Pernikahan dengan Perusak Impianku

Pernikahan dengan Perusak Impianku
Episode 7 Masa Lalu Jeffran


__ADS_3

Jillian tiba lebih dulu di apartemen dengan menggunakan taksi, sementara Jeffran mengikuti dengan mobil sport hitamnya dari belakang. Sesampainya di apartemen mereka pun, Jillian langsung masuk ke dalam kamarnya, demi menenangkan hatinya yang masih bergetar hebat mengingat kejadian penuh petaka di dalam mobil sport hitam Jeffran.


Jeffran yang tidak mengerti dengan alasan perubahan sikap Jillian itu, merasa sangat kesal.


"Apa-apaan sih perempuan itu? Menyebalkan sekali." Umpat Jeffran seraya membanting tubuhnya di atas sofa.


*************************


Menjelang waktu makan malam, Jillian masih mengunci diri di kamar. Jeffran yang mengabaikannya sejak siang tadi, mulai sedikit khawatir. Bagaimanapun juga, Jillian sedang dalam masa pemulihan. Apalagi janin dalam kandungan Jillian pastinya membutuhkan asupan nutrisi yang cukup.


"Jillian, buka pintunya.. Sudah waktunya makan malam. Kenapa harus dikunci segala sih?" Jeffran berusaha membuka dan mendorong pintu yang masih terkunci itu.


"Jillian.. Ingat, kamu sedang hamil. Bayi dalam kandungan kamu juga butuh makan. Cepat buka pintunya." Jeffran menggedor kasar pintu kamar Jillian, hingga akhirnya Jillian membuka pintu kamarnya.


Wajah kuyu Jillian mulai memenuhi ruang pandang Jeffran yang memasang raut wajah kesal.


"Aku sudah memesan menu makan malam, makan dulu. Nanti kamu bisa tidur lagi setelah makan." Tanpa menunggu jawaban Jillian, Jeffran langsung kembali duduk di ruang tamu. Menyesap americano-nya lalu berkutat dengan pekerjaan yang sempat terabaikan karena menjaga Jillian selama 2 hari di Rumah Sakit. Sementara Jillian menuju ruang makan dan mulai memakan menu makan malamnya tanpa suara.


"Uweeeekk..Uweeeekk.."


Jillian yang memuntahkan makanan yang dimakannya, membuat Jeffran jengah. Dirinya merasa terganggu setiap kali Jillian mengalami mual dan muntah. Jillian bukan hanya mual dan muntah di pagi hari, melainkan juga hampir di setiap waktu makan.


"Sebenarnya sampai berapa bulan sih, kamu akan mengalami mual dan muntah seperti itu? Menjijikan sekali.." Teriak Jeffran kesal.


Jillian yang baru merasakan lega setelah mengosongkan isi perutnya, menatap nyalang ke arah Jeffran.


'Dia yang memperkssaku hingga aku mengandung anaknya, rasanya aku ingin benar-benar membunuhnya saat ini.' Batin Jillian.

__ADS_1


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Tidak terima? Setiap kali kamu merasa ingin muntah, pergilah ke toilet kamarmu.. Jangan di pantry. Kamu membuatku terganggu, bahkan seringkali merusak selera makanku." Perkataan Jeffran, memancing emosi Jillian yang memang sudah hampir sampai ke ubun-ubun.


"Aku doakan agar kamu merasakan apa yang aku rasakan Jeffran." Rutuk Jillian, lalu menuju kamarnya dengan langkah menghentak karena kesal.


"Apa-apaan perempuan gila itu, bagaimana bisa aku merasakan mual dan muntah sepertinya. Memangnya aku hamil?" Jeffran mengabaikan ucapan Jillian dan kembali fokus pada pekerjaannya.


*************************


Keesokan harinya, Jeffran tidak mendapati Jillian di seluruh sudut apartemennya. Padahal saat di Rumah Sakit, Jeffran sudah mewanti-wanti agar Jillian tidak pergi kuliah untuk sementara waktu, karena tubuh Jillian memerlukan waktu untuk pemulihan. Kandungan Jillian pun dikatakan lemah, sehingga Jillian tidak boleh melakukan kegiatan yang berat.


"Perempuan itu memang sangat susah diatur. Selalu membuatku emosi jiwa." Umpat Jeffran, lalu segera pergi menuju perusahaannya.


Jeffran yang baru saja selesai meeting dengan jajaran management perusahaannya, terlihat serius berkutat dengan pekerjaan di ruang kerjanya. Bahkan kedatangan Liam yang masuk tanpa mengetuk pintu pun sama sekali tidak disadari Jeffran.


"Bro, bagaimana keadaan istrimu sekarang?" Jeffran mendongak melihat Liam yang berdiri di depan meja kerjanya.


"Kenapa?"


"Aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai istriku, kamu jelas tahu kalau aku menikahinya karena dia sedang mengandung anak Jordan." Ucapan Jeffran langsung dibalas gelengan kepala Liam.


"Bro, apa kamu tidak berniat memulai lembaran baru bersama Jillian? Kalian sudah sah sebagai suami istri. Anak Jordan pun akan menjadi anakmu." Kali ini giliran Jeffran yang menggelengkan kepalanya.


"Tidak.. Aku tidak akan pernah mencintai perempuan itu. Aku akan bercerai dengannya, saat anak Jordan lahir. Aku akan mengambil hak asuh anak itu, bagaimanapun caranya." Ujar Jeffran memancing helaan nafas panjang Liam.


"Jangan pisahkan seorang anak dari ibunya Jeff. Kasihan apalagi kalau masih bayi, dia benar-benar membutuhkan ibunya." Liam berusaha mengubah jalan pikiran Jeffran, namun ternyata sepupu sekaligus boss-nya itu lebih keras kepala dari perkiraannya.


"Tidak, justru lebih bagus kalau anak itu dipisahkan sejak bayi dari ibunya. Agar anak itu terbiasa tanpa ibunya. Aku yakin perempuan itu akan dengan senang hati pergi, jika aku tawarkan uang dalam jumlah besar." Perkataan Jeffran yang terdengar sangat meremehkan Jillian, jelas tidak disetujui Liam. Meskipun Liam baru dua kali bertemu dengan Jillian saat di pemakaman Jordan dan pernikahan Jillian dengan Jeffran, tapi Liam bisa melihat kalau Jillian adalah perempuan yang baik.

__ADS_1


"Jillian tidak akan mau menjual anaknya demi uang, sebanyak apapun itu Jeff." Jeffran mengerutkan kening mendengar ucapan Liam yang terdengar meyakinkan.


"Jangan terlalu yakin begitu Liam. Aku yakin dia sama saja seperti perempuan diluar sana." Senyum sinis menghiasi wajah Jeffran.


"Tidak semua perempuan seperti Dhiva, Jeff.." Jeffran seketika menggebrak meja, karena tidak suka dengan perkataan Liam.


"Jangan pernah menyebut nama perempuan itu lagi, Liam." Jeffran terlihat sangat emosi pada Liam. Namun Liam sama sekali tidak terlihat takut dengan sikap Jeffran itu.


"Baiklah, aku pergi.. Jangan lupa, jam 2 nanti kita ada pertemuan dengan Bradley Harrison, CEO BR Group Company." Tanpa menunggu respon Jeffran, Liam memilih pergi dari ruang kerja Jeffran. Meninggalkan Jeffran yang terbawa ke dalam kenangan masa lalunya yang buruk bersama perempuan yang disebut Liam tadi.


Dhiva.. Mantan kekasih Jeffran saat kuliah dulu, adalah perempuan yang sukses mengubah pribadi seorang Jeffran yang hangat dan penuh kasih menjadi dingin dan tidak percaya adanya cinta sejati.


Gadis yang berkuliah sekaligus berprofesi sebagai model itu, dianggap Jeffran memiliki pribadi yang baik, lembut dan tulus. Tapi ternyata Dhiva hanya memanfaatkan Jeffran untuk memenuhi segala keinginannya. Jeffran yang sangat mencintai Dhiva, tentu saja tidak keberatan setiap kali kekasihnya itu meminta dibelikan barang-barang branded. Bahkan Jeffran sampai membelikan Dhiva sebuah mobil dan apartemen mewah. Tentu saja Jeffran mampu melakukannya, karena meskipun masih kuliah, tapi Jeffran sudah dipercaya memegang perusahaan oleh Papanya.


Hingga suatu hari, Dhiva mengatakan pada Jeffran kalau dia akan pergi ke luar kota untuk menghadiri acara bersama keluarganya selama 1 minggu. Jeffran yang sangat percaya pada kekasihnya itu, tentu tidak keberatan dan tidak curiga sama sekali. Kebetulan esok harinya, Jeffran pun harus menghadiri undangan pesta di sebuah kapal pesiar di Singapura, yang diadakan oleh kolega bisnisnya selama 2 hari.


Esok harinya Jeffran ditemani Liam langsung berangkat ke Singapura. Namun ternyata di kapal pesiar tempat dimana pesta yang dihadiri Jeffran berlangsung, Jeffran justru mendapat kejutan yang sangat tidak terduga. Dengan mata kepalanya sendiri, Jeffran melihat keberadaan kekasihnya bersama dengan seorang pria yang cukup dikenalnya. Terlebih adegan didepan matanya itu berhasil membuat hatinya hancur berkeping-keping. Di pinggir kolam renang, Dhiva terlihat berciuman dengan salah satu kolega Jeffran, salah satu pemilik perusahaan terbesar di Indonesia yang berusia paruh baya dan memiliki istri serta anak.


'Jadi ini yang kamu maksud acara keluarga.' Batin Jeffran.


Dhiva sempat terkejut menyadari kehadiran Jeffran yang memandangnya dari jarak yang cukup jauh. Tapi beberapa detik kemudian, Dhiva justru mengulas senyum sinis ke arah Jeffran seraya merangkul mesra lengan pria yang bersamanya untuk pergi dari tempat itu.


Sejak kejadian itu, Dhiva seolah menghilang ditelan bumi. Ponsel Dhiva tidak bisa dihubungi, bahkan Dhiva pun tidak lagi berkuliah di kampus yang sama dengan Jeffran. Tidak ada penjelasan ataupun kata putus. Tapi bagi Jeffran, hubungan diantara dirinya dan Dhiva memang sudah berakhir.


Jeffran kembali tersadar dari lamunan masa lalunya yang menyakitkan. Sejak kejadian itu, Jeffran seolah menutup diri dan hatinya dari perempuan manapun. Dia memilih berjuang keras dan fokus bekerja mengejar kesuksesan, agar tidak diremehkan perempuan manapun.


'Semua perempuan memang sama saja. Mereka sangat menyukai uang dan harta. Bahkan mereka rela meninggalkan orang yang mencintainya, demi seseorang yang jauh lebih kaya dan berkuasa.' Batin Jeffran.

__ADS_1


*************************


__ADS_2