Pernikahan dengan Perusak Impianku

Pernikahan dengan Perusak Impianku
Episode 46 Kisah Jarvis


__ADS_3

Senyum manis yang tersungging di wajah Jillian, juga suara lembut yang keluar dari bibirnya, selalu berhasil menghipnotis seorang Jarvis. Jarvis tidak hentinya memandang kagum makhluk Tuhan paling indah dihadapannya. Jarvis memang sengaja meminta beberapa orang kepercayaannya untuk mengawasi semua kegiatan Jillian. Saat ini dirinya sengaja menghampiri Jillian di sebuah restaurant Korea, setelah mendapat laporan dari orang kepercayaannya.


'Cantik.. Perasaan ini tidak pernah berkurang sedikitpun. Aku mencintaimu, Jillian.' Batin Jarvis.


Jarvis mencintai Jillian dalam diam, sejak dirinya di kelas 2 SMA (Kelas XI). Mereka pertama kali bertemu di acara ulang tahun Stevan yang dihadiri keluarga juga sahabat-sahabat Stevan di sebuah resort di Bali. Boleh dibilang Jarvis jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Jillian.


Tapi saat itu Jillian yang masih menjadi siswi SMP, tentu saja belum boleh berpacaran, apalagi Stevan cukup posesif terhadap sepupunya itu. Hingga Jarvis hanya memendam sendiri perasaannya, dan harus cukup puas berinteraksi layaknya seorang Kakak pada adiknya, seperti yang biasa dilakukan Stevan. Jillian pun merasa sangat nyaman dengan keberadaan Jarvis, dirinya merasa sangat diperhatikan, terlebih dirinya adalah anak tunggal.


Perhatian Jarvis pun berhasil teralihkan saat dirinya berpacaran dengan Andrea. Teman sekelasnya yang begitu agresif mendekatinya. Mereka berpacaran selama hampir 1 tahun. Tapi akhirnya Andrea malah meminta putus, karena pesona seorang Jeffran. Sejak saat itulah, Jarvis mulai membenci Jeffran.


Jarvis meneruskan kuliahnya di Inggris, dirinya begitu fokus dengan studinya disana. Tapi seiring berjalannya waktu, ternyata hatinya tidak bisa lepas dari Jillian, yang kabarnya selalu dia dapatkan dari Stevan. Terlebih saat Jillian sudah menjadi mahasiswi yang cantik dan ceria. Jarvis mulai terbuka pada Stevan mengenai perasaannya terhadap Jillian, dan untungnya Stevan memberinya lampu hijau.


Namun sayang, lagi-lagi harapan Jarvis harus musnah, saat tahu dari mulut Jillian sendiri, kalau perempuan pujaannya itu sudah mempunyai seorang kekasih yang bernama Jordan. Jarvis terpaksa memendam lagi perasaannya yang semakin besar terhadap Jillian.


Seolah belum cukup semua pukulan yang diterima sebelumnya, hati Jarvis terasa lebih remuk saat mengetahui kalau Jillian ternyata menikah dengan Jeffran, musuh bebuyutannya. Jarvis bertekad, kali ini dirinya tidak akan pernah menyerah lagi. Apapun akan dia lakukan untuk mendapatkan Jillian, meskipun harus menghalalkan segala cara.


"Jill.. Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?" Jarvis menatap dalam netra Jillian.


"Iya, aku bahagia Kak.." Tatapan Jillian yang semula mengarah pada Jarvis, kini mengarah pada Jarell yang tengah tertidur di dalam stroller. Sementara Jake dan beberapa bodyguard berpakaian santai, juga 2 orang baby sitter berada di meja yang berbeda dari Jillian dan Jarvis. Tapi mereka tidak henti mengawasi interaksi Jillian dan Jarvis, terlebih sikap Jarvis terlihat sangat jelas menyukai Jillian.

__ADS_1


"Apa kamu benar-benar mencintai Jeffran?" Sesaat Jillian menatap heran ke arah Jarvis, merasa aneh dengan pertanyaan tidak terduga itu.


"Iya aku mencintainya Kak.. Kenapa Kak Jarvis menanyakan hal itu?" Raut Jillian terlihat penuh tanya.


"Aku selalu mengharapkan yang terbaik untukmu, aku ingin kamu selalu bahagia. Semoga suamimu tidak menyia-nyiakan perasaan dan kepercayaan darimu ya." Ucapan Jarvis terasa menohok hati Jillian. Dirinya teringat kembali pada photo-photo yang berhasil mengguncang hatinya. Tapi Jillian berusaha menetralkan raut wajahnya yang sempat muram.


"Terima kasih Kak.. Karena selalu peduli padaku, meskipun jarak kita tidak selalu dekat." Tatapan tulus Jillian dibalas senyum tampan Jarvis, tangannya pun terulur dan menggenggam tangan Jillian dengan erat.


"Kamu tahu kalau aku selalu ada untukmu.. Jika kamu memerlukan bantuan dan teman bicara, datanglah padaku." Suara lembut Jarvis tiba-tiba terkalahkan suara berat disertai kemarahan yang jelas.


"Jangan sentuh istriku." Kemunculan Jeffran mengejutkan Jillian, terlebih saat Jeffran melepas paksa genggaman tangan Jarvis dari tangannya. Jarvis tidak terlihat marah, dirinya justru berdiri menantang Jeffran, disertai senyum sinis dan tatapan tajam.


"Berani sekali kamu menggoda istriku. Jika kamu dendam padaku, lawan saja aku, jangan manfaatkan Jillian untuk mengalahkanku. Pengecut." Perkataan dan cengkeraman tangan Jeffran pada kerah baju Jarvis, lagi-lagi tidak berhasil membuat nyali Jarvis ciut. Dirinya malah tertawa meremehkan.


"Kenapa kamu membiarkan laki-laki ini menggenggam tanganmu?" Meskipun ucapan Jeffran hanya terdengar oleh Jillian dan Jarvis, tapi emosi Jeffran jelas terlihat oleh semua pengunjung restaurant. Hingga mereka bertiga kini menjadi pusat perhatian, dan hal itu sangat mengganggu Jillian.


"Sayang, semua orang melihat kita. Lebih baik kita bicarakan ini di mansion saja." Jillian menarik tangan Jeffran keluar, sementara sebelah tangannya mendorong stroller Jarell, yang kemudian diambil alih baby sitternya. Jeffran berjalan mengikuti langkah istrinya, meskipun tatapan tajamnya masih terarah pada Jarvis. Para bodyguard pun mengikuti dari belakang.


Wajah Jarvis terlihat santai, dirinya malah memesan makanan lain untuk dia nikmati. Sesaat kemudian dirinya menghubungi seseorang melalui ponselnya.

__ADS_1


"Hallo Andrea.. Apa kabar?" Ucap Jarvis seraya menyunggingkan senyum sinisnya.


*************************


Di perjalanan menuju mansion, Jeffran mengendarai mobil sport-nya penuh emosi dengan kecepatan tinggi. Wajahnya menatap lurus ke arah jalanan yang dilalui mobilnya, mengabaikan Jillian yang menatap khawatir padanya. Beruntung Jarell dan baby sitter-nya berada di mobil yang berbeda.


"Sayang, kita mau kemana?" Wajah Jillian berubah panik, melihat jalan yang mereka lalui bukanlah jalan menuju mansion mereka. Apalagi saat dirinya melihat ke belakang, 2 mobil yang ditumpangi Jarell beserta baby sitter dan sebagian bodyguard sudah berbelok ke arah mansion mereka. Hanya tinggal 1 mobil berisi 3 bodyguard yang mengawal Jillian dan Jeffran saat ini.


"Sayang, tolong katakan kemana kamu akan membawaku?" Mulut Jeffran masih enggan menjawab, meskipun Jillian terus-terusan menanyakan hal yang sama. Hingga akhirnya mereka sampai di depan lobby sebuah hotel bintang 5 yang mewah.


"Turunlah.." Ucap Jeffran, sebelum turun lebih dulu. Sementara Jillian diam mematung, tidak mengerti kenapa Jeffran membawanya kesana.


Setelah lebih dari belasan detik bergeming, Jillian dikejutkan dengan terbukanya pintu mobil, dengan Jeffran yang tiba-tiba menggendongnya ala bridal style.


"Sayang, tolong turunkan aku."


Jeffran mengabaikan perkataan Jillian, menggendong Jillian tanpa malu melewati lobby hotel. Tidak peduli semua pandangan mengarah padanya, langkah Jeffran tetap mantap menuju lift yang akan membawa mereka ke sebuah kamar VVIP di hotel itu.


"Diamlah, jangan banyak bergerak. Lagipula yang menggendongmu, suamimu sendiri." Ucapan Jeffran seketika menghentikan gerakan Jillian yang hendak turun dari gendongan Jeffran.

__ADS_1


"Baiklah.." Cicit Jillian pasrah.


*************************


__ADS_2