Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 32


__ADS_3

Karena kejadian tadi pagi aku hampir terlambat sampai di sekolah. Pak Maman - penjaga sekolah sudah mau menutup gerbang sekolah untung aku bisa berlari dengan cepat dan masih bisa masuk ke sekolah.


Hari ini seperti biasa, aku tertidur di kelas. Mengurusi bayi besar semalam membuat aku hanya tidur sebentar. Lila membangunkan ku saat bel istirahat berbunyi, dia sangat pengertian.


"Fanya, ayo ke kantin."


"Hmm."


Kami ke kantin berdua. Lila memesan bakso kesusahannya dan aku juga sama, aku tidak terlalu memilih makanan yang penting bisa dimakan saja sudah cukup.


"Nih makan."


"Thanks."


Lila menyodorkan semangkok bakso pesananku dan segelas es sirup. Rasanya segar dan mataku bisa kembali terbuka.


"Kamu begadang lagi, Nya?"


"Hmm." Sambil kunyah bakso kuah pedas ala Fanya, yang sudah aku racik dengan dua sendok sambal.


"Kamu kerja apa sebenarnya Nya? kenapa selalu begadang?"


"Hehehe." Aku hanya tersenyum kuda. Lila tidak tau apa pekerjaanku termasuk teman-teman sekolahku karena aku selalu menggunakan identitas lain saat bekerja di club. Dandanan ku juga sangat berbeda dengan biasanya.


Ya walaupun kadang ada yang meledekku menjajakan diri, tapi aku yakin mereka asal mengatakannya saja. Karena tau aku sering begadang.


Lila juga tidak pernah marah saat aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Dia tau kalau aku tidak suka dicampuri urusanku.


"Apa kamu nggak capek, Nya. Nanti aku bilang pada papah biar gaji kamu dinaikkan tiga kali lipat. Biar kamu nggak usah begadang lagi buat kerja gimana? Ideku bagus kan?"


"Nggak Lila, mana boleh begitu. Kita saja belum tau bagaimana nilai kamu nanti mana boleh aku minta gaji banyak-banyak. Berapapun itu nggak masalah, karena aku sudah cukup senang bisa melihat temanku ada peningkatan."


"Kau ini, selalu saja menolak kebaikan orang lain. Aku bisa apa kalau kamu mau nya seperti itu."


"Terimakasih Lila, kamu baik deh." Aku menggoda Lila,


Saat melihat Lila, jujur aku merasa bersalah karena sudah menyembunyikan sesuatu darinya. Aku tidak tau dari mana mau bercerita karena dari manapun Lila pasti akan tetap kecewa.


Apalagi kalau aku menerima tawaran om Edward untuk menjadi kekasihnya. Apa mungkin aku siap menyiapkan sesuatu yang begitu besar dari temannya.


"Hai kenapa, malah ngelamun. Bakso kamu dimasuki lalat tuh."


"Hah! Dasar lalat." Aku jadi tidak selera untuk melanjutkan makan siangku.


...


Pulang sekolah, aku langsung pulang ke rumah karena hari ini tidak ada jadwal untuk mengajari Lila.


Sampai di depan rumah kebetulan aku berpapasan dengan kakakku, Indra. Dari kejauhan aku melihatnya sangat lesu. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Kadang menendang batu-batuan kecil yang ada di jalan. Lalu bibirnya bergetar mengomel sendiri.


"Kak Indra. Kakak dari mana? kenapa kelihatannya suntuk sekali wajah kakak." Aku melihat kakak dari dekat.


"Fanya, maafkan kakak mu yang tidak berguna ini. Kakak belum mendapatkan pekerjaan,  padahal kakak sudah berjanji padamu."


"Oh ya ampun Kakak. Jadi kau sedih karena ini. Sudah-sudah, nggak perlu dipikirkan ya. Sebaiknya kita masuk dulu. Ibu pasti sudah menunggu kita." Aku mengajak kak Indra untuk masuk ke dalam rumah. Melihatnya seperti ini membuat aku tidak tega. Ternyata kak Indra benar-benar sudah kembali seperti dulu.


Aku menggandeng lengan kakak saat masuk ke dalam rumah. Begini saja sudah cukup untukku. Kakak peduli padaku saja sudah cukup.


"Kakak dari mana saja hari ini?"

__ADS_1


"Tadi Kakak mendatangi beberapa perusahaan untuk bertanya tentang lowongan pekerjaan tapi mereka langsung menolak kakak. Kamu benar, predikat pemabuk dan pembuat masalah akan selalu menempel padaku. Mereka tidak mau memberikan kakak kesempatan."


"Nggak apa-apa Kak, aku yakin suatu saat kakak akan menemukan pekerjaan yang tepat dan membuat mereka yang sudah menolak kakak menyesal."


"Kamu bisa saja, memangnya kakak ini siapa sampai membuat mereka menyesal."


"Tentu saja kamu adalah kakakku yang membanggakan. Kakak adalah orang yang kompeten dan bertanggungjawab pada pekerjaan. Kakak juga punya ide-ide brilian, bos kakak dulu mengakui itu sampai mohon-mohon kakak untuk kembali bekerja kan," kataku bangga. Saat seperti ini kakak hanya butuh dukungan dari kami.


"Kau berlebihan. Kakak hanya berusaha melakukan yang terbaik."


Aku senang mendengarnya, kak Indra memang tidak pernah sesumbar atas apa yang dia miliki termasuk kemampuannya. Aku ingin betul dulu mantan bos kak Indra selalu datang kemari dan meminta kak Indra untuk kembali bekerja.


"Ehh kenapa Kakak nggak coba melamar di tempat yang dulu. Aku yakin mantan bos kakak akan senang dan menerima kakak kembali," saranku.


"Nggak, Kakak sudah terlanjur mengecewakan mereka. Kakak malu pada bos ataupun karyawan di sana."


Aku mengerti, aku juga menghormati keputusan kak Indra.


"Kamu nggak pulang semalam, tidur dimana?"


"Ohh itu, aku tidur di rumah temen." Aku tersenyum kaku. Terpaksa aku harus berbohong lagi.


...


Malamnya. Seperti biasa kami berkumpul bersama menemani adikku bermain. Kebetulan hari ini aku sedang tidak ada pekerjaan. Jadi aku habiskan waktuku bersama keluarga. Bermanja-manja pada ibu. Sementara kakak ada di kamar sepertinya.


"Kamu apa ada masalah ?" tanya Ibu.


"Nggak ada Bu, cuma pengen manja-manja sama ini saja. Oh iya, jadwal terapi adik kapan Bu?"


"Minggu depan."


"Maafkan ibu ya nak, tidak seharusnya kamu menanggung beban seberat ini."


Aku bangkit dan langsung menatap ibu. Paling tidak bisa melihat ibu menyalahkan diri.


"Ibu ibu ngomong apa. Aku sama sekali nggak merasa seperti itu. Aku senang bisa melakukan ini semua. Ibu jangan merasa bersalah lagi ya, aku nggak apa-apa."


Ibu mengangguk-angguk dengan mata berkaca-kaca. Aku memeluknya.


Apa aku terima saja tawaran om Edward ya. Dia juga berjanji akan memberikan kakakku pekerjaan dan membiayai adik untuk berobat ke dokter yang lebih baik. Tapi aku merasa bersalah pada Lila. Bagaimana kalau dia tau aku berhubungan dengan papahnya. Walaupun hanya pura-pura.


Malam semakin larut. Aku tidak bisa memejamkan mata memikirkan semua ini. Ibu dan adik sudah tertidur di sampingku. Aku memandangi wajah mereka. Wajah yang belum sekalipun merasakan kebahagiaan. Ibu juga sama, harus bekerja keras setiap hari. Mencuci baju tetangga dan membersihkan rumah mereka sambil menjaga adik. Ibu adalah wanita yang hebat, tidak perlu mengeluh tentang keadaannya. Tidak pernah meninggalkan ayah, meski ayah sudah banyak membuat kesalahan.


Aku tau mereka berhak bahagia. Karena terlilit hutang, kehidupan kami jadi seperti ini. Kalau tidak memiliki hutang lagi apa mungkin kami bisa sedikit menikmati hidup.


"Om Edward bilang kalau aku berubah pikiran, aku harus menghubunginya."


Aku mencari nomor ponsel om Edward di ponselku. Akhirnya ketemu. Lalu aku mengirim pesan padanya, mengatakan kalau aku mungkin akan menerima tawarannya.


"Terkirim, tinggal tunggu balasan dari om Edward. Nggak apa-apa, hubungan ini hanya sebentar kan. Hanya sampai om Edward mendapatkan kepercayaan dari investor itu. Setelah itu kami sudah nggak berhubungan lagi kan," gumamku meyakinkan diri.


Setelah cukup lama akhirnya om Edward membalas pesananku.


'Hmm, datanglah ke apartemen besok sore.'


"Apa sih ini maksudnya, dia setuju apa nggak sebenarnya." Aku menggerutu.


Tapi kalau aku keluar dari club. Bos pasti tidak akan setuju. Bagaimana nanti Om Edward aja membereskannya. Terserah dia lah, dia yang sudah meminta aku berhenti bekerja.

__ADS_1


Aku akan mencari pekerjaan yang lebih baik setelah hutang-hutang ayah lunas.


...


Besoknya


Sesuai dengan permintaan om Edward, aku datang ke apartemennya. Masih menggunakan seragam sekolah karena aku langsung datang dari sekolah.


Aku memencet bel apartemen itu. Tak berselang lama, om Edward membukakan pintu.


"Masuk," perintahnya.


Aku masuk ke dalam tempat itu lagi. Menggambarkan sandal lalu mengikuti om Edward di belakangnya. Kami memasuki ruangan yang sepertinya dijadikan tempat bekerja untuknya.


"Duduk."


"Ah iya."


Om Edward mengambil sesuatu dari lacinya. Lalu memberikannya padaku.


"Lihatlah."


Aku melihat kertas-kertas itu dan membacanya. Ternyata itu adalah surat pelunasan hutang ayah, aku lihat jumlah nominal nya. Jauh lebih banyak dari yang disebut rentenir itu saat terakhir kali. Ternyata dia menepati janjinya. Aku tidak menyangka akan secepat ini.


"Om, kenapa jumlahnya sangat banyak. Hutang Ayah kan nggak sebanyak ini?"


"Apa kau pikir rentenir itu akan begitu saja membiarkan aku melunasi hutangmu. Dia masih ingin menekanmu untuk dijadikan istri. Kalau aku tidak membayar dua kali lipat, dia akan tetap menagih hutang."


"Kurang ajar, laki-laki tua itu. Kalau bertemu aku akan memberinya pelajaran dengan tanganku sendiri."


"Masalah di club juga sudah aku bereskan. Kamu nggak perlu lagi datang ke sana."


"Iya Om, terimakasih. Aku seperti bermimpi bisa melunasi hutang ayah." Aku sangat terharu sebenarnya tapi tidak mau menangis di depan om Edward. "Jadi apa saja yang harus aku lakukan untuk om?" tanyaku.


"Malam ini akan ada pesta perjamuan. Kamu harus menemaniku."


"Tapi aku pakai baju apa Om?" Aku mana mungkin memiliki dress yang bagus.


"Nanti akan ada orang mengantar dress untukmu sekaligus membantumu untuk makeup."


Aku mengerti.


Seperti kata Om Edward. Ada orang yang datang ke apartemen itu. Aku di make-up oleh mereka dan hasilnya membuat aku tercengang karena sangat cantik. Biasanya aku berdandan sedikit menor karena bekerja di club sekaligus agar tidak ada orang yang mengenaliku sebagai Fanya.


"Amazing! Apa ini benar-benar aku?" tanyaku sampai tidak percaya.


"Benar nona, ini Anda. Bagaimana, apa Anda puas dengan hasil makeup nya?"


"Suka, aku suka sekali. Nggak tebel tapi di wajahku sangat cantik."


"Itu karena kulit Nona yang memang bagus dan Anda memang sudah cantik dari sananya. Makeup ini hanya membantu mempertegas kecantikan Nona."


Setelah selesai makeup, aku mencoba gaun. Setelah selesai memakai gaun aku menunjukkannya pada Om Edward untuk menilai penampilanku.


"Om, bagaimana dengan penampilan ku?" tanyaku pada Om Edward yang sedang sibuk dengan kertas-kertas pekerjaan mungkin.


Om Edward memandangiku dengan tatapan yang tak terbaca. Aku jadi malu karena dia melihat ku seperti itu. Apalagi bagian atas dari pakaian ini sedikit terbuka.


"Pakaian apa ini! Apa tidak ada pakaian lain!" Tiba-tiba Om Edward marah-marah.

__ADS_1


__ADS_2