Pernikahan dengan Perusak Impianku

Pernikahan dengan Perusak Impianku
Episode 47 Fakta Terkuak


__ADS_3

Jeffran dan Jillian tampak duduk di tepi tempat tidur kamar hotel, dengan posisi saling berhadapan. Sorot mata Jeffran begitu tajam menatap Jillian yang berusaha terlihat tenang. Jillian tahu kalau saat ini suaminya sedang kesal karena rasa cemburunya pada Jarvis. Namun Jillian tidak ingin memancing amarah Jeffran, meskipun dirinya sendiri sedang sangat marah pada suaminya itu.


"Apa kamu tidak berniat menjelaskan sesuatu padaku Sayang?" Meskipun Jeffran memasang raut dingin dan suara yang berat, tapi panggilan sayang yang masih melekat pada perkataan Jeffran, membuat hati Jillian menghangat.


"Jawab dulu pertanyaanku.. Apa ada yang terjadi selama kamu berada di Melbourne?" Kening Jeffran mengkerut begitu mendengar pertanyaan Jillian.


"Saat aku menghadiri resepsi pernikahan William dan Sonya?" Jillian hanya mengangguk, menanggapi pertanyaan Jeffran.


"Disana aku hanya menghadiri acara resepsi mereka, bertemu teman-teman lama, lalu kembali ke kamar." Jawab Jeffran datar seolah tanpa beban.


"Apa ada bagian yang kamu sembunyikan?" Pertanyaan Jillian membuat Jeffran semakin bingung.


"Please Sayang, jangan berputar-putar. Sebenarnya ada apa denganmu? Sikapmu justru berubah sejak malam indah kita. Apa aku berbuat salah?" Sikap Jeffran yang semula dingin, berubah memelas.


Karena terlalu kesal dengan sikap Jeffran yang tanpa dosa, Jillian mengambil ponsel dari tasnya, lalu memperlihatkan deretan photo juga video di gallery-nya pada Jeffran. Sontak saja mata Jeffran menajam dengan rahang mengeras dan tangan mengepal. Tapi Jeffran berusaha menormalkan nada bicaranya di depan Jillian.


"Siapa yang mengirimimu photo dan video ini Sayang?" Pertanyaan yang dilayangkan Jeffran, jelas membuat Jillian kesal. Bukannya menjelaskan, Jeffran justru menanyakan siapa pengirimnya.


"Aku tidak tahu, semua photo dan video itu dikirim dari nomor tidak dikenal, dan sekarang nomornya sudah tidak aktif. Kamu, bukannya menjelaskan malah bertanya siapa pengirimnya." Kesal Jillian mengerucutkan bibirnya.


"Aku kan hanya ingin tahu Sayang.. Pasti orang yang tidak suka dengan pernikahan kita, yang mengirimnya." Pikiran Jeffran menerawang pada Jarvis, alih-alih Andrea.


'Pasti Jarvis yang mengirimnya. Sudah jelas dia ingin menghancurkanku. Bukan hanya bisnisku, tapi juga pernikahanku. Kalaupun Andrea yang melakukannya, aku pasti akan membuatnya menyesal. Lihat saja, aku tidak akan membiarkan pelakunya.' Batin Jeffran.


"Jadi apa kamu bisa jelaskan padaku, apa yang terjadi sewaktu kamu di Melbourne?" Jillian melipat kedua tangan di depan dada dengan wajah yang masih ditekuk kesal.


"Sayang, jangan marah dulu ya. Aku bisa buktikan kalau apa yang kamu pikirkan itu salah. Aku akan tunjukkan buktinya.." Jeffran merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya.


*************************


Belasan menit berlalu sejak Jillian dibawa pergi oleh Jeffran, tapi Jarvis masih setia  duduk di salah satu sudut Restaurant. Senyum sinisnya tersungging, saat seseorang berjalan ke arahnya dengan wajah kesal.


"Jangan pernah mengancamku dengan melibatkan keluargaku. Pengecut.." Andrea menunjuk wajah Jarvis penuh emosi, dengan posisi masih berdiri.


"Aku tidak mengancammu, hak-ku untuk tetap bekerjasama dengan perusahaan ayahmu atau tidak. Salah siapa, aku minta bertemu saja malah banyak alasan." Jawab Jarvis enteng.


"Jadi apa maumu?" Tanya Andrea tanpa basa-basi.


"Duduklah dulu.. Aku tidak akan menghabiskan banyak waktumu, karena aku juga tidak ingin berbasa-basi." Ucap Jarvis seraya menghunuskan tatapan tajamnya. Andrea pun menurut, merasa tidak ada gunanya jika dia membantah. Justru sikapnya akan mengancam keselamatan perusahaan keluarganya yang memang sangat bergantung pada perusahaan Jarvis.


"Aku ingin mengajakmu bekerjasama." Jarvis langsung mengutarakan maksudnya, yang dibalas kernyitan di kening Andrea.


"Bekerjasama soal apa?" Andrea masih belum mengerti arah pembicaraan Jarvis saat ini.

__ADS_1


"Aku akan membantumu mendapatkan Jeffran.." Jawaban Jarvis mengejutkan Andrea. Dirinya sungguh tidak menyangka, mantannya itu akan mengatakan hal yang sangat tidak terduga.


"Kenapa kamu ingin membantuku mendapatkan Jeffran? Tidak mungkin kamu secara gratis membantuku. Apa tujuanmu sebenarnya?" Jarvis tertawa kecil menanggapi Andrea yang semakin penasaran dengan alasan Jarvis.


"Hmm, aku hanya kasihan padamu. Selalu gagal, padahal kamu mengejarnya selama bertahun-tahun. Kamu berniat menggoda Jeffran kan saat di Melbourne. Aku sudah berbaik hati membantu dengan memberimu obat perangsang sebelum kamu mendatangi kamar Jeffran. Tapi sayang sekali Jeffran tidak terjebak." Jarvis mengakhiri kalimatnya dengan senyum sinis.


"Jadi kamu yang mencampurkan obat perangsang pada wine yang aku minum? Brengs*k.. Kamu membuatku terlihat murah*n." Andrea mengepalkan tangannya karena terlalu marah.


"Tanpa campur tangan aku pun, kamu sudah terlihat murah*n Andrea." Sebelah sudut bibir Jarvis yang terangkat, membuat Andrea menggeram kesal.


"Katakan apa tujuanmu yang sebenarnya? Kamu tidak mungkin membantuku untuk mendapatkan Jeffran, jika tidak ada hal yang menguntungkanmu." Andrea berusaha meredam amarahnya, meskipun emosinya sudah sampai di ubun-ubun.


"Baiklah aku akan mengatakannya, jika kamu sangat penasaran.." Andrea tidak menanggapi ucapan Jarvis, dia hanya menunggu apa yang akan dikatakan Jarvis selanjutnya.


"Aku ingin Jeffran berpisah dengan istrinya. Aku ingin memiliki Jillian dan menjadikannya istriku." Jawaban Jarvis mengejutkan Andrea. Namun tatapan Andrea yang semula tajam, kini berubah sendu. Bahkan matanya pun mulai berkaca-kaca menatap Jarvis. Tentu saja hal itu membuat Jarvis mengernyitkan kening karena bingung.


"Ada apa denganmu?" Jarvis bertanya dengan raut bingung sekaligus khawatirnya. Andrea memalingkan wajahnya berusaha menghindari tatapan Jarvis dan menghela nafasnya sedalam mungkin.


"Aku salut pada perempuan bernama Jillian itu, dia bisa menghuni hatimu begitu lama. Bahkan saat dia sudah menjadi milik pria lain pun, kamu masih sangat mencintainya.." Ucapan Andrea sukses mengejutkan Jarvis. Dirinya sama sekali tidak menyangka, kalau Andrea mengetahui fakta dirinya yang mencintai Jillian dalam waktu yang lama.


"Dari mana kamu tahu kalau aku sudah mencintai Jillian begitu lama?" Jarvis bertanya tanpa menutupi rasa penasarannya.


"Aku tahu sejak kita masih berpacaran.." Jawaban Andrea lagi-lagi mengejutkan Jarvis.


"Aku tidak pernah menyangka, kalau istri Jeffran yang bernama Jillian itu adalah orang yang sama, dengan perempuan yang kamu cintai sejak dulu. Awalnya, aku memang berniat merusak pernikahan Jeffran dengan istrinya, tapi sekarang aku berubah pikiran. Aku ingin Jeffran bahagia dengan Jillian, karena aku ingin membuat kamu menderita, sama sepertiku." Andrea berdiri dan meninggalkan Jarvis begitu saja, yang masih tidak sanggup berkata-kata setelah mendengar kejutan dari Andrea.


'Jadi semua kesalahanku..' Lirih Jarvis dalam hati.


Setelah beberapa detik berlalu, Jarvis yang baru tersadar dari shock-nya, berdiri dan mengejar Andrea dengan langkah lebarnya.


"Andrea.. Andrea tunggu.."


*************************


Jillian bergeming menatap video yang diperlihatkan Jeffran. Video rekaman CCTV yang diretas Jeffran dari hotel yang ditempatinya saat di Melbourne itu, jelas menunjukkan waktu 5 menit setelah Andrea masuk ke kamar Jeffran. Jeffran terlihat keluar dari kamar dengan mendorong kopernya. Sudah jelas Jeffran meninggalkan Andrea sendirian disana, hingga 10 jam kemudian,  Andrea baru keluar dari kamar yang semula ditempati Jeffran.


"Jadi kamu tidak menginap bersamanya?" Jillian masih ingin memastikan dari mulut suaminya sendiri.


"Tentu saja tidak Sayang, mana mungkin aku melakukannya.. Saat itu aku memang merasa kalau Andrea sedang berusaha menggodaku. Aku melihat gelagat aneh, dia seperti dalam pengaruh obat perangsang. Jadi aku memutuskan untuk segera pergi dari sana dan menginap di hotel lain."


Jillian menelisik raut wajah Jeffran dan mencari kejujuran disana, dan sama sekali tidak ada tanda-tanda suaminya sedang berbohong.


"Lalu kenapa kamu bisa tersenyum dan tertawa bahagia saat bersamanya?" Wajah Jillian berubah semakin kesal saat mengakhiri pertanyaannya.

__ADS_1


"Untunglah aku sempat memakai kacamata saat itu.." Ucap Jeffran setelah menggeser beberapa photo yang membuat Jillian kesal di ponsel istrinya itu. Jillian mengerutkan kening saat Jeffran memperbesar tampilan salah satu photo itu.


"Lihat baik-baik Sayang, kamu bisa melihat apa yang membuatku tersenyum, saat Andrea menunjukkan ponselnya padaku. Pantulan di kacamataku tampak cukup jelas.." Alangkah terkejutnya Jillian saat melihat apa yang ditunjukkan Jeffran padanya. Meskipun tidak terlalu jelas, tapi Jillian yakin pantulan pada kacamata Jeffran adalah gambar dirinya dan Jarell.


"Jadi apa kalian sedang melihat photoku dan Jarell saat itu?" Jillian lagi-lagi berusaha memastikan.


"Iya.. Andrea menunjukkan photo-photo di social mediaku dan mengucapkan selamat atas pernikahan kita, juga kelahiran putra kita. Saat itu aku tidak berpikir macam-macam padanya, tternyata dia mempunyai maksud tertentu padaku. Tapi aku berani bersumpah Sayang, kalau aku tidak masuk dalam perangkapnya." Jeffran mengangkat dua jarinya yang membentuk huruf V.


Perlahan senyum manis Jillian terbit, hingga bibirnya mendarat singkat di bibir Jeffran.


"Terima kasih karena sudah setia padaku. Maafkan aku, karena sempat meragukanmu.." Ucap Jillian seraya menggenggam tangan Jeffran. Senyum Jeffran yang terulas sejak Jillian menciumnya, kini terpampang semakin lebar.


"Sayang.. Aku berjanji, akan selalu setia padamu. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu, meskipun banyak godaan yang datang padaku.." Mata Jillian berbinar senang mendengar ungkapan suaminya. Dirinya sangat bersyukur, dugaan buruk tentang suaminya, ternyata tidak terbukti.


"Sayang.. Aku harap, kamu bisa lebih terbuka padaku. Jika ada sesuatu yang membuatmu bertanya-tanya, tolong tanyakan langsung padaku. Jangan hanya menduga-duga, apalagi percaya pada fitnah yang sengaja dibuat orang lain untuk menghancurkan pernikahan kita." Jeffran mempererat genggaman tangannya disertai sorot mata yang dalam.


"Iya Sayang, maafkan aku karena sudah berburuk sangka padamu. Tapi wajar kan kalau aku curiga, photo dan video itu terlalu mencurigakan.. Aku pikir jika aku bertanya langsung padamu, kamu tidak akan mengaku." Bibir Jillian yang mengerucut membuat Jeffran gemas, hingga membuat Jeffran mengecupnya selama beberapa detik.


"Tapi sikap diam itu, membuatmu salah paham. Padahal aku tidak melakukan kesalahan. Percayalah, aku tidak akan pernah mengkhianatimu dan pernikahan kita." Suara lembut dan perkataan manis Jeffran menghangatkan hati Jillian. Dirinya sungguh bersyukur mempunyai suami yang begitu mencintai dan setia terhadapnya.


(Bocil bacanya cukup sampai disini ya.. Selanjutnya khusus orang dewasa di atas 21 tahun & sudah menikah ya..)


Akhirnya Jillian melabuhkan kembali bibirnya di bibir Jeffran, seraya mengalungkan kedua tangan di leher suaminya. Jeffran tentu langsung membalas ciuman Jillian dengan memberikan sesapan mesra di bibir istrinya.


Perlahan, Jeffran merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Namun tiba-tiba Jillian melepas pertautan bibir mereka.


"Sayang, apa kamu mencintaiku?" Pertanyaan Jillian yang menjeda kegiatan favoritnya, membuat Jeffran gemas.


"Tentu saja aku sangat mencintaimu Sayang.." Jawaban Jeffran seketika melegakan dan menghangatkan hati Jillian.


"Hmm, sepertinya cintaku bertepuk sebelah tangan.." Jeffran memasang wajah memelas, yang membuat Jillian tidak bisa menahan tawanya.


"Tentu saja aku juga mencintaimu Sayang." Ungkap Jillian, lalu kembali mencium gemas bibir Jeffran, dengan kedua tangan melingkar di punggung suaminya itu.


Jeffran menuntun sebelah tangannya untuk masuk ke dalam dress Jillian, menelusuri spot-spot favoritnya di tubuh istrinya. Tentu saja apa yang dilakukan Jeffran itu, berhasil membuat tubuh Jillian menegang dan menggelinjang hebat.


Sentuhan-sentuhan memabukan yang membuat candu itu, bukan hanya dilakukan Jeffran, tapi tangan Jillian pun mulai menggoda senjata pusaka Jeffran yang masih berada di dalam sarangnya.


"Kamu nakal Sayang.." Jillian merona malu mendengar perkataan Jeffran. Tapi entah kenapa tangannya justru semakin nakal, saat Jeffran mulai menelusuri tubuhnya dengan indera peraba dan indera perasanya.


(Maaf di skip, lanjut travelling sendiri ya, hehe.. peace)


*************************

__ADS_1


__ADS_2