Pernikahan dengan Perusak Impianku

Pernikahan dengan Perusak Impianku
Episode 34 Bawa Aku Pulang


__ADS_3

Sebelah tangan Samson yang hampir menyentuh dada Jillian, tiba-tiba digigit Jillian sekuat tenaga. Beberapa tangan lain yang hampir menyentuh bagian bawah tubuh Jillian pun, refleks ditarik karena terkejut dengan perbuatan Jillian itu.


"Dasar jal*ng.. Beraninya kamu menggigitku." Sebelah tangan Samson mencengkeram dagu Jillian, hingga jauh lebih memerah dari sebelumnya.


Plaakk..


Sebuah tamparan mendarat di pipi Jillian, hingga meninggalkan jejak kemerahan. Salah satu sudut bibirnya pun mengeluarkan darah. Tanpa ragu, Samson kemudian menjambak rambut Jillian, hingga Jillian meringis kesakitan.


"Perempuan murahan, nikmati saja apa yang akan kami lakukan. Karena tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu dari sini." Samson menatap pongah ke arah Jillian, lalu melepas jambakannya dengan kasar.


"Biarpun kamu sedang hamil, tapi tubuhmu terlihat seksi.. Apalagi wajahmu sangatlah cantik. Aku sudah tidak sabar untuk menikmati tubuhmu, hahaha.." Samson tertawa keras, diikuti tawa anak buahnya.


Tubuh Jillian mengkeret, sungguh dirinya takut semua laki-laki dihadapannya akan kembali menyentuhkan jari-jari mereka di tubuhnya. Wajah Jillian basah karena air mata dan keringat yang mengalir semakin deras. Tubuhnya pun semakin bergetar hebat, membayangkan kilasan-kilasan kemalangan yang mungkin bisa menimpanya.


"Tolong lepaskan aku.. Aku mohon, jangan sentuh aku.." Permohonan Jillian yang terdengar pilu itu, justru dibalas tawa Samson dan semua anak buahnya.


Sementara itu, Dhiva yang baru berjalan beberapa langkah dari kamar, dikejutkan dengan kemunculan Jeffran yang berlari dengan penuh amarah ke arahnya. Dibelakangnya tampak Shawn, Drake dan anak buahnya mengikuti Jeffran, diiringi tatapan dingin dan tajam.


"Jeff..ran.." Ucap Dhiva ketakutan.


"Urus dia." Jeffran melewati Dhiva begitu saja, menuju kamar dimana Dhiva terlihat keluar dari sana. Sementara Dhiva langsung diamankan oleh anak buah Shawn, tanpa bisa melawan.

__ADS_1


Sementara itu di kamar, Samson melanjutkan aksi bejatnya, berusaha membuka paksa kancing kemeja Jillian.


"Buka celana jeansnya!" Perintah Samson pada anak buahnya.


Anak buah Samson mendekat hendak membuka celana jeans Jilllian, mengabaikan Jillian yang terus memberontak dan berteriak histeris. Namun kemunculan Jeffran yang diikuti Shawn dan Drake, menggagalkan aksi mereka.


"Brengs*k.." Umpat Jeffran penuh emosi.


Bugh..Bugh..Bugh..


Pukulan Jeffran di dada dan perut Samson yang tiba-tiba, cukup membuat Samson limbung. Tapi Samson langsung membalas dengan mengarahkan pukulan ke dada Jeffran. Untungnya pukulan itu, langsung ditangkis Jeffran dengan memutar lengan Samson dan memelintirnya hingga meringis kesakitan. Tidak cukup disitu, Jeffran memukul dagu Samson dengan sikunya, mengapit leher Samson dengan lengannya dari arah belakang dan menjatuhkannya dengan kasar. Setiap kali Samson hendak bangkit, Jeffran langsung mendaratkan tendangannya di perut dan bahu Samson.


Sementara Jeffran menghajar Samson, Shawn dan Drake pun tidak tinggal diam, mereka menghajar anak buah Samson, yang menyerang Jeffran secara bersamaan dari berbagai arah. Anak buah Samson berusaha melindungi Boss-nya yang dihajar habis-habisan oleh Jeffran, namun pukulan dan tendangan dari Shawn dan Drake, membuat mereka bahkan tidak bisa menyentuh Jeffran.


Setelah Jeffran berhasil menumbangkan Samson dan membuatnya benar-benar tidak berdaya, giliran anak buah Samson yang menjadi sasaran Jeffran saat ini. Berkali-kali Jeffran melayangkan pukulan dan tendangan memutar ke arah mereka. Ketujuh orang itupun dibuat kewalahan oleh gerakan Jeffran yang tidak bisa diprediksi. Sementara Shawn dan Drake, kini berperan sebagai penonton dengan hanya berdiri memperhatikan di dekat pintu.


"Sepupumu ternyata cukup hebat Shawn. Basic beladirinya sepertinya cukup banyak." Puji Drake dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada. Sementara Shawn yang memasukkan kedua tangan ke saku celananya, tampak tersenyum bangga.


"Ya.. Dia belajar banyak ilmu beladiri sebelum diangkat menjadi CEO. Karena tidak mau diikuti banyak pengawal untuk menjaganya.. Selama ini dia selalu bisa lepas dari bahaya, meskipun banyak musuh yang mengincarnya. Tapi istrinya tentu berbeda, dia perlu penjagaan yang sangat ketat. Apalagi dia sedang mengandung." Drake mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Shawn.


"Shawn, bagaimana dengan istri Jeffran?" Apa kita bawa keluar sekarang?" Mendengar pertanyaan Drake, Shawn menggelengkan kepalanya. Keduanya menatap nanar ke arah Jillian. Kaki dan tangannya masih terikat, tapi Shawn tidak berani melepas ikatannya. Shawn teringat kalau Jillian mengalami trauma parah akibat perbuatan bejat Jeffran. Shawn tidak ingin membuat Jillian ketakutan, jika menyentuh dan membawanya saat ini.

__ADS_1


"Biarkan Jeffran yang memutuskan. Kita jaga dari sini saja."


Akhirnya Jeffran berhasil menumbangkan semua lawannya, hingga babak belur dan berjejer tidak berdaya di atas lantai. Shawn dan Drake langsung meminta anak buahnya untuk membawa kedelapan orang itu keluar dan mengamankannya. Shawn tidak berencana menyerahkan Dhiva dan 8 anak buahnya kepada pihak berwajib, melainkan dibawa ke markas cabang Toddestern yang ada di Jakarta untuk diberi pelajaran. Yang pastinya akan lebih memberikan efek jera, dibanding hanya sekedar ditahan dibalik jeruji besi.


Kini hanya tersisa Jeffran dan Jillian di dalam kamar itu. Jeffran mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. Menatap sendu Jilllian yang masih belum mengubah posisinya, duduk menekuk kaki dengan kepala menunduk di atas lutut. Kemeja yang dikenakan Jillian tampak turun memperlihatkan sebelah bahunya. Ingin Jeffran membetulkan kemeja Jillian dan memeluk tubuh istrinya itu seerat mungkin. Namun urung, khawatir Jillian akan semakin ketakutan karena disentuh olehnya.


"Jill.." Panggil Jeffran lirih.


"Jangan mendekat.. Lepaskan aku.. Aku mohon jangan sentuh aku." Jillian berteriak dengan tubuh semakin mengkeret tanpa mengangkat wajahnya.


Hati Jeffran teriris melihat pemandangan memilukan itu, dadanya sesak, hingga akhirnya tangisnya pecah. Sembari menahan isaknya, dengan sangat hati-hati dan perlahan, Jeffran melepas ikatan di kaki dan tangan Jillian. Sebisa mungkin tidak membuat gerakan berlebihan yang akan mengejutkan Jillian.


"Hatiku terasa perih melihatmu terluka, darahku mendidih melihat orang-orang brengs*k itu hampir menyentuhmu, aku juga semakin merasa bersalah karena traumamu kembali. Apa yang harus aku lakukan Jill? Apa ini yang akan dirasakan Jordan, jika mengetahui kalau aku mengambil kehormatan gadis yang dicintainya? Jill, apa Tuhan sedang menghukumku dengan memberikan rasa sakit ini?" Ratap Jeffran putus asa.


"Jeff.. Bawa aku pulang." Suara lirih Jillian mengejutkan Jeffran. Kedua pasang mata sendu dan sembab itu saling menatap dalam.


"Ba.. Bagaimana cara aku membawamu pulang Jill? Aku tidak bisa menyentuh.." Jeffran masih kebingungan, saat tiba-tiba Jillian melingkarkan tangannya di leher Jeffran.


"Gendong aku Jeff.."


*********************

__ADS_1


__ADS_2