Pernikahan dengan Perusak Impianku

Pernikahan dengan Perusak Impianku
Episode 31 Demi Kesembuhanmu


__ADS_3

Menjelang tengah malam, netra Jeffran masih enggan dibuat terpejam seperti Jillian yang sudah terlelap dalam tidurnya di sebuah kamar VVIP Hotel termewah di Bandung. Jeffran memilih menatap gemerlap kota yang tersaji indah, melalui balkon kamar yang terlihat sangat estetik itu. Sesekali dirinya menyesap secangkir americano, berharap minuman favoritnya itu bisa memberinya sedikit rasa tenang yang sudah hilang dari hatinya.


Niat awal untuk langsung membawa Jillian pulang ke Jakarta terpaksa urung, karena sore tadi hujan turun begitu lebat disertai petir yang saling menyambar. Akhirnya Jeffran mengajak Jillian untuk menginap di Hotel Knight, salah satu hotel milik Shawn, sepupu Jeffran yang saat ini tinggal di Inggris. Hotel termewah di Kota Bandung dan beberapa perusahaan di Indonesia memang hanya dipantau dari jauh oleh Shawn, namun semuanya dikelola oleh orang-orang kepercayaan sepupunya yang tentunya bisa diandalkan.


Sebenarnya kamar hotel ini sangat cocok dijadikan tempat untuk berbulan madu atau quality time bersama pasangan, karena interior kamar yang didesain begitu indah dan terkesan romantis. Apalagi kamar itu dilengkapi fasilitas jacuzzi dan kolam renang pribadi di dalamnya.


Namun semua fasilitas itu nampaknya tidak berguna bagi Jeffran dan Jillian. Karena walaupun mereka adalah pasangan suami istri, tapi mereka tidak dapat melakukan berbagai kegiatan intim yang biasa dilakukan suami istri pada umumnya. Terlebih setelah beberapa jam yang lalu Jillian memberitahu tentang apa yang dialaminya selama beberapa bulan ini.


Sesampainya di hotel tadi, Jeffran mendesak Jillian untuk berbicara jujur tentang tujuannya menemui Tante Janika yang merupakan seorang Psikolog. Awalnya Jillian selalu mengatakan kalau semuanya baik-baik saja dan tidak ada alasan khusus dirinya menemui Tante Janika. Tapi Jeffran tidak bisa dibohongi begitu saja, Jeffran terus saja mendesak agar Jillian bisa berkata jujur padanya. Hingga akhirnya mengalirlah cerita trauma Jillian yang selama ini dialaminya pasca pemerkosaan yang dilakukan Jeffran terhadapnya.


Mendengar fakta yang menimpa Jillian, Jeffran bagaikan disambar petir di siang bolong. Sungguh tidak pernah terbersit di benak Jeffran, kalau selama ini Jillian mengalami trauma yang sangat berat, akibat perbuatan bejat yang dilakukan olehnya. Berjuta penyesalan dari dalam hati dan permohonan maaf yang berkali-kali terucap langsung dari mulut Jeffran, nyatanya sungguh tidak berguna. Seorang Jillian benar-benar menderita dan terpuruk dalam trauma yang mengungkung jiwa serta raganya.


Teringat kembali deretan kalimat Jillian yang sebelumnya begitu menghantam hati Jeffran.


"Sejujurnya aku mulai merasa nyaman bersamamu, tapi setiap kali memandangmu, aku teringat rasa benciku atas perbuatan bejatmu yang menghancurkan hidup dan banyak impianku. Setiap kali kamu menyentuhku, terbayang kembali kilasan-kilasan ingatan saat kamu memperkosaku tanpa belas kasihan. Bahkan rasa sakitnya masih begitu jelas terasa. Hal ini membuatku yakin, kalau aku tidak mungkin bisa menjalani pernikahan yang bahagia bersamamu, selama traumaku belum sembuh."

__ADS_1


Air mata yang sempat menetes saat pertama kali mendengar kalimat Jillian itu, kini kembali menetes. Berkali-kali dipukulnya dada yang semakin terasa sakit dan sesak, terlebih saat mengingat kembali kalimat pamungkas dari Jillian yang sukses membuat tubuhnya lemas dan semua harapannya terbang begitu saja.


"Jujur terkadang aku bahagia dengan keberadaanmu, tapi rasa benci itu masih begitu mendominasi. Aku tidak pernah bisa menikmati sentuhanmu, Jeff. Tubuhku justru selalu menolak, meskipun setiap sentuhanmu disertai ungkapan kata cinta. Karena itulah aku meminta izinmu, untuk tinggal terpisah darimu. Aku akan menjalani therapy dan berusaha menyembuhkan traumaku. Jika traumaku sembuh, mungkin kita bisa memulai semuanya dari awal. Tapi jika tidak, mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama Jeff."


Sebuah helaan nafas panjang, mengakhiri lamunan Jeffran. Dengan langkah gontai, Jeffran kembali masuk ke dalam kamar setelah menutup pintu balkon terlebih dahulu. Dipandanginya wajah Jillian yang terlihat lelah dan lelap itu dengan tatapan sendu. Tangan Jeffran terulur hendak membetulkan anak-anak rambut di dahi Jillian, namun niatnya urung saat teringat trauma Jillian.


'Ya Tuhan, aku sungguh ingin menyentuh, memeluk dan menciumnya. Meluapkan sejuta rasa sesal, maaf dan perasaan cinta yang begitu besar dari hatiku yang paling dalam. Tapi ternyata ungkapan perasaan yang aku luapkan melalui sentuhan fisik, justru memancing trauma dan menyakitinya. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku sungguh tidak bisa jauh darinya, aku benar-benar tidak sanggup.' Ratap Jeffran dalam hati.


*************************


Keesokan harinya, Jeffran dan Jillian kembali ke Jakarta. Di sepanjang perjalanan, tidak banyak kata yang keluar dari mulut Jillian. Begitupun dengan Jeffran, yang lebih fokus menahan diri sekuat tenaga untuk tidak menyentuh Jillian.


"Izinkan aku mendengar suaramu setiap hari, Jill. Aku juga ingin melihat wajahmu setiap hari melalui video call. Aku akan mematikan cameraku, jadi kamu tidak perlu melihat wajahku, cukup aku yang melihat wajah cantikmu. Aku mohon, kabulkan permintaanku ya Jill." Perkataan lembut Jeffran yang disertai raut wajah memelas, membuat Jill tidak tega menolaknya. Hingga akhirnya Jillian menganggukkan kepala disertai ulasan senyum manisnya.


"Pulang dan istirahatlah, Jeff. Kamu bisa menelponku besok." Ucap Jillian.

__ADS_1


"Bolehkah aku menelponmu nanti malam sebelum kamu tidur?" Lagi-lagi Jeffran memasang ekspresi memelas, dan Jillian kembali mengangguk mengiyakan permintaan Jeffran.


"Terima kasih Jill." Balas Jeffran disertai wajah sumringahnya. Tanpa sadar kedua tangan Jeffran terulur hendak merangkul bahu Jillian. Namun untungnya, Jeffran lekas tersadar, sehingga langsung mengurungkan niatnya.


"Maaf Jill.."


Hati Jillian merasakan kesedihan yang terpancar dari raut dan netra Jeffran. Tapi apa boleh buat, Jeffran harus paham dengan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan agar tidak memancing trauma Jillian.


"Jill, bolehkah aku pamit pada Papa dan Mama?"


"Tidak usah ya, akan ada banyak pertanyaan jika kamu masuk. Pulanglah Jeff.."


"Baiklah Jill. Aku pulang ya, jaga dirimu baik-baik. Sampaikan salamku pada Mama dan Papa ya. Aku sangat menyayangi dan mencintaimu, Jill.." Kalimat tulus yang diakhiri Jeffran dengan ungkapan cinta itu rupanya membuat Jillian sedih. Sungguh dirinya pun merasa berat jauh dari Jeffran. Tapi apa daya, semua harus Jillian lakukan, demi kesembuhan traumanya.


Dengan langkah gontai, Jeff kembali masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan Jillian yang menatap kepergian Jeffran dengan tatapan nanar.

__ADS_1


'Maafkan aku Jeff. Aku sungguh harus menjauh darimu. Mungkin waktu yang akan menjawab, apakah kita ditakdirkan untuk bersama atau tidak. Jaga dirimu baik-baik Jeff..' Lirih Jillian dalam hati.


*************************


__ADS_2