
Ternyata saat kita pulang, om Edward sudah sampai di rumah. Lila cukup terkejut, begitu juga denganku. Bagaimanapun laki-laki itu pernah berpesan kalau jangan sampai aku mempengaruhi putrinya dengan hal-hal buruk. Dia pasti sudah berpikir buruk tentangku. Aku rasa tak perlu menjelaskan apapun.
"Papah, sudah pulang. Kenapa nggak ngabarin aku." Lila mencium punggung tangan papahnya. Sementara aku hanya tersenyum tipis pada laki-laki itu. Rasanya masih canggung, kenapa harus bertemu sekarang. Dia pasti tambah membenciku.
"Papah baru saja sampai. Kalian dari mana?"
"Pah, aku bisa jelasin. Tadi aku yang ngajak Fanya buat mampir ke mall, jadi Fanya sama sekali nggak salah Pah. Papah jangan marah ya, setelah ini aku janji akan rajin belajar Pah."
Aku masih berdiri di belakang Lila yang seperti takut papahnya marah. Dari yang aku lihat laki-laki itu tidak seperti akan marah. Tapi justru sebaliknya. Dia menatapku lalu menghela nafas, entah apa maksudnya.
"Kalian masuklah ke kamar," kata pria itu.
"Papah nggak marah?" tanya Lila.
Pria itu menggeleng. "Apa kamu mau papah marah?"
"Nggak, jangan. Iya, iya kami akan ke kamar sekarang. Ayo, Fanya."
Benarkah pria itu tidak marah, ya mungkin aku beruntung kali ini.
__ADS_1
Karena sudah terlalu sore, kami akhirnya tidak belajar hari ini. Hanya mengobrol sebentar.
"Lila, kayaknya aku harus pulang sekarang."
"Yaa,, kamu sudah mau pulang. Tapi hujan, Nya. Biar diantar sama mamang aja ya," ujar Lila.
Di luar memang sedang hujan sangat deras.
"Nggak, Lil. Aku pinjam payung saja kalau ada."
"Please Nya, jangan menolak kali ini. Bagaimana kalau kamu sakit gara-gara kehujanan, nanti kamu nggak bisa cari uang. Iya kan?"
"Baiklah, terimakasih Lil. Maaf kalau aku merepotkan."
"Nggak sama sekali. Ayo aku antar ke bawah."
Aku pun menerima niat baik temanku. Saat hujan hujan biasanya bus jarang lewat. Aku bisa berakhir dengan berjalan kaki kalau aku tidak menerima tawaran Lila.
Saat turun ke lantai bawah. Lagi-lagi supir yang biasa mengantarkan Lila sudah pulang. Mungkin memang bukan keberuntunganku.
__ADS_1
"Nya, tunggu di sini biar aku tanya Papah untuk memanggilkan supirnya."
"Jangan Lila." Aku mencegah tangan Lila yang mau memanggil papahnya. "Aku pinjam payung ya, bukannya juga sudah nggak terlalu deras."
"Nggak apa-apa, Nya. Kamu tunggu di sini ya. Biar aku tanya Papah."
"Lila ...."
Aku baru mau memanggil Lila tapi tiba-tiba seseorang datang.
"Biar Papah yang antarkan dia."
Aku terkesiap mencemaskannya, bagaimana pria itu bisa terang-terangan mengatakan akan mengantarkan aku pulang. Bagaimana kalau Lila curiga padaku. Apa dia tidak tau kalau putrinya paling tidak mau memiliki ibu tiri. Ya, Lila sendiri yang bercerita kalau dia paling tidak suka kalau ada wanita yang dekat-dekat dengan papahnya.
"Ide bagus, Nya. Biar Papahku saja yang anterin kamu ya."
"Hah, tapi Lil. Nggak perlu, aku akan baik-baik saja walaupun kehujanan."
"Tidak perlu keras kepala, aku akan mengantar mu," ujar om Edward penuh penekanan.
__ADS_1