
Pagi ini sikap Jillian nampak berbeda pada Jeffran, padahal semalam mereka baru saja melewati malam paling berkesan dan paling membahagiakan di sepanjang pernikahan mereka. Jillian memang tidak terlihat marah atau kesal, tapi Jeffran merasa Jillian selalu mengabaikan dan menghindari dirinya. Bahkan saat Jeffran baru menyentuh tangan Jillian saja, Jillian langsung menarik tangannya, seolah tidak ingin Jeffran menyentuhnya.
Tapi anehnya, Jillian tetap menyiapkan pakaian kerja Jeffran, juga menu sarapan yang special untuk Jeffran. Padahal Jeffran sudah berniat tidak akan pergi ke perusahaan, meskipun saat ini awal pekan, karena ingin meneruskan moment manisnya bersama istrinya tercinta.
Selesai sarapan, Jeffran kembali merajuk pada istrinya yang tengah menyerahkan tas kerja pada Jeffran.
"Sayang, rasanya aku benar-benar malas berangkat ke perusahaan hari ini. Lagipula hari ini tidak ada meeting penting dengan partner bisnis ataupun direksi. Aku bisa bekerja dari rumah Sayang." Bujuk Jeffran, agar Jillian tidak menyuruhnya pergi ke perusahaan.
"Kamu adalah srorang CEO, jangan memberikan contoh yang buruk untuk karyawanmu, Jeff." Panggilan sayang yang tidak lagi melekat dalam perkataan Jillian, membuat Jeffran merasa terkejut.
'Aku yakin ada sesuatu yang salah, sampai istriku bersikap aneh seperti ini. Tapi apa?' Tanya Jeffran dalam hati.
"Sayang, aku tidak ingin hanya bisa bertanya-tanya, tapi apa aku ada salah? Aku merasa sikapmu berubah. Padahal semalam kita masih baik-baik saja Sayang." Sorot penuh tanya dari Jeffran hanya dibalas gelengan pelan dari Jillian.
"Tidak ada.. Aku hanya ingin kamu bersikap profesional dalam bekerja. Cepatlah berangkat, nanti kamu kesiangan." Ucap Jillian seraya mendorong pelan lengan Jeffran, agar berjalan keluar dari ruang makan.
"Sayang, aku tahu ada yang salah, tapi aku tidak tahu apa. Tolong katakan ada apa Sayang? Aku sungguh tidak bisa pergi ke perusahaan, dalam keadaan tidak nyaman seperti ini. Kamu membuatku khawatir Sayang." Ujar Jeffran seraya menatap dalam netra Jillian, setelah menghentikan langkahnya yang baru sampai di aula mansion.
Bukannya langsung menjawab, Jillian malah tersenyum tipis. Tapi Jeffran merasa kalau senyum Jillian itu terkesan dipaksakan.
"Tidak ada apa-apa. Sekarang lebih baik kamu segera berangkat, tidak baik kalau kamu terlambat datang ke perusahaan. Oh iya, nanti siang aku akan pergi ke Mall ya. Ada beberapa perlengkapan bayi yang mau aku beli. Jarell pun akan aku bawa, ditemani beberapa baby sitter dan bodyguard."
"Aku ikut ya Sayang.." Jillian memang berhasil mengalihkan perhatian Jeffran dari rasa ingin tahunya, tapi Jeffran jadi ingin menemani istrinya berbelanja perlengkapan bayi mereka.
"Kamu kan mempunyai pekerjaan yang lebih penting, kenapa malah mau menemaniku belanja?" Jillian menolak permintaan Jeffran secara halus, karena hatinya masih belum baik-baik saja sejak kejutan yang diterimanya.
"Sudah, pergilah.. Nanti kamu terlambat." Jillian merangkul lengan Jeffran dan menariknya ke halaman mansion, dimana mobil sport Jeffran sudah terparkir indah disana.
__ADS_1
"Hmm, baiklah Sayang.. Aku berangkat ya Sayang.." Jeffran memegang kedua lengan Jillian, hendak mencium kening dan bibir Jillian, sebelum masuk ke dalam mobilnya. Tapi Jillian refleks memundurkan tubuhnya, hingga mengejutkan Jeffran.
"Kenapa Sayang?"
"Tidak.. Maaf, aku hanya terkejut." Jawaban Jillian sama sekali tidak memuaskan rasa ingin tahu Jeffran, dan itu sangat disadari Jillian.
Cup..
Sebuah kecupan mendarat di pipi Jeffran, menarik lengkungan di kedua sudut bibir Jeffran. Jillian melakukannya karena tidak ingin membuat Jeffran semakin curiga pada sikapnya.
'Aku tahu kamu sedang mengalihkan kecurigaanku akan sikap anehmu Sayang. Tapi aku tidak akan mendesakmu lagi, meskipun aku yakin ada yang salah. Semoga aku bisa segera menemukan sumber masalahnya.' Ucap Jeffran dalam hati, lalu masuk ke dalam mobil sportnya untuk segera berangkat ke perusahaan.
Jillian kembali ke kamarnya, setelah memompa ASI untuk dia simpan sebagai persediaan di kamar Jarell. Tadinya dia berniat menyusui putranya secara langsung, tapi baby sitternya mengatakan, kalau putranya itu baru saja meminum ASI melalui botol hingga akhirnya tertidur begitu pulas.
Duduk di tepi ranjang, Jillian kembali membuka ponselnya dan menatap deretan photo dan juga 2 video yang mengusik hati dan pikirannya.
Beberapa photo itu menampakkan Jeffran yang tengah tersenyum begitu lebar bersama dengan seorang perempuan cantik. Keterangan pada photo-photo itu juga cukup mengusik Jillian.
Mengulang kenangan indah di masa lalu.
Senyum bahagia, bersama seseorang yang special.
Mata Jillian kembali perih melihat deretan photo dengan keterangan yang berhasil menorehkan luka di hatinya. Terlebih saat dirinya kembali melihat dua rekaman CCTV yang diambil di koridor sebuah hotel, tempat dimana Jeffran menginap.
Video pertama menunjukkan seorang perempuan yang Jillian yakini adalah perempuan yang sama dengan perempuan yang berphoto dengan suaminya, memencet bel salah satu kamar hotel. Beberapa saat kemudian, Jeffran tampak keluar dari kamar tersebut dan lehernya langsung dipeluk erat oleh perempuan itu.
Jeffran terlihat melepas tangan perempuan yang melingkar di lehernya, namun sesaat tangannya terlepas, perempuan itu justru melangkah masuk ke dalam kamar Jeffran.
__ADS_1
Beralih ke video kedua, perempuan tadi terlihat keluar dari kamar Jeffran, 10 jam setelah dia masuk ke dalam kamar itu. Jelas saja hal ini menimbulkan kecurigaan dan berbagai hal buruk di pikiran Jillian. Namun Jillian enggan menanyakan hal ini pada suaminya. Jillian justru berniat mencari tahu dan menemukan bukti, apakah suaminya memang berkhianat atau tidak.
*************************
Di perusahaan, Jeffran tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya yang begitu padat. Pikirannya masih saja tersita pada sikap istrinya yang terasa berbeda. Mata Jeffran memang terlihat sedang menatap serius ke arah laptopnya, tapi sebenarnya bukan itu yang menjadi fokusnya saat ini.
'Aku tidak melakukan kesalahan apapun, tapi kenapa istriku mengabaikan dan menghindariku terus? Bahkan dia tidak mau mengangkat panggilan telepon dariku.' Keluh Jeffran dalam hati.
Kemunculan Liam yang tiba-tiba, mengejutkan Jeffran dari pikirannya. Ekspresi Liam terlihat sangat serius, seraya memegang tablet di tangannya.
"Jeff, kita kehilangan tender proyek di Lombok." Raut Liam terlihat kesal.
"Apa maksudmu?" Jeffran begitu terkejut, karena proyek itu sudah siap dikerjakan perusahaannya
"Proyek itu akan dikerjakan PT. JRV Indonesia, anak perusahaan Scott Group Company." Ucap Liam seraya memperlihatkan data di tabletnya.
"Apaaa? Bagaimana bisa? Mereka bahkan tidak ikut dalam tender." Jeffran menggebrak meja karena geram.
"Lagi-lagi Jarvis menjegalku." Lirih Jeffran, namun dengan penuh penekanan.
Scott Group Company adalah group perusahaan milik keluarga Jarvis, dan saat ini Jarvis merupakan CEO-nya. Sudah tidak aneh bagi Jeffran, jika beberapa proyeknya selalu bersaing dengan perusahaan Jarvis. Tapi tidak diduganya, kalau Jarvis ternyata akan menggunakan cara licik untuk mengalahkannya.
Belum habis rasa kesalnya, tiba-tiba Jake Kepala bodyguard yang bertugas menjaga Jillian, menghubunginya.
"Iya Jake, ada apa?"
"Maaf Boss, Nyonya Jillian saat ini sedang berada di restaurant Korea yang ada di Mall X. Tapi ada pria yang tiba-tiba ikut bergabung. Setelah saya selidiki, ternyata pria tersebut adalah Jarvis E. Scott, CEO Scott Group Company." Mendengar perkataan Jake, seketika rahang Jeffran mengeras dengan tangan mengepal kuat.
__ADS_1
"Sepertinya kamu memang sedang menabuh genderang perang denganku, Jarvis."
*************************