Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 41


__ADS_3

Aku mencari ponsel yang entah ditruh dimana. Aku sendiri lupa. Sekarang aku juga


lupa kalau seharusnya aku tidak banyak bergerak karena tidak memakai pakaian


dalam.


“Berhentilah, sudah tidak usah dicari lagi. Aku akan menelepon ke ponselmu agar kita tau di


mana letaknya.”


“Oh iya, hehehhe kenapa aku nggak kepikiran dari tadi ya.”


Om Edward menelepon nomor teleponku dan ponselku pun berbunyi. Ternyata sejak tadi


ada di bawah bantal sofa di sebelahku.


“Ketemu, ternyata di sini.” Aku duduk Kembali dan mencari film yang ada di ponselku.


“Ini saja om.”


“Hmm.”


Kami Kembali menonton film, untungnya kali ini aman. Tidak ada adegan panas seperti


tadi. Kami menikmati filmnya, tapi kali ini memang bukan film dewasa tapi film


bergenre horror yang aku pilih. Padahal aku sangat penakut. Akhirnya saat


hantunya menampakan diri, akupun bersembunyi pada Om Edward.


“Aaaakk!! Kenapa menyeramkan sekali.” Aku menggerutu padahal aku sendiri yang memilihnya.


“Kau ini bagaimana? Kenapa malah ketakutan.”


“Hehehe, aku memang penakut Om,” kataku sambil bersembunyi di balik punggung Om Edward.


Sepanjang film diputar om Edward sangat jahil padaku, dia sengaja menghindar agar aku

__ADS_1


tidak bisa bersembunyi. Aku sampai kesal dibuatnya.


“Om, diamlah. Aku takut.” Aku merengek.


“Itu kan Cuma film. Hantunya juga tidak akan keluar dari tv.”


“Iya sih, tapi nanti aku nggak bisa tidur kepikiran terus wajah hantunya. Tuh kan


serem banget, kenapa sih nggak dibuat tampan aja muka hantunya.” Akhirnya aku


menutup mataku dengan tangan karena om Edward sudah membuang bantal yang ada di


sofa entah kemana.


“Penakut sekali, kau bahkan lebih penakut dari Lila.” Om Edward mengejekku.


Aku tidak peduli, mau dibilang penakut juga tidak apa-apa. Dari pada tidak bisa


tidur malam ini.


memegangi tanganku agar tidak bisa menutupi wajahku.


“Om, lepas om!”


“Tidak apa-apa. Ayo coba lihat, itu sama sekali tidak menyeramkan. Itu hanya make up


kau tau, itu tidak nyata.”


“Tetap saja seram Om, aku nggak mau nonton lagi.” Aku berusaha melepaskan diri lalu


bangun dari sofa. Niatku mau pergi mengganti filmnya tapi om Edward menarik


tanganku dan tubuhku pun terjatuh di atas tubuh Om Edward.


“Kau mau kemana?”


Bahkan hembusan nafas Om Edward saja terasa menyapu kulit wajahku. Posisi kami

__ADS_1


sangat-sangat dekat saat ini. Seketika detak jantungku pun berdetak lebih cepat


dari sebelumnya.


“A—aku mau mengganti filmnya Om,” kataku dengan perasaan yang sangat gugup.


“Kau mau menggantinya dengan apa? Apa seperti yang tadi kau lebih suka yang seperti


itu.”


“Ah bukan seperti itu aku—”


Tubuhku membeku saat tiba-tiba om Edward mencium bibirku tanpa bilang apapun. Aku tidak


tau harus berbuat apa sekarang, aku tidak menolak tapi tidak menyambutnya juga.


Ini terlalu mendadak dan kami dalam keadaan sama-sama sadar. Apa aku bermimpi,


mana mungkin Om Edward menciumku.


Agak cukup lama pria itu menyesap bibirku tanpa aku memberikan perlawanan tapi juga


tidak membalasnya. Setelah beberapa saat dia melepaskan dan menjauhkan


wajahnya. Aku sangat malu sekarang dan bingung kenapa aku tidak mendorong


laki-laki itu. Dia kan sudah mengatakan tidak akan menyentuhku sebelumnya, tapi


aku merasa tidak berhak menolak karena Om Edward sudah melakukan banyak hal


untuk keluargaku.


“Kenapa kau tidak membuka bibirmu,” bisik Om Edward sambil mengusap bibirku yang basah


karena ulahnya.


“A—aku ….”

__ADS_1


__ADS_2