Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 52


__ADS_3

Sementara tidak ada yang tau betapa terkejutnya saat laki-laki itu mendapatkan kabar tentang kejadian itu. Lalu mengetahui jika Fanya terluka untuk melindungi putrinya. Dia sangat kecewa pada putrinya itu sudah pasti tapi dia mengerti mengapa sang putri seperti itu, berpacaran dengan laki-laki sembarangan karena dia kekurangan kasih sayang dan perhatian. Seandainya dia melakukan apa yang Fanya katakan sejak dulu pasti putrinya tidak akan berpacaran dengan pria br33ngsek itu dan Fanya juga tidak akan terluka.


"Aaarrrggghhh!! Please bertahanlah, aku mohon," ucap Edward dengan suara lirih seraya menengadah kepalanya berdoa pada Tuhannya agar menyelamatkan perempuan yang ia cinta. Ya, jika bukan karena cinta tidak mungkin dia menahan Fanya agar tetap menjadi kekasihnya.


Pintu operasi terbuka. Edward, Lila dan juga keluarga Fanya yang sudah menunggu dengan cemas langsung berdiri mengelilingi dokter.


"Bagaimana keadaannya Dokter? Dia baik-baik saja kan?" tanya Edward dengan wajah penuh kekhawatiran. Lila pun memperhatikan hal itu sejak tadi.


Lila juga khawatir, tapi kekhawatiran papahnya pada temannya sepertinya tidak biasa. Namun, bukan hal itu yang terpenting sekarang.


"Dokter bagaimana keadaan putriku?" ibunya Fanya pun tidak sabar ingin mengetahui keadaan putrinya.


"Pasien ... bisa diselamatkan. Untungnya di bawa ke rumah sakit tepat waktu. Meski kehilangan banyak darah tapi belum terlalu fatal. Pasien butuh waktu untuk sadar, jadi saya mohon sabar menunggu tapi saya minta kalian tetap harus mengajaknya berinteraksi untuk mer4ngsang syarafnya."


"Baik Dok, terimakasih."


Semua orang pun cukup lega mendengarnya. Tangis haru pun menyelimuti.

__ADS_1


Empat jam kemudian. Fanya akhirnya sadar juga. Butuh waktu lama karena lukanya cukup dalam dan mengenai organ dalam serta kehilangan banyak darah tapi. Mereka yang sudah menunggu langsung melihat keadaan Fanya karena memang sudah dipindahkan ke kamar rawat.


"Fanya, kau tidak apa-apa?" Edward tidak bisa menunggu lagi atau menyembunyikan kegelisahannya. Sejak tadi dia banyak diam lalu setelah Fanya sadar dia yang pertama menanyakan keadaannya.


"Om ... kita di mana. Sepertinya ini bukan kamar apartemen Om," ucap Fanya yang membuat semua orang sontak terkejut dan berbagai pertanyaan pun timbul.


"Eehheemmm, kita di rumah sakit. Lihatlah, ada keluarga mu juga di sini." Tentu Edward salah tingkah dengan ucapan Fanya dan berusaha bersikap normal.


"Nak ... bagaimana keadaanmu." Sang ibu pun mendekat.


"Ibu ... ibu di sini juga."


Fanya mencoba melihat sekeliling, ternyata benar dia ada di rumah sakit. Astaga dia baru saja mengatakan tentang apartemen. Sudah dipastikan mereka semua memiliki banyak pertanyaan tapi tidak menanyakan hal itu sekarang karena lebih penting menanyakan bagaimana keadaan Fanya.


"Fanya, bagaimana dengan lukamu nak. Apa masih sakit? Kenapa kamu melamun." Sang ibu mengusap kepala putrinya tercinta. Matahari keluarganya. Kalau tidak ada Fanya mungkin dia sudah mengakhiri hidupnya dari dulu karena begitu banyak tekanan yang menghimpitnya. Beruntung dia memiliki seorang putri seperti Fanya.


"Eh, aku sudah nggak apa-apa Bu. Aku baik-baik saja," jawab Fanya.

__ADS_1


"Fanya, maafkan aku. Kamu terluka karena menyelamatkan ku. Maafkan aku Fanya, seharusnya aku mendengarkan mu sejak dulu. Hiks hiks hiks." Lila bahagia temannya telah kembali. Jika tidak dia tidak akan memaafkan dirinya pun dia akan terima kemarahan dari sahabatnya.


Tanpa diduga Fanya justru tersenyum kepada temannya itu. "Mana mungkin aku marah padamu, tidak apa-apa kali ini bisa dijadikan pelajaran agar kamu tidak mudah percaya pada laki-laki. Aku senang kamu selamat," ujar Fanya.


Lila pun malu karena dia sempat berpikir temannya itu tidak menyukai hubungan nya dengan Kevin karena dia cemburu. Itu semua tidak benar, sekarang Lila tau kalau laki-laki itu sungguh sudah mempengaruhi dirinya untuk menjauhi sang teman. Untungnya selama ini Lila tidak melakukan itu, hanya saja dia sering pergi dengan Kevin tanpa diketahui Fanya temannya.


"Boleh aku memelukmu?" tanya Lila sambil terisak kecil.


"Tentu." Fanya pun merentangkan kedua tangannya.


"Terimakasih Fanya, teman terbaikku." Lila terisak lagi dalam pelukan temannya.


Fanya sedikit meringis karena lukanya belum benar-benar sembuh. Luka yang ia dari si Kevin.


"Pelan-pelan, kamu bisa menyakiti Fanya."


Edward pun mulai mengurai pelukan mereka karena sejak tadi ia tidak dapat giliran.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian. Fanya sudah mulai berinteraksi dengan semua orang yang ada di ruangan itu. Sungguh perubahan yang jauh baik dari sebelumnya. Dia sama sekali tidak menyesal telah pergi sendiri untuk menyelamatkan Lila, bukan hanya sekedar dia sudah berjanji pada Om Edward untuk menjaga Lila tapi dia juga sudah sangat menyayangi temannya itu.


Mereka semua berinteraksi seperti keluarga sendiri. Fanya juga sudah membujuk Om Edward untuk memaafkan putrinya dan memintanya untuk memperbaiki hubungan mereka. Lila juga berjanji akan lebih berhati-hati. Akhirnya mereka ayah dan anak pun berpelukan di hadapan semua orang.


__ADS_2