
Wajah cantik yang terlelap dalam tidurnya, menjadi objek yang tidak jemu Jeffran pandangi hingga dini hari. Tidak sedetik pun Jeffran terlelap, seolah tidak rela ada waktu yang terbuang saat dirinya diberikan kesempatan berada satu kamar dengan perempuan yang sangat dicintainya. Meskipun Jeffran harus puas hanya dengan memandanginya dari tepi tempat tidur.
Beruntung Jillian masih mengizinkan Jeffran untuk tetap berada di kamarnya, setelah moment kurang mengenakkan tadi malam. Jillian hanya tidak ingin membuat kedua orangtuanya khawatir dan curiga, jika tahu dirinya dan Jeffran tidak tidur di dalam kamar yang sama.
"Jill.. Jill, apa kamu bangun?" Panggil Jeffran, namun tidak ada jawaban dari Jillian.
"Jill.. Sayang.." Masih tidak ada jawaban. Jeffran menarik kesimpulan, kalau Jillian benar-benar tertidur dengan sangat lelap.
Entah dorongan dari mana, Jeffran memberanikan diri untuk naik ke atas tempat tidur dan merebahkan dirinya tepat disebelah Jillian, dengan wajah menghadap wajah istrinya yang cantik.
"Jill, aku tahu dosaku terlalu besar untuk bisa kamu maafkan. Aku terlalu tidak tahu diri, jika memaksamu memaafkanku dalam waktu yang singkat. Tapi tolong jangan pernah ragukan perasaan cintaku padamu. Aku benar-benar sangat mencintaimu Jill.. Aku juga mencintai anak yang kamu kandung." Lirih Jeffran, berharap suaranya tidak mengganggu dan membangunkan Jillian.
Perlahan Jeffran memeluk tubuh Jillian, meskipun tidak terlalu erat karena takut Jillian terusik. Diciumnya kening Jillian dengan sangat lembut, hingga ciuman itu beralih ke bibir Jillian yang ranum.
"Aku mencintaimu.. Dan akan selalu mencintaimu, selamanya."
Jeffran kembali memeluk dan mencium Jillian, sebelum akhirnya kembali ke sofa. Dirinya tidak ingin mengambil resiko dengan berlama-lama di tempat tidur, karena jika Jillian membuka mata dan mendapati Jeffran yang tertidur disampingnya, maka sudah dipastikan Jillian akan mengamuk.
Karena rasa kantuk yang semakin tidak bisa ditahan, akhirnya Jeffran memejamkan matanya agar bisa terlelap meskipun hanya tersisa sekitar 2 jam lagi sampai waktunya bangun dan bersiap. Tidurnya begitu lelap, bahkan Jeffran menyunggingkan senyum meskipun dengan mata terpejam. Mungkin karena didorong rasa bahagia, setelah bisa memeluk dan mencium Jillian, meskipun harus dilakukannya secara diam-diam.
Pagi ini, untuk pertama kalinya Jeffran sarapan di kediaman mertuanya. Penampilannya sudah rapih dengan pakaian kerjanya, namun jas-nya masih tersampir di headboard kursi makan. Jeffran memang berencana berangkat ke perusahaan langsung dari kediaman mertuanya. Sepulangnya dari perusahaan pun, Jeffran akan kembali untuk menjemput Jillian, yang masih ingin berlama-lama bersama orangtuanya.
__ADS_1
Jeffran tidak henti mengulas senyum bahagia, saat Jillian mengisi piringnya dengan masakan buatan Jillian. Hal ini tidak luput dari perhatian Papa Rendra dan Mama Jovita.
"Terima kasih Jill."
"Sama-sama Jeff."
Papa Rendra dan Mama Jovita saling berpandangan sambil tersenyum, mereka merasa bahagia melihat kebahagiaan Putri dan menantu mereka.
"Papa dan Mama bahagia melihat kalian begitu mesra dan saling melengkapi. Jika ada masalah apapun, selesaikan dengan kepala dingin ya. Semoga pernikahan kalian selalu dilimpahi kebahagiaan dan keberkahan." Ucap Papa Rendra.
"Aamiin.. Terima kasih Pa, Ma.. Jeffran janji tidak akan menyakiti Jillian dan akan selalu berusaha membahagiakan Jillian dan anak kami Pa, Ma.." Mendengar perkataan Jeffran, Papa Rendra dan Mama Jovita begitu lega.
"Jeff, meskipun anak dalam kandungan Jillian bukan anak kandungmu, tapi tolong sayangi dia dengan tulus ya." Menanggapi permintaan Mama Jovita, Jeffran hendak menjelaskan fakta yang sebenarnya.
"Jeff.. Jangan sekarang." Lirih Jillian sedikit berbisik.
"Tapi Jill.." Jeffran terlihat sangat keberatan. Dirinya sudah bertekad untuk mengakui semua dosa-dosanya pada Jillian dihadapan kedua mertuanya. Jeffran tidak peduli jika dirinya akan dihajar habis-habisan oleh mertuanya, apalagi Papa Rendra menguasai beberapa ilmu beladiri. Yang terpenting, semua fakta tentang dirinya, Jillian dan anak yang ada dalam kandungan Jillian bisa terbuka, tanpa ada kesalahpahaman lagi.
"Jeffran menyayangi bayi dalam kandunganku seperti anaknya sendiri kok Ma, Pa.. Mama dan Papa tidak perlu khawatir." Jillian lekas mengambil alih obrolan, agar Papa dan Mamanya tidak curiga. Sementara Jeffran merasa kecewa, karena Jillian memilih menutupi semuanya dari kedua orangtuanya.
*************************
__ADS_1
Liam mengerutkan keningnya, melihat gelagat aneh Jeffran saat memimpin meeting bulanan dengan semua head department yang ada di perusahaan. Jeffran terlihat tidak fokus dan gelisah, sudah tidak terhitung berapa kali Jeffran terlihat memeriksa ponselnya. Helaan panjang juga sesekali terdengar, membuat Liam semakin merasa heran.
"Baiklah, kami beri waktu untuk coffee break selama 30 menit. Meeting akan dilanjutkan lagi tepat di jam 10 nanti. Tolong siapkan semua monthly report untuk diserahkan pada Mr. Jeffran." Ucap Liam dihadapan seluruh head dept. Lalu semua head dept mulai membubarkan diri, hendak beristirahat atau mengisi perut mereka yang mulai lapar atau haus.
"Ada apa Jeff? Kenapa kamu terlihat begitu gelisah?" Tanya Liam saat meeting room itu hanya tersisa mereka berdua.
"Ponsel Jillian tidak aktif.. Tadi kepala pengawal yang menjaga Jillian bilang, kalau Jillian ada di rumah mertuaku, karena Jillian belum terlihat keluar. Tapi saat aku tanyakan pada Mama mertuaku, katanya Jillian sudah pulang ke apartemen bersama dengan asisten rumah tangga yang hendak berbelanja menggunakan mobil yang dikemudikan sopir pribadi mereka. Dan saat aku mengecek CCTV apartemen, Jillian tidak ada disana." Jeffran tidak bisa menyembunyikan raut khawatirnya, berkali-kali dirinya memijat kepalanya yang mendadak pusing.
"Lho.. Apa pengawal Jillian tidak melihat Jillian saat keluar dengan mobil bersama sopir dan asisten rumah tangganya?" Tanya Liam heran.
"Tidak, semua pengawal tidak ada yang melihat Jillian. Kata mereka, yang keluar hanya sopir dan asisten rumah tangga mertuaku. Aku sudah meminta mereka untuk segera mencari keberadaan Jillian." Ujar Jeffran, sesekali memeriksa ponselnya.
"Jeff, apa terjadi sesuatu antara kamu dan Jillian? Apa kamu sudah menyelesaikan permasalahan diantara kalian?" Liam menelisik raut wajah Jeffran.
"Dia memaafkanku, tapi dia tidak mau memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Hatinya masih terlalu sakit atas perbuatan bejatku. Dia pun tidak percaya pada perasaan cintaku terhadapnya. Dia pikir alasanku mengatakan cinta, hanya karena rasa bersalah dan keinginku untuk mendapat kesempatan darinya." Liam menyadari rasa sedih dari ucapan Jeffran. Tapi dirinya pun paham dengan sikap Jillian yang masih belum percaya pada ketulusan Jeffran.
"Liam.. Ambil alih meetingnya. Aku benar-benar tidak bisa melanjutkan meeting kali ini. Aku harus mencari Jillian." Ujar Jeffran.
"Ok Jeff.. Hati-hati." Jawab Liam singkat, disertai tatapan simpatinya.
Jeffran berlari keluar dari meeting room, hanya mengangguk untuk membalas setiap sapaan dari karyawan-karyawan yang berpapasan dengannya. Pikirannya berkecamuk, memikirkan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.
__ADS_1
'Jill, tolong jangan buat aku khawatir. Kamu dimana Jill? Jangan pergi, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu.'
*************************