
Suasana tahun baru masih terasa. Turis lokal maupun turis asing terlihat bersantai di hampir seluruh sudut resort, meskipun sudah 3 hari berlalu sejak malam pergantian tahun. Tidak terkecuali Jeffran dan Jillian yang menghabiskan hari terakhir mereka di Bali, dengan menyusuri pantai yang indah dan menenangkan.
Sebenarnya mereka mengajak Jarell untuk berjalan-jalan, tapi baru saja keluar dari lobby resort, Jarell langsung tertidur dalam gendongan Jeffran. Alhasil, Jeffran dan Jillian memilih menidurkan Jarell di kamar dengan dijaga dua orang baby sitter.
Di tepi pantai yang terlihat cukup ramai, Jeffran dan Jillian memandang hamparan pantai berwarna biru dengan saling berpegangan tangan.
"Sayang, kamu yakin tidak mau memperpanjang liburan kita disini?" Jillian menggelengkan kepala, menjawab pertanyaan Jeffran yang kesekian kalinya.
"Iya aku yakin Sayang, pekerjaanmu di Jakarta pasti sudah menumpuk. Kita bisa liburan lagi kalau jadwalmu sedikit luang." Jeffran tersenyum mendengar ucapan Jillian. Sungguh dirinya sangat bersyukur memiliki istri yang paham sekali akan kesibukannya.
Semakin lama Jeffran memang semakin paham sifat Jillian yang sebenarnya. Jillian yang dulunya sangat ketus, ternyata manja, cemburuan tapi sangat penyayang. Selain itu, Jillian juga istri yang sangat pengertian, dan selalu memahami pekerjaan suaminya. Itulah kenapa Jeffran semakin jatuh cinta dan bersyukur menikah dengan Jillian.
"Sayang.. Kenapa kamu memandangku seperti itu?" Jillian menghentikan langkah dengan mengerutkan keningnya, karena Jeffran bukannya menanggapi perkataannya, tapi malah tersenyum seraya menatap lekat netra jernih Jillian.
"Aku bersyukur karena Tuhan begitu baik padaku. Menganugerahkan kamu dan juga Jarell yang menyempurnakan hidupku. Tetaplah bersamaku, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Karena aku tidak bisa hidup tanpamu." Raut tulus Jeffran memancing senyuman di wajah Jillian.
"Tidak akan, kecuali kalau kamu selingkuh. Maka aku tidak perlu berpikir panjang lagi, aku dan Jarell akan langsung meninggalkanmu." Perkataan yang disertai raut serius Jillian, terasa sangat menakutkan bagi Jeffran. Kehilangan karena ditinggal adik tercinta untuk selama-lamanya, mengajarkan Jeffran banyak hal. Waktu yang telah terlewati tidak akan pernah bisa diputar ulang, sebuah kesalahan hanya akan menyebabkan penyesalan di sisa umur kita.
"Aku tidak ingin mempertaruhkan anugerah terindah yang Tuhan berikan untukku, hanya untuk kesenangan sesaat. Jangan pernah ragukan cintaku Jillian Prisa Smith.."
Cup..
Kecupan singkat Jeffran mendarat di bibir ranum Jillian, tidak peduli ada banyak pasang mata yang memperhatikan kemesraan mereka.
"Ih malu Sayang.. Banyak orang yang melihat kita." Jillian memukul pelan lengan Jeffran, dirinya sungguh malu dengan apa yang dilakukan Jeffran padanya. Berbeda dengan Jeffran, yang justru tertawa senang melihat wajah istrinya yang merona merah karena ulahnya.
'Aku memang sengaja melakukannya. Aku begitu jengah melihat tatapan liar dari banyak laki-laki yang memandangimu. Biar saja semua orang tahu, kalau kamu adalah milikku. Hanya milikku.' Ucap Jeffran dalam hati, seraya merangkul lembut bahu istrinya, untuk kembali berjalan-jalan.
__ADS_1
Sementara di salah satu sudut rooftop cafe yang berada dalam resort yang sama, sepasang kekasih yang masih terbilang baru tampak saling memandang penuh cinta. Sebelah tangan mereka sesekali saling menggenggam di atas meja dengan posisi berhadapan, sambil menikmati hidangan dihadapan mereka.
"Tidurmu nyenyak Sayang? Semalam aku menelponmu karena tidak bisa tidur, tapi kamu tidak mengangkatnya." Andrea tertawa melihat Bradley yang tampak cemberut.
"Maaf Sayang, semalam aku langsung tidur setelah mandi. Bermain seharian di pantai ternyata sangat melelahkan. Lagipula kalau kamu tidak bisa tidur, kenapa tidak main game atau nonton film saja?" Mendengar perkataan Andrea, Bradley justru semakin cemberut.
"Ah Sayang, tentu saja mengobrol denganmu jauh lebih menyenangkan dari apapun." Ucap Bradley membuat hati Andrea berbunga-bunga.
"Baiklah, aku akan meluangkan lebih banyak waktu untuk mengobrol bersamamu." Kali ini giliran hati Bradley yang dipenuhi bunga yang bermekaran, hingga sebuah kecupan mendarat di punggung tangan Andrea.
Cup..
"Aku begitu bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan kita. Aku juga sangat berterima kasih pada Nova. Berkat dia kita bisa dekat dan menjadi sepasang kekasih." Tatapan dan ucapan tulus Bradley, semakin mengeratkan genggaman tangan Andrea.
"Iya, aku juga bersyukur, kita dipertemukan benar-benar di saat yang tepat. Nova juga menjadi perantara bagi kita menjalin hubungan." Ucap Andrea.
FLASHBACK ON
Andrea yang sedang menemani kedua orangtuanya makan malam di sebuah restaurant, tiba-tiba merasa kesal saat mengetahui kalau ada tamu undangan yang bergabung dengan mereka. Raut marah sungguh tidak bisa dia sembunyikan dari wajahnya, ketika Jarvis tiba-tiba muncul dihadapannya.
Andrea sudah bisa menebak, mungkin ide makan malam yang tidak biasanya ini bukanlah inisiatif kedua orangtuanya. Mengingat selama beberapa minggu kebelakang Jarvis terus saja berusaha mendekatinya. Berawal dari rasa bersalah atas kesalahpahaman mereka saat SMA, membuat Jarvis terus berusaha menemui Andrea untuk mendapatkan maafnya.
"Selamat malam Andrea.. Apa kabar?" Sapa Jarvis setelah menyapa kedua orangtua Andrea lebih dulu.
"Baik.." Jawaban singkat Andrea rupanya tidak berhasil melunturkan senyuman di wajah Jarvis. Dirinya mulai menyadari, kalau nama Andrea masih ada dalam hatinya sejak pengakuan Andrea tempo hari. Lagipula tidak ada gunanya mengejar Jillian yang sudah menjadi istri Jeffran, yang tidak mungkin bisa dia kalahkan.
Di sepanjang makan malam, Andrea lebih banyak diam tanpa mau masuk dalam pembicaraan diantara Jarvis dan kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Maaf, aku ke toilet sebentar ya.." Ucap Andrea beranjak pergi meninggalkan meja.
Namun bukannya ke toilet, Andrea justru berjalan keluar dari restaurant untuk mencari taksi, karena dirinya menggunakan mobil orangtuanya saat datang ke restaurant itu. Pandangannya tidak sengaja mengarah ke belakang, dimana Jarvis terlihat berlari kecil. Meskipun mereka terhalang jendela kaca, sehingga Jarvis belum menyadari keberadaan Andrea.
Andrea begitu panik, hingga dengan terpaksa masuk ke dalam mobil SUV yang baru saja berhenti di depan restaurant, demi menghindari Jarvis. Sang pemilik mobil yang ternyata Bradley itu, tentu saja merasa terkejut, saat ada seorang gadis tiba-tiba duduk disebelahnya. Andrea tampak kehabisan kata-kata saat laki-laki dibalik kemudi memandangnya dengan tatapan aneh.
"Maafkan aku, tolong bantu aku sekali ini saja. Bawa aku pergi dari sini." Mohon Andrea seraya mengatupkan kedua tangan didepan dada.
"Tapi aku ada janji makan malam." Jawab Bradley tegas.
"Kamu bisa menelpon kekasihmu dan memintanya untuk menunggu sebentar. Tolong bantu aku, aku sedang dikejar seseorang." Andrea kembali memohon, sedangkan Bradley masih belum memberi jawaban. Malam ini seharusnya dia makan malam bersama kedua orangtua juga adiknya yang sudah menunggu di dalam restaurant.
Andrea mengguncang lengan Bradley, masih memohon dengan raut memelas, bersamaan dengan pandangan Bradley yang mengarah ke luar jendela.
"Apa kamu sedang dikejar oleh dia?" Bradley menunjuk Jarvis yang terlihat kebingungan diluar sana. Andrea mengangguk mengiyakan pertanyaan Bradley.
Bradley tentu saja mengenal siapa Jarvis, karena mereka adalah partner bisnis. Bradley yang merupakan CEO BR Group Company seringkali terlibat kerjasama dengan Jarvis yang merupakan CEO Scott Group Company. Kedua orangtua Bradley dan kedua orangtua Jarvis pun terbilang cukup dekat.
(Kalau yang mengikuti novel Star on A Dark Night, mungkin bisa menebak Jarvis ini anaknya siapa. Pewaris dari keluarga Scott nih, hehe..)
Bradley masih mempertimbangkan apa yang harus dia lakukan, saat pintu mobil bagian belakang tiba-tiba terbuka.
"Om.. Tante..Tolong kejar mobil yang di depan itu." Bradley dan Andrea mengarahkan tatapan bingung pada gadis berseragam SMA itu.
"Tolong bantu aku, cepat kejar mobil Papaku.. Dia bersama dengan selingkuhannya."
*************************
__ADS_1