
Jeffran sedang merasa kebingungan sekaligus dilema, karena sebuah undangan pesta resepsi pernikahan salah satu partner bisnis sekaligus sahabat terdekatnya di Melbourne Australia lusa nanti. Pasalnya, dirinya tidak ingin meninggalkan Jillian dan putra mereka walau hanya satu hari saja. Apalagi dirinya teringat syarat sang Papa Mertua yang mengharuskannya membawa anak dan istrinya kemanapun dia pergi. Tapi saat ini, hal itu terasa tidak memungkinkan. Usia putra kecil kesayangannya baru berusia 37 hari, Jeffran tidak ingin membawa Jarell kemanapun untuk saat ini, apalagi ke luar negeri.
"Sayang pergilah.. Cukup jelaskan pada Papa. Papa tentu mengerti kalau kali ini kamu belum bisa membawa kami ke luar negeri." Jillian berusaha meyakinkan dan menenangkan Jeffran agar tidak lagi galau dengan isi pikirannya.
"Iya Sayang.. Tapi aku juga merasa berat meninggalkan kamu dan putra kita. Apa aku tidak usah datang saja ya ke pesta pernikahan William?" Ucap Jeffran dengan mata menatap sendu ke arah Jillian.
"Sayang, kamu bilang William adalah sahabat terdekat kamu sejak SMA dulu. Dia bahkan memintamu secara khusus untuk hadir dalam acara pernikahannya. Kamu tidak boleh mengecewakannya Sayang." Jeffran mengangguk lemah mendengar ucapan Jillian.
"Iya kamu benar Sayang. Tidak enak, jika aku tidak datang di moment specialnya. Dia adalah sahabat terdekatku sejak SMA dulu. Bahkan kita menjadi partner bisnis sekarang, meskipun jarang bertemu karena dia menetap dan membangun perusahaannya di Australia."
"Karena itulah kamu harus datang. Pergilah Sayang." Dukung Jillian agar Jeffran tidak ragu dengan keputusannya.
"Hmm, baiklah aku akan berangkat, dan menjelaskan hal ini terlebih dahulu pada Papa." Keputusan yang diambil Jeffran membuat Jillian menyunggingkan senyuman manisnya. Jillian tidak ingin dirinya dan sang Putra menjadi alasan yang menghambat Jeffran, untuk hadir dalam moment penting sahabat dekat suaminya itu.
*************************
Malam yang terasa meriah, sepasang pengantin tengah berkeliling menyalami tamu undangan, di dalam ballroom hotel mewah yang didekorasi indah. Semua tamu mengucapkan selamat serta doa bagi kebahagiaan kedua mempelai, tidak terkecuali Jeffran.
"Will.. Sonya.. Congratulation ya. Semoga kalian selalu bahagia sampai maut memisahkan." Jeffran menyalami dan memeluk William, kemudian beralih menyalami Sonya istri dari William.
__ADS_1
"Aamiin..Thank you Jeff." Ucap William dan Sonya bersamaan.
"Doa yang sama untukmu Jeff." Lanjut William penuh haru.
"Aamiin.. Thank you Will." Ucap Jeffran disertai senyuman.
"Sayang istri dan bayi lucumu tidak bisa ikut bersamamu. Aku sangat ingin berkenalan dengan mereka." Jeffran tersenyum mendengar perkataan Sonya yang juga merupakan teman SMA-nya, meskipun tidak terlalu akrab.
"Semoga kita ada kesempatan bertemu lagi, saat anakku sedikit lebih besar. Istriku, Jillian menitip salam untuk kalian berdua. Kalau tidak karena baru melahirkan dan usia putra kami yang masih terlalu kecil, Jillian sangat ingin ikut bersamaku." Mendengar perkataan Jeffran, kedua pasangan dihadapannya mengangguk bersamaan seraya mengulas senyum.
"Terima kasih. Semoga lain kali kami bisa bertemu keluarga kecilmu, saat kami ke Jakarta atau saat kalian ke Melbourne." Ucap William yang kali ini diangguki Jeffran.
William dan Sonya lanjut menyalami tamu undangan yang lainnya, sementara Jeffran memilih menikmati hidangan yang disediakan di mejanya yang merupakan meja khusus tamu VIP. Tiba-tiba matanya terfokus pada seorang tamu undangan yang baru menempati meja yang hanya terhalang 3 meja dari meja Jeffran.
"Hai Jeff, apa kabarmu? Sudah lama tidak bertemu, kamu semakin tampan saja." Jeffran tampak sedikit terkejut dengan kehadiran Andrea yang kini duduk di kursi kosong, tepat disebelah Jeffran. Kursi yang harusnya diperuntukkan bagi istri Jeffran yang tidak bisa ikut hadir bersama Jeffran.
Kehadiran Andrea yang sengaja mendekati Jeffran, tentu tidak luput dari perhatian Jarvis. Nafas Jarvis terdengar naik-turun, menahan amarah. Sungguh dirinya tidak menyukai adanya interaksi diantara Jeffran dan Andrea, meskipun Jarvis sebenarnya sudah tidak ada perasaan sedikitpun terhadap Andrea.
"Andrea.. Bisakah kamu kembali ke mejamu? Aku hanya ingin duduk sendiri disini. Kehadiranmu sungguh sangat menggangguku." Tegas Jeffran, membuat Andrea terkejut. Tapi Andrea tidak ingin kehilangan moment langka, yang belum tentu bisa dia dapatkan di waktu yang lain.
__ADS_1
"Jeff, maafkan aku kalau mengganggumu. Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu juga kelahiran putra tampanmu." Perkataan Andrea berhasil mengubah ekspresi dingin Jeffran menjadi sumringah. Andrea menyadari kalau bahasan tentang istri dan anak Jeffran, rupanya disukai laki-laki dihadapannya ini. Ide cemerlang muncul di otaknya, lalu seketika Andrea membuka ponselnya dan menunjukkan deretan photo di akun media sosial Jeffran.
"Putramu sangat mirip denganmu Jeff, lihat warna matanya yang biru, persis seperti kamu." Jeffran yang biasanya selalu bersikap dingin dihadapan Andrea, refleks menunjukkan senyum bahagianya. Andrea akhirnya tahu bahasan apa yang mungkin bisa membuat Jeffran nyaman mengobrol dengannya. Meskipun dia harus beracting sebagus mungkin, agar Jeffran tidak curiga dengan akal bulusnya.
"Kamu dan istrimu pasti bahagia memiliki bayi setampan ini, Jeff." Puji Andrea berpura-pura tulus.
"Tentu, aku juga bahagia memiliki ibunya yang sangat aku cintai." Senyuman yang disertai binar di mata Jeffran, sebenarnya membuat Andrea cemburu dan kesal. Tapi Andrea berusaha menyembunyikan isi hatinya, dengan tetap menyunggingkan senyum palsunya.
"Istrimu sangat cantik, pantas saja kamu sangat mencintainya." Pujian Andrea kembali memancing lengkungan di kedua sudut bibir Jeffran. Sebenarnya Andrea sangat tidak rela harus memuji istri Jeffran, tapi demi berhasilnya misi mendekati Jeffran, dirinya rela melakukannya.
"Tentu saja, aku sangat mencintainya dan juga putra kami." Lagi-lagi ucapan Jeffran membuat Andrea cemburu dan kesal. Tapi Andrea menahan dirinya sekuat tenaga.
"Semoga pernikahan kalian selalu bahagia ya." Andrea berpura-pura tulus di depan Jeffran.
"Aamiin.. Terima kasih ya Andrea." Balas Jeffran senang.
"Oh iya Jeff, kenapa aku tidak melihat istri dan putramu? Apa istri dan putramu menginap di hotel ini juga? Kapan kalian kembali ke Indonesia?" Tanya Andrea mencoba mengorek informasi lebih dalam lagi.
"Istri dan putraku belum bisa aku bawa ke luar negeri. Jadi aku menginap sendiri. Tadinya aku berniat pulang malam ini juga ke Jakarta, tapi istriku sangat khawatir dan meminta agar aku beristirahat lebih dulu. Jadinya aku akan pulang besok pagi saja." Jawab Jeffran jujur, tanpa ada kecurigaan sedikitpun pada Andrea.
__ADS_1
'Hmm, jadi malam ini dia sendirian. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, aku akan membuatnya jatuh dalam pelukanku malam ini.' Tekad Andrea dalam hati.
*************************