
Dinginnya suhu ruangan CEO Scott Group Company, ternyata tidak bisa mengalahkan aura dingin yang dipancarkan tamu sang CEO, yang tiba-tiba datang tanpa membuat janji terlebih dahulu. Tamu tak diundang yang memaksa menemui Jarvis itu, tidak lain adalah Jeffran. Liam sebenarnya ikut menemani Jeffran, tapi Jarvis hanya mengizinkan Jeffran untuk masuk ke ruangannya. Sehingga Liam terpaksa menunggu di lobby Scott Group Company.
Jarvis yang sebelumnya mendapat kabar kedatangan Jeffran, sebenarnya begitu enggan menemui Jeffran. Tapi pesan Jeffran yang disampaikan melalui Sekretaris Jarvis, rupanya berhasil membuat Jarvis harus bersedia menemui tamu yang tidak diharapkannya. Ancaman yang seketika membuat nyalinya ciut, karena Jeffran bisa saja menyeret dirinya ke penjara.
Sesama CEO perusahaan besar itu, kini duduk dan saling memandang dengan tatapan tajam. Jeffran mencondongkan tubuhnya, lalu melempar beberapa kertas yang diambil dari tas kerjanya ke atas meja Jarvis.
"Ini bukti-bukti kecuranganmu dalam tender proyek di Lombok. Ternyata kamu menyuap oknum pejabat untuk mendapatkan proyek itu. Ingat Jarvis, proyek ini berkaitan dengan pemerintah. Jika aku menyerahkan bukti-bukti ini pada pihak yang berwenang, maka bukan hanya oknum yang menerima suap yang akan diseret ke penjara, tentu kamu juga akan mendekam di Hotel Prodeo dalam waktu yang lama. Bonusnya, kamu juga akan sangat terkenal di negara ini, karena proyek ini cukup mendapat perhatian publik." Wajah Jarvis berubah pucat, setelah mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan itu.
Meskipun Jarvis berusaha sekuat tenaga untuk terlihat tenang di depan Jeffran, tapi dirinya cukup takut dengan ancaman Jeffran. Karena salinan bukti-bukti yang dibawa Jeffran berupa bukti transaksi suap, bukti percakapan dengan oknum pejabat dan perjanjian kerjasama proyek, memang benar adanya. Sangat cukup untuk menyeretnya ke balik jeruji besi.
"Apa maumu?" Tanya Jarvis berusaha menutupi rasa takutnya.
"Mauku sudah jelas, kembalikan proyek itu padaku. Dan satu lagi.. Jangan pernah mengganggu istriku lagi. Menjauhlah dari hidup kami." Tatapan tajam Jeffran dan suaranya yang begitu tegas, jelas tidak main-main. Jarvis merasa tidak ada gunanya membantah Jeffran, karena hidupnya akan hancur, jika berani menolak perintah Jeffran kali ini.
"Baiklah.. Aku akan mengembalikan proyek itu padamu. Aku juga akan menjauhi Jillian." Kalimat terakhir Jarvis terdengar lebih lirih dari kalimat sebelumnya.
"Tanda tangani 2 statement letter ini." Jeffran mengeluarkan 2 carik kertas berisi surat pernyataan bermaterai, mengenai kesediaan Jarvis untuk mengembalikan proyek di Lombok, juga pernyataan dirinya yang akan menjauhi hidup Jillian.
Helaan nafas panjang dikeluarkan Jarvis begitu selesai membaca dan menandatangani surat pernyataan yang menurutnya sedikit berlebihan itu. Berbeda dengan Jeffran, yang justru tersenyum puas seraya mengambil kertas yang semula dipegang Jarvis itu, lalu memasukannya kembali ke dalam tas kerjanya.
"Urusanku sudah selesai. Jika kamu merasa pria sejati, maka penuhi janjimu." Ucap Jeffran, lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan Jarvis. Sementara Jarvis terlihat kesal, seraya menyugar kasar rambut cokelatnya.
*************************
Jillian berkali-kali merasa terkejut, sejak Jeffran kembali ke mansion petang tadi. Bagaimana tidak, Jeffran membawa buket bunga ukuran besar dengan banyak hadiah perhiasan, tas, sepatu dan banyak barang branded yang membuat Jillian membelalakan matanya. Jillian menerima semua hadiah suaminya itu dengan penuh syukur dan terima kasih. Bahkan Jeffran menerima banyak ciuman dari Jillian, hingga membuat Jeffran tersenyum bahagia.
Jeffran pun memanjakan Jillian dengan memberikan pijatan-pijatan lembut di sela-sela obrolan mereka. Kini Jillian dibuat heran dengan tingkah Jeffran yang seringkali tersenyum lebar saat memandangnya. Namun setiap kali Jillian bertanya mengenai alasannya tersenyum, Jeffran hanya menggeleng seraya mengatakan "tidak apa-apa".
Setelah makan malam, Jeffran menemani Jillian meng-ASI-hi Jarell di kamar putra mereka. Jillian yang menyusui Jarell dengan posisi duduk, tidak henti memandang Jeffran yang lagi-lagi tersenyum lebar. Karena hal itu benar-benar membuat Jillian semakin penasaran dan mulai kehilangan kesabaran.
"Ayolah Sayang, apa yang membuatmu tersenyum sejak tadi? Apa ada hal yang membuatmu senang? Jangan katakan tidak ada apa-apa lagi, karena hal itu sangat tidak mungkin." Jillian yang mengerucutkan bibirnya saat mengultimatum Jeffran, justru membuat suaminya itu gemas.
Cup..
__ADS_1
Jillian membelalakan matanya, karena Jeffran tiba-tiba mencium gemas bibirnya, lalu beralih mencium kening Jarell yang masih semangat menghisap sumber makanannya.
"Aku terlalu bahagia Sayang, karena memilikimu dan buah hati kita." Perkataan dan sorot mata Jeffran yang berbinar saat menatapnya dan Jarell, membuat Jillian begitu terharu.
Jillian membaringkan Jarell di dalam box bayi, sebelum mengajak Jeffran untuk kembali ke kamar pribadi mereka. Setelah Jillian dan Jeffran kembali ke kamarnya, tentu ada baby sitter yang menemani Jarell. Tapi Jillian dan Jeffran tetap memantau putra mereka melalui monitor CCTV yang menangkap jelas keadaan putra mereka itu.
Sesampainya di kamar mereka, Jeffran dan Jillian berbaring dengan posisi berhadapan di atas tempat tidur. Jillian menatap dalam netra Jeffran, sebelum melontarkan sebuah pertanyaan.
"Apa kamu benar-benar mencintai aku dan Jarell?" Seharusnya Jeffran merasa bosan dengan pertanyaan itu, karena Jillian seringkali melontarkannya, seakan ragu pada perasaan suaminya itu. Tapi Jeffran tidak pernah protes, dia memilih menjawab pertanyaan itu dengan penuh keyakinan.
"Aku sungguh mencintaimu dan anak kita. Aku begitu bersyukur memiliki kalian di hidupku. Aku akan selalu berusaha melindungi dan membahagiakan kalian seumur hidupku, Sayang." Ungkap Jeffran penuh perasaan.
Cup..
Kali ini, giliran Jeffran yang mendapat ciuman mesra dari Jillian. Namun Jeffran yang tidak pernah mau membuang kesempatan saat bermesraan dengan Jillian, langsung mendekap erat tubuh Jillian dan menekan tengkuk Jillian untuk memperdalam ciuman mereka. Pertautan bibir mereka baru terlepas, setelah beberapa belas menit berlalu.
"Tidurlah, kamu terlihat sangat lelah Sayang." Jeffran mengelus lembut pelipis Jillian, seraya merapihkan helaian rambut yang jatuh di atas dahinya. Meskipun Jeffran sempat berkeinginan melakukan kegiatan favoritnya bersama Jillian, tapi raut lelah di wajah istrinya, membuat Jeffran tidak tega.
"Apa kamu tidak ingin meminta jatah malam ini?" Tanya Jillian disertai tatapan nakalnya, dan hal itu berhasil membuat Jeffran tertawa kecil.
"Baiklah Sayang, aku akan menuruti keinginanmu." Ujar Jillian dengan nada suara yang menggoda, memancing lengkungan lebar di kedua sudut bibir Jeffran.
Sungguh istrinya itu selalu berhasil membangkitkan hasrat Jeffran. Namun Jeffran berusaha untuk tidak goyah dengan segera menutup matanya, meskipun dirinya belum benar-benar mengantuk.
Setelah terdengar suara hembusan nafas yang terdengar sangat teratur, barulah Jeffran kembali membuka matanya. Menatap dalam wajah istrinya yang sudah lelap tertidur, terasa sangat menenangkan bagi Jeffran.
"Jillian Prisa Smith.. I love you so much.." Lirih Jeffran diakhiri sebuah kecupan lembut di bibir Jillian.
************************
Menjelang dini hari, Jillian terjaga dari tidurnya. Alangkah terkejutnya Jillian, saat tidak mendapati Jeffran disampingnya. Setelah melihat tangkapan layar monitor CCTV di kamar Jarell, Jillian segera menuju kamar putranya itu.
Sungguh pemandangan yang menghangatkan hati bagi Jillian, melihat suaminya yang tengah berbaring dengan memegangi botol ASIP, untuk bisa dihisap putra mereka. Jeffran yang mulai menyadari kehadiran Jillian, menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya, meminta Jillian untuk tidak mengeluarkan suara. Jillian yang melihat Jarell mulai memejamkan mata pun jelas paham, kalau putranya itu akan segera kembali tertidur.
__ADS_1
Jillian perlahan naik ke atas tempat tidur dan ikut berbaring bersama Jeffran, hingga Jarell kini diapit kedua orangtuanya.
"Akhirnya Jarell tertidur juga." Jeffran meletakkan botol susu yang semula dipegangnya, di atas nakas. Lalu memperbaiki selimut dan juga topi rajut yang dikenakan Jarell, tanpa menyadari tatapan Jillian yang memandang penuh cinta ke arahnya.
"Sayang, kenapa kamu memandangku seperti itu?" Tanya Jeffran setelah menyadari tatapan berbeda Jillian padanya.
"Terima kasih.." Ucapan Jillian memancing kerutan di kening Jeffran.
"Untuk?" Tanya Jeffran tidak mengerti.
"Terima kasih karena sudah menjadi suami terbaik untukku dan ayah terbaik untuk Jarell.." Mendengar ungkapan Jillian, hati Jeffran seketika berbunga-bunga. Meskipun bukan yang pertama kalinya Jillian berkata seperti itu, tapi ungkapan perasaan Jillian ibarat anugerah baginya.
"Sayang terima kasih karena sudah menganggapku seperti itu. Aku juga bersyukur dan selalu menganggapmu dan Jarell sebagai karunia terindah di hidupku. Terima kasih karena sudah hadir di hidupku, memaafkan kesalahanku, membalas cintaku dan menjadi istri terbaik untukku." Mendengar ungkapan terima kasih Jeffran, Jillian tidak bisa membendung air matanya.
"Aku sungguh mencintaimu Sayang.. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku." Lagi-lagi ucapan Jeffran membuat Jillian terharu. Apalagi kini tangan Jeffran terulur untuk menghapus air mata yang jatuh di pipi Jillian.
"Aku.. Juga mencintaimu.. Sayang.." Balas Jillian meskipun sedikit terjeda oleh tangisnya.
Senyum tampan Jeffran pun terbit, sedikit mengangkat dan mencondongkan tubuhnya untuk mencium Jillian. Namun rupanya gerakan Jeffran itu dirasakan Jarell, hingga akhirnya tangis Jarell pecah seketika.
"Oeeee..Oeeee.."
"Cup cup cup.." Ucap Jillian seraya menepuk-nepuk pelan paha Jarell, hingga tangisnya mereda dan lelap kembali.
"Hmm, rupanya ada yang cemburu dengan kemesraan kita Sayang. Aku harus bersiap memiliki pesaing untuk mendapatkan perhatianmu." Jillian tertawa kecil mendengar ucapan Jeffran.
"Aku merasa sangat berharga, jika hal itu benar terjadi. Tidak perlu ada persaingan untuk mendapat perhatianku. Karena aku begitu mencintai kalian berdua." Jillian mengangkat dan mencondongkan tubuhnya untuk mengecup singkat pipi Jeffran, kemudian beralih mencium pipi Jarell.
"Sayaaaaang.. Aku tidak mau hanya cium pipi.."
"Baiklah, aku akan memberikan jatah yang kamu minta semalam." Ucapan Jillian tentu saja membuat Jeffran tersenyum sumringah. Tanpa membuang waktu, Jeffran lekas turun dari tempat tidur dan menggendong Jillian menuju kamar mereka.
"I love you, Jillian Prisa Smith.."
__ADS_1
"I love you more, Jeffran Nicholas Smith.."
*************************