Pernikahan dengan Perusak Impianku

Pernikahan dengan Perusak Impianku
Episode 52 (Kisah Bradley & Andrea)


__ADS_3

Sebenarnya Bradley dan Andrea hendak protes mengenai panggilan Om dan Tante yang dilayangkan pada mereka. Tapi mendengar kalimat terakhir si gadis, membuat Bradley dan Andrea mengarahkan pandangan pada mobil mewah yang tepat berada dihadapan mereka.


"Cepat kejar mobil itu.." Bradley mengerutkan keningnya, karena kali ini kalimat perintah itu berasal dari Andrea yang memasang wajah penuh emosinya.


"Ayo Om.. Istri Om sudah setuju untuk mengejar mobil Papaku. Ayo Om." Seolah kehabisan kata, Bradley sama sekali tidak membalas kalimat dari gadis SMA itu. Bradley langsung tancap gas, mengejar mobil dihadapannya yang sudah melaju dengan kecepatan sedang. Sedangkan wajah Andrea merona merah, karena gadis SMA itu mengira kalau dirinya dan laki-laki disebelahnya adalah sepasang suami istri.


Selang 10 menit, mobil yang diikuti mobil Bradley memasuki area Hotel bintang 5 yang sangat mewah. Gadis SMA yang duduk di kursi penumpang, terlihat lemas saat melihat seorang pria yang dia sebut Papanya tampak turun dari mobil, dengan menggandeng seorang perempuan seumuran Mamanya.


Gadis itu menyusul turun dari mobil, diikuti Bradley dan Andrea. Namun dia tetap menjaga jarak agar Papa dan perempuan yang bersamanya tidak menyadari keberadaannya. Dengan hati-hati, gadis itu mengarahkan ponselnya untuk mengambil gambar Papa dan perempuan yang diyakini selingkuhan Papanya itu, ketika sedang memesan kamar.


Gadis SMA itu terlihat berkaca-kaca saat Papa dan selingkuhannya berjalan saling berangkulan menuju lift, yang pastinya mengarah ke kamar yang sudah mereka pesan.


"Aku benci Papa." Lirih gadis itu nyaris tidak terdengar.


"Kamu tidak apa-apa Dek?" Andrea memegang lengan gadis SMA yang bergetar dan memapahnya agar duduk di sofa yang terdapat di lobby hotel. Sementara Bradley duduk tepat di seberang Andrea dan juga gadis itu.


"Ternyata Papa memang benar-benar selingkuh dengan perempuan itu. Karena itulah Mama meminta cerai dari Papa. Aku tahu kalau perselingkuhan ini bukanlah yang pertama, Papa seringkali mengkhianati Mama dengan banyak perempuan. Tapi Mama selalu saja memaafkan Papa. Aku harus ikhlas jika Mama ingin bercerai dari Papa, karena jika Mama tetap bertahan bersama Papa, Mama akan semakin menderita." Air mata yang ditahan sejak tadi oleh gadis itu, akhirnya lolos juga. Hal ini membuat Bradley juga Andrea merasa ikut terenyuh. Andrea mengelus lembut bahu dan lengan gadis itu.


"Sabar ya Dek. Kamu harus kuat, karena kamu harus menguatkan hati Mama kamu juga." Gadis itu hanya mengangguk menanggapi perkataan Andrea.


"Siapa namamu Dek?" Tanya Bradley.

__ADS_1


"Syanova, panggil saja Nova.." Lirih gadis bernama Syanova itu.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Apa kita akan menunggu disini sampai Papamu keluar? Atau aku bisa menyogok pihak hotel untuk membocorkan nomor kamar Papamu." Syanova menggeleng pelan, menanggapi pertanyaan Bradley.


"Tidak perlu Om.. Aku akan pulang saja. Aku akan katakan pada Mama, kalau aku mendukungnya untuk bercerai dari Papa.." Raut sedih Syanova tidak dapat disembunyikan dari wajahnya. Andrea dan Bradley tentu semakin sedih melihatnya.


"Kenapa banyak orang ingin bahagia dengan merebut kebahagiaan orang lain? Apa mereka menemukan kepuasan tersendiri jika berhasil merebut milik orang lain? Apa menjadi perusak rumah tangga oranglain semenyenangkan itu?" Senyum miris tersungging di kedua sudut bibir Syanova.


Bradley dan Andrea seketika merasa tertohok dengan kalimat sarkas dari mulut Syanova. Sejujurnya mereka cukup tersindir karena pernah mencintai orang yang sudah menikah. Bradley begitu mencintai Shanaya, sekalipun Shanaya akhirnya menikah dengan Shawn. Dirinya juga pernah mendekati Jillian, yang saat itu tidak diketahuinya telah menikah dengan Jeffran.


Andrea pun tidak jauh berbeda, dirinya pernah mengejar Jeffran dan berniat merusak pernikahannya dengan Jillian. Rasanya dirinya begitu malu, karena hampir menjadi perusak rumah tangga orang lain, yang lebih dikenal dengan istilah pelakor.


"Terima kasih Om dan Tante sudah membantuku. Aku doakan pernikahan Om dan Tante akan selalu bahagia sampai akhir hayat."


"Maksudnya pernikahanku dengan siapapun jodohku nanti kan?" Bradley bertanya pada Syanova yang semakin terlihat keheranan.


"Lho bukannya Om dan Tante suami istri?" Perkataan Syanova mengejutkan Bradley dan Andrea, hingga kedua mata mereka membulat sempurna.


"Tentu saja bukan. Kami baru bertemu saat di depan restaurant tadi. Oh iya, berhentilah memanggilku Tante, umurku masih dibawah 25 tahun. Panggil aku Kak Andrea." Protes Andrea.


"Iya, jangan memanggilku Om, aku juga seumuran dengannya. Panggil aku Kak Bradley." Timpal Bradley, yang dibalas delikan Andrea.

__ADS_1


"Baiklah, kalau memang Kak Andrea dan Kak Bradley ini bukan suami istri, aku doakan supaya kalian berjodoh."


"Tidaaaaakk.." Teriak Andrea dan Bradley bersamaan.


FLASHBACK OFF


Bradley dan Andrea tertawa renyah saat kembali mengenang awal pertemuan mereka yang terbilang unik. Sejak kejadian itu, Andrea dan Bradley seringkali bertemu di waktu dan tempat yang tidak terduga. Hingga mereka semakin dekat dan akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan.


"Jodoh itu tidak bisa ditebak ya, bagaimana bisa kita bertemu dalam situasi yang sangat tidak terduga itu." Ucap Bradley, seraya mengelus lembut punggung tangan Andrea.


"Itulah kejutan dari Tuhan.. Tapi apa benar kita akan berjodoh? Rasanya terlalu cepat, jika kita katakan kalau kita memang berjodoh." Andrea terlihat ragu saat mengatakannya, dan raut kekhawatiran ditangkap jelas oleh Bradley.


Tiba-tiba Bradley mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berukuran kecil dari dalam saku jaketnya, dan meletakkannya di atas meja. Saat Bradley membukanya, netra Andrea tampak berbinar senang melihat sebuah cincin bermata berlian didalamnya. Apalagi saat Bradley mengambil dan memegangnya dengan dua jari.


"Will you marry me?" Pertanyaan Bradley yang diluar perkiraan, mengejutkan Andrea. Hubungan yang baru berusia beberapa minggu jelas membuat Andrea ragu untuk mengambil keputusan.


"Follow your heart.. Will you marry me?" Bradley mengulang pertanyaannya dengan harap-harap cemas. Hingga akhirnya sebuah jawaban keluar dari mulut Andrea.


"Yes, i will.." Jawaban Andrea melengkungkan senyum bahagia di wajah Bradley. Luapan perasaan cinta yang besar menuntunnya melabuhkan sebuah kecupan lembut di kening Andrea.


"Terima kasih Sayang, I love you.." Ucap Bradley.

__ADS_1


"I love you too.." Balas Andrea.


*************************


__ADS_2