Pernikahan dengan Perusak Impianku

Pernikahan dengan Perusak Impianku
Episode 28 Trauma


__ADS_3

Di sebuah Ruang Konseling Dokter Psikologi yang terdapat di Rumah Sakit ternama di Kota Bandung, seorang perempuan tengah melakukan konsultasi dengan Psikolog tentang trauma yang dialaminya pasca kejadian pemerkosaan yang menimpanya beberapa bulan lalu. Jenis trauma yang dialaminya dikenal dengan nama Rape Trauma Syndrome (RTS). Dimana trauma yang dialami penderita RTS bisa berupa gangguan fisik, emosional, kognitif, perilaku dan karakteristik pribadi.


Sebuah kehidupan bahagia seorang Jillian seketika berubah karena kejadian yang sangat tidak diharapkannya. Jillian mengalami trauma sejak saat itu, apa yang dijalaninya setiap hari tidak lagi sama.


Meskipun baru pertama kali berkonsultasi secara langsung dengan Dokter Janika yang juga merupakan tantenya, adik kandung dari Mama Jovita. Tapi Jillian sudah menceritakan secara detail tentang apa yang dialaminya, sejak sebulan yang lalu.


"Jillian, sebaiknya kamu jujur dan menceritakan hal ini pada Papa dan Mamamu, termasuk suamimu. Trauma yang kamu alami akan lebih cepat disembuhkan, jika mendapat dukungan dari keluarga. Jeffran pun bisa tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan terhadapmu. Agar traumamu bisa segera sembuh." Jillian menggeleng, tidak menyetujui usulan tantenya.


"Tidak Tante. Aku tidak ingin membebani Papa dan Mama dengan masalah ini. Dan soal Jeffran, aku merasa harus menjauh darinya, agar traumaku tidak bertambah parah."


Tante Janika prihatin pada keponakan yang disayanginya. Sungguh tidak pernah terbayangkan, jika Jillian akan mengalami kejadian buruk yang menyebabkan trauma yang parah.


Semenjak kejadian itu, Jillian sering mengalami mimpi buruk tentang pemerkosaan yang pernah dialaminya. Selain itu, berhadapan dengan Jeffran, bagaikan menghadapi musuh yang setiap saat bisa menyerang. Jillian akan merasakan benci, takut sekaligus was-was dalam waktu yang bersamaan. Apalagi jika Jeffran menyentuhnya, Jillian pasti langsung mengalami serangan panik dengan keringat dingin yang mengucur deras. Meskipun Jillian selalu menutupinya dengan menahan diri sebisa mungkin atau bersikap marah dan kasar terhadap Jeffran.


Trauma itu juga selalu muncul setiap kali Jillian melihat tempat atau barang-barang yang mengingatkannya pada kejadian di malam laknat itu. Saat pergi dan pulang dari kampus, Jillian tidak pernah lagi melewati tempat dimana dia ditarik paksa oleh Jeffran. Jillian juga tidak pernah mau memasuki mobil sport hitam milik Jeffran, yang menjadi saksi direnggutnya kehormatan yang selalu dijaganya.


Sementara gaun dan sweater yang dikenakan Jillian di malam itu, langsung dia buang sehari setelah kejadian itu. Karena air matanya selalu tidak bisa dia tahan saat melihat kedua barang itu. Terlebih kedua barang itu adalah pemberian Jordan, hingga membuat Jillian merasa trauma sekaligus merasa bersalah pada Jordan.


Tidak hanya itu, Jillian seringkali merasa jijik saat melihat dirinya sendiri dari pantulan cermin. Dia merasa kotor, karena sudah ternoda oleh laki-laki yang tidak dicintainya. Bahkan tidak jarang Jillian membenci anak yang dikandungnya. Dia juga menyalahkan Jeffran dan dirinya sendiri atas kematian Jordan.


"Jillian, jadi apa rencanamu sekarang?"

__ADS_1


"Tadinya aku berniat pergi ke Perancis dan tinggal bersama keluarga Tante Joana. Tapi Tante Joana menolak saat aku memintanya untuk merahasiakan keberadaanku nanti pada Mama, Papa dan juga Jeffran. Jadi aku membatalkan rencana keberangkatanku kesana, karena sudah pasti gagal Tante." Jillian memasang raut kecewanya.


"Sikap Joana tidak salah Jill. Kalau dia sampai merahasiakan keberadaanmu dari Papa, Mama dan suamimu, itu tidaklah baik. Mereka tentu akan sangat khawatir Jill." Jillian terdiam menanggapi ucapan Tante Janika. Namun dalam hati membenarkan juga perkataan Tantenya itu.


"Jika aku ingin tinggal bersama Tante di Bandung, apakah Tante juga akan memberitahu Papa, Mama dan Jeffran?" Tanya Jilian.


"Maaf Jillian.. Tapi Tante pikir akan lebih baik kalau Papa dan Mamamu tahu keadaanmu. Jika kamu merasa belum siap untuk bertemu Jeffran lagi, kamu bisa menjelaskan keadaanmu melalui telepon agar Jeffran paham." Lagi-lagi Jillian bergeming, mempertimbangkan keputusan apa yang akan diambilnya setelah ini.


"Sekarang kamu istirahat saja di rumah Tante. Nanti Tante kabari Mamamu kalau kamu ada di Bandung."


"Tidak perlu Tante. Aku mau jalan-jalan saja sebelum kembali ke Jakarta. Terima kasih ya Tante, sudah banyak membantu Jill."


"Sama-sama Jill. Kamu harus kuat, agar traumamu bisa segera sembuh. Kapanpun kamu perlu bantuan Tante, bilang saja ya. Jangan lupa minum obat yang Tante berikan.."


Jillian memeluk Tante Janika sebelum pamit. Tante Janika menatap nanar keponakannya yang melangkah keluar dari ruangannya.


****************************


Sudah lebih dari 3 jam, Jeffran mencari keberadaan Jillian di tempat yang biasa Jillian datangi. Namun usahanya masih belum membuahkan hasil. Jeffran awalnya mengira Jillian pergi dengan bantuan Ethan seperti kejadian sebelumnya, tapi ternyata Ethan sedang berada di kampus. Terlihat sibuk mengurus seminar, dimana dirinya adalah Ketua Panitia dari kegiatan tersebut.


Lewat jam makan siang, perut Jeffran sudah mulai kelaparan. Tapi Jeffran memilih mengabaikan rasa laparnya, karena tidak ingin membuang-buang waktu agar secepatnya menemukan Jillian.

__ADS_1


Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..


Jeffran mengangkat panggilan masuk dari Kepala Pengawal yang sedang mencari keberadaan Jillian bersama anak buahnya.


"Apa kamu sudah menemukan keberadaan istriku?" Tanya Jeffran tanpa basa basi.


"Berdasarkan pantauan CCTV, istri anda terakhir kali terlihat di terminal bis. Istri anda lalu menaiki bis jurusan Bandung Boss."


"Hah, Bandung?"


****************************


Jillian menatap langit-langit kamar Hotel, dengan posisi tubuh terlentang di atas tempat tidur. Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya Jillian memutuskan menyewa kamar hotel untuk satu malam. Dirinya merasa perlu menenangkan diri sebelum kembali ke Jakarta esok hari.


Pikiran Jillian tertuju pada kejadian malam tadi, saat dirinya dan Jeffran berada di dalam kamar yang sama. Masih terekam jelas setiap kata yang keluar dari mulut Jeffran, saat mengira Jillian sudah lelap tertidur, sehingga tidak mungkin bisa mendengar apapun yang Jeffran katakan. Padahal Jillian hanya berpura-pura tertidur, menyembunyikan rasa canggung karena mereka berada dalam kamar yang sama.


"Jill, aku tahu dosaku terlalu besar untuk bisa kamu maafkan. Aku terlalu tidak tahu diri, jika memaksamu memaafkanku dalam waktu yang singkat. Tapi tolong jangan pernah ragukan perasaan cintaku padamu.. Aku benar-benar sangat mencintaimu Jill. Aku juga mencintai anak yang kamu kandung."


Selepas mendengar ungkapan hati Jeffran, hati Jillian terasa berdesir. Ada perasaan yang seketika membuat Jillian merasa sangat nyaman. Tapi saat Jeffran mulai mencium kening dan bibirnya setelah memeluknya, tiba-tiba tubuh Jillian berkeringat begitu banyak. Hal ini selalu terjadi pada Jillian, setiap kali Jeffran melakukan hal yang sama. Tapi Jillian selalu menahan dirinya sekuat tenaga, agar tidak bereaksi berlebihan dihadapan Jeffran.


Kilasan kejadian buruk beberapa bulan lalu, mulai muncul satu persatu. Jillian merasa takut kalau Jeffran akan melakukan sesuatu yang lebih dari apa yang dilakukan sebelumnya. Untung saja ketakutan Jillian tidak menjadi kenyataan. Rasa bahagia justru menyeruak di hati Jillian, saat Jeffran kembali mengungkapkan perasaannya begitu dalam, meskipun terdengar sangat lirih.

__ADS_1


"Aku mencintaimu.. Dan akan selalu mencintaimu, selamanya."


*****************************


__ADS_2