
Diatas pembaringan berwarna putih, Jillian menenggelamkan dirinya dalam rasa sakit. Air mata yang sempat ditahannya, kini tumpah membasahi bantal yang digunakannya untuk meredam isak tangisnya agar tidak terdengar sampai ke luar.
'Aku tahu kalau Jeffran tidak memiliki sedikitpun rasa cinta terhadapku, tapi kenapa aku selalu merasa sakit hati, setiap kali dia mengatakannya secara langsung? Hatiku selalu merasa terluka setiap kali mengingat perbuatan bejatnya terhadapku, tapi kenapa hatiku selalu merasa lebih teriris, saat mendengar kalau dirinya hanya akan menjalani pernikahan ini dengan baik sampai kami resmi bercerai? Apa aku memiliki perasaan terhadapnya? Bagaimana bisa, aku menjadi seterluka ini karena perlakuannya? Aku tidak ingin mencintainya, aku sungguh ingin membencinya seumur hidup..' Ratap Jillian dalam hati.
Tok.. Tok.. Tok..
Ketukan di luar pintu, seketika memaksa Jillian untuk menghentikan tangisnya. Jillian mendadak khawatir kalau Jeffran akan menerobos masuk, karena baru menyadari kalau dirinya ternyata lupa mengunci pintu.
"Jill, tolong buka pintunya.. Aku mau bicara.."
Jillian bergegas turun dari tempat tidur, berlari menuju pintu hendak menguncinya, sebelum Jeffran memutuskan menerobos masuk karena Jillian tidak kunjung membukanya. Namun malangnya, pintu yang dituju Jillian sudah terlanjur terbuka. Membuat Jillian dan Jeffran saling berdiri berhadapan, dengan ekspresi yang sama, yaitu sama-sama terkejut.
"Jill, apa kamu habis menangis?" Jeffran melangkah masuk, mengulurkan jemarinya untuk menghapus sisa air mata di pipi Jillian. Namun Jillian gegas menghindar, tidak ingin Jeffran menyentuh pipinya.
"Aku sedang tidak mau bicara Jeff, tolong biarkan aku sendiri." Lirih Jillian.
Tapi Jeffran tidak berniat menuruti permintaan Jillian, dirinya justru mengikis jarak dengan Jillian. Menatap dalam pada netra Jillian yang berusaha menghindari tatapannya.
"Jill, apa kamu menangis karena aku?" Jeffran baru menyadari pertanyaan bodohnya, saat Jillian tidak juga menjawab pertanyaannya.
'Bodoh Jeffran, tentu saja dia menangis karena kamu. Tadi kan kamu yang sudah membuatnya kesal.' Suara hati Jeffran ikut menyadarkannya.
"Maaf Jill, karena sudah membuatmu kesal. Aku mengakui kalau aku salah. Mungkin kamu merasa kalau aku kurang menghargaimu dengan menyentuhmu tanpa izin. Tapi sejujurnya, aku merasa sangat nyaman saat bersamamu, maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan diriku." Ucap Jeffran penuh sesal.
__ADS_1
"Aku akan memaafkanmu.." Jawaban Jillian seketika membuat Jeffran tersenyum senang. Namun senyumannya mendadak hilang, saat mendengar kalimat Jillian berikutnya.
"Tapi jangan pernah menyentuhku lagi, kalau kamu memang tidak mencintaiku Jeff." Ada perasaan tidak rela di hati Jeffran, mendengar syarat dari Jillian. Tapi Jeffran merasa tidak ada pilihan lain baginya, karena Jeffran selalu mengingkari perasaannya, dengan menganggap apa yang dirasakannya pada Jillian bukanlah cinta.
"Baiklah Jill, aku tidak akan menyentuhmu lagi." Jeffran menyetujuinya dengan berat hati, lalu berbalik keluar, untuk meluapkan kekecewaannya dengan caranya sendiri. Sementara Jillian menatap punggung Jeffran yang mulai menjauh dengan tatapan sendu.
'Kenapa hatiku justru kecewa mendengar jawabannya?' Keluh Jillian dalam hati.
*************************
Tok.. Tok.. Tok..
"Jill, keluarlah.. Menu makan malam sudah siap, ayo kita makan. Aku tunggu di pinggir kolam renang ya." Teriak Jeffran dari luar pintu.
Netra Jillian membulat sempurna diiringi jantung yang mendadak berdetak lebih cepat, melihat pemandangan tidak terduga di depan mata. Meja polos di pinggir kolam renang itu sudah dihiasi lilin cantik dan bunga mawar berwarna putih, lengkap dengan menu makan malam yang sangat menggoda. Pinggir kolam renang pun terlihat lebih indah dengan jejeran lilin berbentuk berbentuk bulat berwarna merah.
Namun yang paling membuat Jillian terkejut adalah, Jeffran tampak memegang sebuket bunga tulip berwarna merah. Penampilannya pun terlihat sangat tampan, dengan mengenakan kemeja berwarna putih yang bagian tangannya digulung sampai siku, dipadukan celana jeans berwarna biru.
Jill memandang dirinya yang hanya mengenakan kaos body size berwarna hitam dan celana pendek berwarna abu-abu. Sangat kontras dengan penampilan Jeffran dan juga suasana tempat dinner malam ini.
'Aduh salah kostum.' Rutuk Jillian dalam hati.
"Selamat malam Jill, ini bunga untukmu. Aku pernah baca, kalau bunga tulip bermakna permohonan maaf. Karena itulah aku memberimu bunga ini. Semoga kamu mau memaafkan aku, Jill." Ucap Jeffran seraya mengulurkan buket bunga tulip merahnya, yang disambut Jillian dengan ragu.
__ADS_1
'Bunga tulip yang melambangkan permohonan maaf itu, tulip putih. Kalau bunga tulip merah melambangkan cinta yang dalam dan sempurna. Hmm, bodoh sekali..' Umpat Jillian dalam hati.
"Duduklah Jill, aku sudah pesankan makanan terenak di resort ini, kamu pasti suka."
Jeffran berinisiatif menarik kursi untuk Jillian, terlihat sangat manis dan cukup romantis, membuat Jillian tersipu saat mendudukkan dirinya. Jeffran yang kemudian duduk dihadapan Jillian pun, dapat menangkap jelas rona merah di wajah Jillian.
Makan malam yang awalnya canggung, mulai mencair setelah Jeffran menceritakan beberapa cerita lucu. Bahkan Jillian yang biasanya bersikap datar dan ketus pun, sampai berkali-kali tertawa lebar. Tentunya hal ini membuat Jeffran tersenyum senang. Misinya untuk mendapatkan maaf dari Jillian, sekaligus membuat Jillian tidak lagi marah padanya, ternyata berhasil.
Tiba-tiba bel kamar Jeffran dan Jillian berbunyi. Sejenak Jeffran dan Jillian berpandangan, keduanya mengerutkan kening. Jeffran merasa tidak memesan apapun lagi melalui layanan kamar, begitupun dengan Jillian.
"Biar aku yang buka." Ujar Jeffran, saat Jillian hendak berdiri untuk membukakan pintu. Jillian hanya mengangguk singkat, diikuti Jeffran yang kemudian melangkah menuju pintu.
Saat pintu terbuka, Jeffran begitu terkejut mendapati wajah seseorang yang sangat tidak diharapkannya. Seorang perempuan cantik mengenakan gaun hitam setinggi lutut, menampakkan kaki jenjangnya yang seksi.
"Dhiva?"
"Hai Jeff.. Kita bertemu lagi." Ujar Dhiva, memamerkan bibir sensualnya yang dipoles lipstick berwarna merah menyala.
Sementara Jill yang diam-diam mengintip karena penasaran dengan tamu yang datang, kini mulai diliputi rasa kesal.
'Jadi makan malam ini bukan untukku. Sekarang tamu specialnya sudah datang.' Lirih Jillian, lalu berbalik pergi menuju kamar tidurnya.
*************************
__ADS_1