Pernikahan dengan Perusak Impianku

Pernikahan dengan Perusak Impianku
Episode 40 Kelahiran Buah Hati


__ADS_3

Sudah sebulan ini, Jeffran datang berkunjung ke kediaman mertuanya untuk menemui istrinya. Tapi baru sampai gerbang saja, Jeffran sudah dihalau beberapa orang pria berbadan tegap dan berwajah sangar, yang mengatakan kalau Papa Rendra tidak mengizinkannya masuk. Ingin sekali Jeffran menerobos masuk, dibantu para bodyguard-nya untuk melumpuhkan sekumpulan bodyguard yang dipekerjakan Papa mertuanya. Tapi Jeffran khawatir mertuanya akan semakin membencinya. Maka Jeffran hanya bisa mengutus para pengawalnya untuk memantau keadaan Jillian dari kejauhan.


Kehidupan Jeffran terasa berbeda, setelah Jillian tidak lagi tinggal bersamanya. Hati Jeffran terasa hampa dan sedih, apalagi saat melihat barang-barang Jillian yang ada di kamar mereka. Seperti malam ini yang tidak jauh berbeda dari malam sebelumnya, Jeffran merebahkan tubuhnya seraya memeluk piyama Jillian. Mata Jeffran yang memandangi wallpaper photo Jillian dengan perut besarnya pun mulai berkaca-kaca. Dirinya begitu merindukan istri dan calon anaknya. Papa Rendra bukan cuma melarang Jeffran menemui Jillian, tapi juga menyita ponsel Jillian, hingga Jeffran tidak bisa berkomunikasi dengan istrinya itu.


"Jill Sayang, bagaimana kabarmu dan anak kita? Aku sangat merindukan kalian. Besok aku akan berusaha menemui kalian lagi, semoga Papa bisa mengizinkanku masuk ya."


Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..


Jeffran segera mengangkat panggilan telepon dari Jake, kepala pengawal yang bertugas mengawasi Jillian.


"Ada apa Jake?"


"Tuan Jeff, Nona Jillian terlihat digendong ke dalam mobil oleh ayah mertua anda. Ibu mertua anda juga ikut menemani. Mobil itu dikendarai salah satu bodyguard, sementara beberapa bodyguard lain menggunakan mobil berbeda dan mengikuti dari belakang. Saat ini kami juga mengikuti dari belakang, dalam jarak aman agar tidak diketahui."


Jeffran bergegas turun dari tempat tidur, lalu menyambar sebuah jaket dan mengenakannya dengan buru-buru.


"Terus ikuti jangan sampai ketinggalan jejak. Share lokasi kalian, aku akan segera menyusul." Tegas Jeffran, lalu segera keluar dari apartemennya.


*************************


Mobil Jeffran berhenti di sebuah Rumah Sakit, setelah menempuh perjalanan kurang dari setengah jam. Jeffran setengah berlari menuju sebuah ruangan bertuliskan Kamar Bersalin (Verlos Kamer)  yang Jake sebutkan sebelumnya. Keberadaan Papa Rendra juga beberapa bodyguard yang berjaga, tidak membuat Jeffran ragu untuk mendekat. Papa Rendra sangat terkejut dengan kemunculan Jeffran, dirinya tidak menyangka kalau menantunya akan berada disana. Beberapa bodyguard langsung memasang badan agar Jeffran tidak terlalu dekat dengan Papa Rendra.


"Pa.. Apa Jill mau melahirkan?" Tanya Jeffran tanpa mempedulikan tangan-tangan kuat yang kini menahan tubuhnya begitu kasar. Jake dan anak buahnya hanya bisa memantau dari kejauhan, karena Jeffran tidak mengizinkan mereka mendekat. Jeffran tidak ingin ada keributan yang memicu kemarahan mertuanya, apalagi mereka sedang berada di Rumah Sakit.


Papa Rendra memilih mengalihkan pandangannya ke arah pintu ruangan.


"Pergilah.. Jillian tidak memerlukanmu. Sudah ada Mamanya yang menemani di dalam." Tegas Papa Rendra, membuat beberapa bodyguard yang menahan tubuh Jeffran semakin semangat melaksanakan tugasnya. Hingga tubuh Jeffran semakin terdorong ke belakang.


"Pa.. Tolong izinkan Jeffran menemani Jillian melahirkan." Mohon Jeffran dengan menangkupkan kedua tangan disertai ekspresi memelas.


"Heh, anakku mengalami trauma karena kamu. Sekarang kamu ingin melihat Jillian melahirkan, apa kamu tidak berpikir kalau trauma Jillian mungkin muncul saat melihat kamu disana? Bodoh.."


Dalam hati, Jeffran membenarkan perkataan Papa Rendra. Tapi jauh di lubuk hatinya, dirinya begitu ingin menemani istrinya melahirkan putranya ke dunia.


"Tapi Pa.. Jeffran tidak ingin melewatkan moment berharga ini. Jeffran benar-benar ingin menemani Jillian meskipun hanya dari sudut ruangan." Lagi Jeffran memohon, agar mertuanya berubah pikiran. Belum sempat Papa Rendra menjawab, Dokter Gladys yang akan menangani persalinan Jillian, terlihat keluar dari ruangan ditemani seorang perawat.


"Bagaimana keadaan anak saya Dokter?" Papa Rendra bertanya dengan sedikit menunjukkan kekhawatiran di wajahnya.

__ADS_1


"Saat ini anak Bapak sudah memasuki pembukaan ke-8, kita tunggu sampai pembukaan sempurna dulu. Tapi Bu Jillian mencari keberadaan Pak Jeffran.." Dokter Gladys menoleh ke arah Jeffran yang langsung menyambar perkataan Dokter Gladys.


"Jadi saya boleh masuk kan Dok?" Tanya Jeffran memastikan.


"Silahkan Pak Jeffran.." Jeffran mengangguk.


"Pa.. Jeffran masuk dulu ya." Jeffran pamit dan tetap bersikap sopan pada Papa Rendra, sebelum mengikuti perawat yang berada di belakang Dokter Gladys.


"Mari Pak, saya tinggal dulu."


Papa Rendra hanya bisa mengangguk kecil pada Dokter Gladys, karena masih tidak menyangka kalau Jillian justru menanyakan keberadaan Jeffran. Padahal Papa Rendra masih memendam kemarahan yang sangat besar terhadap menantunya itu.


Sementara itu, baru memasuki ruang bersalin, Jeffran menatap sendu Jillian yang berbaring di atas ranjang dengan posisi menekuk tubuh seperti janin. Jillian terus menerus meringis menahan sakit seraya menggenggam erat tangan Mama Jovita. Dengan langkah lebar, Jeffran gegas menghampiri istrinya, kemudian mengelus lembut lengan dan punggung Jillian.


"Sayang, aku datang.. Aku ada disini.."


Melihat keberadaan Jeffran, tangis Jillian pecah. Hal ini justru membuat Jeffran panik dan khawatir. Mama Jovita yang paham perasaan Jillian yang sejak tadi menunggu kedatangan Jeffran, segera melepas genggaman tangannya dan menarik tangan menantunya untuk menggenggam tangan putrinya.


"Terima kasih Ma.." Ucap Jeffran tulus. Mama Jovita hanya mengangguk pelan seraya tersenyum, lalu menggeser tubuhnya agar Jeffran bisa leluasa mendampingi Jillian.


"Aaaaa..."


Belum sempat Jeffran menjawab, Jillian kembali merasakan sakit yang luar biasa, lagi-lagi membuat Jeffran panik.


"Sayang.. Apa yang harus aku lakukan?" Jeffran terlihat bingung, semua yang dia pelajari tentang persalinan dari artikel-artikel di internet, seolah hilang begitu saja. Untung saja ada Mama Jovita yang mengarahkan Jeffran untuk mengelus punggung Jillian, seperti yang diminta Jillian sebelumnya pada Mama Jovita.


Sebelah tangan Jeffran bergerak mengelus lembut punggung Jillian, sementara tangan lain masih menggenggam tangan Jillian, yang meremas kuat tangannya.


"Sabar ya Sayang.."  Jeffran terus memberi semangat pada istrinya, meskipun telapak tangannya kini sudah menjadi sasaran empuk kuku-kuku tajam Jillian yang menancap begitu kuat.


'Rasa sakitku tidak seberapa jika dibanding rasa sakit yang dirasakan istriku saat ini. Begitu banyak rasa sakit yang aku torehkan selama ini, aku rela menanggung rasa sakit yang lebih buruk untuk menebus semua kesalahanku padanya.' Ucap Jeffran dalam hati.


"Bu Jillian, kita lihat lagi ya pembukaannya."


Kedatangan Dokter Gladys mengalihkan atensi Jillian, Jeffran serta Mama Jovita.


"Tapi sebelumnya, maaf siapa yang akan menemani Bu Jillian melahirkan? Mamanya atau suaminya?" Dokter Gladys bertanya, karena hanya satu orang saja yang diperbolehkan untuk mendampingi Jillian melahirkan.

__ADS_1


"Suaminya saja Dokter, saya tunggu diluar saja." Perkataan Mama Jovita membuat Jeffran sangat terharu.


"Terima kasih banyak Ma, sudah mengizinkan Jeffran menemani istri Jeffran melahirkan." Rasa haru menyeruak dari hatinya, sementara Mama Jovita hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Terima kasih Ma.." Lirih Jillian.


"Iya Sayang.." Jawab Mama Jovita, sebelum keluar dari ruang bersalin.


Dokter Gladys kembali memeriksa jalan lahir Jillian, dan ekspresi tegang begitu jelas ditunjukkan Jeffran.


"Sudah pembukaan sempurna ya Bu.. Mulai mengejan ya Bu.." Instruksi Dokter Gladys.


"Aaaaa.." Jillian mulai mengejan, karena rasa sakit yang begitu kuat di perutnya.


"Kamu bisa Sayang.." Jeffran tidak henti menyemangati istrinya juga berdoa dalam hati.


Jillian terus mengejan mengikuti instruksi Dokter Gladys. Jeffran dengan penuh kerelaan mengorbankan tangan serta lengannya, untuk pelampiasan rasa sakit istrinya. Sungguh dirinya merasa tidak tega melihat Jillian yang menangis menahan rasa sakit yang begitu kuat.


"Ayo mengejan lagi Bu.. Sedikit lagi bayinya keluar." Dokter Gladys kembali memberikan instruksi, namun keadaan Jillian yang terlihat lemas saat mengejan, memancing kecemasan Jeffran.


"Bu Jillian, buka matanya ya.." Dokter Gladys memperingatkan Jillian yang seringkali memejamkan mata saat mengejan, karena hal itu tidak diperbolehkan untuk menghindari pembuluh darah di mata pecah.


"Kuat Sayang.. Kamu bisa. Ayo semangat, anak kita sebentar lagi akan lahir." Jeffran terus menyemangati Jillian. Hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara kencang yang membuat Jeffran dan Jillian terkejut sekaligus lega.


"Oweeeekk.. Oweeeekk.. Oweeeekk.."


"Selamat ya Bu Jillian dan Pak Jeffran.. Putranya sangat tampan."


Luruh sudah air mata yang sejak tadi ditahan Jeffran. Dipandangnya bayi mungil yang sedang dibersihkan itu dengan tatapan kagum, sebelum akhirnya tatapan penuh cinta mengarah pada istrinya yang tampak lemas karena kelelahan. Diciumnya kening Jillian begitu lama, meluapkan rasa bahagia juga rasa syukur di hatinya.


"Terima kasih Sayang.. Sudah melahirkan Putra yang sangat tampan untukku. Aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu dan anak kita." Jeffran kembali melabuhkan bibirnya di kening Jillian, namun kali ini diikuti ciuman singkat di bibir istrinya.


"Aku sangat mencintaimu dan anak kita." Ucapan Jeffran menarik lengkungan di kedua sudut bibir Jillian.


"Aku juga mencintaimu Jeff." Lirih Jillian, ganti menarik lengkungan lebar di kedua sudut bibir Jeffran.


*************************

__ADS_1


__ADS_2