyambut Jeffran dan Jillian yang baru saja sampai di lobby apartemen mereka. Degup jantung Jeffran semakin tidak beraturan, saat kembali menggendong Jillian ala bridal style, yang tertidur menuju tempat tinggal mereka.


Mata Jillian baru terbuka bersamaan dengan terbukanya pintu kamar Jeffran yang bernuansa maskulin.


"Kenapa tidak di kamarku saja Jeff?" Tanya Jillian pelan.


"Kamarmu tidak kamu tempati lebih dari sebulan, kamarmu pasti kotor dan berdebu. Akan lebih baik jika kamu tidur di kamarku saja. Nanti aku akan tidur di sofa, Jill."


"Hmm, baiklah.."


Sebenarnya itu hanya akal-akalan Jeffran saja, padahal kamar Jillian rutin dia bersihkan. Tapi keadaan Jillian yang mulai bisa menyentuhnya, sungguh membuat Jeffran penasaran. Jeffran ingin mengetahui apakah rasa trauma Jillian terhadapnya sudah sembuh atau belum. Meskipun Jeffran tidak akan berani mengambil resiko, dengan menyentuh Jillian tanpa izin.


Jeffran hendak merebahkan tubuh Jillian di atas tempat tidurnya, tapi urung karena permintaan Jillian.


"Aku mau langsung berendam dan mandi Jeff. Turunkan aku di depan kamar mandi saja." Pinta Jillian.


"Apa kamu tidak ingin beristirahat dulu Jill? Sepertinya tubuhmu masih begitu lemas." Jeffran menatap Jillian dengan tatapan khawatir.


"Tubuhku terasa sangat kotor, aku ingin langsung mandi." Lirih Jillian lalu menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Jeffran. Tentu saja Jeffran sempat menyadari ekspresi sedih Jillian sebelumnya, dan mengerti alasannya.


"Baiklah Jill..Tapi jangan kunci pintunya." Mendengar perkataan Jeffran, Jillian memicingkan matanya curiga.


"Jangan menatapku seperti itu Jill. Aku khawatir, aku takut kamu tiba-tiba membutuhkan bantuan. Aku bersumpah tidak akan mengintipmu Jill." Wajah serius Jeffran, justru menarik lengkungan di kedua sudut bibir Jillian.


"Iya baiklah, aku tidak akan mengunci pintu. Sekarang antar aku ke kamar mandi Jeff." Senyum dan ucapan tenang Jill, sempat membuat Jeffran heran. Tapi akhirnya Jeffran menanggapinya dengan senyuman lega.


"Okay Jill.."

__ADS_1


Jeffran mengantar Jillian masuk ke kamar mandi dan mendudukkannya di atas sofa yang berseberangan dengan wastafel. Tidak ingin membuat Jillian kesulitan, Jeffran mengisi bathtub dengan air hangat & essential oil yang wanginya menenangkan.


"Airnya sudah siap Jill, berendamlah.. Kalau kamu memerlukan bantuan, panggil saja aku."


"Terima kasih Jeff." Lagi-lagi senyum manis Jillian kembali terulas, membuat mata Jeffran berbinar, sebelum akhirnya meninggalkan Jillian di kamar mandi.


20 menit berlalu, masih belum ada tanda-tanda Jillian akan keluar dari kamar mandi. Sementara Jeffran sudah selesai mandi di kamar mandi Jillian, bahkan makanan yang dipesannya secara online juga sudah datang.


"Jill.. Jillian.. Apa sudah selesai mandinya?" Tidak ada jawaban sepatah katapun dari dalam kamar mandi, memicu rasa khawatir Jeffran.


"Jill.. Kamu tidak apa-apa kan? Jawab aku Jill.." Lagi-lagi tidak ada jawaban dari kamar mandi.


Tanpa berpikir lagi, Jeffran segera menerobos ke dalam kamar mandi. Alangkah terrkejutnya Jeffran, saat melihat Jillian tidak sadarkan diri di atas lantai kamar mandi, dengan tubuh hanya berbalut bathrobe.


Dengan sigap, Jeffran memeluk dan menumpukan kepala Jillian di atas pangkuannya.


Susah payah Jeffran meraih parfume-nya yang ada di atas meja rias di dekat wastafel. Lalu didekatkan ke hidung Jillian, agar Jillian kembali sadar.


Sesaat kemudian, terdengar lenguhan dari mulut Jillian. Hal itu membuat Jeffran bernafas lega dengan mengucap syukur.


"Hmm, Jeff.. Aku kenapa?" Tanya Jillian.


"Kamu pingsan Jill. Inilah yang aku khawatirkan tadi. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu." Ekspresi khawatir Jeffran, terlihat jelas oleh Jillian. Entah kenapa, hal itu membuat hatinya menghangat.


"Sudah Jeff, aku tidak apa-apa. Aku mau ke kamar dulu. Aku mau berganti pakaian." Ucap Jillian sembari berusaha berdiri dengan susah payah. Tapi Jeffran langsung menggendong tubuh Jillian keluar dari kamar mandi, lalu mendudukkannya di kursi meja rias.


"Tunggulah, aku akan membawakan bajumu."

__ADS_1


"Tidak Jeff, biar aku saja.." Tolak Jillian. Namun Jeffran sudah melesat pergi menuju kamar tidur Jillian. Tidak sampai 5 menit, Jeffran sudah kembali dengan beberapa helai pakaian yang disimpannya di atas tempat tidur.


"Berpakaianlah.. Kalau sudah selesai, kita makan ya." Ucapan Jeffran hanya diangguki Jillian. Kemudian dia berjalan keluar dari kamar.


Tiba-tiba mata Jillian membulat sempurna saat melihat beberapa helai pakaiannya yang tadi dibawa Jeffran. Bukan sepasang piyama tidur berwarna maroon yang membuat matanya terbelalak, melainkan sepasang bra dan panty berwarna merah dan berbahan lace menerawang yang sangat seksi.


"Aduh kenapa bisa dia berpikir kalau aku akan memakai ini? Ini kan hadiah dari Mama, saat aku menikah." Ujar Jillian sembari menepuk dahinya.


************************


Di ruang makan, Jeffran dan Jillian makan malam lebih awal tanpa saling bicara. Jillian masih malu dan canggung karena sepasang pakaian dalam yang dibawa Jeffran tadi. Sementara Jeffran yang mengira Jillian biasa memakai jenis pakaian dalam seperti itu, tentu merasa tidak ada yang salah. Meskipun pertama kali melihatnya, Jeffran sedikit kesulitan menelan saliva. Membayangkan kedua benda itu menutupi bagian tubuh sensitif istrinya.


"Jill, tadi Shawn tanya. Apa kamu ingin memberikan pelajaran secara langsung pada Dhiva dan anak buahnya?" Jefrran bertanya setelah melihat Jillian menyelesaikan makan malamnya, bersamaan dengan dirinya.


"Tidak.. Aku sungguh tidak ingin melihat wajah mereka lagi. Tapi aku harap, mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan keji mereka." Tangan Jillian yang berada di atas meja terlihat bergetar hebat, tapi Jeffran tidak berani menggenggamnya. Padahal dirinya sangat ingin menyalurkan ketenangan pada istrinya.


"Baiklah, biarkan Shawn yang menentukan hukuman yang pantas untuk mereka." Ujar Jeffran, yang dibalas ekspresi penuh tanya dari Jillian.


"Kenapa bukan kamu yang memberi mereka pelajaran?" Pertanyaan Jillian cukup mengejutkan Jeffran.


"Aku yakin, Shawn bisa memberi mereka pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan.. Selain itu.. Aku merasa kalau aku tidak lebih baik dari mereka. Aku sudah melakukan perbuatan bejat terhadapmu. Jadi aku merasa, bukan aku yang pantas menghukum mereka. Meskipun sebagai seorang suami, melihat istri yang aku cintai diperlakukan seperti itu, membuatku sungguh ingin membunuh mereka Jill." Jujur Jeffran dengan raut penuh rasa bersalah.


"Jika aku memintamu memberi mereka hukuman, apa kamu mau melakukannya?" Jeffran terkejut melihat raut wajah dan sorot mata Jillian yang semula tenang, kini terlihat penuh amarah.


"Aku akan melakukan apapun yang kamu minta Jill." Balas Jeffran sungguh-sungguh.


"Buktikan.."

__ADS_1


************************


__ADS_2