
Aku menenangkan ibu dan adikku yang masih menangis setelah kepergian rentenir lintah darat itu. Ibu menangis merasa kasihan padaku yang selalu menjadi pelindung keluarga ini dan banyak berkorban. Ibu juga sedih melihat kak Indra babak belur. Sementara adikku, aku yakin walaupun dia tidak mengerti apa yang terjadi tapi melihat keluarganya sedih dan kakaknya terluka pastilah dia ikut merasakannya.
"Ibu, sudah Bu. Lihat adik jadi ikut menangis terus," kataku sambil mengusap punggung ibu yang bergetar karena isakan tangisnya.
"Huhuhu hiks ibu ... ibu jangan nangis... hiks nanti aku juga nangis." Adikku pun mengusap air mata yang mengalir di pipi ibu. Dia sangat manis dan perhatian. Mereka saling berpelukan, kalau begini aku sudah bisa tenang. Sekarang aku tinggal mengobati kakakku yang tadi terluka.
Aku membawa kakak duduk di sofa ruangan keluarga yang hancur berantakan karena ulah orang-orang tadi. Banyak barang pecah dimana-mana, kalau sampai tidak berhati-hati maka kaki kita yang akan terluka.
Kak Indra duduk sambil menunduk, dia tidak memperdulikan lukanya. Matanya berkaca-kaca, sepertinya dia mulai menyadari kalau selama ini dia sudah mengabaikan keluarganya hanya demi memikirkan wanita yang tidak pantas untuk dia tangisi.
"Kak, biar aku obati." Aku sudah mengambil salep untuk memar dan beberapa obat lainnya untuk luka sobekan.
"Biar kakak obati sendiri. Kamu tenangkan ibu saja."
"Ibu dan adik sudah di kamar. Mereka sudah cukup tenang. Jadi biarkan aku yang obati luka kakak." Aku memaksa dan dengan terpaksa kak Indra menurut.
"Sssttthhh ..."
"Apa sakit? Aku akan hati-hati." Lukanya cukup parah sepertinya.
"Apa mereka selalu seperti itu saat datang kemari?" tanya kak Indra. Dia memang baru kali ini melihat bagaimana keganasan rentenir itu.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum saja, "Nggak apa-apa, mereka sudah biasa seperti itu."
"Kata ibu kamu mau berhenti dari pekerjaan kamu di club itu. Apa seseorang mengganggumu? Bilang pada kakak kalau ada yang berani mengganggu kamu. Kalau memang kamu mau keluar dari sana, kakak akan mendukungmu. Biar kakak saja yang bekerja mulai sekarang. Kakak akan mencari pekerjaan dengan benar."
Aku senang mendengarnya tapi itu pasti susah apalagi kak Indra adalah mantan pemabuk pasti jarang yang mau menerimanya sebagai karyawan.
"Aku nggak apa-apa kok kak. Kita akan bekerja sama-sama biar hutang ayah cepat lunas. Bagaimana, kakak mau kan?" tanyaku.
"Nggak, biar kakak saja. Nanti kakak akan memasukkan lamaran ke beberapa tempat. Kalau nasib kakak masih bagus, pasti dapat pekerjaan dengan gaji besar. Saat itu kamu sudah harus berhenti bekerja di sana ya. Kakak khawatir kalau terjadi apa-apa padamu."
"Iya kak, aku akan berhenti saat kakak sudah mendapatkan pekerjaan." Kalau begini semangatku jadi kembali berkobar. Mendapat dukungan dari keluarga adalah hal yang paling penting dalam hidupku. Mereka adalah kekuatan ku.
Seminggu kemudian. Setelah malam itu aku tidak bertemu dengan Om Edward lagi. Kata Lila, papahnya kembali pergi karena urusan pekerjaan. Kasihan juga jadi Lila, dia punya segalanya tapi tidak dengan perhatian orangtua serta keluarganya karena kakek dan neneknya ada di luar negeri.
Aku juga sudah kembali bekerja di club. Kali ini aku lebih selektif lagi saat melayani tamu. Aku tidak mau kejadian seperti tempo hari terjadi lagi. Walaupun bos sudah bilang kalau dia akan menjaga ku lebih ketat mulai saat itu.
Aku tidak menyalahkannya karena bos juga tidak tau kalau akan terjadi hal seperti itu. Tamunya juga tidak mencurigakan, apalagi awalnya mereka kan sudah ditemani oleh wanita. Jadi mana mungkin akan macam-macam padaku. Nyatanya itu hanya bagian dari rencana mereka agar tidak dicurigai.
Untuk mencari Aman, sekarang aku hanya melayani tamu-tamu yang ada di ruang terbuka saja. Tidak dengan ruang VVIP, masih trauma yang tidak tau akan sampai kapan.
"Delima, meja nomor sepuluh mencarimu," kata rekanku.
__ADS_1
"Hah, siapa?" tanyaku.
"Mana aku tau, tapi dia sangat tampan. Tadinya aku mau mendekatinya tapi malah mencarimu. Sudah sana, samperin aja."
"Iya, iya." Aku segera datang. Kalau di ruangan yang banyak orang aku tidak perlu khawatir akan ada yang macam-macam karena banyak orang.
Dilihat dari kejauhan, dia seorang pria yang tidak asing sepertinya. Tapi aku harus mendekat untuk memastikan nya.
"Permisi, apa anda mencariku?" tanyaku.
Pria itu mengangkat kepalanya dan aku jelas sangat mengenalnya. "Om Edward, kenapa Om di sini?"
"Duduklah, temani aku minum."
Aku lihat dia sepertinya sedang banyak pikiran, matanya terlihat kosong. Wajahnya juga lesu.
"Kenapa kau masih bekerja di sini? Apa kau sungguh tidak mau menerima tawaranku?"
Aku membantu dia menuangkan air. "Aku nggak mau, kalau Om nggak bilang alasannya. Apa Om melakukan itu agar aku menjauhi Lila? Kalau iya, percuma saja karena Lila yang selalu mendekatiku."
"Bukan, aku ingin kau menjadi ...
__ADS_1