
Mobil sport berwarna navy melaju dengan kecepatan tinggi menuju Kota Bandung. Si pengemudi yang tidak lain adalah Jeffran, seolah tidak ingin kehilangan jejak setelah Mama Jovita, mertuanya memberinya info, kalau Jillian sedang berada di Bandung saat ini. Beberapa pengawal Jillian pun ikut berangkat ke Bandung dengan menggunakan mobil yang berbeda. Berjaga-jaga jika Jeffran membutuhkan bantuan mereka untuk bisa menemukan Jillian.
Namun pikiran Jeffran terusik, mengetahui tujuan Jillian ke Bandung adalah untuk menemui Tante Janika, adik kandung Mama Jovita yang merupakan seorang Psikolog di Rumah Sakit ternama di Bandung.
'Kenapa tiba-tiba Jillian pergi ke Bandung untuk bertemu Tante-nya yang merupakan seorang Psikolog? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Jillian? Kenapa hatiku merasa sangat tidak tenang? Semoga Jillian tidak apa-apa.' Batin Jeffran.
Setelah menempuh perjalanan yang lebih singkat dari rata-rata waktu tempuh Jakarta-Bandung, mobil Jeffran tiba di halaman parkir Rumah Sakit dimana Tante Janika bertugas. Tanpa membuang waktu, Jeffran langsung menuju Ruang Konseling Dokter Psikologi untuk menemui Tante Janika.
"Selamat siang Tante Janika, saya Jeffran suaminya Jillian." Tante Janika tersenyum, seraya membalas uluran tangan Jeffran yang menyalaminya dengan sopan. Ini adalah pertemuan pertama antara Jeffran dan Tante Janika, karena saat Jillian dan Jeffran menikah, Tante Janika tidak bisa hadir dikarenakan sedang ada perjalanan dinas ke Singapore.
"Iya, salam kenal ya Jeff.. Ayo masuk." Tante Janika membuka lebar pintu ruangannya.
"Iya Tante. Terima kasih." Jawab Jeffran sopan.
Jeffran melangkah masuk ke dalam ruangan Tante Janika, dan duduk di atas sofa berhadapan dengan Tante Janika.
"Mama mertuamu tadi sudah bilang kalau kamu akan menyusul Jillian ke Bandung, tapi Tante tidak menyangka kalau kamu akan sampai secepat ini. Apa kamu mengebut Jeff?"
"Iya Tante, saya sangat khawatir dengan keadaan Jillian. Karena Jillian tidak memberitahu saya tentang rencananya untuk pergi ke Bandung, apa lagi ponselnya tidak bisa dihubungi. Apa Tante tahu, Jillian sekarang sedang berada dimana?" Tante Janika melihat jelas rasa khawatir yang cukup besar dari raut wajah Jeffran.
'Sepertinya Jeffran benar-benar peduli terhadap Jillian. Semoga Jillian mau menceritakan traumanya pada Jeffran, agar Jeffran bisa membantu Jillian menyembuhkan traumanya.' Harap Tante Janika dalam hati.
"Maaf Jeffran, Tante tidak tahu. Jillian bilang, kalau dia akan berjalan-jalan di Bandung sebelum kembali ke Jakarta hari ini juga." Jeffran mengangguk-anggukan kepala mendengar jawaban Tante Janika.
__ADS_1
"Syukurlah kalau Jillian akan kembali ke Jakarta hari ini juga. Tapi akan lebih baik kalau kami kembali ke Jakarta bersama-sama. Saya harus menemukan Jillian terlebih dahulu."
"Iya Jeffran.. Coba kamu cari di mall atau cafe-cafe di dekat sini. Mungkin saja Jillian ada disana." Usul Tante Janika.
"Iya Tante, akan coba saya cari. Hmm, maaf Tante, apa saya boleh tahu, ada apa Jillian menemui Tante? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Jillian, Tante?" Raut cemas di wajah Jeffran ditangkap jelas oleh Tante Janika. Namun Tante Janika bergeming, seolah ragu dengan apa yang hendak dikatakannya.
"Jeffran, maaf Tante tidak bisa menjelaskan apapun. Hanya Jillian yang berhak mengatakan apa yang terjadi pada dirinya." Jawaban Tante Janika membuat Jeffran sedikit kecewa. Rasa penasaran yang ada di pikirannya sejak di Jakarta, kini semakin besar. Jeffran semakin yakin, kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan Jillian.
"Iya, tidak apa-apa Tante. Saya mengerti.. Kalau begitu, saya pamit dulu. Saya akan mencari Jillian dan membawanya pulang ke Jakarta."
"Baiklah, semoga kamu segera bertemu dengan Jillian ya. Hati-hati Jeff.."
"Iya Tante. Terima kasih." Jeffran menyalami Tante Janika, sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruang konseling tersebut.
Sebelum masuk ke dalam mobil sport-nya, Jeffran diberitahu Kepala Pengawal yang bernama Andreas, kalau berdasarkan pantauan beberapa CCTV yang diretas dari mulai CCTV Rumah Sakit dan CCTV di area-area yang Jillian lewati, saat ini Jillian berada di sebuah hotel yang terletak di pinggiran Kota Bandung. Gegas Jeffran menuju hotel itu, berharap bisa segera bertemu Jillian, istri yang sudah sangat dirindukannya.
Ting..Tong..
Jeffran menunggu si penghuni kamar untuk membukakan pintu. Namun alangkah terkejutnya Jeffran, saat melihat yang membukakan pintu bukanlah Jillian, melainkan seorang laki-laki bertelanjang dada dengan wajah sangar dan tubuh dipenuhi tato. Emosi Jeffran naik, prasangka buruk mulai memenuhi otaknya. Dirinya bahkan sudah bersiap menghajar laki-laki itu, setelah sedikit melemaskan pergelangan tangannya.
"Anda siapa?" Laki-laki itu tampak tidak suka melihat kehadiran Jeffran yang sudah mengganggu kegiatannya.
"Kamu tidak perlu.." Perkataan Jeffran yang penuh emosi, terputus saat matanya tertuju pada seseorang yang berjalan ke arah pintu dari dalam kamar.
__ADS_1
Kemunculan seorang perempuan berpakaian seksi yang kemudian memeluk laki-laki itu dari belakang, seketika menghapuskan prasangka Jeffran.
"Siapa Sayang?" Perempuan itu bertanya sembari menggelayut manja pada lengan si laki-laki sangar.
"Entahlah, orang ini belum menjawab pertanyaanku." Laki-laki sangar itu semakin terlihat kesal.
"Maaf, saya salah kamar.. Silahkan dilanjutkan." Jeffran gegas menjelaskan, sebelum akhirnya pergi dengan mulut tidak berhenti mengomel.
"Awas kamu Andreas, bisa-bisanya memberiku informasi yang salah. Bagaimana kalau perempuan tadi tidak muncul. Aku pasti sudah menghajar laki-laki itu."
Tiba di lobby hotel, Jeffran memilih menyogok receptionist hotel untuk memberinya informasi tentang keberadaan Jillian. Tapi receptionist itu menolak dengan sopan permintaan Jeffran, dan Jeffran pun tidak ingin memaksa receptionist itu melanggar prosedur kerjanya. Jeffran memilih kembali memutar otak untuk bisa menemukan keberadaan Jillian secepatnya.
'Ah Jillian, jadi dimana kamu sebenarnya?' Khawatir Jeffran dalam hati.
*************************
Sementara itu di sebuah cafe yang berjarak sekitar 20 KM dari hotel tempat Jeffran berada. Jillian terlihat menyesap secangkir cokelat hangat sambil menikmati pemandangan taman bunga melalui jendela kaca dihadapannya.
'Aku tahu, pasti Jeffran sedang mencariku. Tapi saat ini, aku benar-benar belum siap untuk bertemu Jeffran. Ada perasaan yang aneh saat berada di dekatnya. Terkadang aku membencinya, tapi aku juga seringkali merasa nyaman berada di dekatnya. Namun setiap kali kebersamaan itu berakhir dengan sebuah sentuhan fisik, tubuhku pasti menolaknya. Trauma ini benar-benar menyiksaku.' Keluh Jillian dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf Nona.. Apa boleh saya duduk disini?" Kemunculan seseorang yang tidak dikenal Jillian, mengejutkan Jillian dari lamunannya.
Jillian mengedarkan pandangannya ke segala arah, melihat keadaan cafe yang tidak terlalu ramai dengan banyak meja yang masih kosong.
__ADS_1
'Masih banyak tempat kosong, kenapa orang ini malah ingin duduk bersamaku. Aku kan sedang ingin sendiri.' Keluh Jillian dalam hati.
***********************