Pernikahan dengan Perusak Impianku

Pernikahan dengan Perusak Impianku
Episode 30 Jangan Pergi Lagi


__ADS_3

Tatapan tidak suka diarahkan Jillian ke arah pria keturunan Korea-Indonesia dihadapannya. Sedangkan pria yang ditatapnya, masih setia menyunggingkan senyum menunggu jawaban dari mulut Jillian.


"Disini masih banyak tempat kosong, kenapa kamu ingin duduk denganku?" Pertanyaan Jillian yang menyiratkan penolakan secara tidak langsung, rupanya tidak membuat pria itu tersinggung.


"Aku sudah cukup lama berharap untuk bertemu kamu lagi. Dan saat harapan itu terwujud, wajar kan kalau aku tidak ingin menyia-nyiakannya." Ucapan pria itu bukannya memuaskan rasa ingin tahu Jillian, tapi justru membuat Jillian semakin bingung.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan." Jujur Jillian.


"Kalau kamu mau kuberitahu, tolong izinkan aku duduk disini. Aku dengan senang hati akan menjelaskannya."


Jillian berpikir beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk samar.


"Duduklah.."


Senyum pria itu terulas semakin lebar, menampakkan deretan gigi putihnya yang menawan.


"Terima kasih ya Jillian.." Ucapnya lalu mendudukkan dirinya tepat di depan Jillian. Sementara Jillian tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Kenapa kamu bisa tahu namaku?" Alih-alih menjawab pertanyaan Jillian, pria itu malah mengulurkan tangannya.


"Kenalkan, namaku Bradley.." Jillian menerima uluran tangan pria itu dan menyalaminya, masih dengan ekspresi penuh tanya karena pertanyaannya yang belum terjawab. Apalagi seorang pelayan cafe kemudian datang menanyakan pesanan Bradley.


"Samakan saja dengan Nona ini." Ujar Bradley sembari melirik cokelat hangat di depan Jillian. Kemudian pelayan itu pergi, meninggalkan Bradley dan Jillian yang melanjutkan percakapan.

__ADS_1


"Kita pernah bertemu di salah satu restaurant di Jakarta, tempat dimana kamu bekerja. Saat itu aku sedang menghadiri pertemuan dengan partner bisnisku. Pertama kali melihatmu, aku sudah sangat terpesona, apalagi kamu terkesan agak jutek meskipun tutur katamu ramah. Sayangnya aku sedang bersama partner bisnisku, kalau tidak, aku pasti sudah mengajakmu berkenalan dan meminta nomormu"


Jillian berusaha mengingat-ingat kejadian yang dikatakan oleh Bradley, dan pikirannya jatuh pada saat dirinya bekerja di salah satu restaurant atas rekomendasi temannya. Namun itupun hanya beberapa hari, karena Jeffran yang mengetahuinya bekerja di restaurant sangatlah tidak setuju, hingga menyuruhnya untuk berhenti bekerja.


'Ya aku ingat, dia adalah pria yang waktu itu makan siang bersama Jeffran. Berarti partner bisnis yang dimaksud pria ini, pastilah Jeffran.' Asumsi Jillian dalam hati.


(Buat yang lupa sama moment Jeffran & Bradley ketemu Jillian saat bekerja di restaurant, bisa buka lagi Eps. 8 ya. Kalau yang mau tahu lebih banyak tentang kisah Bradley, bisa baca Forbidden Love of The Mafia King).


"Besoknya aku datang lagi ke restaurant itu untuk mencarimu, tapi aku tidak melihatmu saat itu. Jadi aku bertanya pada seorang pelayan, yang sebelumnya bekerja bersamamu saat menghidangkan makanan ke mejaku. Kata temanmu, namamu Jillian. Tapi sayangnya kamu sudah berhenti bekerja tepat di hari kita bertemu. Aku tentu sangat kecewa, belum juga berkenalan denganmu, tapi aku sudah patah hati." Bradley mengakhiri ceritanya dengan senyuman tampannya, tapi nyatanya Jillian tidak sedikitpun tergoda oleh pesona Bradley.


"Oh begitu ternyata.."


'Sebaiknya aku tidak mengatakan status hubunganku dengan Jeffran. Pasti Jeffran pun tidak mau partner bisnisnya tahu, kalau dia mempunyai seorang istri mantan pelayan restaurant.' Ucap hati Jillian.


Jillian tampak mulai nyaman dengan keberadaan Bradley, tidak ada rayuan atau gombalan yang membuat Jillian risih. Justru Bradley lebih sering melemparkan lelucon, yang membuat Jillian tersenyum bahkan tertawa lepas.


"Sayang.. Maaf ya, membuatmu menunggu lama." Kemunculan seorang Jeffran yang tiba-tiba, bukan hanya mengejutkan Jillian, tapi juga Bradley. Terlebih saat Jeffran sedikit membungkuk dan melabuhkan sebuah kecupan di pelipis Jillian, hal itu sukses membuat netra Bradley membola sempurna. Sedetik kemudian, Jeffran memilih duduk di sebelah Jillian, dengan sebelah tangan merangkul mesra bahu istrinya.


"Apa kabar Mr. Bradley? Saya tidak menyangka akan bertemu anda disini. Ternyata anda sudah lebih dulu mengobrol dengan istri saya." Ucapan Jeffran yang formal namun terdengar santai itu, lagi-lagi membuat Jillian dan Bradley terkejut. Jillian mengarahkan tatapan bingung pada Jeffran, tapi Jeffran hanya membalas tatapan itu dengan senyum samarnya.


"Mr. Jeffran, apa benar Jillian ini istri anda?" Bradley bertanya, memastikan apa yang baru saja didengarnya. Dalam hati kecilnya, Bradley berharap kalau pendengarannya salah.


"Iya, Jillian ini istri saya. Benar kan Sayang?" Jillian yang ditanya dan ditatap oleh Jeffran, malah membeku. Sejujurnya,  Jillian tidak menyangka kalau Jeffran akan membongkar status pernikahan mereka dihadapan Bradley.

__ADS_1


"Kenapa menatapku begitu Sayang? Oh iya, Mr. Bradley ini partner bisnisku. Aku senang kamu sudah lebih dulu akrab tanpa harus aku kenalkan." Jeffran mengelus tangan Jillian dengan lembut. Tentunya pemandangan ini membuat mata Bradley mendadak panas dan perih.


Meskipun Jillian tidak mengiyakan perkataan Jeffran tentang status mereka, tapi Bradley tahu kalau Jeffran tidak sedang berbohong. Apalagi Jillian terlihat tidak pernah menolak sentuhan Jeffran. Padahal kesan pertama yang ditangkap Bradley, Jillian bukan merupakan perempuan yang mudah dekat dengan laki-laki.


"Hmm, rupanya saya sudah mengganggu liburan Mr. Jeffran dengan istri. Maafkan saya yang sudah lancang mengajak istri anda mengobrol." Jeffran mengangguk menanggapi permintaan maaf dari Bradley.


"Tidak apa-apa Mr. Bradley. Saya justru harus berterima kasih pada Mr. Bradley karena sudah menemani istri saya, sebelum saya datang. Kebetulan saya ada urusan mendesak, hingga membuat istri saya menunggu lama."


Jillian terlihat memutar kedua bola matanya, mendengar kebohongan yang diucapkan Jeffran. Dirinya memilih diam, tidak ingin ikut berbicara dengan dua pria yang tengah bersaing itu. Jeffran pun sebenarnya tengah mati-matian menahan kesal dan cemburu, namun dirinya tidak ingin menunjukkannya dihadapan Bradley, untuk menjaga image dan harga dirinya.


"Baiklah Mr. Jeffran saya pamit undur diri dulu.. Mrs. Jillian, terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa lagi."


"Iya terima kasih." Jawab Jillian, sementara Jeffran hanya menunduk sekilas.


Seperginya Bradley, Jillian menatap tajam ke arah Jeffran yang justru memandangnya dengan senyuman.


"Aku merindukanmu Sayang..Tolong jangan pergi lagi." Ucap Jeffran seraya memeluk erat tubuh Jillian. Sementara tubuh Jillian bergeming, namun hatinya seketika dipenuhi kupu-kupu berwarna-warni.


'Ada apa dengan hatiku? Kenapa aku sangat bahagia, mendengarnya berkata seperti itu.' Batin Jillian.


Perlahan Jeffran melonggarkan pelukannya, dan netranya menatap penuh kerinduan pada Jillian. Dua tangan yang semula memeluk Jillian, kini beralih menggenggam kedua tangan Jillian.


"Jill, katakan apa yang harus aku lakukan. Tapi jangan pernah pergi dariku, atau memintaku pergi dari hidupmu. Karena aku tidak akan sanggup melakukannya.. Aku sangat mencintaimu Jillian." Jeffran mencium kedua punggung tangan Jillian sepenuh hatinya. Membuat Jillian tanpa sadar menyunggingkan senyuman dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


*************************


__ADS_2