Pesona Duren, Ayah Temanku

Pesona Duren, Ayah Temanku
Bab 39


__ADS_3

Aku masih menunggu Om Edward di ruang tengah sambil menonton tv. Aku bahkan sudah menghabiskan beberapa bungkus snack yang ada di kulkas.


"Dia menyuruh ku ke sini hanya untuk menunggunya seperti ini."


Aku mulai bosan hanya menonton tv seperti ini. Aku juga sudah beberapa kali menguap, akhirnya aku memutuskan untuk merebahkan diri di sofa. Entah berapa lama akhirnya aku tertidur.


"Eeeuugghh ... hooaamm." Aku terbangun entah jam berapa. Rasanya tidurku sangat nyenyak. Saat aku membuka mata ternyata ada selimut yang menutupi tubuhku. Sepertinya om Edward yang menyelimutinya. Apa dia sudah selesai bekerja ya, di mana dia. Aku mencari pria itu lalu tidak sengaja mendengar seseorang di dapur.


Om Edward ada di dapur rupanya dia sepertinya sedang memasak. Astaga, dia kelihatan semakin tampan saat memegang pisau dan mengiris sayuran. Kenapa ada lelaki sesempurna itu.


"Astaga, Sadar Fanya. Kau tidak boleh jatuh cinta  pada ayah temanmu sendiri." aku menepuk pipiku agar tersadar.


"Kau sudah bangun?!" suara om Edward mengagetkan ku.


"Eh iya, hehehe." Karena sudah ketahuan, akupun mendekat ke om Edward. "Om sedang masak apa? Om Edward bisa masak?" tanyaku.


"Hmm, tunggu sebentar. Makanan siap sebentar lagi." Pria itu masih fokus dengan masakannya.


Aku disuruh duduk di meja yang menghadap ke dapur. Sambil memandangi pria itu, saat fokus mengerjakan sesuatu tambah keluar ketampanannya. Sungguh aku tidak bisa kalau harus berlama-lama memandangi nya. Bisa-bisa aku tidak bisa menahan perasaan ku. Buru-buru aku membuang pandangan, sebelum perasaanku terlanjur dalam.


"Sudah matang. Cicipi."

__ADS_1


"Waahhh baunya sangat harum Om, rasanya sudah pasti sangat enak." Dari harumnya bahkan aku bisa merasakan kalau masakan om Edward pasti enak. Perutku langsung merasa lapar.


"Cobalah, kau bahkan belum mencoba bagaimana kamu tau rasanya."


Aku hanya tersenyum kuda. "Aku coba ya Om."


Satu suapan masuk kedalam mulut ku, rasanya langsung pecah di mulut. Bumbunya pas, tingkat kematangannya juga pas. Ini sih sudah seperti masakan di restoran.


"Bagaimana?"


"Eemmmpp enak Om, masakan Om sangat lezat." Aku sampai mengacungkan dua jempol ku karena tidak bisa berkata-kata lagi.


Tentu saja dengan senang hati aku mau memakannya.


Dalam sekejap aku sudah menghabiskan makanannya. Om Edward juga. Aku sampai nambah lagi tadi.


"Aku kenyang Om, makasih makanannya." Senang sekali kalau perut sudah terisi.


"Hmmm, sekarang kamu cuci piringnya."


"Siap, urusan cuci piring itu aku ahlinya." Dengan semangat aku membereskan sisa makanan kami dan mencuci piring. Tapi sialnya air keran di wastafel tiba-tiba mati.

__ADS_1


"Ommm! Airnya mati." Aku berteriak memanggil om Edward. Tanganku masih penuh busa saat ini.


Om Edward datang untuk mengecek kran airnya. "Sepertinya mampet, sebentar aku coba cek."


Aku menunggu laki-laki itu sedang memeriksa apa yang rusak. Tapi tiba-tiba saat kran dilepas sesuatu terjadi.


Air memuncrat kemana-mana saat kran di buka. Seketika airnya membasahi badan kami berdua.


"Aaaakkk, airnya om," teriakku panik. Bagaimana kalau apartemen itu banjir karena air itu terus mengalir.


Aku dan Om Edward berusaha menutupinya lagi, dengan susah payah dan tubuh kami basah kuyup akhirnya berhasil juga.


"Hah, kenapa om nggak bilang kalau nggak bisa benerin. Kalau tau begitu lebar baik panggil tukang saja. Basah semua kan sekarang." Aku lupa sampai mengomel, padahal itu bukan apartemen ku.


"Bersihkan dirimu, biar layanan kebersihan saja yang membersihkan ini nanti."


"Iya, padahal aku sudah mandi sekarang harus mandi lagi." Aku berjalan ke kamar Om Edward untuk mandi yang ke dua kalinya.


Di dalam kamar mandi aku melepaskan semua pakaianku dan dalamnya karena basah semua. Kali ini benar-benar tidak bisa dipakai lagi. Bagaimana sekarang apa aku harus menggunakan kemeja saja tanpa pakaian dalam.


"Mandi saja dulu laah."

__ADS_1


__ADS_2