Pernikahan dengan Perusak Impianku

Pernikahan dengan Perusak Impianku
Episode 25 Tidak Bisa Melepasnya


__ADS_3

Nuansa kamar dengan dinding serta perlengkapan yang didominasi warna putih beraksen gold, sangat menarik bagi Jeffran, yang baru pertama kali menginjakkan kakinya ke dalam kamar seorang perempuan. Tidak ada warna pink yang umumnya menjadi pilihan kebanyakan perempuan. Selera Jillian pun terbilang simple, karena minimnya hiasan yang dipajang dikamarnya. Bahkan tidak ada jajaran koleksi boneka atau pajangan lucu yang biasanya dimiliki perempuan.


Ruang walk in closet di kamar Jillian pun tidak terlalu luas. Lemari-lemarinya sebagian besar diisi pakaian-pakaian sederhana. Tidak ada koleksi tas, sepatu atau perhiasan branded bernilai fantastis, meskipun sebenarnya orangtua Jillian lebih dari mampu untuk memenuhi keinginan Jillian. Kini, setelah menikah pun, pribadi Jillian tetaplah sama.


Jillian membiarkan Jeffran berjalan mengitari setiap sudut kamarnya, sementara dirinya memilih mengambil piyama berwarna hitam dari lemari yang ada di ruang walk in closet, lalu berjalan hendak menuju kamar mandi.


"Jill, kamu mau menginap disini?" Jeffran yang baru kembali dari balkon kamar Jillian, memandang penuh tanya ke arah Jillian yang baru sampai di depan pintu kamar mandi.


"Iya.." Jawab Jillian singkat.


"Aku sengaja kesini untuk menjemputmu pulang Jill." Jeffran terlihat keberatan dengan rencana istrinya itu.


"Tolong Jeff, satu malam saja. Aku sudah lama tidak pulang ke rumah ini dan bertemu Mama dan Papa, aku sangat merindukan mereka." Raut wajah Jillian tampak memelas, membuat Jeffran tidak tega untuk memaksanya pulang. Padahal Jeffran sudah menyiapkan rencana makan malam romantis juga beberapa hadiah di apartemen, dengan meminta bantuan Liam tentunya. Tapi nampaknya kejutan romantis itu, terpaksa harus Jeffran tunda hingga mereka kembali ke apartemen nanti.


"Hmm, baiklah.. Tapi malam ini, aku ikut menginap disini ya."


"What? Kamu pulang saja Jeff. Kita tidak mungkin tidur sekamar. Papa dan Mama juga akan curiga, kalau kamu tidur di kamar tamu."


'Memang itulah tujuanku, Jill. Aku ingin kita tidur dalam kamar yang sama. Didepan Papa dan Mama, kamu tidak mungkin menolak untuk tidur sekamar denganku Jill.' Jeffran sibuk bermonolog dalam hati seraya mengulas senyum penuh kemenangan.


"Jeff.. Kenapa kamu malah senyum-senyum sih? Apa kamu tidak dengar apa yang aku katakan tadi?" Ucap Jillian terlihat kesal.

__ADS_1


"Jill, kamu tidak lihat diluar hujan turun sangat lebat. Lengkap dengan petirnya, Jill. Apa kamu tega menyuruhku pulang?" Kali ini giliran Jeffran yang memasang raut memelas, agar Jillian merasa tidak tega dan mengizinkannya tinggal.


"Hmm, baiklah.. Tapi nanti kamu tidur di sofa ya. Aku di tempat tidur." Tanpa ragu, Jeffran mengangguk menyetujui syarat yang diajukan Jillian.


"Ok Jill, aku setuju." Jawabnya dengan menyunggingkan senyumnya yang paling tampan.


'Tidur di lantai pun tidak apa, asalkan bisa satu kamar denganmu Jill. Lebih bagus sih kalau satu ranjang, aku pasti sangat bersyukur.' Jeffran tiba-tiba terkekeh geli, selepas bermonolog dalam hati. Membuat Jillian mengernyitkan kening karena heran.


"Jeff, kamu membuatku ngeri. Dari tadi senyum-senyum dan terkekeh sendiri. Apa jangan-jangan kamu sudah gila Jeff?" Jeffran kembali terkekeh menanggapi perkataan Jillian barusan.


'Aku memang sudah gila. Aku sudah tergila-gila padamu, Jill.' Ucap Jeffran dalam hati.


"Ya sudahlah, aku mau mandi. Kalau ada Bi Rasti mengantarkan makanan, minta simpan di atas meja saja ya."


Jillian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, sementara Jeffran duduk di atas sofa sampai Bi Rasti mengantarkan makanan dan minuman hangat 5 menit kemudian.


Makanan dan minuman yang tersaji di atas meja, cukup menggugah seleranya. Tapi Jeffran memilih menunggu Jillian agar bisa makan bersama. Agar tidak bosan menunggu, Jeffran kembali mengitari sudut kamar Jillian yang belum sempat dia lihat.


Netra birunya menangkap sebuah objek yang menarik di atas nakas yang terdapat disebelah tempat tidur Jillian. Sebuah frame yang memajang photo Jillian dan Jordan, mendiang adiknya.


Perlahan Jeffran mengambil frame photo itu dan memandangnya dengan tatapan sendu. Rasa sedih karena kehilangan kembali menyeruak di dalam hatinya. Meskipun tidak terlalu dekat dengan Jordan, tapi Jeffran sangat menyayangi adiknya itu.

__ADS_1


'Jordan, kakak merindukanmu.. Apa kamu sudah bahagia disana? Maafkan kakak, karena tidak banyak meluangkan waktu untukmu. Tapi kamu pasti tahu, kalau aku sangat menyayangimu.' Ungkap Jeffran dalam hati dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Melihat senyum indah Jillian dalam photo dihadapannya, ada satu perasaan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran Jeffran.


'Apa Jillian masih mencintai Jordan? Apa dia bisa mencintaiku, tanpa dibayang-bayangi perasaannya terhadap Jordan? Apalagi hubungan mereka sudah mengakar kuat, hingga membuahkan seorang anak. Apa aku bisa menggantikan posisi Jordan di hati Jillian?'


Jeffran masih sibuk dengan rentetan pertanyaan di dalam pikirannya, saat Jillian keluar dari kamar mandi. Wajah Jillian tampak segar, rambutnya  yang basah dibalut handuk berwarna putih, dan pakaiannya pun sudah berganti piyama yang dibawanya tadi.


Jillian sedikit terkejut melihat Jeffran yang tengah menggenggam frame photo dirinya dan Jordan. Apalagi mata Jeffran terlihat berkaca-kaca, membuat Jillian menduga, kalau Jeffran sedih mengingat adiknya yang sudah tiada.


"Kamu mau mandi Jeff?" Tawar Jillian mencoba mengalihkan perhatian Jeffran, agar tidak larut dalam kesedihannya.


"Iya Jill, tapi nanti saja. Baju gantinya ada di mobil." Jillian hanya mengangguk mendengar jawaban Jeffran, lalu mendekat ke arah meja rias.


Namun baru saja Jillian duduk di depan meja rias, tiba-tiba Jeffran menghampirinya dan memeluk leher Jillian dari belakang dengan sebelah tangannya. Sementara tangan Jeffran yang lain, melingkar di pinggang Jillian.


Jillian yang awalnya berniat melepas tangan kekar Jeffran yang melingkar di leher hingga bahunya, kini mengurungkan niatnya saat mendengar isakan dari mulut Jeffran.


"Sebentar saja Jill.." Lirih Jeffran. Bahu Jillian terasa basah karena air mata Jeffran yang mulai tumpah tanpa bisa ditahan.


'Jordan, kakak harap kamu rela melepas seseorang yang kamu sayangi untuk bersama kakak. Kakak benar-benar tidak bisa melepas Jillian. Bantu kakak untuk membuat Jillian melupakan perasaannya terhadapmu. Maafkan keegoisan kakak kali ini.. Karena kakak benar-benar mencintai Jillian.' Batin Jeffran.

__ADS_1


'Jordan, aku sudah memenuhi keinginanmu untuk menikah dengan kakakmu. Aku juga sudah bertemu dengan ayah kandung dari bayi yang aku kandung. Tapi maaf aku sungguh tidak bisa melanjutkan pernikahanku dengan kakakmu. Aku tidak bisa melupakan rasa sakitku, aku juga takut kalau dia akan mengambil anakku saat lahir nanti. Aku akan membesarkan anak ini sendiri. Aku akan melimpahinya dengan kasih sayang, meskipun dia tidak memiliki seorang ayah.' Batin Jillian.


*************************


__ADS_2