
Langit masih saja mendung, mentari pun seolah enggan menampakkan dirinya. Justru gumpalan awan hitam yang bersemangat memberi tanda, kalau langit sedang bersiap menumpahkan air matanya siang ini.
Tapi pemandangan itu begitu kontras dengan raut wajah dan suasana hati Jeffran yang sedang duduk dibalik meja di ruangan kerjanya. Bagaimana tidak, senyuman tidak lepas dari wajah Jeffran, sejak dirinya menginjakkan kaki di perusahaan hingga saat ini. Semua karyawan yang berpapasan dengannya dibuat tercengang, karena CEO mereka akhirnya membalas sapaan mereka disertai senyuman, bukan lagi sekedar anggukan dengan raut tegas dan sorot mata tajam.
Bahkan management perusahaan dibuat keheranan, saat disuguhi wajah ramah Sang CEO di meeting management pagi tadi. CEO mereka yang selalu menebar aura dingin dengan sorot mata tajam itu, tiba-tiba tersenyum di sepanjang jalannya meeting. Sungguh suatu pemandangan yang sangat langka.
Liam memandang heran Jeffran yang mengulas senyum lebar ke arah laptop dihadapannya. Rasa penasaran Liam menuntun dirinya untuk melihat objek apa yang sedang dilihat Jeffran saat ini.
"What? Aku pikir kamu sedang melihat profit perusahaan yang semakin meningkat, ternyata wajah Jillian yang membuat mood-mu bagus seharian ini."
Jeffran refleks menutup laptopnya, lalu mengubah raut wajahnya sedatar mungkin, mencoba menyembunyikan senyuman di kedua sudut bibirnya.
"Wajar saja kan memandangi wajah istri." Ucapan Jeffran sukses membuat mulut Liam menganga, lengkap dengan mata yang membulat sempurna.
"Istri? Aku tidak salah dengar kan? Kamu biasanya selalu marah, setiap kali aku menyebut Jillian dengan kata istrimu." Liam benar-benar terkejut dengan perubahan sikap Jeffran.
"Aku mulai bisa menerima pernikahanku dengannya, bahkan aku merasa bahagia setiap kali bersamanya. Apalagi selama beberapa hari ini sikapnya begitu manis padaku. Dia menyuapiku, memijit kepalaku saat pusing, bermain game berdua, menonton TV bersama, bahkan dia membelai rambutku saat aku mengantuk sepulang kerja. Manis sekali kan?" Senyuman Jeffran kembali merekah ketika menceritakan Jillian.
"Kamu jatuh cinta Jeff.." Perkataan Liam membuat Jeffran bergeming. Perasaannya terasa campur aduk saat mendengar kalimat Liam.
"Aku jatuh cinta?" Tanya Jeffran lebih kepada dirinya sendiri.
"Kamu selalu mengingkari perasaanmu Jeff, padahal aku jelas melihat cinta dari sikap-sikapmu selama ini terhadap Jillian." Lagi-lagi Jeff bergeming, menelaah hatinya saat ini.
__ADS_1
'Apa benar aku sudah jatuh cinta pada Jillian? Apa perasaan nyaman saat didekatnya, tidak suka saat melihatnya bersama pria lain, takut membuatnya kecewa, tidak ingin dia marah dan semua perasaan aneh ini adalah karena aku sudah jatuh cinta padanya?'
"Ungkapkan perasaanmu padanya, jangan sampai kamu baru menyesal saat nanti kalian berpisah. Jika kamu mencintainya, tentu kamu tidak akan mau menceraikannya kan?" Bukannya menjawab pertanyaan Liam, Jeffran justru sibuk dengan isi hatinya sendiri.
'Tidak.. Aku tidak akan pernah menceraikan Jillian. Sebelumnya aku tidak tahu kenapa aku bisa begitu berat untuk melepaskan dia, tapi sekarang aku sudah tahu alasannya.' Ucap Jeffran dalam hati.
"Hah.. Malah melamun. Ya sudah aku pergi dulu ya. Oh iya, soal gadis yang kamu cari, aku sudah menemukan sebuah petunjuk."
"Petunjuk apa?" Raut wajah Jeffran terlihat sangat penasaran.
"Gadis itu mengenakan dress yang sangat cantik dan terlihat mahal. Lalu aku mencari tahu di beberapa website brand terkenal. Ternyata dress itu memang berasal dari brand ternama, dan merupakan salah satu koleksi limited edition berharga fantastis, sehingga tidak banyak orang yang memiliki gaun itu. Untungnya mereka memiliki data dari semua pembeli dress di toko mereka. Aku sedang menunggu info dari mereka, mereka sudah janji akan mengabariku hari ini." Jeffran mengangguk setelah mendengar semua penjelasan Liam.
Pikiran dan perasaan Jeffran campur aduk, dirinya sungguh takut saat nanti mengetahui siapa gadis di malam itu. Perasaannya terhadap Jillian sudah meyakinkannya untuk tetap mempertahankan pernikahannya bersama Jillian. Namun kesalahan terhadap gadis itu, mungkin menuntut Jeffran akan sebuah tanggung jawab yang besar.
'Bagaimana jika gadis itu hamil? Bagaimana jika gadis itu menuntut untuk aku nikahi? Aku sungguh tidak ingin menyakiti hati Jillian lagi. Aku tidak mau kehilangan Jillian, apapun yang terjadi.' Batin Jeffran.
*************************
Untuk pertama kalinya Jillian mengunjungi kedua orangtuanya sejak dia menikah. Jillian selalu merasa berat untuk mengunjungi Papa dan Mamanya, karena takut dua orang yang dicintainya itu akan kembali digunjingkan oleh banyak orang setelah kedatangannya. Jillian ingin Papa dan Mamanya hidup tenang tanpa harus memikirkan Jillian.
Jeffran disambut dan diantar masuk ke ruang keluarga oleh asisten rumah tangga di kediaman mertuanya. Senyum terulas di kedua sudut bibir Jeffran, saat melihat Jillian yang sedang memeluk kedua orangtuanya bersamaan. Tapi senyumnya mendadak hilang, ketika menyadari kalau istrinya saat ini sedang menangis.
"Papa..Mama.. Maafkan Jill ya, karena Jill sudah mencoreng nama baik keluarga. Maafkan Jill sudah membuat Papa Mama malu dan sedih. Mulai sekarang berhentilah memikirkan masalah Jill ya Ma, Pa.. Jill sayang Mama dan Papa.."
__ADS_1
Jeffran terenyuh melihat pemandangan dihadapannya. Jeffran tahu kalau Jillian selalu menahan dirinya untuk mengunjungi kedua orangtuanya, karena tidak ingin menambah luka dan membuat mereka semakin malu. Tapi saat akhirnya Jillian kembali datang ke kediaman orangtuanya, justru permohonan maaf yang Jillian ucapkan.
"Eh kamu datang juga Jeff. Ayo sini sayang." Mama Jovita yang menyadari kehadiran Jeffran, melambaikan tangan, meminta Jeffran untuk mendekat. Papa Rendra pun ikut memberi kode agar Jeffran duduk dihadapannya, tepat disebelah Jillian.
"Papa.. Mama.. Bagaimana kabarnya?" Tanya Jeffran sambil menyalami kedua mertuanya.
"Kabar Papa baik Jeff." Jawab Papa Rendra.
"Kabar Mama juga baik sayang." Timpal Mama Jovita.
Jillian yang tidak menyangka akan kedatangan Jeffran, hanya terdiam. Bahkan dirinya tidak berkata apapun, saat kedua orangtuanya mulai mengobrol ringan bersama Jeffran.
"Pa.. Ma.. Jill ke kamar dulu ya, ada barang yang mau Jill bawa ke apartemen."
"Jill, ajak Jeff untuk melihat-lihat kamarmu. Pasti suamimu juga lelah setelah bekerja seharian." Ucapan Papa Rendra cukup mengejutkan Jillian.
"Nanti Mama minta Bi Rasti membawakan makanan dan minuman hangat ke kamar kalian." Timpal Mama Jovita.
Jill hanya mengangguk samar ke arah Papa dan Mamanya, sedangkan Jeffran tersenyum lebar. Jillian sebenarnya sangat keberatan dengan permintaan Papanya, tapi dirinya tidak mungkin menolak permintaan Papanya itu.
"Ayo.." Ajak Jillian singkat, sembari melangkah menuju kamarnya di lantai 2. Disebelahnya Jeffran terlihat memasang senyuman mautnya. Tanpa izin, Jeffran tiba-tiba menggenggam tangan Jillian dengan erat.
"Ayo istriku, kita beristirahat di kamar. Kamu juga pasti lelah, nanti aku pijat ya. Pasti tubuhmu akan kembali segar. Ujar Jeffran seraya mengerlingkan sebelah matanya, membuat Jillian mengerutkan keningnya.
__ADS_1
'Ada apa dengan dia? Sungguh mencurigakan.' Batin Jillian.
*************************