
Bugh..Bugh..Bugh..
Rendra mendaratkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi di tubuh Jeffran, setelah menantunya itu memberi penjelasan atas pertanyaan Papa Rendra sebelumnya. Jeffran pun tidak berniat melawan, karena memaklumi kemarahan mertuanya, juga menyadari kalau dirinya memang layak menerima kemarahan mertuanya itu.
Sebenarnya emosi Papa Rendra sudah naik sebelum Jeffran menyelesaikan setengah ceritanya. Tapi Papa Rendra berusaha menahannya, demi mendengar cerita yang lengkap dari menantunya itu. Meskipun pada akhirnya emosi Rendra tetap tidak bisa dikendalikan, terutama saat mengetahui kalau akibat pemerkos**n yang dilakukan Jeffran, putrinya sampai mengalami trauma yang parah.
"Pa, sudah Pa.. Tolong hentikan Pa.. Jeffran sudah meminta maaf dan menyadari kesalahannya. Sekarang keadaanku juga sudah membaik." Pinta Jillian pilu, dengan tangan memegang lengan Papanya yang sedang emosi. Namun Papa Rendra justru melepas tangan Jillian yang menahan pergerakannya.
"Laki-laki ini layak menerimanya Jillian. Apa yang dilakukannya terhadapmu tidak bisa dimaafkan begitu saja. Bahkan Papa ingin sekali menyeretnya ke penjara." Tegas Papa Rendra dengan mata yang menyala-nyala.
"Tidak Pa.. Jangan lakukan itu." Lirih Jillian, dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
Berbeda dengan Papa Rendra yang meluapkan emosinya dengan menghajar Jeffran, Mama Jovita hanya bisa menangis meratapi nasib Jillian dan memeluk tubuh putrinya. Meskipun Jillian sudah mengatakan kalau saat ini dirinya sudah baik-baik saja, tapi Mamanya terus saja menangis sesenggukan.
Papa Rendra kembali melayangkan bogem mentahnya ke arah Jeffran, dan Jeffran lagi-lagi tidak melawan. Mommy Rachel yang melihat anaknya sudah terkapar tidak berdaya di atas lantai, meraung dan memohon agar Papa Rendra menghentikan tindakannya.
"Tolong jangan pukuli Jeffran, dia memang melakukan kesalahan besar, tapi dia sudah menyadari kesalahannya dan berusaha memperbaiki semuanya." Mommy Rachel ingin menghampiri putranya, namun Daddy Jonathan mencegahnya dengan memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1
"Mom.. Putra kita sudah melakukan kesalahan besar, jangan membelanya. Apa yang menimpa Jillian, bukanlah sesuatu yang mudah dimaafkan dan dilupakan." Daddy Jonathan mengelus lembut punggung Mommy Rachel, yang hanya bisa menangis dalam pelukan suaminya.
Papa Rendra menatap nyalang ke arah Jeffran yang meringis kesakitan. Tubuh dan wajah Jeffran sudah dipenuhi banyak luka dan memar, tapi Papa Rendra sama sekali tidak peduli.
"Pa.. Tolong maafkan Jeffran. Jeffran janji, tidak akan pernah menyakiti Jillian lagi. Jeffran akan mengganti semua penderitaan Jillian dengan kebahagiaan, Pa.." Tegas Jeffran.
Papa Rendra melihat kesungguhan di mata Jeffran, tapi dirinya tidak bisa percaya begitu saja. Apalagi perbuatan Jeffran begitu menyakiti hatinya sebagai seorang ayah.
"Sejak Jillian lahir, aku selalu menjaga dan melindunginya dengan sepenuh jiwa dan ragaku. Dan kamu dengan kejamnya merusak kehormatan putriku satu-satunya. Memberikan luka fisik dan psikis yang parah. Apa kamu pikir aku bisa memaafkanmu dan melupakan perbuatan bejatmu begitu saja? Tentu saja tidak.. Sudah bagus aku tidak menyeretmu ke penjara, tapi jangan pikir aku akan membiarkanmu bersama putriku. Mulai sekarang, aku akan membawa putriku pulang ke rumah. Jangan berani mendekati putriku lagi. Aku akan segera mengurus proses perceraian kalian." Jeffran dan Jillian tampak membelalakan mata, mendengar perkataan Papa Rendra yang sangat tidak terduga. Sementara Mommy Rachel dan Daddy Jonathan menghela nafas panjang, menyayangkan keputusan Rendra yang tidak bisa memaafkan putra mereka.
Melihat Jeffran yang bersimpuh dalam keadaan mengenaskan, membuat hati Jillian teriris. Dadanya terasa sesak dan tubuhnya mulai terasa lemas. Tapi Jillian masih berusaha menahan dirinya untuk tetap berdiri, dengan berpegangan pada dinding ruangan.
"Anak dalam kandungan Jillian, akan kami rawat sebaik-baiknya, begitupun dengan Jillian. Jadi menjauhlah dari kehidupan mereka." Tegas Papa Rendra.
"Tolong jangan pisahkan istri dan anak Jeffran dari hidup Jeffran, Pa.. Jeffran sungguh tidak bisa hidup tanpa mereka." Jeffran kembali memohon dengan menggenggam tangan Papa Rendra. Air matanya yang mengalir semakin deras, namun hal itu tidak membuat Papa Rendra luluh. Papa Rendra justru menghempas tangan Jeffran dengan kasar.
"Kamu sangat mengecewakan kami Jeff. Kami tidak bisa membiarkan Jillian hidup dengan seseorang yang membuatnya trauma. Jadi tolong jangan dekati Jillian lagi." Mama Jovita yang sedari tadi hanya bisa menangis sesenggukan, kini mulai angkat bicara dan mengungkapkan rasa kecewanya pada sang menantu.
__ADS_1
"Tolong jangan meminta Jeffran menjauhi Jillian, Ma.. Karena Jeffran tidak bisa melakukannya." Mohon Jeffran, juga menggenggam tangan Mama Jovita, yang langsung melepas paksa tangan Jeffran.
"Jillian, ayo kita pulang.." Ajak Papa Rendra dengan tangan kanan menarik lengan Jillian. Sementara tangan kirinya menggenggam tangan istrinya.
"Tapi Pa.." Jillian hendak menolak ajakan Papa Rendra, tapi Papa Rendra lebih dulu memotong perkataan Jillian.
"Jangan banyak alasan Jill.. Ayo kita pulang." Tegas Papa Rendra, menarik paksa tangan Jillian.
"Tolong jangan bawa Jillian Pa.. Jillian akan pulang bersama Jeffran ke apartemen kami." Ucapan Jeffran tidak digubris sama sekali oleh Papa Rendra. Bahkan uluran tangan Jeffran yang hendak menggenggam tangan kanan Jillian, langsung ditepis oleh Papa Rendra.
"Jika kamu menghargai kami sebagai orangtua Jillian, jangan halangi kami. Kami sebagai orangtua ingin melindungi anak kami, dan memastikan keadaannya baik-baik saja. Beri kami ruang dan waktu untuk menyembuhkan anak kami." Mendengar permintaan Mama mertuanya, Jeffran mendadak diam. Dirinya sungguh sangat serba salah saat ini. Dirinya sungguh ingin mempertahankan Jillian agar tetap bersamanya. Tapi jika dirinya bersikeras menolak keinginan kedua mertuanya, makan hal itu akan membuat kedua mertuanya semakin membencinya.
Jeffran masih menimbang keputusan apa yang harus diambilnya, hingga tanpa bisa Jeffran cegah, kedua mertuanya menarik paksa Jillian, agar keluar dari kediaman orangtua Jeffran.
'Jill, saat ini aku mengalah pada orangtuamu, bukan berarti aku menyerah. Aku tidak akan berhenti memperjuangkanmu untuk tetap berada disampingku.' Tekad Jeffran seraya menatap sendu Jillian, yang juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
*************************
__ADS_1