Pernikahan dengan Perusak Impianku

Pernikahan dengan Perusak Impianku
Episode 33 Tolong Lepaskan Aku


__ADS_3

Jeffran memacu mobil sport putihnya dengan kecepatan tinggi. Disebelahnya Shawn tampak sibuk berkomunikasi dengan Drake, asisten sekaligus sahabatnya yang memimpin jalan di depan mobil Jeffran. Shawn sengaja menurunkan belasan anggota Klan Mafia Toddestern, untuk membantu Jeffran dalam misi penyelamatan Jillian.


Sejak Jeffran diberitahu mengenai hilangnya Jillian, Shawn langsung membantu Jeffran mencari keberadaan Jillian dengan menghubungi Drake, yang kemudian mengerahkan beberapa orang kepercayaannya yang sedang bertugas mengawal Shawn.


Para pengawal Jillian yang dipekerjakan Jeffran, memiliki kesulitan untuk mencari keberadaan Jillian, dikarenakan rusaknya camera CCTV yang berada di sekitar lokasi menghilangnya Jillian. Namun hal itu tidak berlaku bagi anak buah Shawn, anggota mafia yang dibekali berbagai kemampuan khusus dengan pengalaman yang tidak bisa dianggap remeh. Hingga tidak memerlukan waktu yang lama, akhirnya posisi Jillian bisa segera mereka ketahui.


Di sepanjang perjalanan menuju tempat disekapnya Jillian, Shawn yang dingin dan irit bicara, mendadak cerewet mengomeli Jeffran tanpa henti.


"Jeff, bagaimana bisa kamu menempatkan pengawal-pengawal bodoh untuk menjaga istrimu? Jillian hanya diculik oleh penjahat kelas teri  bukan diculik penjahat kelas kakap apalagi mafia. Aku bahkan sudah mengantongi identitas kedelapan penjahat yang menculik istrimu dengan menggunakan van merah itu. Tapi pengawal-pengawal yang kamu pekerjakan bukan hanya tidak bisa menjaga istrimu, mereka juga tidak bisa melacak keberadaan istrimu hanya karena CCTV yang rusak. Apa mereka sebodoh itu? Apa cara menemukan seseorang hanya bisa melalui rekaman CCTV saja? Mereka melewatkan rekaman kamera dashboard dari mobil yang terparkir disebelahnya. Mereka juga tidak bisa meretas CCTV beberapa gedung pemerintahan yang dilewati mobil itu. Padahal beberapa CCTV gedung pemerintahan jelas merekam plat nomor dan pergerakan mobil van itu. Mereka bisanya hanya menanyai beberapa orang di sekitar gedung. Pecat saja mereka." Shawn terdengar sangat emosi, sedangkan Jeff hanya mengangguk pasrah menanggapi omelan Shawn. Dirinya tidak berniat melawan, karena apa yang dikatakan Shawn memang benar adanya.


"Tidak masalah kalau kamu tidak mau menggunakan pengawal untuk menjagamu, karena aku tahu kemampuan beladirimu sangat bagus, kamu juga selalu membawa senjata untuk berjaga-jaga. Tetapi Jillian berbeda, dia dan anakmu harus benar-benar dilindungi orang-orang yang bisa diandalkan, Jeff."


Jeffran lagi-lagi mengangguk menanggapi omelan Shawn. Sungguh dirinya sangat menyesali kebodohannya. Jika saja dia mempekerjakan pengawal yang lebih profesional, pasti Jillian tidak akan diculik. Untung saja ada Shawn, sepupunya yang merupakan Ketua Mafia besar, yang sudah terbiasa menghadapi kejahatan dari musuh-musuhnya.


"Kamu seorang CEO perusahaan besar, banyak yang mengincarmu. Bukan hanya keselamatanmu yang bisa terancam, tapi juga istri dan anakmu. Jangan menganggap sepele hal ini Jeff. Kamu memiliki sepupu Ketua Klan Mafia terbesar di Inggris, yang dekat dengan banyak klan di Indonesia. Tapi kenapa kamu malah mempekerjakan para pengawal amatiran, dibanding meminta bantuanku? Pokoknya setelah ini, aku akan menempatkan anggota klanku untuk menjaga istrimu, anakmu dan juga kamu."


"Ok Shawn.." Jeffran memilih menyetujui perkataan Shawn. Karena bukan hanya tidak ingin berdebat dengan Shawn yang sedang emosi, Jeff juga menganggap apa yang dikatakan Shawn adalah solusi terbaik.


'Jill, semoga kamu baik-baik saja. Maafkan aku, karena lalai melindungimu. Jika sesuatu hal buruk terjadi padamu, aku sungguh tidak akan memaafkan diriku sendiri.' Ratap Jeffran dalam hati.


*************************


Sementara itu di salah satu kamar yang terdapat di dalam sebuah rumah tua bergaya Belanda, Jillian tampak meringkuk di atas tempat tidur. Kaki dan tangannya terikat, dengan mulut tertutup lakban. Tidak ada gunanya Jillian berusaha melepaskan diri, karena ikatan yang begitu kuat, ditambah ketatnya penjagaan di luar pintu dari sekumpulan laki-laki berwajah sangar yang menculiknya.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, menampakkan wajah seseorang yang sangat tidak terduga. Membuat Jillian membelalak sempurna, menatap perempuan bermake-up bold yang kini mendekat ke arahnya.


'Kak Dhiva..' Batin Jillian.


"Hallo Jillian.." Sapa Dhiva dengan wajah dihiasi seringai meremehkan. Dhiva mendudukkan tubuh Jillian, lalu secepat kilat melepas paksa lakban yang menutupi mulut Jillian. Hingga Jillian sedikit meringis kesakitan.


"Kak Dhiva, kenapa Kakak menculik saya seperti ini?" Akhirnya keluar juga pertanyaan yang sejak tadi ada di otak Jillian.


"Apa kamu benar-benar tidak tahu dosa kamu apa Jillian?" Dhiva mencengkeram kuat dagu Jillian hingga meninggalkan bekas kemerahan.


"Kamu sudah berani merebut Jeffran dari aku, Jillian." Ujar Dhiva penuh penekanan, setelah tidak mendapat jawaban dari Jillian.


"Aku tidak pernah merebut Jeffran dari Kak Dhiva. Jeffran bilang kalau kakak adalah mantan kekasihnya semasa kuliah, kalian sudah putus begitu lama." Penolakan Jillian atas tuduhan Dhiva, justru semakin memancing emosi Dhiva. Kini bukan hanya cengkeraman di dagu, tapi Dhiva menjambak rambut panjang Jillian, membuat Jillian refleks berteriak kesakitan.


"Heh, jal*ng..Gara-gara kamu, Jeffran menolak kembali padaku. Padahal kamu hanya perempuan murahan yang sedang mengandung anak dari adik Jeffran. Aku tahu dia tidak mencintai kamu, tapi tetap saja, kamu adalah halangan terbesar bagiku saat ini. Jadi menjauhlah dari hidup Jeffran, atau kamu akan aku buat menderita seumur hidup." Ancam Dhiva dengan sorot mata menyala-nyala, lalu menghempas kasar rambut Jillian dari cengkeramannya.


'Jika aku katakan kalau aku sedang mengandung anak Jeffran, sepertinya tidak akan mengubah apapun. Kak Dhiva akan tetap menyuruhku menjauh dari Jeffran. Bahkan mungkin Kak Dhiva akan lebih emosi padaku, kalau mengetahui hubungan diantara aku dan Jeffran ternyata lebih erat dari yang dia kira, karena adanya anak.' Monolog Jillian dalam hati.


"Aku tahu cara untuk membuat Jeffran membuangmu.." Seringai dan senyum sinis terulas di wajah Dhiva. Sementara Jillian menampakkan raut penuh tanya, menyadari kalau Dhiva mungkin akan melakukan hal yang menyakitinya.


"Samsoooonn.." Teriak Dhiva. Beberapa detik kemudian muncullah seorang laki-laki berwajah sangar dengan tato menghiasi seluruh lengan berototnya.


"Iya Nona.." Laki-laki yang dipanggil Samson itu menunduk sesaat ke arah Dhiva yang tidak melepas pandangannya dari Jillian.

__ADS_1


"Aku lihat kamu adalah seorang relawan di komunitas korban kekerasan seksual.. Bagaimana kalau kamu merasakan sendiri rasanya menjadi korban?"


Deg..


Perkataan Dhiva yang disertai pandangan meremehkan, bagaikan hantaman di dada Jillian yang mendadak sesak.


"Samson, panggil teman-temanmu. Nikmatilah tubuhnya, beri perempuan ini pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.."


"Baik Nona.." Jawab Samson, diikuti pandangan menjijikkan ke arah Jillian.


Dengan sangat bersemangat, Samson memanggil teman-temannya yang mulai masuk satu persatu, sembari memandang Jillian dengan tatapan lapar.


"Tidak Kak Dhiva, tolong suruh mereka keluar.. Aku mohon.."


Dhiva tertawa puas melihat ekspresi Jillian yang ketakutan dengan keringat yang mulai bercucuran membasahi dahinya. Seringainya pun semakin lebar, melihat tubuh Jillian  bergetar hebat saat kedelapan anak buahnya semakin mendekat ke arah Jillian.


"Tolong, pergilah. Jangan dekati aku.. Aku mohon, jangan ganggu aku." Mohon Jillian, berusaha memundurkan tubuhnya hingga menyentuh headboard tempat tidur.


Tapi permohonan Jillian seolah angin lalu bagi sekawanan serigala lapar itu. Justru mereka mulai berani menyentuh wajah, leher, bahu hingga tangan Jillian.


Dhiva tidak henti mengurai tawa, melihat Jillian yang meronta berusaha menghindari sentuhan sekumpulan laki-laki buas dihadapannya. Pemandangan memilukan itu seolah sebuah pertunjukan yang menghibur bagi Dhiva. Terlebih saat tangan-tangan laknat mulai mengarah pada bagian tubuh sensitif Jillian.


"Tolong, jangan sentuh aku.. Aku mohon lepaskan aku.." Teriak Jillian diiringi air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.

__ADS_1


"Beritahu aku, kalau kalian sudah selesai." Ucap Dhiva, lalu melangkah keluar dengan perasaan puas. Mengabaikan teriakan Jillian yang terdengar semakin memilukan.


*************************


__ADS_2