
WARNING..!!
Ada sedikit adegan dewasa, hanya yang sudah berusia 21 tahun dan yang sudah menikah yang boleh baca. Bocil harap menyingkir..
*************************
Selama beberapa detik tidak ada reaksi sama sekali dari Jillian. Bahkan tubuhnya terlihat kaku dan tegang, membuat Jeffran akhirnya mengakhiri ciumannya dengan perasaan khawatir dan rasa bersalah.
"Jill, maaf.." Ucap Jeffran menarik sebelah tangannya yang semula menekan tengkuk Jillian.
Seolah baru tersadar dari sesuatu yang mengalihkan pikirannya, Jillian tiba-tiba menangkup pipi Jeffran dengan sebelah tangannya. Jeffran pun bergeming tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan Jillian selanjutnya.
Cup..
Tiba-tiba Jillian mengecup lembut bibir Jeffran, menyebar hawa panas di seluruh tubuh Jeffran yang mendadak menegang. Tentu saja Jeffran tidak mau menyia-nyiakan kesempatan besar ini. Dengan penuh perasaan, Jeffran membalas kecupan lembut Jillian dengan ******n dan sesapan. Lidah mereka saling membelit, kedua tangan mereka saling mengelus punggung dengan sangat lembut.
Jillian pun tampak menikmati dan sama sekali tidak menolak, saat ciuman menuntut Jeffran mulai beralih ke telinga dan leher Jillian. Lenguhan yang tanpa sadar keluar dari mulut Jillian, seolah menjadi lampu hijau bagi Jeffran untuk bergerak lebih jauh lagi.
Karena hasrat yang sudah di ubun-ubun, Jeffran memberanikan diri membuka deretan kancing piyama Jillian dengan sebelah tangannya. Hingga tampaklah keindahan yang membuat Jeffran kesulitan menelan saliva, meskipun masih sedikit terhalang oleh penutup berwarna merah yang menerawang.
Ciuman Jeffran yang mulai bergerak liar ke bagian tubuh sensitif Jillian itu, mendadak harus terhenti saat menyadari ada yang tidak beres dengan tubuh Jillian.
Tubuh Jillian bergetar hebat, dengan keringat dingin yang mulai membasahi wajah dan tubuh Jillian. Hal ini membuat Jeffran panik, pikirannya seolah buntu, tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Jill.. Kamu kenapa Sayang?"
Tangan Jillian meremass sprei, sampai tangannya mengepal kuat. Mulut Jillian pun bergetar, menggigit bibir bagian bawah hingga berdarah.
__ADS_1
"Jill, please jangan lakukan itu.. Maafkan aku, tolong maafkan aku.."
Tidak tahu harus berbuat apa untuk menyadarkan Jillian yang kembali trauma karena ulahnya, Jeffran memutuskan membungkus tubuh Jillian dengan selimut, sebelum mendekapnya dengan erat.
"You're fine, and you're safe Jill.. (Kamu baik-baik saja, dan kamu aman Jill)." Lirih Jeffran sembari mengelus punggung Jillian.
*************************
2 hari sejak kejadian penculikan Jillian oleh Dhiva dan anak buahnya, Jeffran dan Jillian melaporkan kasus penculikan itu kepada pihak kepolisian. Mereka didampingi tim kuasa hukum handal yang sengaja ditunjuk oleh Jeffran. Beberapa kali Jillian dan Jeffran memenuhi panggilan kepolisian untuk memberikan keterangan. Untuk seterusnya, mereka menyerahkan pengurusan kasus ini sepenuhnya pada tim kuasa hukum mereka.
Kehidupan pernikahan Jillian dan Jeffran pun mulai membaik, mereka menjalani hari-hari mereka layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Meskipun interaksi terintim mereka terbatas ciuman dan cumbuan mesra, tapi tidak sampai hubungan suami istri. Tubuh Jillian selalu menolak setiap kali sentuhan Jeffran mengarah pada bagian tubuh sensitifnya. Dan Jeffran pun tidak pernah mau memaksakan hasratnya, meskipun dirinya merasa kecewa akan hal itu. Karena apa yang dialami Jillian adalah akibat kesalahan dirinya juga.
Tapi Jeffran selalu melimpahi Jillian dan calon bayinya dengan cinta dan kasih sayang. Pagi hari selalu Jeffran awali dengan sebuah ritual wajib yang menghangatkan hati Jillian.
"Good morning Sayang.. I love you so much.."
Cup..
"Hmm, Good morning Jeff.." Jawab Jillian tanpa membalas ungkapan cinta Jeffran.
Sesaat kemudian, Jeffran menyelusup ke bawah lalu menyibak piyama Jillian, sehingga menampakkan perut Jillian yang semakin membesar.
"Good morning anak Daddy.. Sehat-sehat ya Nak, tumbuhlah yang baik. Daddy mencintaimu, muaach.. muaach.. muaach.." Jeffran menciumi perut Jillian, membuat Jillian tertawa kegelian.
Pagi hari di akhir pekan ini dihiasi langit yang mendung. Setelah mandi dan sarapan, Jeffran dan Jillian memilih menghabiskan waktu dengan menonton film sembari menikmati secangkir cokelat hangat. Posisi Jillian yang duduk di atas permadani dengan menyandarkan punggungnya di dada bidang Jeffran, memudahkan Jeffran melingkarkan kedua tangan di perut Jillian, mengelus lembut perut Jillian yang semakin membesar.
"Sayang, sebentar lagi anak kita akan lahir. Aku sudah membeli sebuah mansion untuk kita tinggali. Bagaimana kalau kita pindah sebelum kamu melahirkan?" Jillian memiringkan kepalanya, memandang Jeffran yang tampak serius dengan perkataannya.
__ADS_1
"Mansion? Jeff, nanti kita hanya bertiga. Untuk apa kita pindah ke mansion yang pastinya sangat luas. Lebih baik kita tinggal di apartemen saja, Jeff."
"Sayang, bayi kita memerlukan lingkungan yang lebih nyaman dan leluasa. Kita akan mempekerjakan beberapa pelayan untuk mengurus pekerjaan rumah. Kamu juga pasti memerlukan bantuan untuk merawat bayi kita. Para pengawal kita pun, bisa tinggal di mansion sambil menjaga kita, Sayang."
"Iya sih.. Baiklah, aku setuju Jeff. Tapi kita pindah setelah aku melahirkan saja ya, please.."
"Hmm, baiklah kita pindah setelah kamu melahirkan ya. Terima kasih ya Sayang. I love you." Tanpa mengharap balasan kata cinta dari Jillian, Jeffran melabuhkan ciuman penuh cinta di bibir istrinya itu. Yang dibalas ciuman mesra Jillian, dengan menangkup pipi Jeffran dengan sebelah tangannya.
Setelah berbulan-bulan tinggal bersama Jeffran, sebenarnya Jillian sudah menyadari kalau dirinya sudah mulai mencintai Jeffran. Tapi kondisi tubuhnya yang selalu menolak Jeffran, membuatnya ragu untuk mengungkapkan perasaannya secara jujur terhadap suaminya.
*************************
Tidak terasa, usia kandungan Jillian sudah menginjak 8 bulan. Sikap Jeffran pun semakin mesra dan overprotective terhadap istri dan calon bayinya. Jeffran tidak pernah mengizinkan Jillian pergi kemanapun sendirian, meskipun Jillian sebenarnya dijaga ketat dari kejauhan oleh orang-orang yang ditunjuk Shawn. Jeffran bukannya tidak percaya pada para pengawal Jillian yang dipimpin kepala pengawal bernama Jake itu. Tapi Jeffran merasa dirinya adalah orang yang paling wajib melindungi istri dan anaknya.
Seperti siang ini, meskipun jadwal Jeffran sangat padat dengan agenda meeting dengan management perusahaan dan juga partner bisnisnya, Jeffran tetap menyempatkan waktu menemani Jillian ke dokter kandungan. Jeffran bahkan merasa lebih bersemangat mengantar Jillian memeriksakan kandungannya. Pasalnya, sebelumnya Jeffran harus mengikuti keinginan Jillian yang memilih untuk tidak mengetahui jenis kelamin bayi dalam kandungannya. Namun kali ini Jillian berubah pikiran, dia sangat ingin mengetahui jenis kelamin bayinya, bahkan Jillian terlihat lebih penasaran dibanding Jeffran.
Di ruang periksa dokter kandungan, seorang perawat yang mendampingi Dokter Kandungan bernama Dokter Gladys itu, terlihat mengoleskan gel di perut Jillian. Jeffran mulai melihat ke arah monitor, saat Dokter Gladys mulai menggerakan transducer di atas perut istrinya.
"Bayinya sehat ya Bu Jill.. Gerakannya juga sangat aktif, Pak Jeff." Jillian dan Jeffran saling berpegangan tangan sembari mendengarkan penjelasan Dokter Gladys yang sangat detail. Raut wajah mereka dipenuhi perasaaan takjub dan bahagia yang tidak dapat disembunyikan, melihat Dokter Gladys menunjukkan semua bagian tubuh bayi mungil mereka.
"Nah sekarang kita lihat jenis kelamin bayinya ya.." Jantung Jillian dan Jeffran berdegup lebih kencang, menunggu kalimat Dokter Gladys berikutnya.
"Wah selamat ya Bu Jill dan Pak Jeff, bayinya laki-laki.."
Mata Jeffran berbinar bahagia, seketika diucapnya syukur dan dipeluknya Jillian yang mulai menangis haru. Sungguh mereka berdua begitu bahagia mendengar kabar bahagia ini. Meskipun mereka sebenarnya tidak masalah mendapatkan anak laki-laki atau perempuan, yang terpenting sehat dan selamat.
"Terima kasih ya Sayang, sudah memberikanku seorang putra. Aku benar-benar mencintaimu dan anak kita." Lirih Jeffran, lalu mengecup lembut kening Jillian.
__ADS_1
*************************