
Sepasang mata biru Jeffran tidak jemu memandang takjub pada sosok mungil yang tertidur lelap di dalam box bayi. Anugerah yang tidak pernah dia duga itu, diberinya nama Jarell Niels Smith.
Sesekali senyumnya mengembang menatap Jillian yang tengah duduk santai di dalam kamar setelah selesai menyusui bayinya. Jeffran begitu bersyukur karena Papa Rendra mengizinkannya untuk menjenguk istri dan anaknya di kediaman mertuanya. Apalagi kedua mertuanya sedang pergi keluar kota, sehingga Jeffran bisa terbebas dari pengawasan mertuanya.
Memang setelah Jillian diizinkan pulang dari Rumah Sakit, Papa Rendra langsung membawa Jillian ke kediamannya. Papa Mertua Jeffran itu, menolak permintaan Jeffran untuk membawa Jillian ke mansion yang sudah Jeffran siapkan untuk istri dan putranya.
Rasa heran Jeffran muncul, saat Jillian tampak tersenyum beberapa kali seraya menatap ponselnya. Demi mendapatkan jawaban, Jeffran segera menghampiri Jillian dan duduk tepat disebelah Jillian.
"Sayang..kamu sedang berkirim pesan dengan siapa? Kenapa kamu senyum-senyum terus sejak tadi?" Tanya Jeffran dengan raut penuh keingintahuan.
"Ini Kak Ethan bilang, katanya Jarell begitu menggemaskan dan imut seperti aku." Jawaban Jillian membuat Jeffran cemberut seketika.
"Jarell memang menggemaskan dan imut seperti kamu, tapi apa dia tidak lihat, kalau Jarell begitu mirip denganku?" Jillian tertawa kecil mendengar ucapan Jeffran yang terdengar sangat kesal.
"Kamu cemburu?" Tanya Jillian dengan telapak tangan mengelus lembut pipi Jeffran.
"Kamu sudah tahu kan kalau aku tidak suka kamu dekat dengan Ethan. Meskipun kamu bilang tidak ada hubungan apapun dengannya. Aku bahagia akhirnya kamu pun membalas cintaku, tapi aku tetap merasa takut kamu akan meninggalkanku." Jujur Jeffran dibalas senyuman manis Jillian.
"Ethan tahu kalau hubungan pernikahan kita sudah membaik. Aku juga sudah memberitahunya, kalau aku sudah mencintaimu." Fakta yang diucapkan Jillian seketika memancing senyuman di wajah Jeffran.
"Sayang, apa benar yang kamu katakan itu?" Tanya Jeffran ingin memastikan.
"Iya Sayang.." Bukan hanya jawaban Jillian saja yang membuat Jeffran berbunga-bunga, tapi juga panggilan "Sayang" yang akhirnya keluar dari mulut Jillian untuknya.
"Katakan sekali lagi.." Pinta Jeffran memelas.
__ADS_1
"Apa?" Jillian pura-pura tidak mengerti dengan permintaan Jeffran.
"Kamu jelas mengerti permintaanku Sayang. Ayolaaah.. Katakan sekali lagi." Jillian malah tertawa menanggapi perkataan Jeffran yang seperti anak kecil.
"Iya Sayaaaaang.." Ucap Jillian lembut.
Cup...
Jillian sempat terkejut saat Jeffran mencium gemas bibirnya, namun beberapa detik kemudian membalas *****-an dan sesapan suaminya itu. Hingga sebuah ketukan di pintu kamar menghentikan kegiatan mereka.
Tok.. Tok.. Tok..
"Siapa?" Tanya Jillian sedikit berteriak.
"Ini Bibi Non.. Maaf di ruang tamu ada Tuan Stevan dan Tuan Jarvis. Katanya mau menengok Non dan Tuan kecil." Jawab Bi Sumi dengan suara lantangnya.
Alangkah terkejutnya Jeffran, mendapati Jillian tengah dipeluk oleh seorang pria, sedangkan pria lainnya tampak tersenyum pada Jillian. Awalnya, hanya perasaan cemburu yang dirasakan Jeffran saat melihat interaksi istrinya dengan dua pria tadi. Tapi perasaan itu berubah menjadi rasa marah, saat melihat kedua pria itu, ternyata adalah musuh bebuyutannya sejak di SMA dulu.
"Sini Sayang.. Kenalkan ini sepupuku Stevan dan ini sahabat dekatnya, Jarvis."
Stevan adalah anak dari Kakak Papa Rendra, yaitu Kendra yang menikah dengan perempuan Spanyol bernama Sophia. Sementara Jarvis adalah sahabat dekat Stevan sejak mereka bersekolah di SMP.
Stevan dan Jarvis cukup terkejut melihat keberadaan Jeffran. Tapi sedetik kemudian, ekspresi terkejut itu berubah menjadi ekspresi marah. Jeffran mengabaikan tatapan tajam Stevan dan Jarvis, karena Jeffran tidak ingin membuat Jillian tidak nyaman.
Saat di SMA, Jeffran yang merupakan Kapten basket dan Jarvis yang merupakan Kapten baseball menjadi magnet tersendiri bagi gadis-gadis di sekolah mereka ataupun sekolah lain. Mereka pun cukup akrab, meskipun bukan sahabat dekat. Namun tiba-tiba hubungan mereka mulai memburuk karena seorang gadis.
__ADS_1
Andrea, gadis yang sudah hampir satu tahun menjadi kekasih Jarvis, tiba-tiba meminta putus tanpa alasan yang jelas. Belakangan Jarvis mengetahui, kalau Andrea seringkali menjadi suporter garis keras Jeffran, setiap kali Jeffran bertanding. Andrea bahkan tanpa malu-malu menunjukkan perasaan sukanya terhadap Jeffran. Meskipun Jeffran cenderung bersikap biasa terhadap Andrea.
Sejak kejadian itu, Jarvis selalu menganggap Jeffran adalah musuhnya. Mereka bersaing dalam segala hal. Stevan yang merupakan sahabat terdekat Jarvis, tentu selalu mendukung Jarvis. Apalagi dirinya pun membenci Jeffran, sama seperti Jarvis. Karena dirinya pernah ditolak oleh seorang gadis, karena gadis yang disukainya itu terang-terangan mengatakan menyukai Jeffran.
Tidak cukup disitu saja, persaingan Jarvis dan Jeffran juga berlanjut hingga di dunia bisnis. Jeffran dan Jarvis yang sama-sama menjadi CEO perusahaan besar, seringkali bersaing dalam beberapa tender proyek penting. Karena beberapa cabang perusahaan mereka bergerak dalam bidang yang sama.
"Jadi ini suami kamu?" Tanya Stevan dengan tatapan meremehkan ke arah Jeffran. Mengabaikan uluran tangan Jeffran yang hendak menyalaminya.
"Iya Kak Stevan.. Apa Kak Stevan dan Jeffran sudah saling mengenal?" Jillian terlihat sangat ingin tahu.
"Ya begitulah." Jawab Stevan malas.
Stevan yang sedang berada di luar negeri saat Jillian menikah, sama sekali tidak mengetahui kalau Jillian menikah dengan Jeffran. Sejak kepulangannya ke tanah air sejak dua bulan lalu, Stevan masih disibukan urusan perusahaan. Sehingga baru sempat menengok Jillian, setelah bayinya lahir. Dan Stevan sungguh tidak menduga akan mendapatkan kejutan seperti ini.
Jillian sudah mencium ada sesuatu yang tidak beres dari sikap Stevan. Terlebih saat melihat Jarvis yang memandang tajam ke arah Jeffran. Suasana tegang ini jelas membuat Jillian tidak nyaman.
"Kak Stevan, ayo kita lihat Jarell.. Dia ada di kamarnya di lantai 2." Ujar Jillian berusaha mencairkan suasana.
"Maaf Jillian, sepertinya aku dan Jarvis harus segera pergi." Stevan membatalkan niatnya yang ingin menengok Jarell, hal itu jelas membuat Jillian kecewa. Tapi Jillian hanya bisa mengangguk, tidak bisa mencegah keinginan kakak sepupunya itu.
"Kakak pergi ya Jill.." Lagi, Stevan memeluk Jillian, memancing rasa cemburu Jeffran. Apalagi saat Jeffran menyadari ada yang berbeda dari tatapan Jarvis terhadap istrinya.
"Jill, kakak pergi dulu. Take care ya.." Ucap Jarvis dengan tatapan dalam seraya menjabat tangan Jillian.
'Siaaall.. Ada apa dengan tatapan dan sikapnya? Kenapa aku merasa Jarvis menyukai istriku?' Duga Jeffran dalam hati.
__ADS_1
*************************