Pernikahan dengan Perusak Impianku

Pernikahan dengan Perusak Impianku
Episode 49 Tahun Baru di Bali


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian..


Tatapan berbinar dilayangkan sepasang mata indah pada gulungan ombak pantai yang saling berkejaran, juga birunya laut yang menyegarkan pandangan, di salah satu sudut Kota Lombok. Namun sorot kagum itu terusik, saat ada dua tangan kekar yang memeluk erat tubuh sang pemilik netra indah itu.


"Kamu suka resort ini?" Jeffran menumpukan dagunya di bahu Jillian yang terbuka, seraya menciumi bahu dan leher Jillian sesekali.


Jillian mengedarkan pandangan, sebelum memiringkan wajahnya untuk menatap Jeffran.


"Sangat suka, design-nya begitu futuristik dengan fasilitas yang sangat lengkap."


"Syukurlah kalau kamu suka design-nya. Resort ini untukmu Sayang." Seketika netra Jillian membulat sempurna, mendengar perkataan Jeffran. Dirinya sama sekali tidak menyangka, kalau resort ini adalah milik suaminya. Tujuan utamanya datang ke resort itu, hanyalah untuk menemani suaminya dalam acara peresmian beberapa proyek infrastruktur yang investasi, pembangunan, serta pengelolaannya bekerjasama dengan perusahaan Jeffran, yang diselenggarakan tadi malam.


"Sayang.. Maksudmu J&J Resort ini milikmu?" Tanya Jillian masih dengan tatapan tidak percaya.


"Resort ini sengaja aku beli untukmu. Awalnya, design resort ini tidak seperti ini. Aku sengaja mengubahnya sesuai seleraku. Syukurlah ternyata kamu suka." Senyum sumringah Jeffran semakin memperlebar senyuman di wajah cantik Jillian.


"Aku tidak menyangka kamu akan melakukan hal ini. Hmm, jadi alasan kamu seringkali tidak bisa dihubungi saat di Lombok, karena ini? Bukan hanya sibuk dengan proyek pemerintah, tapi juga proyek pribadi ya." Ekspresi Jillian yang sedikit kesal dengan mengerucutkan bibirnya, justru membuat Jeffran gemas. Hingga tidak tahan mengulas senyum nakalnya.


"Memangnya kamu pikir aku macam-macam Sayang? Apa kamu seringkali cemburu dan mencurigaiku?" Jeffran bertanya seraya membalik badan Jillian agar menghadap ke arahnya.


"Iya.. Aku mengira kamu berbuat macam-macam saat jauh dariku." Jujur Jillian dengan tatapan kesal.


Cup..


Jeffran mencium gemas bibir Jillian dan semakin mengeratkan pelukannya, hingga tidak ada lagi jarak diantara mereka.


"Tidak mungkin.. Aku hanya mencintaimu. Tidak ada perempuan yang mampu menggetarkan perasaanku, selain kamu. Meskipun banyak godaan yang datang silih berganti, tapi hatiku hanya untuk kamu Sayang.." Perkataan yang disertai tatapan dalam Jeffran membuat Jillian terharu. Hatinya berbunga-bunga, dipenuhi rasa syukur karena dicintai begitu dalam oleh suami yang juga sangat dicintainya.


"Apa selama ini banyak yang datang menggodamu?" Sorot penuh selidik dilayangkan Jillian pada suaminya, setelah menyadari kalimat terakhir yang keluar dari mulut suaminya.


"Hmm, ya..." Jeffran mulai mencium aroma masalah, melihat tatapan Jillian yang mulai mengintimidasi. Apalagi Jillian sedikit merenggangkan pelukan Jeffran, dengan mendorong pelan tubuh suaminya itu.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku, kalau banyak perempuan yang datang menggodamu?"


'Mati aku.. Sepertinya istriku sangat kesal padaku.' Rutuk Jeffran dalam hati.


"Karena aku anggap hal itu tidak penting Sayang.." Jujur Jeffran, berusaha menenangkan dirinya menghadapi Jillian yang jelas terlihat sangat kesal.


"Tapi bagiku itu penting. Aku ingin tahu siapa saja perempuan yang mendekatimu. Kamu saja selalu mengawasiku dan melarangku dekat dengan laki-laki lain. Tapi kamu sendiri tidak jujur, saat ada perempuan yang mendekatimu." Kesal Jillian lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Maafkan aku.. Lain kali aku akan menceritakannya padamu." Rupanya perkataan Jeffran tidak lantas menarik nafas lega Jillian. Terlihat rasa penasaran itu masih jelas terpampang di wajah Jillian. Bahkan Jillian melepas paksa pelukan Jeffran, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada.


"Bukan lain kali Sayang, coba ceritakan padaku, siapa saja yang menggodamu selama kamu berada disini." Mendengar pertanyaan tegas Jillian, Jeffran mendadak kesulitan menelan saliva. Dirinya mulai merangkai kata sebijak mungkin, karena merasa kejujuran atau kebohongan tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik.


"Sayang, mereka hanya perempuan-perempuan yang tidak ada artinya bagiku.. Mereka.."


"Sebutkan nama mereka tanpa terkecuali." Jillian memotong perkataan Jeffran dengan nada bicara yang sangat tegas, membuat Jeffran tidak bisa mengelak lagi kali ini.


"Nesya, Devanka, Viola, Milla. Hmm, Ressi, Luna, Lily.."


"Kenapa banyak sekali? Mereka siapa Sayang?" Bibir Jillian lebih mengerucut dari sebelumnya. Hal itu tentu saja membuat Jeffran serba salah. Perempuan-perempuan yang mendekatinya bukan hanya dari kalangan pengusaha lokal saja, tapi juga pemerintah daerah yang kebetulan bekerjasama dalam proyek pembangunan infrastruktur di Lombok. Bahkan banyak sekali gadis-gadis yang kebetulan menginap di resort yang sama dengan Jeffran, berubah menjadi stalker yang sangat mengganggu hari-harinya.


"Sayang, tidak penting mereka siapa. Yang terpenting, hanya kamu satu-satunya orang yang aku cintai.." Perkataan lembut yang disertai pelukan erat dan ciuman mesra Jeffran, begitu menggetarkan hati Jillian.


'Iya.. Tidak penting sebanyak apa godaan yang datang padamu. Yang terpenting, kamu hanya mencintaiku.' Lirih Jillian dalam hati.


**************************


Sehari menjelang Tahun Baru, Jeffran, Jillian, beserta Jarell yang ditemani beberapa pengawal dan baby sitter, berangkat menuju Bali. Tujuan mereka adalah menghadiri undangan perayaan Tahun Baru di Knight Resort milik Shawn dan Shanaya yang ada di Bali. Sekaligus menjenguk Putra Shawn dan Shanaya yang bernama Shankara, yang belum sempat mereka jenguk sejak Shankara lahir beberapa bulan sebelum Jarell lahir.


Setibanya di kamar yang disediakan khusus oleh Shawn tepat di petang hari yang cerah, mereka langsung disambut begitu hangat oleh Shawn dan juga Shanaya.


"Welcome to Bali, Bro.." Sambut Shawn yang disertai pelukan pada Jeffran. Shanaya pun tampak memeluk dan menanyakan kabar Jillian, yang beberapa bulan ini mulai sering berkomunikasi secara intens seperti suami mereka. Jarell yang berada dalam gendongan Jeffran pun tampak tersenyum senang, bertemu Shankara yang juga begitu antusias bertemu Jarell.

__ADS_1


"Play..Play.." Shankara yang sudah mulai bisa berjalan, meminta Jarell untuk turun dari gendongan Jeffran. Tapi karena Jarell baru bisa duduk, akhirnya Jeffran dan Shawn memilih meletakkan kedua putra mereka di atas tempat tidur.


"Bermainlah.. Aku yakin kalian akan sangat dekat seperti kami." Seolah mengerti ucapan Shawn, Shankara dan Jarell terlihat tersenyum senang. Membuat orangtua mereka berbinar bahagia.


"Ini kami bawakan hadiah untuk Kak Shanaya, Kak Shawn dan juga untuk keponakan tampanku, Shankara. Semoga suka ya." Jillian dan Jeffran menyodorkan beberapa buah paper bag berukuran besar yang berisi barang-barang unik dan buah tangan khas Indonesia.


"Wah terima kasih banyak Jill, Jeff.." Ucap Shanaya seraya menerima beberapa paper bag itu. Melongok isinya dengan mata berbinar, lalu meletakkannya di atas sofa.


"Terima kasih ya Jill, Jeff.." Timpal Shawn seraya merangkul mesra bahu Shanaya.


"Kami juga ada sedikit hadiah dari Inggris untuk kalian." Shanaya dibantu Shawn, mengambil beberapa paper bag berukuran besar, yang semula mereka letakkan di atas meja di sudut ruangan.


"Ini untuk kalian, semoga kalian juga suka ya." Kini giliran Jillian dan Jeffran yang menerima hadiah mereka dengan perasaan senang.


"Terima kasih banyak ya Kak Shanaya dan Kak Shawn. Kami sangat menyukainya." Ucap Jillian yang diangguki Jeffran.


"Terima kasih. Kalian seharusnya tidak usah repot-repot membawakan kami hadiah." Timpal Jeffran.


"Kenapa? Apa kamu merasa sudah sangat kaya sekarang, sehingga tidak mau dibawakan hadiah oleh kami?" Jeffran bukannya tersinggung, dia justru tertawa mendengar perkataan Shawn yang seolah menyindir kesuksesannya. Jillian dan Shanaya pun ikut tertawa kecil melihat tingkah suami mereka.


"Maksudku baik. Aku hanya tidak mau kalian kerepotan membawa semua hadiah yang sangat banyak ini." Jeffran yang membela dirinya, dibalas decihan Shawn.


"Kami sama sekali tidak merasa kerepotan. Kami membawanya dengan private jet, dan sampai di kamar ini pun, barang-barang itu dibantu dibawakan oleh para pengawal." Jawaban sombong Shawn justru disambut gelengan kepala dan tawa renyah Jeffran, Jillian dan juga Shanaya.


Namun tiba-tiba suara menggemaskan menginterupsi obrolan keempat orang itu.


"Dad.. No.. No.. No.." Shankara menatap Daddy-nya sambil mengangkat dan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. Sementara Jarell tertawa melihat tingkah sepupunya.


"Tuh lihat, anakmu saja tidak suka melihatmu sombong padaku." Bisik Jeffran diikuti tawa jahilnya, yang dibalas wajah masam Shawn.


Tapi sedetik kemudian, Shawn mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya bersamaan, sehingga membentuk huruf V.

__ADS_1


"Daddy hanya bercanda Son.. Peaceee.."


*************************


__ADS_2