Pernikahan dengan Perusak Impianku

Pernikahan dengan Perusak Impianku
Episode 36 Berhenti Menyalahkan Diri


__ADS_3

Demi membuktikan kesungguhan tekadnya, Jeffran langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu segera menghubungi Shawn. Jeffran sengaja menekan mode loud speaker, agar Jillian juga bisa mendengarkan pembicaraannya dengan Shawn.


"Iya Jeff.." Sapa Shawn diseberang sana.


"Shawn, aku memutuskan untuk menghukum sendiri Dhiva dan anak buahnya." Ungkap Jeffran tanpa lebih dulu berbasa-basi.


"Wah baguslah.. Jadi hukuman seperti apa yang akan kamu berikan pada mereka?" Suara Shawn terdengar sangat antuasias.


"Sebenarnya aku belum tahu hukuman seperti apa. Apa kamu ada saran Shawn?"


"Hmm, kamu bisa memasukan mereka ke dalam kandang berisi beberapa singa, menggantungnya di atas kolam berisi puluhan buaya, memasukkannya ke dalam aquarium berisi ratusan ikan piranha, memberi racun yang membuat mereka seperti mayat hidup, langsung menembaknya tepat di dahi mereka atau apapun. Terserah kamu mau seperti apa, akan segera aku siapkan.."


Mendengar jenis hukuman yang disebutkan Shawn, membuat Jillian bergidik ngeri. Berbeda dengan Jeffran yang bersikap biasa saja. Dirinya tidak heran dengan apa yang disebutkan Shawn, karena kehidupan dunia mafia memanglah semengerikan itu. Meskipun Jeffran yakin kalau Shawn bukanlah mafia kejam yang akan memberikan hukuman sesuka hatinya tanpa pertimbangan.


Jillian menggelengkan kepala, merasa keberatan dengan semua jenis hukuman yang ditawarkan Shawn.


"Shawn, saat ini aku belum bisa memutuskan hukumannya. Akan aku diskusikan dulu dengan Jillian, hukuman apa yang bisa aku berikan pada mereka. Baru nanti aku akan memberitahumu."


"Okay, kabari saja aku.. Tapi besok aku dan Drake sudah harus pergi ke Bandung sebelum kembali ke London. Nanti akan ada orang kepercayaanku yang akan mengurus semuanya."


"Baiklah..Terima kasih ya Shawn, kamu sudah banyak membantuku dan Jillian." Ucap Jeffran terdengar sangat tulus.


"Kak Shawn, aku benar-benar berterima kasih atas semua bantuan Kak Shawn." Jillian ikut menimpali dan berterima kasih pada Kakak sepupu suaminya itu.


"Sama-sama, kalian jangan ragu untuk menghubungiku jika memerlukan bantuan. Mulai saat ini, aku akan menempatkan pengawal profesional untuk menjaga kalian. Jadi tidak usah khawatir lagi akan ada yang berbuat jahat pada kalian." Perkataan Shawn lagi-lagi dibalas ucapan terima kasih Jillian dan Jeffran, sebelum akhirnya mengakhiri obrolan mereka.


Jillian dan Jeffran yang sudah pindah ke ruang santai, melanjutkan obrolan mereka di ruang makan tadi. Jillian dan Jeffran tampak masih memikirkan hukuman apa yang layak bagi Dhiva dan anak buahnya.

__ADS_1


"Jeff, lebih baik serahkan saja mereka pada pihak yang berwajib. Biarkan mereka menerima hukuman sesuai hukum yang berlaku. Berdasarkan kejahatan yang mereka lakukan, mereka akan berada dibalik jeruji besi dalam waktu yang lama." Ucap Jillian pada akhirnya.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu Jill?" Tanya Jeffran memastikan.


"Iya aku yakin Jeff.. Aku tidak ingin mendapat karma, jika kita membalasnya dengan perbuatan yang terlalu kejam. Apalagi aku sedang hamil. Lebih baik kita serahkan pada penegak hukum saja." Mendengar perkataan Jillian, Jeffran mengangguk setuju. Meskipun emosinya pada Dhiva dan anak buahnya tentu masih sangat berkobar dalam hatinya.


"Baiklah, sepertinya keputusan ini adalah keputusan yang terbaik. Aku juga tidak mau ada sesuatu yang buruk terjadi pada anak kita." Ucap Jeffran sembari menatap lembut ke arah perut Jillian. Menahan diri untuk tidak menyentuh apalagi mengelusnya.


"Nanti aku akan menghubungi Shawn lagi untuk memberitahukan hal ini." Giliran Jillian yang kali ini mengangguki perkataan Jeffran.


Di dalam kamar Jeffran, Jillian sudah berbaring di atas tempat tidur yang nyaman. Terpaksa Jillian menyetujui permintaan Jeffran untuk menginap di kamar suaminya itu. Jeffran sama sekali tidak mengizinkan Jillian masuk ke kamarnya, dengan mengatakan kalau kamar Jillian sangatlah berdebu saat ini. Padahal niat Jillian ingin masuk ke kamarnya, bukan hanya ingin membersihkan kamar saja. Melainkan juga untuk mengganti pakaian dalamnya yang sedikit tidak nyaman dikenakannya.


Jillian memandang Jeffran yang memejamkan mata, dengan posisi berbaring di atas sofa yang terletak di samping kiri tempat tidur. Jeffran sebenarnya belum tidur, dia hanya memejamkan mata dan berusaha menghalau isi pikirannya yang terus saja memikirkan Jillian. Terutama membayangkan Jillian yang mengenakan pakaian dalam seksi dibalik piyama tidurnya.


'Shiiiit.. Kenapa pikiranku mesum begini? Ah bagaimana caraku menghilangkannya?' Kesal Jeffran dalam hati.


"Jeff, apa kamu sudah tidur?" Ucapan lembut Jillian refleks membuat Jeffran membuka kedua matanya.


"Ji.. Jill.. Ada apa?" Suara Jeffran terdengar terbata-bata karena terkejut dengan kemunculan Jillian yang tiba-tiba dihadapannya. Posisi Jillian yang sedikit menunduk dengan jarak yang sangat dekat, memicu jantung Jeffran berdegup lebih kencang.


"Kamu terlihat gelisah Jeff.."


Bukannya memperhatikan perkataan Jillian, arah mata Jeffran justru tertuju pada belahan dada Jillian yang terlihat mengintip karena posisi Jillian yang menunduk. Menyadari kekhilafannya, Jeffran sontak menutup matanya seketika.


'Aaaah.. Kenapa harus terlihat sejelas itu? Kamu membuat kepalaku pusing Jill.' Rutuk Jeffran dalam hati.


"Jeff, kamu kenapa sih?" Jillian yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Jeffran, meletakkan punggung tangannya di kening Jeffran.

__ADS_1


"Kamu sakit?" Menanggapi pertanyaan Jillian, Jeffran hanya menggeleng dengan masih menutup kedua matanya. Jillian mendudukkan dirinya di tepi sofa, menghadap ke arah Jeffran.


"Jeff.. Buka matamu. Kamu kenapa?" Kali ini Jeffran membuka mata dan mendudukkan dirinya disebelah Jillian. Setelah yakin, posisi Jillian sudah aman dan tidak meresahkan kedua matanya lagi.


"Aku tidak apa-apa Jill. Kamu tidurlah lagi.. Kamu harus istirahat." Ingin rasanya Jeffran menggenggam tangan Jillian, tapi tangannya yang sudah terulur itu, ditariknya kembali. Hal ini tentu saja tidak luput dari perhatian Jillian.


"Terima kasih Jeff, sudah datang tepat waktu.. Jika kamu tidak datang, aku pasti sudah.." Perkataan Jillian yang belum selesai, segera dipotong Jeffran.


"Jill, harusnya aku yang meminta maaf. Gara-gara aku, kamu menjadi sasaran kemarahan Dhiva dan membuatmu dalam bahaya. Maafkan aku Jill, yang lagi-lagi menyakitimu.." Namun Jillian menggeleng kuat, tidak setuju dengan ucapan Jeffran.


"Tidak, ini bukan salah kamu Jeff. Aku sungguh bersyukur saat mengetahui kamu datang. Terima kasih Jeff.." Tulus Jillian, mengulas senyum tipis yang menenangkan hati Jeffran.


"Terima kasih juga Jill, karena tidak menyalahkanku atas kejadian ini. Meskipun sangat jelas, akulah penyebab dari semua masalah ini." Jeffran menundukkan kepalanya penuh sesal.


"Berhentilah menyalahkan dirimu, aku sungguh tidak apa-apa."


Cup..


Sebuah kecupan singkat di pipi Jeffran sontak mengejutkan Jeffran. Selama beberapa detik, Jeffran hanya memegangi pipi yang mulai merona itu.


"Baiklah, aku tidur ya.." Jillian yang salah tingkah karena Jeffran tidak bereaksi dan berkata apa-apa, berdiri dari duduknya. Padahal sebenarnya, Jeffran sedang menenangkan jantungnya yang berdetak kencang tak berirama.


"Jill.." Tangan Jeffran yang sudah terlatih menahan diri, kini seolah lancang menarik tangan Jillian. Hingga Jillian terhuyung dan terduduk di pangkuan Jeffran.


Dua pasang mata saling memandang begitu dalam, layaknya cermin yang memantulkan isi hati. Jeffran yang sekuat tenaga menekan luapan cinta pun, tampaknya sudah tidak bisa menahan diri. Hingga sebuah kecupan lembut dilabuhkannya di bibir ranum Jillian.


Cup..

__ADS_1


************************


__ADS_2