
Suasana berubah canggung, setelah tangis Jeffran mereda. Jeffran merutuki diri karena tidak bisa mengendalikan perasaan sedihnya. Sesungguhnya Jeffran tidak ingin terlalu menunjukkan sisi lemahnya dihadapan Jillian, karena menurutnya hal itu sangatlah memalukan. Meskipun Jillian tidak menganggapnya seperti itu, Jillian sangat memaklumi kesedihan seorang kakak yang kehilangan adik kandungnya.
"Jeff, ayo kita makan dulu. Makanan dan minumannya sudah dingin." Jillian mencoba mencairkan suasana.
"Hmm, aku ambil baju ganti dulu di mobil." Jeffran berusaha menghindar, karena masih merasa malu pada Jillian.
"Nanti saja, ayo kita makan dulu." Jeffran akhirnya menurut dan duduk berhadapan dengan Jillian.
Tidak ada obrolan ringan apalagi canda tawa, keduanya menikmati makanan dan minuman tanpa berbicara sepatah katapun. Bahkan sampai Jeffran mengambil baju ganti dan selesai mandi pun, suasana canggung itu masih terasa.
Jeffran merebahkan dirinya di atas sofa kamar, karena rasa lelah dan kantuk yang tidak bisa diajak kompromi. Sementara Jillian yang menemui Papa dan Mamanya sejak 1 jam yang lalu, masih belum kembali ke kamar.
Drrtt..Drrtt..Drrtt..
Sebuah pesan yang masuk ke ponsel Jeffran, kembali menarik Jeffran dari tidurnya yang bahkan baru berlangsung beberapa menit. Jeffran mendudukkan dirinya, lalu mengambil ponselnya yang dia simpan di atas meja. Rasa kesal yang awalnya dirasakan Jeffran, berubah menjadi rasa penasaran saat membaca pesan masuk dari Liam.
Liam
Jeff, kamu pasti akan terkejut melihat ini. Aku kirimkan data pembeli gaun limited edition yang dipakai gadis yang kamu cari..
Sebuah photo yang dikirim Liam selanjutnya, bagai petir yang menyambar tubuhnya. JORDAN ABRAHAM SMITH.. Nama pembeli gaun limited edition itu ternyata adalah adik kandungnya sendiri.
Tiba-tiba potongan percakapannya dengan Jordan di malam itu, seolah menambah kepingan puzzle dalam otak Jeffran.
__ADS_1
"Jordan, kamu dimana? Tolong Kakak.." Jeffran coba mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Ada apa Kak? Aku sedang berada di toko kue Kak. Sebentar lagi mau menuju kampus." Jawab Jordan.
'Aku ingat kalau Jordan hendak menuju kampus saat itu, dan aku bertemu gadis itu di luar halaman kampus.'
Kilasan kejadian di malam nahas itu kembali berkelebatan di pikiran Jeffran. Namun tangis Jeffran pecah, saat dirinya tiba-tiba mengingat wajah gadis yang diperko**nya malam itu.
Jeffran mengingat detail dan raut wajahnya saat berteriak dan meronta minta dilepaskan. Jeffran juga mengingat jelas wajah cantik yang basah karena air mata yang tidak berhenti mengalir saat Jeffran merenggut kehormatan gadis itu tanpa belas kasih.
"Maafkan aku Jillian. Aku sungguh melakukan dosa yang teramat besar terhadapmu. Sampai akhirnya kamu mengandung anakku." Lirih Jeffran, disela-sela isak tangisnya.
Ceklek..
Jeffran menghampiri Jillian, lalu berlutut di depan Jillian seraya memegang kedua tangan Jillian dengan kedua tangannya.
"Jeff, kamu apa-apaan sih? Ada apa? Jangan begini, duduklah disebelahku." Ucap Jillian tidak enak hati.
Jeffran menggeleng kuat, wajahnya menunduk lalu bertumpu pada tangannya yang menggenggam erat dua tangan Jillian.
"Jill, aku sudah mengingat wajah gadis di malam itu. Maafkan aku karena sudah melakukan kesalahan besar padamu. Beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku Jill.. Aku janji akan bertanggung jawab padamu juga anak yang kamu kandung, Jill." Mendengar perkataan Jeffran yang diakhiri isakan keras, Jillian hanya bergeming. Sungguh tidak diduganya, kalau Jeffran akhirnya mengetahui fakta yang sebenarnya.
Jillian melepas genggaman tangan Jeffran dengan kasar, lalu hendak berdiri dari duduknya. Tapi Jeffran kembali menggenggam tangan Jillian dan menahannya, hingga Jillian kembali terduduk dengan perasaan terpaksa.
__ADS_1
"Pukul aku Jill.. Tampar aku.. Lakukan apapun yang kamu mau. Luapkan semua kemarahan dan kebencianmu padaku. Aku tidak akan melawan, karena aku memang pantas menerimanya.." Jeffran kembali menundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata yang mengalir semakin deras.
"Apa dengan memukulmu, kehormatanku akan kembali? Apa dengan menamparmu Jordan bisa kembali? Apa dengan meluapkan semua kemarahanku dan kebencianku, kebanggaan orangtua dan juga mimpi-mimpiku akan kembali?" Suara Jillian terdengar dingin, menarik netra Jeffran untuk menatap penuh sesal ke arah Jillian.
"Aku tahu aku tidak bisa mengembalikan semuanya yang telah hilang darimu Jill. Tapi aku akan memperbaiki semuanya, seumur hidupku Jill.." Tekad Jeffran.
"Tapi aku tidak bisa memberimu kesempatan, aku sangat membencimu Jeff. Wajahmu selalu mengingatkanku pada kejadian yang ingin aku lupakan." Jillian memalingkan wajahnya ke arah lain, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Kamu boleh membenciku Jill.. Tapi aku akan menebus kesalahanku dengan melakukan semua yang kamu minta, memenuhi semua keinginanmu dan membahagiakanmu dan juga anak kita di sepanjang hidupku.." Bukannya terharu mendengar tekad Jeffran yang tulus, Jillian justru menyunggingkan senyum sinisnya, dengan kembali menghempas genggaman tangan Jeffran.
"Tidak semudah itu Jeff.." Jillian lalu berdiri hendak melangkah pergi. Namun Jeffran yang ikut berdiri, tiba-tiba memeluk tubuh Jillian begitu erat.
"Bencilah aku sepuas kamu. Tapi aku ingin kamu tahu, kalau aku sangat mencintaimu.."
Terdiam, seolah mencerna apa yang baru saja didengarnya. Tapi beberapa detik kemudian tawa kecil keluar dari mulut Jillian disertai raut tidak percaya. Jillian mendorong keras tubuh Jeffran, hingga pelukan erat Jeffran terlepas.
"Kamu tidak mengharapkan aku percaya kan dengan omong kosong ini? Aku masih mengingat jelas setiap perkataanmu padaku Jeff. Kamu sangat tidak menyukaiku dan selalu berharap agar pernikahan kita cepat berakhir. Kamu hanya menjalani pernikahan ini demi merebut anak yang ada dalam kandunganku. Lalu sekarang kamu bilang kamu mencintaiku, saat kamu mengingat kejadian di malam itu? Apa kamu benar-benar merasa bersalah, hingga mengatakan kalau kamu mencintaiku? Tidak perlu mengatakan kebohongan Jeff, karena aku memutuskan untuk memaafkanmu." Jillian menatap dalam mata Jeffran yang memandangnya sendu.
"Aku tidak sedang berbohong Jill, aku sudah jatuh cinta padamu, jauh sebelum aku mengetahui kalau kamu adalah gadis di malam itu." Jeffran memegang dua lengan Jillian dengan kedua tangannya.
"Aku benar-benar mencintaimu, Jill.. Aku juga mencintai anak yang kamu kandung, jauh sebelum mengetahui kalau anak itu adalah anakku." Jillian mencari kebohongan di mata Jeffran, namun dirinya tidak menemukan setitik dusta pun disana. Tapi entah kenapa, Jillian terus mengingkari perasaannya.
'Jeffran tidak mungkin mencintaiku, dia hanya merasa bersalah padaku dan anak yang aku kandung..'
__ADS_1
*************************