Pernikahan dengan Perusak Impianku

Pernikahan dengan Perusak Impianku
Episode 32 Jillian Hilang


__ADS_3

Teriknya sinar matahari dengan panas yang menyengat kulit, tidak menyurutkan tekad banyak orang untuk mengais pundi-pundi rupiah atau melakukan rutinitas mereka di Kota Jakarta yang super sibuk ini. Tidak terkecuali sepasang suami istri yang tengah berusaha menjaga jarak demi kelangsungan hubungan pernikahan mereka kedepannya.


Sudah lebih dari 1 bulan, Jillian tinggal di rumah orangtuanya. Untuk menghindari kecurigaan orangtuanya, Jillian memberikan alasan kalau Jeffran tengah sibuk menangani beberapa proyek penting di luar kota. Jeffran pun sebelumnya pamit dan menitipkan Jillian secara langsung kepada kedua mertuanya, sesuai permintaan Jillian. Meskipun sebenarnya Jeffran ingin sekali bersikap jujur tentang segalanya pada kedua mertuanya, sekalipun dirinya bisa saja dihajar habis-habisan oleh mertuanya.


Dari dalam mobil sport berwarna putih, Jeffran mengawasi Jillian yang baru turun dari mobil pink-nya. Ada sorot kerinduan dari netra Jeffran yang memandang Jillian dari kejauhan. Karena meskipun hampir setiap hari Jeffran melihat Jillian, tapi Jeffran tidak berani menghampiri istrinya itu.


Drrtt..Drrtt..Drrtt..


Sebuah panggilan masuk dari Jillian, cukup mengejutkan Jeffran yang langsung mengarahkan kembali pandangannya ke arah Jillian.


Suara lirih Jillian saat memanggil nama Jeffran terdengar sangat lembut. Meskipun kalimat yang keluar dari mulut Jillian selanjutnya, bukanlah sesuatu yang ingin didengar Jeffran.


"Jeff.. kembalilah ke perusahaan, kamu pasti belum makan siang. Nanti malam kamu boleh menelponku." Ucap Jillian tanpa menoleh ke arah mobil Jeffran.


Jeffran menghela nafas panjang, menganggap tidak ada gunanya menolak permintaan Jillian. Justru Jillian akan merasa kesal padanya.


"Baiklah Jill, hati-hati ya, jaga dirimu. I love you, Jill.." Jawab Jeffran selembut mungkin.


"Okay.. Kamu juga hati-hati ya Jeff.." Berbeda dengan nada suara Jillian yang terdengar biasa.


"Iya Jill.."


Jillian menutup panggilan teleponnya lebih dulu, sebelum melangkah masuk ke dalam sebuah gedung yang rutin dikunjunginya sebulan terakhir ini. Gedung bertingkat dua yang merupakan tempat komunitas penanggulangan korban perkosaan atau kekerasan seksual itu, dijadikan Jillian sebagai tempat therapy untuk mengatasi traumanya.


Sementara di dalam mobilnya, Jeffran menatap nanar istrinya, hingga tidak lagi terjangkau pandangannya.


"Cepat sembuh ya Sayang.. Tolong maafkan aku, dan lupakan semua rasa sakit dan kebencianmu padaku. Agar kita bisa memulai segalanya dari awal. Aku mencintaimu dan anak kita." Lirih Jeffran penuh harap.


Di sebuah ruangan yang cukup luas, sekitar 10 orang korban kekerasan seksual nampak sedang berbagi cerita tentang apa yang mereka alami, didampingi 2 orang psikolog dan 2 orang relawan komunitas. Jillian kemudian ikut bergabung dengan mereka, namun bukan sebagai korban, melainkan sebagai seorang relawan.


Ketua komunitas itu bernama Tante Nova yang merupakan sahabat dekat Tante Janika sejak masa kuliah. Meskipun Tante Nova sudah mengetahui trauma yang menimpa Jillian, tapi atas permintaan Jillian dan Tante Janika, Tante Nova tidak menggabungkan Jillian dengan para korban pelecehan seksual yang rutin melakukan konseling. Tante Nova menghargai keinginan Jillian, sehingga Jillian ditangani secara khusus oleh Tante Nova dan kedua anaknya, Nara dan Nastya. Dan dihadapan para penyintas dan juga relawan komunitas, Jillian dikenalkan sebagai relawan tamu yang akan membantu mereka jika dibutuhkan.

__ADS_1


Seorang korban pemerkosaan bernama Danisa tampak sedang bercerita ditengah ruangan. Jillian yang semula duduk di sudut ruangan, sedikit bergeser ke tengah, karena cukup penasaran dengan cerita Danisa yang umurnya sama dengannya itu.


"Saya dijadikan sebagai pelunas utang Ayah saya, kepada seorang pengusaha kaya. Saya diperkosa berkali-kali selama 1 bulan,  sebelum akhirnya dinikahi. Laki-laki itu bilang kalau dia mulai mencintai saya hingga memutuskan untuk menikahi saya. Tapi sebaik apapun sikapnya sekarang, tidak lantas menghilangkan trauma saya terhadap kelakuan bejatnya pada saya. Saya tidak tahu, apakah saya bisa menjalani pernikahan saya dengan bahagia dengannya. Sedangkan kebencian saya dan rasa sakit karena perlakuannya selalu saja terbayang di kepala saya. Saat saya bercerita apa yang saya rasakan pada ibu saya, ibu saya hanya mengatakan kalau saya akan bisa mencintainya seiring berjalannya waktu. Jika pernikahan saya karena perjodohan saja mungkin saya bisa mencintainya, tapi semua diawali perkosaan berkali-kali yang membuat saya bahkan ingin bunuh diri." Isak tangis mulai terdengar. Bukan hanya dari mulut Danisa, tapi dari hampir semua pendengar yang ikut merasakan penderitaan Danisa.


Setelah mendengarkan kisah Danisa, Jillian yang hanyut dalam pikirannya sendiri, memilih keluar dan menyendiri di bangku taman. Apa yang dirasakannya tidak jauh berbeda dengan Danisa. Tapi selama 1 bulan menjalani therapy, sudah banyak progress yang dia rasakan. Jillian sudah mulai bisa memaafkan Jeffran dan juga dirinya sendiri. Jillian pun sudah mulai menerima jalan hidupnya juga keadaan dirinya yang tengah berbadan dua. Dirinya justru semakin mencintai bayi dalam kandungannya, meskipun dirinya masih saja mengingkari perasaannya terhadap ayah dari bayi yang dikandungnya.


Sebuah tepukan di bahu menyadarkan Jillian dari lamunannya, seorang laki-laki berusia sekitar 25 tahun tampak tersenyum padanya.


"Maaf Mbak Jillian, Bu Nova menunggu anda di dalam mobil berwarna merah di gedung samping. Katanya beliau meminta anda mengantarnya ke suatu tempat." Jillian mengangguk, lalu bergegas menuju pintu samping untuk menemui Tante Nova.


*************************


Sementara itu di perusahaan Smith Group Company, Jeffran yang baru masuk ke dalam ruang kerjanya, dikejutkan oleh kehadiran Shawn, kakak sepupunya yang tinggal di Inggris.


"Hai Bro.." Sapa Shawn yang duduk santai di atas sofa, ditemani Liam yang duduk diseberangnya.


"Wah kapan datang Shawn?" Jeffran menghampiri dan memeluk Shawn yang berdiri dan balas memeluknya.


"Tadi malam Jeff.. Aku ada sedikit urusan di Jakarta dan Bandung." Jawab Shawn yang dibalas anggukan Jeffran. Shawn kembali duduk diikuti Jeffran yang duduk disebelahnya.


"Aku sudah harus kembali lusa nanti, Shanaya sudah masuk bulannya untuk melahirkan. Aku ke Indonesia pun karena ada urusan penting yang tidak bisa aku wakilkan."


"Oh begitu. Tidak terasa ya, keponakanku sebentar lagi lahir." Ucap Jeffran sembari menepuk-nepuk bahu Shawn.


"Iya Jeff.. Sepertinya kamu bisa langsung memiliki 2 keponakan tahun ini. Anaknya Jordan siap menyusul kan." Perkataan Shawn seketika menohok perasaan Jeffran, Liam pun ikut terkejut mendengarnya. Shawn yang punya insting yang sangat kuat, tentu menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan sepupunya.


"Ada apa? Kenapa ekspresimu seperti itu? Apa Jillian dan bayinya baik-baik saja?" Tanya Shawn dengan ekspresi yang mulai berubah dingin, meskipun suaranya terdengar tenang.


"Bayi yang dikandung Jillian, bukan anak Jordan.." Shawn tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya setelah mendengar perkataan Jeffran.


"Lalu siapa ayah dari anak yang dikandung Jillian?" Tanya Shawn begitu penasaran.

__ADS_1


"Akulah ayahnya.." Selama beberapa detik Shawn hanya menatap Jeffran tanpa kata. Namun Jeffran tahu kalau Shawn sedang menahan emosi saat ini.


"Ceritakan.." Jeffran menghela nafas sebelum mulai bercerita. Sepupunya itu bukanlah orang yang bisa dibohongi, jadi Jeffran memilih jujur dan mengakhiri semua kesalahpahaman ini. Hingga mengalirlah cerita tentang dirinya dan Jillian sejak malam laknat itu.


Sepanjang Jeffran bercerita, raut wajah Shawn terlihat datar. Bahkan tidak ada satu katapun dari mulut Shawn yang menginterupsi cerita Jeffran. Jeffran tahu kalau Shawn hanya sedang menahan emosi, sebelum nanti meluapkan kemarahannya. Liam yang mulai merasakan akan adanya adegan hajar menghajar pun, gegas menggeser tubuhnya ke sofa paling ujung.


"Saat ini Jillian sedang melakukan therapy untuk menghilangkan traumanya. Aku sangat berharap Jillian sembuh, agar dia bisa memaafkan dan menghapus kebenciannya terhadapku. Karena aku sangat mencintainya dan anak yang dia kandung." Jeffran mengakhiri ceritanya dengan helaan nafas panjang, menunggu reaksi Shawn terhadapnya.


"Kamu pasti tahu, kalau saat ini aku sangat ingin menghajarmu Jeff." Suara Shawn terdengar sangat dalam, Jeffran hanya bisa mengangguk menatap netra kakak sepupunya yang menghunus tajam itu.


"Satu kesalahanmu merusak banyak hal Jeff.." Imbuh Shawn yang kembali diangguki Jeffran dengan kepala menunduk.


"Aku tahu Shawn.." Lirih Jeffran.


Bugh.. Bugh..


Sebuah pukulan mendarat di wajah dan dada Jeffran, hingga membuat Jeffran terhempas ke lantai dan meringis kesakitan. Bahkan salah satu sudut bibir Jeffran terlihat mengeluarkan darah.


"Tidak ada gunanya menghajarmu, karena semuanya sudah terlanjur seperti ini. Aku akan menempatkan orang-orangku untuk mengawasi Jillian dan keponakanku. Jika kamu tidak bisa memperbaiki apa yang sudah kamu rusak, maka aku akan benar-benar menghajarmu Jeff."


"Aku janji akan memperbaiki semuanya Shawn.. Aku akan berusaha membahagiakan Jillian dan anakku seumur hidupku Shawn." Giliran Shawn yang mengangguk mantap, mendengar perkataan Jeffran.


"Aku pegang janjimu Jeff.."


Drrtt..Drrtt..Drrtt..


Sebuah panggilan dari Andreas, Kepala Pengawal Jillian mengalihkan atensi Jeffran. Tanpa membuang waktu, Jeffran langsung berdiri lalu menerima panggilan telepon itu.


"Iya Andreas.. Ada apa?"


"Nona Jillian.. hilang Tuan.."

__ADS_1


"Apaa? Jillian hilang?"


*************************


__ADS_2